
Malam Hari.
Melihat kondisi Caca yang semakin menurun dan juga tak bersemangat. Membuat para orang tua khawatir dan berusaha terus membujuk Caca agar melakukan rawat inap di rumah sakit. Akan tetapi, Caca menolak karena menurutnya semakin lama berada di rumah sakit, membuatnya semakin sulit bernapas.
“Mama, Papa! Caca istirahat di rumah saja ya. Sepertinya Caca butuh istirahat di rumah,” tutur Caca yang saat itu tengah berada di dalam kamar hotel orang tuanya.
“Caca mau pulang ke rumah kita atau ke rumah kontrakan?” tanya Papa Rio memastikan.
“Tentu saja rumah kontrakan, Papa. Lagipula, jarak rumah kontrakan dan rumah sakit tidak terlalu jauh. Jadi, kalau ada kabar dari Mas Adi Caca bisa cepat ke rumah sakit,” pungkas Caca.
“Lalu, Caca mau ke rumah malam ini atau besok pagi?” tanya Mama Ismia.
“Malam ini saja, Mama. Lebih cepat lebih baik,” jawab Caca.
Caca sebenarnya merindukan aroma tubuh suaminya yang memenuhi kamar tidur mereka. Maka dari itu, Caca ingin segera sampai ke rumah dan tidur di kamar miliknya serta Sang suami tercinta.
“Mama temani tidur di rumah ya!”
“Tidak usah, Mama. Sudah ada Ibu Puspita,” jawab Caca.
Mama Ismia hanya bisa mengiyakan, meskipun ada sedikit rasa kecemburuan nya mengenai kedekatan Putri kandungnya dan besannya.
“Iya sayang, kalau begitu Mama dan Papa akan mengantarkan kalian pulang ke rumah kontrakan,” balas Mama Ismia seraya tersenyum.
Caca tersenyum lebar dan mengucapkan terima kasih atas pengertian kedua orang tuanya. Kemudian, Mama dan Papa bersiap untuk mengantarkan Caca serta besannya.
“Mama, Papa. Caca ke kamar sebelah ya,” ucap Caca.
Ibu Puspita saat itu tengah berusaha menidurkan Cucunya yang tak kunjung tidur.
“Bagaimana, Nak Caca?” tanya Ibu Puspita.
“Malam ini kita tidur di rumah, Bu. Caca tidak nyaman tidur di hotel,” jawab Caca.
Wanita patuh baya itu mengangguk mengerti dan bergegas untuk memasukkan pakaian mereka ke dalam koper.
Beberapa saat kemudian.
__ADS_1
Caca menghela napas lega karena akhirnya ia bisa kembali tidur di kamarnya sendiri. Rasanya ia bisa merasakan keberadaan suaminya secara langsung dengan mencium aroma kamar tidur, aroma yang bercampur dengan aroma tubuh suaminya.
“Sekarang Nak Caca istirahat ya. Kalau ada apa-apa, panggil saja Ibu!” pinta Ibu Puspita.
“Terima kasih ya Bu, sekali lagi maaf karena telah merepotkan Ibu.”
“Ibu sedikitpun tidak merasa direpotkan, justru Ibu sangat senang karena bisa diandalkan. Sekarang Ibu ke kamar sebelah ya, Ibu juga ingin istirahat,” ujar Ibu Puspita.
Caca perlahan berbaring di tempat tidur dengan senyum bahagia. Wanita muda nan cantik itu semakin yakin bahwa sebentar lagi dirinya mendapat kabar baik atas kondisi kesehatan suaminya.
“Yusuf sama Ayah kangen, 'kan?” tanya Caca pada bayi Yusuf yang tengah terlelap tepat di sisi kanannya.
Semakin Caca memandangi wajah Yusuf, semakin besar juga harapan akan kesembuhan suaminya.
Bayi Yusuf tiba-tiba saja menangis histeris dan seketika itu membuka Caca terkaget-kaget. Caca dengan pelan menggendong bayinya dan mengarahkan Asi agar segera diminum oleh Yusuf.
Ibu Puspita yang mendengar tangisan Cucunya berlari secepat mungkin masuk ke dalam kamar Caca.
“Caca, Ibu tidak bermaksud untuk tidak sopan pada Caca. Tapi, tadi Ibu kaget mendengar Yusuf menangis,” ucap Ibu Puspita meminta maaf.
Ibu Puspita akhirnya kembali ke kamar sebelah setelah memastikan bahwa Yusuf tidak menangis.
Yusuf telah tenang dan Caca menaruh bayinya di ranjang bayi.
“Selamat tidur bayi kesayangan Bunda,” ucap Caca dan menutup kelambu ranjang bayi agar tidak dihinggapi nyamuk nakal.
Keesokan paginya.
Ibu Puspita memasak sarapan seadanya, yaitu nasi goreng dengan tambahan omelette serta sosis.
Aroma masakan Ibu Puspita membuat Caca semakin lapar dan ingin segera menyantap nasi goreng yang dibuat oleh Ibu mertua.
“Ibu hanya bisa membuat nasi goreng ini. Semoga Caca suka ya dengan nasi goreng yang Ibu buat seadanya,” ucap Ibu Puspita.
Pagi itu Caca merasa sangat senang, kondisinya yang sebelumnya sakit pada akhirnya sembuh total.
“Ibu harusnya percaya diri karena semua masakan yang Ibu masak untuk kami itu rasanya sangat enak dan tidak ada duanya. Kalau Ibu buka rumah makan, Caca jamin pasti laris manis,” tutur Caca yang sudah duduk di samping Ibu mertua.
__ADS_1
“Kamu ini bisa saja, ayo makan. Mumpung Yusuf sedang tidur,” balas Ibu Puspita sambil memandangi kereta bayi yang di dalam terdapat Yusuf yang tengah terlelap.
Melihat Caca yang makan dengan lahap, memang Ibu Puspita bernapas lega. Ternyata sakit Caca dikarenakan merindukan tidur di rumah.
“Ibu kenapa diam saja? ayo dimakan!”
Ibu Puspita berdo'a sebelum makan dan perlahan mengunyah nasi goreng tersebut.
Usai sarapan nasi goreng, Caca bergegas memandikan bayi Yusuf yang kebetulan sedang terjaga sambil memainkan sebuah lonceng.
“Caca, kali ini biar Ibu saja yang memandikan Yusuf!”
“Kalau begitu, Caca akan menyapu halaman depan,” balas Caca dan berjalan menuju teras depan rumah.
Baru saja keluar dari rumah, seorang wanita paruh baya menghampiri Caca dengan mimik wajah seperti mengintimidasi.
“Neng, niat jualan tidak sih? Sudah beberapa hari ini kenapa tidak jualan?” tanya wanita paruh baya dengan ketus.
“Maaf ya, Ibu. Bukan maksud kami seperti itu, tapi suaminya saya sedang dirawat di rumah sakit karena kecelakaan. Tolong Ibu mengerti keadaan kami, InshaAllah dalam waktu dekat ini warung akan buka kembali,” tutur Caca dengan suara selembut mungkin agar tidak menyakiti hati wanita paruh baya itu.
Seketika itu ekspresi wajahnya berubah menjadi manis.
“Ya Allah, maaf ya saya kira karena kalian tidak niat jualan. Soalnya, kalau mau ke pasar bawannya malas. Yang ada, malah beli ini itu,” terangnya dan kemudian melenggang pergi dengan terburu-buru.
Caca hanya bisa geleng-geleng kepala memiliki tetangga model begitu.
“Caca, tadi siapa?” tanya Ibu Puspita yang samar-samar mendengar celotehan salah satu tetangga.
“Bukan siapa-siapa, Ibu. Hanya seorang wanita paruh baya yang komplen karena warung beberapa hari ini tidak buka,” jawab Caca dan menyapu daun-daun yang berserakan di halaman rumah.
Ibu Puspita hanya bisa memberi pesan kepada Caca untuk tetap sabar jika menghadapi orang memiliki sifat kurang baik.
Caca mengiyakan dengan senyum manisnya.
“Bagaimana keadaan Caca sekarang?” tanya Ibu Puspita penasaran.
“Seperti yang Ibu lihat, Caca sudah sembuh dan tidak panas lagi,” jawab Caca sambil memutar tubuhnya untuk menunjukkan bahwa dirinya benar-benar sudah sembuh.
__ADS_1