
Pagi Hari.
Adi dan Caca berpamitan untuk pulang ke rumah kontrakan mereka. Mama Ismia sebenarnya masih ingin mereka berdua tinggal di rumah, akan tetapi keduanya menolak karena tidak baik jika menutup warung sampai berhari-hari. Yang ada pelanggan mereka akan kabur karena Adi dan Caca tidak berjualan.
“Mama, Papa! Ibu, Ayah! Adi dan Caca pamit pulang, assalamu'alaikum!”
“Wa’alaikumsalam!” seru para orang tua.
Mereka pulang menuju rumah kontrakan dengan mengendarai motor, sementara barang-barang mereka masih berada di kamar Caca dan akan mereka ambil jika sudah ada waktu untuk mengambil barang-barang tersebut.
Caca melambaikan tangannya seraya tersenyum sebelumnya keluar dari halaman rumah.
“Kami pulang, Assalamu'alaikum,” ucap Caca dengan terus melambaikan tangannya.
Caca kemudian memeluk erat pinggang Sang suami dan meletakkan dagunya di pundak suaminya.
“Mas, terima kasih untuk semalam. Punggung dan pinggang Caca sudah tidak sakit, berkat pijatan plus plus Mas Adi,” tutur Caca.
“Kamu ini bisa saja,” sahut Adi dengan menahan tawanya.
Caca begitu menikmati indahnya suasana pagi di hari Ahad.
“Mas, mumpung masih pagi bagaimana kalau kita berbelanja keperluan warung? Dan 1 lagi, kita juga harus membeli susu kaleng. Karena ada beberapa Ibu-ibu yang menanyakan susu kaleng,” tutur Caca.
“Kita beli di pasar dekat sini ya sayang, kebetulan ada toko grosir. Lumayan kalau dapat diskon,” ujar Adi yang sangat senang jika ada barang yang diskon.
Caca terkekeh mendengar ucapan suaminya yang ternyata sudah dengan barang-barang diskonan.
“Mas, sabtu depan kita tidur di rumah orang tua Caca ya. Kita 'kan, belum membuka amplop dari tamu undangan,” tutur Caca.
“Iya sayang, besok sabtu kita tidur di rumah Mama Papa!” seru Adi.
***
Rumah Kontrakan.
Caca turun dengan perlahan seraya mengelus perutnya, bayinya tiba-tiba saja menendang perutnya dan itu membuat Caca terkejut.
“Mas, coba pegang perut Caca!” Caca dengan semangat memegang tangan suaminya dan menuntun tangan Sang suami untuk menyentuh perutnya.
Mulut Adi terbuka lebar ketika merasakan pergerakan bayi mereka di dalam perut Caca.
“Mas, sepertinya bayi kita tidak sabar untuk melihat kita berdua. Caca tidak sabar lagi menunggu bayi kita lahir,” pungkas Caca.
Adi bergegas membuka pintu rumah mereka dan menuntun istri kecilnya untuk masuk terlebih dahulu.
“Caca duduk di sini dulu ya, pasti sangat lelah berkeliling pasar,” tutur Adi dan berlari kecil untuk mengambil gelas di dapur.
Adi kembali dengan membawa gelas kosong dan mengambil air kelapa muda untuk diminum oleh Caca.
“Terima kasih, Mas!”
Caca meneguk air kelapa muda yang suami beli khusus untuk hingga habis tak tersisa.
“Segar sekali Mas, bayi kita pasti sangat senang minum air kelapa muda ini,” ujar Caca.
“Sekarang Caca lebih baik istirahat di kamar, biar Mas yang buka warung.”
“Mas yakin buka warung sendirian?”
“Yakin dong, sudah sana Caca masuk ke kamar!” perintah Adi.
Caca pun bergegas masuk ke dalam kamar seraya mengelus-elus perutnya.
__ADS_1
Di dalam kamar, Caca justru menyibukkan diri dengan merapikan pakaiannya dan pakaian Sang suami.
Caca senang karena dirinya sudah bisa melakukan pekerjaan rumah, meskipun tidak semahir seperti Sang suami tercinta.
Usai merapikan pakaian mereka berdua, Caca mencari kesibukan lainnya yaitu menggantikan seprai kasur, sarung bantal dan juga sarung guling.
“Hatchimmm... Hattchiimmm...” Caca terlalu bersemangat menarik seprai hingga debu masuk ke hidungnya dan menyebabkan dirinya bersin berulang kali.
Karena bersin terus-menerus, Caca memutuskan untuk keluar dari kamar sampai ia berhenti bersin.
“Caca, kok tidak masuk kamar?” tanya Adi ketika melihat istri kecilnya berdiri di depan pintu dan tak kunjung masuk ke dalam.
“Hattcchiiimmm... Haatchimm..” Caca kembali bersin dan seketika itu Adi menghampiri istri kecilnya.
“Caca kenapa?” tanya Adi khawatir.
“Caca tidak apa-apa, Mas. Hanya saja tadi Caca sedang ingin menggantikan seprai, eh malah jadinya bersin terus,” jawab Caca dengan hidup yang memerah efek dari bersin terus-menerus.
“Biar Mas saja yang melakukannya, Caca diam di sini sampai Mas keluar!” perintah Ada dan bergegas masuk ke dalam kamar.
***
Siang Hari.
Adi yang sedang sibuk berkutat dengan laptopnya, terkejut mendengar suara notifikasi pesan di ponselnya. Adi tak langsung membuka isi pesan dari grup, karena ia masih serius dengan laptop di hadapannya.
Lagi-lagi notifikasi pesan berbunyi dan pada akhirnya Adi membuka isi pesan tersebut yang ternyata isinya adalah mengenai reuni sekolah.
“Pesan dari siapa, Mas?” tanya Caca penasaran ketika melihat wajah suaminya yang cukup serius membaca pesan yang terus saja berdatangan.
“Ini teman-teman sekolah Mas dulu mengadakan reuni sekolah,” jawab Adi.
Caca yang penasaran, bergegas mendekati suaminya untuk melihat isi pesan dari grup.
“Acaranya nanti malam? Kok mendadak begini? Mas mau pergi?” tanya Caca penasaran.
Caca terus men scroll isi pesan di grup yang ternyata memperbolehkan membawa keluarga (Istri).
“Mas, ini boleh kok membawa istri. Kita ikut yuk Mas! Caca juga ingin datang di acara reuni Mas,” ujar Caca yang ingin menghadiri acara reunian tersebut.
“Caca yakin mau ikut? Mas tidak ingin Caca kelelahan,” ujar Adi yang mengkhawatirkan kondisi istri kecilnya yang tengah mengandung.
“Mas, setidaknya kita harus datang. Meskipun hanya 5 menit,” balas Caca.
“Baiklah, tapi Caca harus berjanji kalau merasa tidak enak badan langsung beritahu Mas!” perintah Adi.
“Kalau soal itu gampang deh!” seru Caca dan kembali naik ke tempat tidur.
Caca tersenyum seraya memejamkan matanya. Ia harus segera tidur agar nanti malam tidak kelelahan dan tidak mengantuk ketika menghadiri acara reunian Sang suami tercinta.
“Caca tidur siang dulu ya Mas, saat pekerjaan Mas sudah selesai cepat tidur. Caca kangen di peluk Mas,” tutur Caca sambil memeluk guling miliknya.
“Iya sayang, 10 menit lagi Mas akan menyusul Caca dan akan memeluk Caca,” balas Adi dan mempercepat pekerjaannya.
10 menit kemudian.
Adi ikut mengantuk ketika melihat Caca yang sudah terlelap, karena masih siang Adi pun memutuskan tidur sebentar sembari menunggu adzan dzuhur.
Perlahan Adi naik ke tempat tidur dan mendekap punggung istri kecilnya dengan tangan yang menyentuh perut buncit Caca.
“Mas, sudah selesai mengerjakan soal untuk anak-anak?” tanya Caca dengan mata tetap terpejam.
“Alhamdulillah sudah dong, ayo tidur!”
__ADS_1
Mereka berdua tidur dengan posisi menghadap arah kiblat.
Baru saja ingin tidur siang, terdengar ada suara orang memanggil. Dengan mata mengantuk, Adi berjalan meninggalkan kamar untuk melayani pembeli.
Caca merasa kasihan dengan suaminya yang sangat lelah, namun harus tetap berjualan agar ada pemasukan untuk kebutuhan mereka sehari-hari.
“Siapa Mas?” tanya Caca ketika Sang suami telah kembali ke kamar.
“Itu, Bu Dwi tadi beli susu kaleng dan keju,” jawab Adi sambil merebahkan tubuhnya di tempat tidur dan menarik tubuh Caca ke dalam dekapannya.
“Ayo Mas, kita tidur lagi,” tutur Caca mengajak Adi untuk segera tidur.
****
Malam Hari.
Acara reunian akan diadakan jam 8 malam dan kebetulan lokasi tempat mereka berkumpul tidak jauh dari rumah kontrakan mereka.
Hal itu tentu saja cukup menguntungkan untuk keduanya karena tidak harus terburu-buru mengejar waktu.
“Mas sudah pulang ternyata,” ucap Caca ketika melihat Sang suami masuk ke dalam kamar habis sholat isya di masjid.
“Alhamdulillah. Caca sudah sholat isya?” tanya Adi.
“Alhamdulillah, sudah Mas. Sekarang Caca bingung mau pakai baju yang mana. Bagaimana kalau Caca memakai dress berwarna hitam? Apakah terlihat aneh?” tanya Caca yang bermaksud untuk menutupi kehamilannya.
“Kalau Caca pakai dress warna hitam, Mas juga akan memakainya,” sahut Adi.
“Apa? Mas juga mau pakai dress warna hitam?” tanya Caca panik.
“Maksudnya Mas itu, pakai warna hitam juga. Kemeja Mas juga ada yang warnanya hitam,” pungkas Adi dan terkekeh geli melihat ekspresi wajah istrinya.
“Hehe... Hampir saja Caca salah paham,” balas Caca.
Caca pun mengambil dress miliknya di almari pakaian dan mengenakan dress hitam tersebut.
“Mas, coba lihat. Perut buncit Caca tidak terlalu kelihatan,” ucap Caca yang sangat senang.
Adi dan Caca memang sepakat untuk tidak memberitahu kepada orang lain tentang calon buah hati mereka. Mereka ingin orang lain tahu dengan sendirinya dan sekaligus ingin memberi kejutan.
Caca sendiri memiliki tubuh yang cukup proposional. Hal itu menjadi keuntungan tersendiri bagi Caca, terlebih lagi ia mengandung dengan perut yang tidak terlalu buncit seperti kebanyakan wanita hamil pada umumnya. Kemungkinan juga, karena kehamilan Caca adalah kehamilan pertamanya sehingga walaupun kandungan berusia 6 bulan, tetapi seperti terlihat berusia 4 bulan.
“Caca sayang, menurut Caca Mas cocok pakai kemeja yang kanan atau yang kiri?” tanya Adi yang cukup bingung untuk memilih kemeja mana yang akan ia kenakan untuk menghadiri reuni sekolah.
“Menurut Caca kemeja yang sebelah kanan cocok untuk Mas,” jawab Caca.
“Terima kasih, untung ada Caca,” sahut Adi dan segera mengganti pakaiannya dengan kemeja yang istri kecilnya pilihkan.
Mereka berdua telah siap untuk berangkat ke acara reunian sekolah.
“Mas, Caca cantik tidak malam ini? Bagaimana kalau nanti Caca diolok-olok karena jelek?” tanya Caca yang tiba-tiba saja tidak percaya diri untuk datang bersama Sang suami.
“Caca kok bicara begitu? Memangnya Caca pernah dengar ada orang yang mengatakan Caca jelek?” tanya Adi.
Caca menggelengkan kepala menjawab pertanyaan suaminya.
“Kalau begitu, kenapa Caca punya pikiran seperti tadi? Mas jamin, tidak akan ada yang bilang Caca jelek. Justru, akan banyak yang memuji Caca,” pungkas Adi dan mengajak istri kecilnya untuk segera berangkat ke lokasi.
Caca tersenyum lepas seraya memeluk lengan suaminya menuju teras depan rumah.
Tak lupa Adi mengunci pintu rumah sebelumnya meninggalkan rumah kontrakan.
“Caca sudah siap untuk malam ini?” tanya Adi sambil mengedipkan sebelah matanya pada Caca yang tersenyum manis padanya.
__ADS_1
“Sudah, dong. Bagaimana dengan Mas?” tanya Caca.
“Tentu saja Mas siap, ayo naik!” pinta Adi agar istri kecilnya segera naik ke motor untuk bergegas pergi ke lokasi reunian sekolah.