Istri Centil Mas Adi

Istri Centil Mas Adi
Kesehatan Ibu Mertua Membaik


__ADS_3

Pagi hari.


Caca baru saja bangun dari tidurnya dan tak menemukan suaminya di samping tidurnya. Tanpa sadar, Caca memanggil suaminya berulang kali karena lupa bahwa ia sedang berada di rumah mertua.


“Mas Adi! Mas!” panggil Caca berulang kali dengan suara seperti anak kecil.


Caca terus saja memanggil dengan suara yang cukup keras dan beberapa detik kemudian suaminya datang sembari memberi isyarat kepada Caca untuk tidak berteriak.


“Mas kenapa sih? Caca mau di peluk!” pinta Caca dengan manja sembari merentangkan tangannya lebar-lebar dengan posisi masih terlentang di tempat tidur.


“Caca, kita sedang tidak berada di rumah,” uvap Adi yang sangat gemas ingin mencubit pipi istrinya.


Seketika itu Caca sadar dan menutup mulutnya rapat-rapat. Caca menyumpahi dirinya sendiri yang lupa bahwa sedang berada di rumah orang tua dari Sang suami.


“Sekarang Caca jangan berteriak seperti tadi ya!” pinta Adi seraya tersenyum sambil membelai rambut istrinya yang berantakan.


Caca tidak berani membuka mulutnya, ia hanya menganggukan kepalanya berulang kali.


“Karena Caca sudah bangun, sekarang Caca mandi!” perintah Adi.


“Mas, Caca sudah mandi sebelum subuh tadi. Apa Caca harus mandi lagi?” tanya Caca yang tidak ingin mandi untuk yang kedua kalinya.


“Haduh, Mas lupa kalau Caca sudah mandi,” jawab Adi sambil menahan tawanya yang memang sengaja menggoda istrinya.


“Tentu saja Mas ingat, Mas hanya mengetes kamu saja,” balas Adi terkekeh geli.


“Mas, tolong bangunkan Caca!” pinta Caca yang sangat ingin bermanja-manja sejenak dengan suaminya.


Pria 28 tahun itu tersenyum dan mengangkat tubuh istrinya.


“Adi!” panggil Ibu Puspita yang tiba-tiba saja nyelonong masuk ke dalam kamar dan melihat adegan di mana Adi sedang menggendong Caca.


Adi dan Caca seketika itu mematung melihat Ibu Puspita yang tak sengaja memergoki mereka berdua. Sementara Ibu Puspita pura-pura tak melihat dan pergi begitu saja.


Setelah Ibunya pergi, Adi perlahan menurunkan istrinya.


“Ini semua salah Mas,” ucap Caca menyalahkan suaminya.


“Kok jadi Mas yang disalahkan?” tanya Adi terheran-heran.


“Karena Mas tidak menutup pintu,” jawab Caca sambil menepuk perut suaminya dan berlari kecil keluar dari kamar.


Adi menggaruk kepalanya yang tiba-tiba gatal dan berlari kecil mengejar istrinya.

__ADS_1


“Bagaimana keadaan Ibu?” tanya Caca yang agak canggung setelah kepergok Ibu mertuanya.


“Alhamdulillah sudah mendingan,” jawab Ibu Puspita.


Adi datang dengan memberikan sebuah pelukan singkat pada Ibunya.


“Adi senang melihat Ibu sudah mendingan,” ucap Adi sembari melepaskan pelukannya.


“Ibu itu hanya sakit sebentar saja, Ayah kamu saja yang berlebihan. Sekarang lebih baik kita sarapan, Ibu sengaja masak banyak untuk kalian berdua,” tutur Ibu Puspita mengajak pengantin baru untuk sarapan bersama.


Adi menoleh ke arah sekitar dan tak melihat batang hidung Sang Ayah.


“Ibu, Ayah kemana?” tanya Adi karena tak melihat Ayah Faizal.


“Ayahmu sudah pergi ke rumah Pak Kusno, kalau tidak salah memperbaiki pintu kamar mandi,” jawab Ibu Puspita seraya mendudukkan Caca di kursi.


Caca tersenyum dengan gerakan tubuh yang sedikit membungkuk pada Ibu mertuanya.


“Apa Ayah sudah sarapan?” tanya Adi barangkali Sang Ayah belum sarapan.


“Ayah mu sudah Ibu bawakan bekal makanan,” jawab Ibu Puspita.


***


Karena kondisi Ibu Puspita sudah membaik, Adi dan Caca memutuskan untuk pulang ke rumah kontrakan mereka.


Mereka berdua tidak bisa meninggalkan rumah kontrakan lama-lama, karena ada beberapa genteng rumah yang bocor dan belum diperbaiki. Terlebih lagi, cuaca di sore hari cukup mendung dan kemungkinan akan turun hujan.


“Ayah, Ibu! Kami pamit pulang, kalau ada apa-apa jangan sungkan menghubungi kami,” tutur Adi.


“Kalian berdua tenang saja, jangan terlalu memikirkan kami. InsyaAllah kami di sini baik-baik saja,” balas Ibu Puspita.


Mereka pun berpamitan karena mobil yang ditugaskan menjemput Adi dan Caca sudah datang.


Keduanya masuk ke dalam mobil dan tidak hentinya melambaikan tangan sebelum mobil itu semakin menjauh.


“Kenapa?” tanya Adi ketika melihat raut wajah sedih istrinya.


“Ibu pasti sangat merindukan Mas Adi, makanya kemarin Ibu sakit. Setelah kita bermalam, Ibu langsung sembuh,” ujar Caca sedih sembari memeluk lengan suaminya.


“Kapan-kapan kita tidur di rumah orang tua Mas ya!” pinta Adi dan mencium kening istrinya hingga berbunyi.


Sang sopir yang sedang mengemudikan mobil terkejut mendengar bunyi kecupan itu dan sebisa mungkin tidak menoleh ke arah pengantin baru yang duduk tepat di belakangnya.

__ADS_1


“Astagfirullahaladzim,” ucap Adi yang baru menyadari bahwa di dalam mobil itu tidak hanya ia dan istri saja, tetapi ada pengemudi mobil.


Caca tertawa geli melihat reaksi suaminya yang seperti orang kebakaran jenggot.


“Kalau dipikir-pikir, yang agresif itu Mas Adi dan bukan Caca,” bisik Caca agar tidak di dengan pengemudi mobil.


Adi tersenyum malu-malu mendengar ucapan istrinya.


“Kenapa senyum-senyum? Merasa ya?” tanya Caca sambil mencolek perut Sang suami.


Adi reflek menggeliat dan itu membuat Caca tidak bisa lagi menahan tawanya. Ia tertawa melihat reaksi suaminya yang menggeliat layaknya ulat bulu.


Mereka berdua begitu asik bersenda gurau dan sama sekali tidak menganggap keberadaan pengemudi mobil yang bertugas mengantarkan mereka atas perintah dari Mama Ismia.


Beberapa saat kemudian.


Mereka akhirnya tiba di kediaman keluarga Caca dan kedatangan mereka di sambut hangat oleh Mama Ismia.


“Akhirnya kalian datang juga, ayo masuk!” ajak Mama Ismia mempersilakan mereka berdua masuk.


“Mama, kami mau langsung pulang saja. Cuaca sore ini mending dan kami harus segera pulang ke rumah,” tutur Caca.


Mereka datang ke rumah itu hanya untuk mengambil motor. Tentu saja mereka harus pulang membawa motor tersebut, karena motor itu satu-satunya alat transportasi yang dimiliki oleh Adi.


Meskipun kecewa, Mama Ismia hanya bisa mengiyakan apa yang Caca inginkan.


“Mama, kami pulang ya Assalamu'alaikum,” tutur Caca yang sudah berada di atas motor.


“Wa’alaikumsalam, Nak Adi tolong jaga Caca ya!” pinta Mama Ismia pada menantunya.


“InsyaAllah, Ma,” jawab Adi dan perlahan mengendarai motornya melewati gerbang rumah.


Caca dengan semangat memeluk pinggang suaminya sembari bersenandung kecil.


“Caca sayang, kita langsung pulang atau Caca mau mampir ke minimarket dulu?” tanya Adi barangkali istrinya ingin membeli sesuatu.


“Tidak, Mas. Caca ingin segera sampai rumah dan bermesraan di kamar sama Mas Adi,” jawab Caca yang ingin terus menempel pada suaminya.


“Apa Caca tidak akan bosan dengan Mas?” tanya Adi penasaran.


“Mas ini bicara apa sih? Lagipula, Caca itu tulus mencintai Mas. Kalau bosan ya tinggal cari variasi lain tanpa harus mengganti orangnya,” pungkas Caca.


Adi tertawa kecil setelah mendengar respon istrinya yang cukup menggelitik perutnya.

__ADS_1


__ADS_2