Istri Centil Mas Adi

Istri Centil Mas Adi
Innalillahi WA Inna Ilaihi Raji'un


__ADS_3

Dini Hari.


Ibu Puspita terbangun dari tidurnya setelah mendapatkan mimpi yang menurutnya sangat menyeramkan. Mimpi di mana ia melihat suaminya tersenyum padanya dan menghilang dalam sekejap mata.


“Astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah,” ucap Ibu Puspita.


Adi terbangun, begitu juga dengan Caca ketika mendengar Ibu mertuanya mengucap istighfar.


“Ibu yang tenang, ini Caca,” tutur Caca mendekap Ibu Puspita dengan erat.


“Caca, temani Ibu menemui Ayah Faizal!” pinta Ibu Puspita.


Caca mengambil ponselnya untuk melihat pukul berapa saat itu.


“Ibu mau menemui Ayah sekarang?” tanya Caca karena waktu itu pukul 2 dini hari.


“Ibu tidak tenang, Caca. Ibu bermimpi aneh,” terang Ibu Puspita.


Melihat Ibunya yang syok seperti itu, membuat Adi sedih dan juga takut. Adi berharap bahwa Sang Ayah bisa segera sembuh.


“Baiklah, ayo Caca antar,” tutur Caca.


Mereka berdua kemudian pergi menuju ruang rawat Ayah Faizal. Ketika akan mendekat ke ruangan tersebut, beberapa perawat dan juga seorang Dokter berlari masuk ke dalam ruang Ayah Faizal dengan raut wajah yang tak tenang.


“Sus, bagaimana keadaan suami saya?” tanya Ibu Puspita penasaran dengan tatapan kosong.


“Maaf,” ucap Perawat yang sedang terburu-buru.


“Ibu tenang dulu, sebaiknya kita duduk sambil menunggu Dokter keluar dari ruangan Ayah,” ujar Caca.


Sekitar 30 menit Ibu Puspita dan Caca menunggu, akhirnya Dokter pun keluar dari ruangan tersebut.


“Apakah Ibu ini adalah istri dari Pak Faizal?” tanya Sang Dokter.


“Benar sekali, Dok. Saya istrinya, ada apa dengan suami saya Dok?” tanya Ibu Puspita mendesak agar Dokter itu segera memberitahu keadaan suaminya di dalam.


“Ibu yang sabar ya, Allah lebih saya Pak Faizal. Hari Jum'at jam 02.45 Pak Faisal dinyatakan meninggal dunia,” terang Sang Dokter.


Ibu Puspita sangat syok dan pingsan di tempat setelah mendengar bahwa suaminya tidak bisa diselamatkan.


***


Beberapa jam kemudian.


Ibu Puspita akhirnya bangun dari pingsannya dan ternyata dirinya sudah berada di rumahnya sendiri. Perlahan Ibu Puspita bangkit dari tempat tidurnya dan masih belum ingat alasan mengapa dirinya pingsan.


Ingatannya kemudian kembali setelah melihat para tetangga yang sudah berada di ruang tamu duduk sila sambil membaca surah yasin. Ibu Puspita seketika itu berteriak histeris melihat jenazah suaminya yang sudah terbungkus kain berwarna putih.


Caca berlari menghampiri Ibu Mertuanya yang sedang terguncang hebat. Tidak ada istri di dunia ini yang tetap tenang melihat suaminya meninggal dunia.


“Ibu, ini Caca. Ibu tenanglah,” ucap Caca mencoba menenangkan Ibu Mertuanya yang masih syok.


Ibu Puspita tak kuasa menangis tangisnya ketika melihat suaminya sudah tak bernyawa lagi.


“Ibu, ayo kita masuk ke kamar!”


Dengan sekuat tenaga, Caca membawa Ibu mertuanya untuk segera masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


“Caca, apakah itu sungguh suami Ibu?” tanya Ibu Puspita syok.


“Ibu harus kuat, mungkin ini sudah takdir yang Allah tetapkan untuk kita,” balas Caca sambil terus menggenggam erat tangan Ibu Mertua.


Ibu Puspita seperti orang kebingungan, ia menangis tersedu-sedu dan tak sedikitpun menatap Sang Menantu.


Papa Rio dan Mama Ismia baru saja tiba di kediaman besannya. Orang Tua Caca bergegas pulang setelah mendapat kabar dari putri mereka bahwasanya Ayah Faizal meninggal dunia.


“Mbak Puspita,” ucap Mama Ismia sambil berjalan masuk ke dalam kamar.


Ibu Puspita tak merespon panggilan dari Besannya.


“Caca, di mana Yusuf? Lebih baik Caca temani Yusuf. Biar Ibu Puspita Mama yang jaga,” tutur Mama Ismia.


Caca menghapus air matanya dan berlari kecil menuju kamar suaminya.


“Sayang,” ucap Caca dan menggendong bayi Yusuf dengan penuh kesedihan.


Buah hatinya belum bisa tengkurap dan Ayah mertuanya justru lebih dulu meninggalkan mereka.


“Yusuf sayang, hari ini kita kehilangan satu keluarga. Bunda sangat sedih, karena Yusuf tidak akan bisa lagi digendong Kakek Faizal,” ucap Caca.


Tangisan Caca semakin menyakitkan, manakala ia teringat suaminya yang berada di rumah sakit. Sang suami tidak bisa mengantarkan Ayah Faizal ke tempat peristirahatan terakhirnya.


“Mas Adi pasti sangat sedih di sana, Ya Allah ujian ini apakah akan berbuah manis?” gumam Caca.


Beberapa jam kemudian.


Jenazah Ayah Faizal telah dikuburkan dan satu-persatu para pelayat pergi meninggalkan tempat pemakaman umum tersebut.


“Assalamu'alaikum,” ucap Papa Rio dengan pakaian yang sudah dipenuhi lumpuh tanah liat.


“Wa'alaikumsalam!”


Salah satu saudara dari Ibu Puspita mempersilakan Papa Rio untuk segera membersihkan diri di kamar mandi, mengingat hampir seluruh pakaian Papa Rio terdapat tanah liat yang menempel.


Ibu Puspita masih belum bisa mengendalikan kesedihannya, wanita paruh baya itu menangis tersedu-sedu teringat dengan suaminya, Faizal Hidayatullah.


“Caca, bagaimana nasib Ibu sekarang?” tanya Ibu Puspita yang tentu saja akan merasa kesepian sepeninggalnya Sang suami.


“Ibu masih memiliki kami dan Ibu tidak akan pernah merasa kesepian. Ibu jangan nangis terus ya, tidak baik untuk kesehatan Ibu,” tutur Caca.


Saudara jauh dari keluarga Ayah Faizal datang dan mereka terkejut mengetahui bahwa Ayah Faizal telah meninggal dunia.


“Innalillahi wa inna ilaihi raji'un,” ucap dua orang muda yang tak lain adalah keponakan Ayah Faizal.


Kedatangan mereka sebenarnya hanyalah ingin berkunjung dan sama sekali tidak mengetahui bahwa Paman mereka telah meninggal dunia.


“Bu, kami turut berdukacita atas meninggalnya Ayah Faizal,” ucapan keponakan Ayah Faizal.


Ibu Puspita hanya mengangguk pelan dengan tatapan yang masih kosong.


Keponakan Ayah Faizal memahami suasana hati Ibu Puspita yang masih terguncang.


Malam Hari.


Setelah tahlilan bersama, Caca dan Papa Rio pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Adi. Caca berharap setibanya di rumah sakit dan bertemu dengan suaminya, ia tidak menunjukkan kesedihan yang mendalam. Caca harus bisa menyesuaikan dirinya untuk tidak bersedih dihadapan Sang suami.

__ADS_1


“Assalamu'alaikum,” ucap Caca dan Papa Rio.


“Wa'alaikumsalam,” jawab Adi menoleh sekilas ke arah Caca dan Papa Rio. Kemudian, memalingkan wajahnya ke sisi lain.


“Mas...” Caca memanggil suaminya dengan suara lembut seraya berjalan menghampiri Sang suami tercinta.


Adi tak sanggup melihat sepasang mata indah milik istri kecilnya. Saat itu, perasaan Adi campur aduk tak karuan karena dirinya tidak bisa mengantarkan Ayah Faizal ke tempat peristirahatan terakhirnya.


“Ayah sudah dikuburkan sebelum sholat jum'at dan kami juga sudah tahlilan bersama,” tutur Caca dengan suara gemetar menahan tangis.


Caca perlahan menggenggam tangan suaminya dan menempelkan tangan suaminya ke pipi Caca sebelah kanan.


“Mas Adi...” panggil Caca sekali lagi.


Adi masih enggan menatap istrinya, terlebih lagi suasana hatinya sedang dalam keadaan hancur berkeping-keping.


“Sekarang, Ayah sudah tidak sakit lagi. Ayah juga sudah bisa melihat kita di Surga,” ucap Caca.


Air mata Adi akhirnya mengalir setelah berusaha menahan untuk tidak keluar.


“Mas kalau mau menangis ya menangis saja. Bukankah sangat wajar jika kita menangis karena ditinggalkan oleh orang yang paling penting dihidup kita?” tanya Caca.


Saat itu juga Adi menangis, mengeluarkan semua kesedihannya yang sejak tadi ia tahan.


Papa Rio yang melihat mereka menangis, memutuskan untuk keluar dari ruangan itu. Memberikan waktu bagi sepasang suami-istri yang sedang berbagi kesedihan satu sama lain.


“Sayang, cobaan kali ini sangatlah berat. Mas yang dirawat di rumah sakit ini, tetapi ternyata yang Allah panggil adalah Ayah dan bukannya Mas,” ucap Adi.


“Stop! Mas tidak boleh berbicara ngelantur seperti itu. Apapun yang telah terjadi, ini semua atas kehendak Allah SWT. Bagaimanapun, pasti ada giliran kita untuk pulang. Jadi, Caca mohon Mas jangan bicara seperti tadi ataupun berpikiran yang aneh-aneh. Lihatlah Mas! Caca di sini dihadapan Mas Adi dan juga kita masih memiliki Yusuf yang harus kita rawat dengan penuh cinta serta kasih sayang,” jelas Caca panjang lebar.


“Astaghfirullahalazim,” ucap Adi beristiqhfar menyadari bahwa ucapannya adalah hal yang tidak pantas untuk dilontarkan dari mulutnya.


“Sekarang, tanggungjawab Mas dan tanggungjawab kita berdua adalah membuat Ibu tidak merasa kesepian. Ibu sekarang telah kehilangan sosok suami yang sangat baik seperti Ayah Faizal dan sebagai anak kita harus berusaha membuat Ibu bahagia bersama kita,” ujar Caca.


Adi kembali mengucap istighfar dan mengucapkan terima kasih kepada Sang istri yang telah memberikannya semangat.


“Terima kasih ya sayang, Allah masih sangat baik dengan Mas karena telah menjadikanmu istri Mas yang sangat luar biasa baik. Sekali lagi terima kasih, Caca sayang.”


“Caca masih banyak kekurangan, Mas. Tolong bimbing Caca ke jalan yang lebih baik lagi!” pinta Caca.


Adi tersenyum lega dan keinginannya untuk sembuh muncul kembali.


“Sekali lagi Terima kasih, istriku. Kamu kado terindah dari Allah untukku,” ujar Adi.


Caca bernapas lega melihat senyum suaminya yang sangat tulus padanya.


“Sekarang Mas sudah kembali,” ucap Caca dan mengecup lembut kening suaminya.


Papa Rio duduk di kursi dengan tenang dan akan masuk kembali setelah dirasa benar-benar sudah tenang.


“Papa!” panggil Caca dengan tubuh setengah keluar.


“Bagaimana dengan Nak Adi?” tanya Papa Rio sambil bangkit dari duduknya.


“Alhamdulillah sekarang Mas Adi sudah tenang. Sekarang, Papa masuk ya dan ajak Mas Adi mengobrol!” pinta Caca pada Papa Rio.


Papa Rio mengiyakan dan berjalan masuk menghampiri menantu kesayangannya.

__ADS_1


__ADS_2