Istri Centil Mas Adi

Istri Centil Mas Adi
Panen Hasil Menanam Sendiri


__ADS_3

Malam Hari.


Adi dan Caca bersiap untuk pergi membeli sate ayam Pak Djarot, sekalian mereka berdua berkencan di malam hari.


“Mas, nanti beli 30 tusuk ya!” pinta Caca yang sangat lapar.


“Sebanyak itu? Baiklah, Mas akan membelikannya,” balas Adi.


“Terima kasih, suami kesayangan Caca,” ucap Caca.


Motor perlahan pergi meninggalkan rumah dan Caca tersenyum lebar seraya memeluk punggung suami tercinta.


“Mas, kita pesan yang bumbu kacang ya!” pinta Caca.


“Iya, terserah Caca saja. Apapun yang Caca inginkan malam ini, Mas akan menuruti keinginan Caca,” pungkas Adi.


Perjalanan menuju sate ayam Pak Djarot memakan waktu 10 menit.


Tak berselang lama, mereka akhirnya sampai juga. Caca dengan semangat turun dari motor dan berlari kecil menuju tenda biru milik Pak Djarot.


Caca pun memesan sate ayam bumbu kacang sebanyak 30 puluh dan minumnya air putih.


“Tunggu sebentar ya Neng Caca,” ucap Pak Djarot yang sudah hafal dengan Caca.


“Caca, jangan berlarian seperti tadi. Ingat, kamu lagi hamil,” ucap Adi dengan berbisik, karena saat itu cukup banyak orang yang mengantre membeli sate ayam.


“Hehe.. Maaf ya Mas,” balas Caca cengegesan agar Sang suami tidak marah padanya.


Adi hanya bisa menghela napasnya seraya menggenggam erat jemari tangan istri kecilnya.


Sambil menunggu pesanan mereka datang, Adi dan Caca menyibukkan diri dengan berbincang-bincang. Perbincangan mereka tentu saja membahas rencana ke depannya.


“Caca, uang kita sebentar lagi akan terkumpul. Menurut Caca kita membuat ruangan baru untuk warung kita atau uangnya untuk hal yang lain?” tanya Adi yang tahu pendapat dari istri kecilnya.


“Kalau menurut Caca, lebih baik uangnya untuk membuat ruangan baru. Itu lebih memudahkan kita untuk berjualan, Mas. Ke depannya kita tidak perlu lagi membawa masuk atau mengeluarkan jualan kita,” jawab Caca.


Adi menatap istrinya dengan serius dan tersenyum lega karena jawaban istri kecilnya sangat tepat.


“Mas sangat senang mendengar jawaban bijak Caca. Setelah acara resepsi kita, Mas akan memanggil tukang agar segera membuat ruangan baru untuk kita berjualan,” pungkas Adi.


Sate pesanan Caca akhirnya datang juga, Caca begitu semangat untuk menikmati sate ayam bumbu kacang tersebut.


“Mas, kalau Caca masih lapar boleh ya nambah lagi?” tanya Caca.


“Tentu saja, boleh. Sekalian di bungkus juga boleh,” jawab Adi seraya menyentuh pipi istri kecilnya yang chubby efek dari berbadan dua.


***


Pagi Hari.


Caca melompat kegirangan ketika melihat tanaman Cabe, tomat dan terong sudah siap untuk di panen. Tentu saja itu semua akan mereka jual mengingat harga bahan dapur sedang melambung tinggi, terutama harga cabai yang tebus 100 ribu/Kg.


Halaman belakang rumah tentu saja dikelilingi pagar yang terbuat dari bambu yang cukup tinggi serta rapat. Hal tersebut dilakukan agar para hewan tidak masuk untuk merusak tanaman serta agar dijauhkan dari tetangga yang suka usil memetik tanpa sepengetahuan Adi maupun Caca.


“Mas mau kemana?” tanya Adi yang hendak kembali masuk ke dalam rumah.


“Mas mau mengambil tampah untuk menampung hasil panen kita,” jawab Adi.


Sementara Adi mengambil tampah, Caca pun terlebih dulu turun ke kebun untuk memetik tomat yang warnanya sangat cantik.

__ADS_1


“Mas!” panggil Caca memperlihatkan tomat yang ia penting berwarna kuning pekat.


Adi berlari kecil menghampiri Sang istri sambil membawa tampah berukuran cukup besar.


“Kira-kira kita panen berapa Kg ya Mas?” tanya Caca penasaran.


“Mas kurang tahu kalau untuk berapa Kg, tapi sepertinya untuk tomat saja lebih dari 5 Kg,” jawab Adi.


Mereka membagi tugas memetik hasil panen, Caca memetik tomat sedangkan Adi memetik cabai keriting serta cabai rawit.


Pagi itu, keduanya sama-sama tidak pergi kuliah ataupun mengajar. Karena Dosen yang mengajar Caca sedang ada kepentingan keluarga, sedangkan alasan Adi tidak masuk mengajar karena kebetulan hari itu dirinya tidak ada jam kelas.


“Mas, lihat deh! Kacang panjang kita rupanya sudah besar-besar,” ucap Caca menunjuk ke arah tanaman kacang panjang yang merambat di sekitar bambu dengan jumlah yang cukup banyak.


“Wah, sepertinya kita hari ini panen besar,” balas Adi.


Lebar halaman belakang sekitar 7 meter dan panjangnya sekitar 15 meter. Meskipun begitu, tanaman yang mereka tanam begitu lebat. Karena Adi maupun Caca rutin memberikan pupuk serta merawat apa yang mereka tanam di kebun halaman belakang.


Caca tiba-tiba saja menangis terharu karena usahanya dengan suami ternyata membuahkan hasil. Caca bahkan mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu ketika ia hampir menyerah dengan tanaman yang mati.


“Caca sayang, kok malah menangis? Jangan menangis ya, tidak baik menangis di depan tanaman kita,” ujar Adi dengan kedua tangan yang sedang menggenggam cabai.


“Caca menangis terharu, Mas. Bukan menangis sedih, Caca sangat terharu melihat hasil panen kita. Orang tua kita pasti senang karena kita bisa membuat tanaman kita berbuah subur,” pungkas Caca.


“Bagaimana kalau kita membuat video dan mengirimnya ke orang tua kita?” tanya Adi sembari menaruh cabai ke tampah.


“Kita unggah juga di youtube ya Mas, siapa tahu ada yang melihat video kita.”


“Boleh juga, sebentar Mas masuk ke dalam dulu mengambil handphone,” ujar Adi dan berlari masuk ke dalam rumah.


Beberapa saat kemudian.


Caca duduk di kursi kayu sambil menghadap ke arah tanaman mereka. Berulang kali Caca mengatur napasnya yang terengah-engah efek dari berbadan dua.


Adi yang duduk di dekat Caca, saat itu juga mengakhiri rekaman video mereka.


“Mas, Caca udahan ya. Pinggang Caca rasanya pegal,” tutur Caca.


“Caca istirahatlah, jangan lupa untuk ganti pakaian,” balas Adi.


“Caca sekalian mandi saja, Mas. Boleh minta tolong panaskan Caca air? Caca ingin mandi air hangat.”


“Sekalian Mas mandikan mau?” tanya Adi sambil mengangkat tampah untuk segera di bawa masuk ke dalam rumah.


“Boleh deh Mas,” jawab Caca.


Caca masuk terlebih dulu dan Adi berjalan tepat di belakang istri kecilnya.


“Alhamdulillah, ternyata hasil panen kita sangat banyak ya sayang,” tutur Adi sambil menumpahkan isi tambah ke atas sebuah bak berukuran cukup besar.


Caca tersenyum lebar melihat hasil panen yang sangat banyak.


“Mas, bagaimana kalau kita menjual dengan harga miring? Kalau di pasar 100 rb/Kg. Kalau di kita 90 rb/Kg?” tanya Adi.


“Boleh juga, lagipula kita tidak akan merugi karena menjual 10 ribu lebih murah daripada di pasar,” jawab Adi yang setuju dengan ide dari istri kecilnya.


Caca melepaskan pakaiannya tepat di depan kamar mandi dan tak lupa memasukkan ke keranjang khusus baju kotor. Sementara Adi sedang berdiri di dekat kompor sambil menunggu airnya mendidih.


“Mas, Caca tunggu di dalam ya,” ucap Caca sebelum masuk ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


“Iya sayang!” seru Adi.


Pagi itu, warung belum buka. Mereka sengaja belum membuka warung karena sedang sibuk memanen.


Setelah air mendidih, Adi pun dengan hati-hati membawa air yang baru mendidih itu ke dalam kamar mandi. Air sudah disiapkan Caca dan perlahan Adi mencampur air mendidih itu ke dalam air biasa.


“Waktunya kita mandi bersama,” ucap Adi yang tiba-tiba ingin mandi bersama Sang istri.


Caca tersenyum lebar mendengar bahwa Sang suami ingin mandi bersama dirinya.


30 Menit Kemudian.


Adi dan Caca baru saja selesai mandi bersama, terlihat jelas bahwa keduanya sangat bahagia karena bisa mandi bersama.


“Mas Adi!” Caca terkejut karena tiba-tiba saja Sang suami menggendong tubuhnya ala bridal style.


“Diam, jangan bergerak. Mas tidak tanggung jawab kalau misalnya kita berdua terpeleset,” ujar Adi.


Caca tentu saja tidak percaya dengan ucapan suaminya, tidak mungkin Sang suami membiarkan mereka berdua terpeleset.


Setibanya di dalam kamar, merekapun buru-buru mengambil pakaian mereka masing-masing dan bergegas memakainya.


“Mas, nanti jum’atan mau pakai sarung yang mana?” tanya Caca yang telah selesai mengenakan pakaiannya.


“Terserah Caca saja,” jawab Adi yang juga telah selesai mengenakan pakaiannya.


Adi kemudian mengajak istri kecilnya untuk menimbang hasil panen mereka.


“Mas, coba foto cabe ini dan posting di sosial media. Siapa tahu ada yang mau beli, Teman-teman Mas juga sudah banyak yang berumah tangga. Mereka pasti membeli hasil panen kita,” terang Caca.


“Kamu memang istri yang paling pintar,” puji Adi dan memfoto semua hasil panen mereka berdua untuk di posting ke sosial media.


“Mas, bagian yang ini Caca pisahkan ya. Untuk Mama dan Ibu di rumah,” ujar Caca.


“Terima kasih, Caca sayang. Kamu sudah memperhatikan keluarga kita,” tutur Adi dan mengecup sekilas bibir Caca.


Caca hanya tersenyum manis mendengar penuturan Sang suami kepada dirinya.


Adi melongo melihat banyaknya pesan yang masuk mengenai hasil panen mereka berdua.


“Ada apa, Mas?” tanya Caca penasaran dan melihat isi pesan yang diterima oleh suaminya.


“Mas, yang pesan banyak sekali,” tutur Caca terkaget-kaget.


Adi meletakkan ponselnya dan memeluk erat tubuh istri kecilnya.


“Alhamdulillah, tidak sampai setengah hari jualan kita laris manis. Nanti setelah pulang dari Masjid Mas akan pergi mengantarkan Cabai, tomat dan terong ke mereka,” ungkap Adi.


“Alhamdulillah, semangat untuk kita!” seru Caca.


Caca memisahkan sedikit cabai, tomat serta terong untuk di jual di rumah. Tidak mungkin semua hasil panen di jual kepada rekan kerja Sang suami tercinta.


“Caca, tolong ambilkan kantong plastik!” pinta Adi.


Caca mengiyakan dan bergegas mengambil kantong plastik yang berada di ruang depan.


“Ini Mas, kantong plastik nya,” tutur Caca seraya memberikan kantong plastik tersebut kepada Adi.


Adi mengambilnya seraya berterima kasih kepada Sang istri. Kemudian, meminta istri kecilnya untuk duduk menemaninya menimbang hasil panen mereka.

__ADS_1


“Caca bantu mengikat ya Mas!” seru Caca yang ingin membantu Adi.


“Tidak usah, Caca. Biar Mas saja yang melakukanya, Caca cukup diam dan menemani Mas di sini,” balas Adi.


__ADS_2