
Caca terbangun dari tidurnya dengan keringat yang mengucur cukup deras. Saat itu juga ia menghubungi Mama Ismia memberitahukan kekhawatirannya.
“Assalamu'alaikum, Mama. Mama, Caca takut,” ucap Caca dengan menangis tersedu-sedu.
Caca pun menceritakan apa yang telah terjadi dan telah melakukan Visum atas apa yang telah Intan lakukan padanya.
“Mama tenang saja, sebelum melakukan Visum Caca lebih dulu menghubungi polisi atas saran Dokter. Tolong sampaikan sama Papa, carilah pengacara yang hebat untuk memenjarakan wanita itu,” ucap Caca.
Ucapan Mama Ismia padanya cukup membuat Caca tenang dan memutuskan untuk kembali melanjutkan tidurnya.
“Mama, Caca mau tidur kembali. Terima kasih sudah mau mendengarkan cerita Caca, assalamu'alaikum.”
Wanita muda utk itu meletakkan kembali ponselnya dan pergi menuju kamar mandi.
Ternyata, Ibu Puspita sedang berada di dapur dan tengah menuangkan air ke dalam gelas.
“Ibu,” ucap Caca memanggil Ibu Mertua.
Ibu Puspita menoleh dan berjalan menghampiri Caca sambil membawa segelas air minum.
“Caca kebangun?” tanya Ibu Puspita.
“Iya Bu, Caca kebangun dan ingin buang air kecil,” jawab Caca.
“Ya sudah, Ibu masuk ke kamar ya. Habis ini Caca harus tidur lagi,” tutur Ibu Puspita.
Wanita muda itu mengangguk mengerti dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah selesai dengan urusannya di dalam kamar mandi, Caca tak langsung masuk ke dalam kamar. Dirinya justru mampir ke meja makan untuk mengambil segelas air dan membawanya masuk ke dalam kamar.
Saat memasuki kamarnya, Caca cukup terkejut melihat bayi Yusuf yang ternyata sudah terjaga dan sedang menghisap jari jempolnya.
“Kasihan kesayangan Bunda ini, malah menghisap jempol,” ucap Caca lirih dan menggendong bayinya ke tempat tidur.
Caca tidak langsung menyusui bayinya, ia lebih dulu mengganti popok bayinya yang sudah penuh.
“Yusuf, bau sekali,” ucap Caca sambil menutup hidungnya dan buru-buru membuang popok tersebut ke dalam kotak sampah yang berada di dekat pintu.
Tak berselang lama, Yusuf kembali tidur padahal Caca belum sempat menyusui bayinya.
“Yusuf, jangan tidur dulu. Yusuf belum minum ASI,” tutur Caca dan menyusui bayinya.
Sekitar setengah jam, Caca pun selesai menyusui bayinya dan kembali meletakkan bayinya di ranjang bayi.
“Selamat tidur kesayangannya Bunda,” ucap Caca.
Melihat buah hatinya telah tertidur pulas, membuat Caca mengantuk dan ingin segera melanjutkan tidurnya. Caca tak sabar ingin menyambut pagi yang cerah dan mengurus apa yang seharusnya ia lakukan untuk membuat Intan jera.
Jangan salahkan saya kalau akhirnya saya melaporkan Bu Intan ke kantor polisi. Saya akan pastikan bahwa Bu Intan mendekam di penjara. (Batin Caca)
Caca merasa bahwa selama ini dirinya terlalu banyak diam dan memaafkan perbuatan Intan. Akan tetapi, itu tidak lagi dan Caca akan memberantas habis siapapun wanita yang mencoba menggoda suaminya.
***
Pagi Hari.
__ADS_1
Pagi yang cerah dengan senyum yang cerah juga. Ayah Faizal dan Ibu Puspita bahkan terheran-heran dengan sikap Caca yang cukup aneh.
Bagaimana tidak, semalam Caca pulang dengan raut wajah yang sangat tidak bersahabat dan paginya juga senyum Caca mengalahkan sinar matahari pagi.
“Ibu senang melihat Caca tersenyum seperti ini. Kalau boleh tahu ada apa gerangan dengan hari ini?” tanya Ibu Puspita penasaran.
Kali ini, Caca memilih untuk tidak memberitahu Ibu mertua maupun Ayah mertua. Cukup dirinya dan kedua orang tuanya yang tahu masalah mengenai dirinya serta Intan.
“Maaf ya Bu, bukan maksud Caca untuk tidak memberitahu Ibu. Caca ada alasan tersendiri dan Caca harap Ibu maupun Ayah bisa mengerti itu,” jawab Caca.
Ayah Faizal dan Ibu Puspita menganggap santai keputusan Caca yang tidak ingin memberitahu mereka. Bagaimanapun, setiap individu pasti memiliki rahasia maupun privasi yang tidak wajib untuk diceritakan.
“Ayo kita sarapan dulu!” ajak Ibu Puspita.
Dengan penuh kasih sayang, Ibu Puspita menggandeng tangan Sang menantu menuju ruang makan.
Caca sungkan dengan Ibu Mertuanya, karena dirinya setelah subuh tidur lagi dan tidak membantu Ibu mertua memasak di dapur.
“Kenapa, Nak Caca?” tanya Ibu Puspita ketika melihat Caca menatapnya dengan tatapan sayu.
“Caca minta maaf ya Bu. Caca bangunnya kesiangan dan tidak membantu Ibu memasak,” jawab Caca.
“Sudah santai saja, tidak perlu sungkan begitu. Ibu memaklumi karena kamu memiliki bayi lucu, cucu kesayangan Ibu dan Ayah. Dulu, Ibu juga begitu. Sering bangun kesiangan dan apesnya malah diomeli sama mertua. Maka dari itu, saat Ibu memiliki menantu, Ibu tidak ingin membuat menantu Ibu kesulitan. Kalau perlu, biar Ibu yang memasak setiap hari,” ungkap Ibu Puspita.
“Tidak boleh, Caca juga harus ikut membantu Ibu. Caca ingin menjadi istri yang baik untuk Mas Adi, jadi tolong jangan bicara seperti itu lagi ya Bu. Maksudnya, jangan sungkan bangunkan Caca apalagi tak kunjung bangun!” pinta Caca.
“Baiklah, Ibu akan melakukannya. Sekarang, mari kita sarapan.”
Seusai sarapan, Caca memutuskan untuk mencuci piring kotor dan setelah itu, memandikan bayi Yusuf yang masih terlelap dikamar.
Panggilan Caca sama sekali tak mengganggu dan justru bayi Yusuf semakin nyenyak.
“Yusuf, ayo bangun mandi!” Caca mencium pipi chubby Yusuf dan dengan santainya melepaskan pakaian Yusuf.
Yusuf membuka matanya tanpa menangi sedikitpun.
“Sayang, ayo mandi. Habis itu, Yusuf Bunda tinggal dulu ya di rumah,” ujar Caca.
Bayi Yusuf dengan semangat menggerakan kakinya, seakan-akan tidak masalah jika ia ditinggal di rumah bersama Kakek serta Neneknya.
1 Jam Kemudian.
Ibu Puspita yang akan masuk ke dalam warung, tiba-tiba saja dikejutkan oleh suara klakson mobil.
“Bukannya itu mobil besan?” tanya Ibu Puspita bermonolog.
Mobil berwarna hitam itu berhenti tepat dihalaman rumah dan dengan sigap Ibu Puspita menghampiri kedua besannya yang baru saja turun dari mobil.
“Assalamu'alaikum,” ucap Papa Rio dan Mama Ismia.
“Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,” sahut Ibu Puspita.
Caca berlari melihat kedua orang tuanya datang untuk menemani membuat laporan di kantor polisi.
“Akhirnya Mama dan Papa datang juga. Kalau begitu, Caca siap-siap dulu ya,” tutur Caca dan kembali berlari masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
“Mbak Puspita, Mas Faizal ke mana?” tanya Papa Rio yang tak melihat batang hidung besannya.
“Mas Faizal kebetulan ada urusan di rumah, ada penyuluhan di kantor desa,” jawab Ibu Puspita.
Ibu Puspita kemudian menanyai kedatangan besannya yang berpakaian sangat formal.
“Ada acara apa ya Mas, Mbak?” tanya Ibu Puspita penasaran.
“Mbak Puspita tidak diberitahu Caca?” tanya Mama Ismia terkejut.
“Beritahu apa ya Mbak?” tanya Ibu Puspita semakin penasaran.
“Sebenarnya kemarin ada masalah di rumah sakit. Lebih detailnya biar Caca saja yang menceritakan semuanya. Tapi, seperti tidak sekarang karena kami harus membuat laporan,” jawab Mama Ismia.
Ibu Puspita mengiyakan dan memahami maksud dari perkataan besannya.
“Ibu, Caca pergi dulu ya ke kantor polisi. Titip Yusuf ya Bu,” tutur Caca.
“Nak Caca tidak usah mengkhawatirkan Yusuf. Ibu akan menjaga Yusuf dengan baik,” balas Ibu Puspita.
Caca tersenyum dan mencium punggung tangan Ibu mertuanya.
“Ibu, Caca pergi dulu. Yusuf sedang tidur di kamar dan di freezer Caca sudah meletakkan Asi yang cukup banyak. InshaAllah sampai nanti malam,” terang Caca.
Mereka bertiga akhirnya pergi menuju kantor polisi dan membuat laporan atas apa yang telah Intan lakukan. Intan tentu saja harus mempertanggungjawabkan perbuatannya kepada Adi maupun Caca.
“Papa, apakah kita akan berhasil menangkap Bu Intan?” tanya Caca penasaran.
“Caca tenang saja, kenalan Papa banyak dan Papa tidak akan pernah membiarkan wanita itu lolos. Apalagi dia sudah main fisik kepada Caca,” terang Papa Rio.
Caca memeluk Mama Ismia dengan erat sambil memejamkan matanya berharap semuanya dipermudahkan oleh Yang Maha Esa.
“Papa!” panggil Caca.
“Iya sayang, katakan!”
“Kita ke rumah sakit dulu ya, Pa. Caca mau bertemu Mas Adi sebelum pergi ke kantor polisi,” tutur Caca.
Caca ingin melihat suaminya dan memastikan suaminya untuk memastikan bahwa suaminya baik-baik saja.
“Iya sayang, setelah ke rumah sakit ada yang mau Caca singgahi?” tanya Papa.
“Sudah, Pa. Hanya itu saja,” jawab Caca.
Wanita muda itu sangat merindukan suaminya dan juga merasa bersalah karena sudah meninggalkan suaminya.
“Papa, Caca ada permintaan satu lagi. Apa bisa Papa menuruti permintaan Caca ini?” tanya Caca.
“Apapun itu Papa akan berusaha menuruti permintaan Caca,” balas Papa Rio.
Caca tersenyum kecil dan perlahan membuka matanya. Kemudian, melepaskan pelukannya itu.
“Caca ingin Papa memperkerjakan orang yang akan mengawasi Mas Adi selama 24 jam penuh. Apakah Papa bisa menuruti permintaan Caca?” tanya Caca penasaran dan berharap Papa Rio mengabulkan keinginannya itu.
Papa Rio menghela napas panjang dan cukup membuat Caca risih mendengar suara napas dari Papa Rio.
__ADS_1
“Papa kok begitu responnya? Kalau Papa tidak bisa ya sudah,” ujar Caca.