
Adi terkejut melihat istrinya begitu cantik dengan kebaya berwarna merah. Adi bahkan melongo melihat betapa cantiknya Sang istri ketika tersenyum sembari menuruni anak tangga.
“Mas, jangan diam saja. Bantuin Caca!” pinta Caca.
Adi terkesiap mendengar suara istrinya dan bergegas berlari kecil untuk membantu Sang istri turun dari tangga.
“Caca cantik tidak, Mas?” tanya Caca penasaran.
Adi ingin memuji kecantikan istrinya, akan tetapi ada Papa dan Mama yang terus memperhatikannya.
Pria itu hanya tersenyum sembari menggandeng tangan istrinya untuk segera masuk ke mobil.
Pagi itu, Adi lah yang akan menemani Caca wisuda. Papa dan Mama sepakat bahwa Adi yang akan menjadi wali murid untuk Caca Lestari.
“Mas, Caca sangat gugup. Bagaimana ini?” tanya Caca.
“Kesayangannya Mas tidak boleh gugup. Sebagai gantinya, sepulang dari wisuda Caca bebas meminta apapun dari Mas,” ujar Adi.
“Benarkah?” tanya Caca antusias.
“Tentu saja, apapun itu Mas akan berusaha memenuhinya,” jawab Adi sambil mengendarai mobil menuju sekolah.
“Berarti, kalau Caca minta nyawa Mas boleh dong?” tanya Caca dengan yakin.
“Astaghfirullah, mana boleh begitu?” tanya Adi terkaget-kaget dengan bahasa tubuh yang tak ingin dekat-dekat dengan Sang istri.
Caca tertawa lepas di dalam mobil ketika melihat ekspresi wajah suaminya.
“Hahaha... hahaha.. Mas lucu banget,” ucap Caca yang tidak bisa berhenti tertawa.
“Suami siapa dong?” tanya Adi seraya melirik ke arah.
Ketika Caca ingin berseru gembira, tiba-tiba saja suara benturan terdengar cukup keras.
Braakkkk!!!
“Astaghfirullah, Ya Allah!” Adi berteriak dan bergegas keluar dari mobil.
Rupanya Adi tak sengaja menabrak seorang pengendara motor yang kebetulan itu adalah Intan.
“Woy, bisa bawa mobil tidak?” Beberapa orang nampak marah dengan apa yang terjadi.
“Maaf, saya benar-benar tidak sengaja,” ucap Adi yang belum menyadari bahwa pengendara motor yang ditabrak nya adalah Intan.
__ADS_1
“Pak Adi!” panggil Intan yang sudah terduduk di aspal.
“Bu Intan!” Adi dengan sigap mendekat dan membantu Intan bangkit.
Caca yang melihat suaminya memapah Intan hanya bisa diam tanpa ingin mengeluh sedikit mengenai suaminya yang menyentuh Guru matematika itu.
“Saya dan wanita ini adalah rekan kerja,” terang Adi kepada orang-orang yang masih berdiri di dekatnya.
Motor Intan sudah di pindahkan ke tempat yang lebih aman dan Adi berinisiatif membawa Intan ke rumah sakit.
Intan tentu saja sangat senang mendapatkan perhatian Adi dan memutuskan untuk berpura-pura kesakitan agar Adi semakin memperhatikannya.
“Caca, bantu Bu Intan masuk ke dalam!” pinta Adi dan tanpa pikir panjang Caca membantu Intan masuk ke dalam mobil.
“Pak Adi, dada saya sesak,” ucap Intan seraya merintih kesakitan.
Rintihan kesakitan Intan justru terdengar sepertinya orang yang tengah mendes*h kenikmatan dan itu membuat Caca reflek memukul mulut Intan dengan kipas portabel miliknya.
“Caca, kamu apa-apaan?” tanya Intan seraya menyentuh bibirnya yang cukup sakit akibat dari pukulan Caca.
“Suara Ibu terdengar murahan dan kegatelan,” tegas Caca yang sama sekali tidak takut dengan Intan.
“Pak Adi, kenapa anak seperti ini dijadikan istri? Atau Pak Adi diguna-guna?” tanya Intan pada Adi yang sibuk mengemudikan mobil.
"Bu Intan mau kakinya sekalian Caca patahkan?” tanya Caca yang tak bisa menahan diri untuk tidak berbicara pada Intan.
“Caca, Ibu ini lagi sakit dan kamu tidak sopan bicara kasar pada Ibu,” jawab Intan.
“Kenapa memangnya? Ibu pikir Caca takut?” tanya Caca penuh keberanian.
Intan sadar bahwa mobil telah berhenti di depan sebuah rumah sakit. Tak ingin membuat Adi curiga, Intan pun diam membisu ketika tubuhnya di angkat ke sebuah kursi roda.
“Pak Adi mau kemana?” tanya Intan yang menyadari bahwa Adi dan Caca ingin pergi meninggalkannya.
“Pakai nanya segala, ya jelas mau ke sekolah lah. Caca hari ini wisuda dan Mas Adi akan menjadi wali untuk Caca,” terang Caca seraya menggandeng tangan suaminya.
Intan menangis kesal ketika melihat Adi pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah katapun untuknya.
****
Caca tersenyum lebar ketika ia turun dari mobil dan tak butuh waktu lama, dirinya menjadi pusat perhatian semua orang di sekolah.
“Mas, mereka kenapa ya melihat ke arah kita terus?” tanya Caca terheran-heran.
__ADS_1
Adi membalas pertanyaan istrinya dengan sebuah gandengan tangan dan dengan langkah tegas berjalan menuju aula utama.
Tentu saja alasan mengapa mereka melihat Caca dan Adi karena kedekatan mereka berdua. Kedekatan antara Guru dan murid yang seperti pasangan kekasih.
Para Guru menyambut kedatangan Adi dan Caca dengan senyuman ramah. Mereka semua sudah tahu mengenai hubungan Caca dan Adi sebagai seorang istri dari Kepala sekolah.
“Silakan duduk!” Salah satu Guru melambaikan tangannya agar Adi dan Caca segera duduk di kursi.
Caca tersenyum malu-malu ketika mendapatkan perlakuan spesial dari para Guru.
“Mas, apa tidak apa-apa kalau mereka tahu hubungan kita?” tanya Caca yang sudah duduk di kursi bersama dengan suaminya.
“Kenapa memangnya? Bukankah kita sudah menikah?”
Caca masih tak menyangka mendapatkan suami tampan seperti Adi Hidayatullah. Bahkan, ketika suaminya tidur, Caca sering memandangi suaminya dengan waktu yang cukup lama.
Satu-persatu kursi diisi oleh peserta wisuda kelulusan bersama dengan orang tua mereka dan tak berselang lama, nama para murid di panggil bergiliran untuk naik ke atas panggung.
Leo yang duduk tak jauh dari Caca tak bisa sedikit saja tidak menatap Caca. Bagi Leo, hanya Caca yang tercantik di Angkatan mereka.
Adi menyadari Leo yang terus saja menatap istrinya. Tentu saja sebagai suami Leo merasa risih dan meminta istrinya untuk berganti tempat duduk. Caca mengiyakan seraya tersenyum manis pada suaminya.
“Pak Adi memang Guru yang paling menjengkelkan,” gumam Leo yang tak bisa memandangi wajah cantik Caca.
Caca meminta suaminya terus menggenggam erat tangannya karena gugup menunggu namanya di panggil.
“Tenang,” ucap Adi dengan suara yang begitu lembut.
“Haduh, Caca sangat gugup Mas. Bagaimana kalau tiba-tiba saja jatuh di hadapan orang banyak?” tanya Caca.
“Ingat janji Mas tadi, apakah Caca lupa?” tanya Adi.
Caca menggelengkan kepalanya seraya memanyunkan bibirnya yang manis.
“Tentu saja Caca ingat, Mas. Bagaimana kalau permintaan Caca tidak bisa Mas penuhi?” tanya Caca.
Di saat itu juga, nama Caca disebut dan saat itu juga Caca bangkit dari duduknya untuk maju ke atas panggung.
Seketika itu, tatapan mata tertuju pada Caca yang tampak bersinar dari yang lain. Caca benar-benar sangat cantik dan kulitnya yang putih semakin bercahaya dengan kebaya berwarna merah.
Prok! Prok! Prok! Mereka bertepuk tangan melihat Caca naik ke atas panggung bak model internasional.
Adi tersenyum bangga melihat betapa cantiknya Sang istri dan sedikit menyesal karena pernah membuat istrinya kesal dengan tingkahnya yang dulu sering cuek.
__ADS_1