Istri Centil Mas Adi

Istri Centil Mas Adi
Banyak-banyak Bersabar


__ADS_3

Siang itu, Ayah Faizal dan Ibu Puspita pamit untuk pulang ke rumah mereka. Tentu saja, mereka hanya pulang berdua saja. Dikarenakan putra mereka akan tinggal di rumah keluarga Caca untuk beberapa hari ke depan.


Setelah Ayah Faizal dan Ibu Puspita pergi, Mama Ismia pun pamit kepada Caca dan juga Adi karena ada pekerjaan yang akan ditangani.


“Caca, Nak Adi. Mama ada urusan mendadak, kalian diam dulu ya di rumah. Kalau kalian bosan di rumah, pergilah jalan-jalan ke mall,” ucap Mama Ismia.


“Papa juga?” tanya Caca menoleh ke arah Papa Rio.


“Iya sayang, Papa harus datang bersama Mamamu,” jawab Papa Rio.


Mendengar hal itu, Caca sangat senang. Karena ia bisa berduaan dengan bebas bersama suaminya.


“Mama dan Papa pergi yang lama juga tidak apa-apa. Usahakan pulang malam ya,” ujar Caca.


Caca kemudian menggandeng tangan suaminya menuju ruang keluarga.


“Mas, ayo kita main sesuatu yang seru!” ajak Caca.


Gadis itu membuka nakas yang bersebelahan dengan televisi dan mengeluarkan mainan monopoli miliknya.


Adi tertegun sejenak melihat bagaimana Caca dengan semangat menyusun mainan monopoli tersebut.


“Mas kenapa diam saja? Cepat bantuin Caca menyusun uang dan kartu ini!” perintah Caca.


“Apa Mas juga harus ikutan main monopoli?” tanya Adi yang tidak pernah main permainan monopoli tersebut.


“Tentu saja, Mas itu suami Caca dan Mas harus menemani Caca bermain,” jawab Caca santai.


“Mas tidak pernah main beginian dan tidak tahu caranya bagaimana. Lebih baik Caca belajar untuk persiapan ulangan harian besok senin,” ujar Adi yang meminta Caca untuk belajar daripada bermain monopoli.


“Di sini Mas suami Caca dan di sekolah Mas itu guru Caca. Sekarang kita main, kalau tidak Caca laporkan Mama,” balas Caca.


Adi akhirnya mengiyakan ajakan Caca untuk bermain monopoli.


****


Malam hari.


Mama dan Papa belum juga kembali dari pekerjaan mereka. Hal itu, membuat Caca mulai dilanda kerinduan karena sebelumnya ia belum pernah berpisah dari orang tuanya, terlebih lagi dari Mama Ismia.


“Kamu kenapa?” tanya Adi ketika melihat istrinya terus saja memandangi arah luar dari jendela kamar.


“Papa dan Mama kenapa belum pulang? Sudah jam 9. Mama tidak pernah begini sebelumnya, Caca mau tidur sama Mama,” ucap Caca.

__ADS_1


“Coba Caca hubungi Mama,” balas Adi.


Caca menggelengkan kepalanya dan mengatakan bahwa nomor telepon kedua orang tuanya berada di luar jangkauan alias tidak aktif.


Ketika Caca kembali menoleh ke arah luar, ponsel milik Adi berbunyi yang ternyata itu pesan dari Papa mertuanya.


“Caca, Mama dan Papa malam ini tidak pulang,” terang Adi.


“Apa? Kenapa?” tanya Caca penasaran.


Tiba-tiba saja raut wajah Caca yang sebelumnya sedih, tiba-tiba berubah menjadi ceria. Caca akhirnya tahu maksud dari kedua orang tuanya itu.


“Kenapa?” tanya Adi yang mendeteksi adanya sesuatu buruk yang akan terjadi padanya.


“Karena kita sekarang hanya berdua saja di rumah, bagaimana kalau kita bermesraan di ruang keluarga? Caca pernah membaca artikel di mbah google kalau bermesraan di ruang keluarga bisa membuat hubungan suami istri makin lengket,” pungkas Caca sambil menempelkan kedua telapak tangannya dan membuat suara dari telapak tangannya.


Adi merinding dengan ucapan Caca yang begitu menakutkan. Ia sama sekali tidak pernah membayangkan akan memiliki istri yang sifatnya yang aneh.


“Caca, sudah ya jangan bicara yang aneh-aneh lagi. Lebih baik Caca belajar, ayo Mas temani Caca belajar!”


Adi memperhatikan sekeliling kamar Caca dan melihat rak buku yang tersusun rapi.


Di ambilnya sebuah buku dengan tulisan sosiologi.


Caca menatap kesal suaminya yang malah memberikannya tugas tersebut.


“Mas jangan keterlaluan dong,” celetuk Caca.


“Selesaikan perintah Mas, setelah itu kita akan tidur dengan saling berpelukan seperti kemarin malam!”


“Benarkah?” tanya Caca memastikan.


Adi mengiyakan dan berbaring di tempat tidur sembari mengawasi Caca belajar.


Caca dengan semangat mempelajari buku sosiologi miliknya dengan sangat serius.


Tak berselang lama, Caca malah ketiduran dengan bolpoin yang masih berada di genggamannya.


“Tadi sangat bersemangat ingin tidur sambil pelukan, ternyata sudah tidur duluan ini anak,” gumam Adi.


Adi mengambil bolpoin di genggaman Caca dan meletakkan di tempat seharusnya. Kemudian, Adi merapikan meja belajar istrinya dengan perlahan agar tidak membangunkan Caca yang sudah tidur.


Setelahnya itu Adi menggendong tubuh Caca dan membawanya ke tempat tidur.

__ADS_1


“Ini anak kenapa kurus sekali?” tanya Adi dan menutup separuh tubuh Caca dengan selimut.


Caca terbangun dari tidurnya dengan tersenyum kecil.


“Cie... ternyata Mas bisa romantis juga,” ucap Caca menggoda suaminya.


Ternyata Caca belum tidur, gadis itu hanya berpura-pura tertidur untuk melihat reaksi dari suaminya. Yang ternyata, menggendongnya sampai ke tempat tidur.


“Kamu tadi sengaja pura-pura tertidur?” tanya Adi jengkel.


“Iya, memangnya kenapa? Ternyata Mas romantis juga ya. Hmmm.. membuat Caca semakin cinta,” puji Adi.


Adi mengelus-ngelus dadanya sendiri sambil menyemangati dirinya sendiri untuk selalu sabar menghadapi bocah SMA seperti Caca.


“Mas mau ke mana?” tanya Caca melihat suaminya yang berjalan menjauh.


“Mau tidur,” jawab Adi sembari merebahkan tubuhnya di sofa.


“Kalau tidur ya di kasur, Mas. Kenapa malah tidur di sofa? Mas yang kemari atau Caca yang ke situ?” tanya Caca yang bersiap untuk menghampiri suaminya.


“Baiklah, Mas yang akan ke kasur,” jawab Adi pasrah.


Caca dengan tak sabaran menarik tangan suaminya dan hal itu membuat Adi jatuh tepat di atas tubuh istrinya.


“Ya ampun, hangat sekali deh,” ucap Caca yang begitu bahagia dengan posisi intim mereka.


“Caca, lepaskan Mas sekarang juga!” perintah Adi yang dengan sekuat tenaga melepaskan tangan Caca yang melingkar di pinggangnya.


“Pokoknya tidak mau,” tegas Caca.


***


Di sisi lain, orang tua Caca ternyata sedang berkunjung ke rumah besannya. Mereka bahkan sedang menikmati makan malam bersama.


“Maafkan kelakuan Caca ya, Mas dan Mbak. Caca anaknya susah sekali untuk di atur,” ucap Papa Mama Ismia.


Ayah Faizal dan Ibu Puspita mencoba memahami sifat Caca, menantu mereka yang bisa dikatakan masih sepertinya anak-anak.


“Insha Allah putra Kami Adi, dapat mengimbangi sikap Nak Caca. Lagipula, Caca masih muda dan masih ingin menemukan jati dirinya,” ucap Ibu Puspita dengan santai.


“Semoga memang begitu, Mbak. Saya kasihan dengan Nak Adi,” sahut Mama Ismia penuh harap.


Ayah Faizal dan Papa Rio tertawa lepas mendengar perkataan Mama Ismia. Berbeda dengan Ibu Puspita yang hanya tersenyum sambil menyentuh tangan besannya.

__ADS_1


__ADS_2