Istri Centil Mas Adi

Istri Centil Mas Adi
Ibu Ingin Tinggal Di Rumah Sementara Waktu


__ADS_3

Malam Hari.


Adi, Caca dan Ibu Puspita tengah berada di ruang tamu sambil menonton televisi. Sementara Yusuf, telah terlelap di kamar.


“Mas, besok Caca akan ke pasar sendirian. Mas diam di rumah ya bersama Ibu dan juga Yusuf,” ucap Caca pada Sang suami yang duduk di sisi kanan Caca.


“Caca yakin sendirian? Tidak ingin ditemani Mas?” tanya Adi memastikan.


“Tidak usah, Mas. Caca tidak ingin sampai Mas kenapa-kenapa. Caca bisa kok sendirian,” balas Caca.


“Baiklah, yang paling penting Caca jaga diri,” tutur Adi yang khawatir dengan keselamatan istri kecilnya.


“Mas jangan khawatir berlebihan seperti ini. Caca baik-baik saja, lagipula pasar tidak jauh dari sini,” balas Caca sambil menggengam erat tangan kiri suaminya.


Ibu Puspita tersenyum bahagia melihat Adi dan Caca yang semakin dekat satu sama lain.


“Nak Caca, Adi! Ibu ingin berbicara sesuatu dengan kalian dan Ibu harap kalian bisa mengerti dengan keputusan Ibu,” ucap Ibu Puspita.


“Keputusan apa, Ibu?” tanya Adi penasaran begitu juga dengan Caca.


“Ibu ingin sementara waktu tinggal di rumah. Ibu kangen suasana rumah,” jawab Ibu Puspita.


“Lalu, Ibu sampai kapan tinggal di rumah? Lalu, bagaimana dengan kami? Ibu juga di sana pasti kesepian kalau sendiri,” balas Caca yang kini duduk di samping Ibu Mertua.


Caca memeluk erat Ibu mertua seakan tak rela jika Ibunya tidak tinggal bersama dengan keluarga kecilnya. Caca sangat sayang dengan Ibu mertuanya dan takut jika di rumah Ibu mertuanya kesepian.


“Nak Caca jangan sedih, Ibu hanya sementara saja sampai Ibu merasa tenang. InshaAllah setelah Ibu tenang, damai dan hati Ibu sepenuhnya ikhlas. Ibu akan tinggal di sini lagi, bersama Nak Caca, Adi dan juga cucu kesayangan Ibu,” pungkas Ibu Puspita.


Pelukan Caca semakin erat, rasanya sangat berat jika harus berpisah dengan Ibu mertua untuk sementara waktu.


“Jadi, kapan Ibu akan pulang ke rumah?” tanya Caca.


“Besok pagi,” jawab Ibu Puspita.


“Kenapa cepat sekali, Ibu? Kenapa tidak bulan depan saja?” tanya Caca dengan merengek.


Adi tertegun melihat kedekatannya istri dan Ibu kandungnya. Bahkan, Adi merasa bahwa yang anak kandung di sini adalah Caca dan bukan dirinya.


“Mas Adi kenapa diam saja? Cepat bujuk Ibu supaya pulang ke rumah bulan depan!” pinta Caca agar Sang suami membujuk Ibu Puspita.


“Caca sayang, mau bagaimana lagi? Itu sudah menjadi pilihan Ibu. Lagipula, Ibu pulang ke rumah hanya sementara saja. Setelah itu, Ibu akan kembali tinggal bersama kita,” terang Adi yang tak keberatan dengan keputusan Ibu Puspita.


Caca melepaskan pelukannya seraya tersenyum kecil.


“Baiklah, Caca tidak akan menangis lagi. Pokoknya, kalau Ibu bahagia Caca pun ikut bahagia. Kalau memang Ibu ingin pulang karena merindukan Almarhum Ayah Faizal, Caca dengan setia menanti Ibu kembali,” tutur Caca.


Ibu Puspita tertawa mendengar penuturan Caca yang terdengar sedikit berlebihan.

__ADS_1


“Ibu jangan menertawakan Caca, Caca itu sangat sama Ibu,” ucap Caca.


Sisi manja Caca seketika itu keluar. Ibu Puspita maupun Adi memaklumi sisi manja dari seorang Caca Lestari.


“Ibu tertawa karena Caca terlihat sangat lucu. Akan semakin lucu lagi kalau ada Caca kecil,” terang Ibu Puspita.


Adi dan Caca saling melirik mendengar ucapan Ibu Puspita, isyarat kode keras untuk meminta cucu perempuan.


“Kok diam?” tanya Ibu Puspita ketika melihat reaksi Adi dan Caca yang justru diam mematung.


“Menurut Adi, lebih baik ditunda dulu saja Bu. Adi tidak ingin Caca kerepotan,” jawab Adi yang tidak ingin membuat istrinya kelelahan karena masih ada Yusuf yang masih sangat kecil.


“Jangan terlalu dianggap serius, Ibu hanya bercanda. Lagian, Yusuf masih bayi dan kasihan kalau kalian memiliki bayi lagi,” ucap Ibu Puspita.


Mereka terus berbincang-bincang sampai jam 12 malam lamanya. Kemudian, Ibu Puspita pamit untuk istirahat karena besok pagi dirinya harus bangun lebih awal dari biasanya.


“Nak Caca, Adi. Ibu ke kamar ya, mata Ibu sangat berat dan ingin segera tidur,” tutur Ibu Puspita sambil berjalan menuju kamar.


Caca menepuk paha suaminya dan mengajak suaminya untuk tidur.


“Mas, ayo ke kamar. Kita juga harus tidur!” ajak Caca.


***


Keesokan paginya.


“Ibu cuma mau pulang ke rumah. Apakah pembahasan kita semalam kurang panjang?” tanya Ibu Puspita.


Ibu Puspita kembali mendekat dan kembali memeluk menantunya.


“Caca sayang, kalau begini terus kapan Ibu akan pulang? Pak sopir akal kesal sama Ibu kalau tidak segera pergi.”


“Ibu di sana jaga kesehatan, kalau merasa tidak enak badan langsung pergi ke puskesmas atau ke rumah sakit. Jika ibu tidak kuat pergi sendirian, Caca akan datang ke rumah dan menemani Ibu berobat. Ibu juga harus makan tepat waktu. Kalau sedang malas masak, Ibu tinggal beli lauk jadi. Kalau Ibu....”


Ibu Puspita gemas dengan mulut Caca yang terus berbicara tanpa henti.


“Ssuuttss.... Lama-lama Caca seperti Ibu cerewet,” celetuk Ibu Puspita menyela ucapan Caca.


“Ya sudah, Ibu pergi lah dan jangan lupa untuk memberi kabar Caca setelah sampai di rumah.”


Ibu sekali lagi pamit kepada Adi, Caca dan juga Bayi Yusuf. Kemudian, masuk ke dalam mobil karena sudah ditunggu oleh pengemudi mobil online.


Setelah Ibu Puspita benar-benar meninggalkan mereka, Caca menunduk sedih dan berusaha terlihat baik-baik saja.


“Sudah jangan sedih, ayo temani Mas duduk!” pinta Adi yang ingin duduk di kursi ditemani Sang istri.


“Mau sekalian Caca pijat?” tanya Caca menawarkan diri.

__ADS_1


“Tidak usah, nanti malam saja. Mas hanya ingin duduk berdua sambil bercanda. Kan, hari ini warung tutup,” jawab Adi.


Adi ingin menghabiskan waktunya dengan berduaan bersama istri kecilnya. Adi sedang tidak ingin diganggu oleh siapapun, cukup ia dan istri kecilnya. Adi juga berharap Yusuf tidak rewel.


Beberapa saat kemudian.


Ibu Puspita telah sampai di rumahnya dan cepat-cepat menghubungi menantunya.


“Hallo, assalamu'alaikum,” ucap Ibu Puspita.


“Wa'alaikumsalam, Ibu sudah sampai rumah?” tanya Caca dari balik telepon.


“Alhamdulillah sudah, Nak Caca. Ini Ibu sedang duduk di kursi ruang tamu, sepertinya beberapa kedepan Ibu akan sibuk bersih-bersih rumah,” terang Ibu Puspita.


“Ibu di rumah jangan sampai kelelahan ya. Kalau badan sudah terasa lelah, langsung istirahat agar badan tidak sakit,” terang Caca.


Hampir 20 menit mereka berbincang-bincang di telepon. Sampai akhirnya, ada tetangga datang dan Ibu Puspita harus mengakhiri panggilan telepon itu.


“Nak Caca, nanti akan Ibu hubungi lagi ya. Assalamu'alaikum!”


“Wa'alaikumsalam,” ucap Caca.


Di sisi lain.


“Sudah selesai bicara dengan Ibu? Bahkan, anaknya sendiri tidak dihubungi,” ucap Adi memasang raut wajah cemburu.


“Ibu itu sayangnya sama Caca dan bukan sama Mas Adi. Jadi, jangan cemburu ya kalau Ibu lebih memperhatikan Caca daripada Mas,” sahut Caca tersenyum penuh percaya diri.


Adi berpura-pura tak mendengar ucapan istrinya dan malah sengaja berjalan menjauh.


“Mas!” panggil Caca sambil berlari mendekat.


“Mas mau minum es jeruk. Bisa tolong buatkan Mas es jeruk?” tanya Adi yang ingin sedikit manja dengan istri kecilnya.


“Tapi, tidak gratis loh Mas. Caca ingin imbalan sebuah ciuman di sini,” tutur Caca sambil menyentuh pipinya.


“Hmmm... Kalau begitu, tidak jadi deh.”


“Kok tidak jadi, Mas? Mas tidak mau ya mencium Caca? Sudah tidak selera lagi dengan Caca?” tanya Caca sedih.


“Astagfirullahaladzim, kok Caca malah berpikiran seperti itu. Maksud Mas itu adalah tidak jadi kalau hanya pipi, Mas mau yang lain. Seperti di sini,” terang Adi sambil menyentuh bibir nya.


“Bisa diatur,” ucap Caca dengan santai.


“Oke, sekarang Mas minta tolong ya Caca sayang!”


“Baik.Caca akan membuat es jeruk untuk kita dan tugas Mas adalah menjaga Yusuf di ruang tamu. Kasihan Yusuf sendirian tidak ada temannya.”

__ADS_1


__ADS_2