Istri Centil Mas Adi

Istri Centil Mas Adi
Banyaknya Perlengkapan Bayi


__ADS_3

Malam Hari.


Caca sedang duduk seorang diri di ruang tamu sembari menonton televisi. Sementara Sang suami, masih belum pulang dari masjid untuk melaksanakan sholat isya berjama'ah di masjid.


Meskipun sudah mendiami rumah itu cukup lama, Caca masih saja takut jika di rumah sendirian. Belum lagi, ketakutannya setelah kejadian pembakaran warung.


“Kemana Mas Adi, kenapa sampai jam segini belum juga kembali?” gumam Caca.


Caca ingin sekali masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu kamarnya sampai suaminya itu kembali dari masjid.


“Assalamu'alaikum, Caca sayang!”


Caca bisa mendengar suara salam dan panggilan itu, seketika itu juga Caca bangkit untuk segera membuka pintu.


“Mama!” Caca bernapas lega karena Mama Ismia dan Papa Rio datang untuk menemaninya.


“Assalamu'alaikum,” ucap Mama Ismia dan Papa Rio sekali lagi.


“Wa’alaikumsalam,” balas Caca dan meminta kedua orang tuanya untuk segera masuk ke dalam.


Ketakutan pada diri Caca menghilang manakala kedua orang tuanya ada di sampingnya.


“Sayang, apakah suamimu belum kembali dari masjid?” tanya Mama Ismia.


“Belum, Ma. Mungkin sebentar lagi,” jawab Caca sembari menoleh ke arah pintu.


Caca tersenyum lebar manakala Adi baru saja tiba dengan mengucap salam.


“Assalamu'alaikum,” ucap Adi seraya tersenyum ke arah mertuanya.


“Wa’alaikumsalam,” jawab Caca dan kedua orang tuanya.


Adi melangkah masuk ke dalam untuk mencium punggung tangan kedua mertuanya.


“Mas...” Caca meminta suaminya untuk duduk disampingnya.


Mama Ismia dan Papa Rio bernapas lega karena Adi sudah kembali dari Masjid.


“Nak Adi, tolong bantu Papa mengangkat barang bawaan yang berada di dalam mobil!” pinta Papa Rio meminta tolong kepada menantunya.


Adi mengiyakan dengan patuh dan bergegas menuju mobil bersama dengan Papa Mertua.


Caca memanyunkan bibirnya seraya menatap sedih Mama Ismia.


“Sayang, kamu kenapa?” tanya Mama Ismia penasaran.


“Mama sering-seringlah menginap di sini. Caca takut di rumah sendirian!” pinta Caca.


Mama Ismia memahami ketakutan putri kesayangannya itu. Mau bagaimanapun, kebakaran warung itu membuat Caca menjadi takut.

__ADS_1


“Kamu tidak usah takut ya sayang, kami pasti akan bergantian menginap di sini,” ungkap Mama Ismia.


Caca bernapas lega mendengar apa yang Mama Ismia katakan.


“Mama, malam ini Caca tidur dengan Mama ya!” pinta Caca yang tiba-tiba ingin tidur dengan Mama tercinta.


“Sudah izin suami?” tanya Mama Ismia memastikan.


Caca menggelengkan kepalanya isyarat bahwa dirinya belum meminta izin kepada Sang suami.


“Sayang, minta izin lah dulu kepada suamimu. Kalau diizinkan, Mama akan langsung mengiyakan,” balas Mama Ismia dengan tatapan keibuan.


Caca mengiyakan dan akan segera meminta izin kepada Sang suami.


Adi dan Sang Mertua sedang sibuk mengangkuti barang-barang milik bayi yang di kandung Caca. Perlengkapan yang cukup banyak untuk ukuran bayi yang belum lahir.


“Mama, Papa! Baju bayi kenapa banyak sekali? Dan ini juga, kenapa popok bayi sampai sebanyak ini?” tanya Caca terkejut.


Caca sangat bingung melihat banyaknya perlengkapan untuk bayi kecilnya.


“Sayang, ini belum seberapa. Kalau cucu kami sudah lahir, Mama akan menambah pakaian, popok, mainan dan macam-macam keperluan bayi kalian berdua,” terang Mama Ismia yang sangat antusias untuk segera menimang cucu.


“Mama, Caca bukannya ingin menolak. Tapi, bayi Caca dan Mas Adi tidak selamanya menjadi bayi. Lagipula, pemberian Mama dan Papa sudah sangat banyak,” ungkap Caca merasa bahwa tidak perlu membeli terlalu banyak perlengkapan bayinya.


Sebagai seorang suami sekaligus calon Ayah, Adi perlahan menjelaskan kepada mertuanya dan berharap kedua mertuanya bisa mengerti maksud dari perkataan Caca.


Mama Ismia dan Papa Rio akhirnya mengerti setelah Adi mencoba menjelaskannya.


Mama Ismia dan Papa Rio hanya tersenyum mendengar apa yang putri mereka katakan.


“Mama dan Papa sudah makan?” tanya Adi dan bersiap untuk menyiapkan makan malam.


“Nak Adi, tidak usah menyiapkan makanan untuk Mama dan Papa. Sebelum ke sini, kami makan di rumah,” jawab Mama Ismia yang tidak ingin merepotkan menantunya.


“Benarkah? Padahal Adi sangat bersemangat untuk menjamu Mama dan Papa,” balas Adi.


Mama dan Papa tertawa lepas mendengar ucapan Adi dengan raut wajah yang begitu antusias.


“Karena Mama dan Papa sudah makan, bagaimana kalau Adi membuatkan teh?” tanya Adi menawarkan teh untuk kedua mertuanya.


Mama Ismia menoleh sekilas ke arah Papa Rio dan mengiyakan tawaran Adi untuk membuatkan teh.


“Mas, Caca mau ikut ke dapur,” ujar Caca dan berjalan beriringan bersama Adi menuju dapur.


Mama Ismia tersenyum lepas manakala melihat tingkah putrinya yang selalu ingin menempel kepada menantunya.


“Papa, sepertinya mereka sudah sangat lengket,” ucap Mama Ismia.


“Tentu saja. Kalau tidak lengket, putri kita pasti belum mengandung,” balas Papa Rio dan tertawa garing.

__ADS_1


Mama Ismia mengernyitkan keningnya dan melenggang pergi menuju kamar untuk meletakkan kopernya.


“Mama mau kemana?” tanya Papa Rio yang melihat istrinya sudah bangkit dari kursi.


“Mau menaruh koper sekalian ganti baju,” jawab Mama Ismia dan melenggang pergi.


Papa Rio dengan cepat berlari untuk masuk lebih dulu ke dalam kamar.


“Papa ini ya,” ucap Mama Ismia melihat suaminya berlari begitu saja.


Beberapa menit kemudian.


Teh yang Adi buat telah siap untuk dinikmati bersama.


“Terima kasih,” ucap Mama Ismia setelah Adi meletakkan teh ke atas meja.


Adi mengangguk kecil dan menyadari bahwa Papa Rio tidak berada di ruang tamu.


“Mama, Papa kemana?” tanya Adi penasaran.


“Sedang di kamar, ganti baju,” jawab Mama Ismia.


Saat itu juga, Papa Rio datang dan telah mengganti pakaiannya dengan piyama.


“Papa kok pakai piyama warna merah jambu?” tanya Caca terheran-heran.


“Ini piyama Mama kamu yang membelikannya, apakah sangat tidak cocok dipakai oleh Papa?” tanya Papa Rio penasaran.


Caca tersenyum kaku sembari memuji piyama yang Papa Rio kenakan.


“Wah, pilihan Mama memang yang terbaik,” ucap Caca memuji piyama merah jambu yang dikenakan oleh Papa Rio.


“Benarkah?” tanya Mama Ismia yang sangat antusias mendengar putri kesayangannya memuji pilihan piyama merah jambu untuk suaminya.


“Papa justru merasa aneh dengan piyama ini,” ucap Papa Rio dengan wajah tertekan karena harus mengenakan piyama merah jambu seusianya.


Caca hanya mengangkat jempol tangannya tanpa ingin mengeluarkan sepatah katapun.


“Mama, Papa. Silakan nikmati teh yang Adi buat,” ucap Adi mempersilakan mertuanya untuk segera meminum teh buatannya selagi teh itu hangat.


“Terima kasih, Nak Adi,” ucap Mama Ismia.


Adi hanya tersenyum mendengar ucapan terima kasih dari Mama mertuanya.


“Teh buatan Nak Adi sangat enak, melebihi teh buatan istri Papa,” tutur Papa Rio yang sengaja menggoda istrinya.


“Papa, awas ya nanti malam,” ucap Mama Ismia memberi peringatan kepada Papa Rio.


Papa Rio panik mendengar peringatan dari Istrinya.

__ADS_1


“Mama kok bicara begitu?” tanya Papa Rio.


“Entahlah,” celetuk Mama Ismia dan meneguk teh buatan Adi sampai habis tak tersisa.


__ADS_2