Istri Centil Mas Adi

Istri Centil Mas Adi
Warung Kebakaran


__ADS_3

Malam Hari.


Ponsel milik Adi tak henti-hentingnya bergetar, Adi terpaksa bangun dari tidurnya karena suara getaran ponselnya yang tidak mau berhenti.


Pria 29 tahun itu perlahan membuka matanya dan melihat ke arah jam di dinding yang ternyata menunjukkan pukul 00.15 WIB.


“Siapa yang menghubungi di jam seperti ini?” tanya Adi bermonolog.


Adi meraih ponselnya yang berada di atas nakas dan menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan tersebut.


“Hallo, assalamu'alaikum,” ucap Adi menerima telepon sambil memejamkan matanya.


Mata Adi terbuka lebar dengan jantung yang berpacu dengan sangat kencang.


“Astaghfirullah, Ya Allah!” Adi buru-buru bangkit dari tempat tidur dan segera mengenakan pakaiannya.


“Mas, apa apa? Kenapa Mas?” tanya Caca yang terbangun karena mendengar suara Adi.


“Caca sayang, Mas harus pulang ke rumah kontrakan. Warung kita kebakaran,” jawab Adi.


“Astaghfirullahaladzim, Ya Allah. Cobaan apalagi ini?” Caca menangis saat itu juga dan Adi tidak sempat menenangkan istri kecilnya, karena Adi pun panik.


Yang Adi pikirkan saat itu ada segera pulang ke rumah kontrakan untuk melihat seberapa besar api melahap warung mereka.


“Caca, Mas pergi sekarang. Caca jangan menangis ya, semua akan baik-baik saja.”


“Mas, Caca ikut ya!” pinta Caca.


“Jangan. Kamu diam di sini saja ya sayang, bahaya kalau kamu ikut dalam keadaan seperti ini. Mas berangkat sekarang, tolong jangan terlalu mengkhawatirkan masalah ini!” pinta Adi dan berlari meninggalkan Caca yang masih berada di tempat tidur.


Caca perlahan turun dan keluar dari kamarnya untuk memberitahu orang tuanya.


“Mama! Papa! Mama! Papa!” panggil Caca dari lantai atas.


Mama Ismia dan Papa Rio pun datang menghampiri Caca yang terus berteriak memanggil mereka berdua.


“Caca, kamu tahu ini malam, 'kan?” tanya Mama Ismia yang masih mengantuk dan belum menyadari kalau Caca saat itu tengah menangis.


“Sayang, kamu menangis? Ada apa?” tanya Papa Rio melihat Caca berderai air mata.


“Ma, Pa! Warung kami kebakaran,” ungkap Caca.


“innalillahi wa inna ilaihi roji'un,” ucap Mama Ismia dan Papa Rio kompak.


“Lalu, mana suamimu?” tanya Papa Rio.


“Mas Adi sudah pergi, Papa. Bagaimana ini, Pa?” tanya Caca panik.


“Mama, tolong temani Caca di kamarnya. Papa akan menyusul Adi,” ujar Papa Rio dan bergegas mengambil kunci mobil untuk segera menyusul menantunya.

__ADS_1


****


Adi telah sampai dan terkejut melihat warung miliknya yang hampir jadi sudah gosong terbakar.


“Mas Adi, saya turut sedih atas apa yang telah terjadi,” ucap Pak Fattah selaku pemilik rumah kontrakan yang ditempati Adi dan Caca.


Adi menyadari sesuatu dari warung miliknya, yaitu belum ada kabel yang terhubung.


“Pak, ini belum ada kabel bagaimana bisa terbakar?” tanya Adi curiga.


“Mas Adi, menurut saya juga sangat tidak masuk akal. Apakah memang ada orang yang sengaja membakar warung?” tanya Pak Fattah.


Adi tidak akan tinggal diam, kalau memang warung miliknya sengaja dibakar. Itu artinya, ada seseorang yang tidak senang dengan dirinya.


Tanpa pikir panjang, Adi menghubungi salah satu kenalannya yang bekerja di Kepolisian. Adi akan memastikan bahwa si pelaku pembakaran warung segera ditangkap untuk dimintai pertanggungjawaban.


“Nak Adi!” Papa Rio.


Adi berbalik badan mendengar panggilan dari Papa mertua.


“Papa kenapa di sini?” tanya Adi.


“Lalu, Papa harus diam saja mengetahui kabar buruk ini?” tanya Papa Rio.


Adi hanya terdiam dan kembali menatap sedih warung miliknya bersama Sang istri.


“Papa, coba lihat warung ini baik-baik!” pinta Adi.


“Nak Adi, sepertinya ini perbuatan seseorang yang tidak suka dengan kamu dan juga Caca,” ujar Papa Rio yang nampak sangat marah.


“Adi sudah menghubungi pihak kepolisian, Pa. Untuk menyelidiki kasus kebakaran warung ini,” terang Adi.


Adi berjalan mendekat ke arah para warga yang sudah berusaha memadamkan api.


“Bapak-bapak, saya mengucapkan terima kasih atas bantuannya untuk memadamkan api. Semoga Allah membalas semua kebaikan Bapak sekalian,” ujar Adi mengucapkan terima kasih.


Mereka mengiyakan dan memutuskan untuk pulang ke rumah mereka masing-masing.


Kini, hanya ada Adi, Papa Rio dan Pak Fattah yang masih berada di dekat warung yang sudah terbakar.


“Nak Adi tidak perlu khawatir, Papa tadi sudah menghubungi salah satu kenalan Papa untuk menindaklanjuti kebakaran warung ini. InshaAllah secepatnya pelaku akan tertangkap,” ucap Papa Rio.


“Terima kasih, Papa.” Adi menghela napasnya sembari menyentuh dadanya. Dalam hatinya, ia meminta kepada Allah agar pelaku segera tertangkap.


2 Jam Kemudian.


Adi kembali bersama dengan Papa Rio. Ketika Adi masuk ke dalam kamar, rupanya Sang istri masih terjaga karena menunggu dirinya. Sementara Mama Ismia, tidur tepat disamping Caca.


“Mas Adi, bagaimana warung kita?” tanya Caca dengan berlari kecil menghampiri Adi.

__ADS_1


Mama Ismia akhirnya terbangun dari tidurnya dan melihat sudah ada Adi di dalam kamar.


“Adi, bagaimana dengan warung kalian?” tanya Mama Ismia.


“Warung yang hampir jadi sudah tidak bisa diselamatkan. Kalaupun ingin melanjutkan lagi, sepertinya harus diulang dari awal. Kuat dugaan kalau warung sengaja dibakar oleh seseorang,” ungkap Adi.


Caca tak bisa berkata-kata, jantungnya terasa sesak dan untungnya ada Adi yang dengan sigap memapah istri kecilnya naik ke tempat tidur.


Mama Ismia masih di posisi berdiri dengan raut wajah serius.


“Kalau warung itu ingin diulang pengerjaannya, kalian tidak perlu khawatir. Pakai uang Mama saja, pokoknya dalam kurang dari sebulan warung atau toko kalian itu akan jadi,” tegas Mama Ismia.


“Mama, kami tidak ingin merepotkan Mama,” ucap Adi.


“Nak Adi, tolong jangan menolak bantuan Mama ini!” pinta Mama dengan raut wajah sedih.


Adi menoleh ke arah Caca dan Caca saat itu juga memberikan anggukan kecil, tanda setuju.


“Baiklah, Mama. Kami setuju,” tutur Adi.


Mama tersenyum lega dan bergegas meninggalkan mereka berdua di kamar.


Caca memeluk suaminya seraya tersenyum kecil. Caca berusaha untuk tidak menangis lagi di depan Sang suami, bagaimanapun Caca harus jadi obat penenang untuk Sang suami tercinta.


“Caca, maafkan suamimu ini ya.”


“Mas kenapa harus minta maaf pada Caca? Mas tidak melakukan kesalahan apapun. Lagipula, warung kita sudah seperti itu. Untung saja Mama mau menolong kita. Nanti, kalau sudah ada uang kita ganti uang Mama ya Mas!”


Adi tersenyum lega, itulah keinginannya. Bagaimanapun, ia tidak ingin menggunakan uang selain usahanya dan Sang istri.


“Iya sayang, setelah uang kita sudah kembali terkumpul. Kita akan mengganti uang Mama,” balas Adi.


“Mas, kita tidur ya! Caca tahu Mas pasti sangat lelah dan juga mengantuk.”


Adi memang sangat lelah dan juga mengantuk, akhirnya mengiyakan ajakan Caca dan bergegas untuk tidur.


Adi berharap besok pagi dirinya mendapatkan kabar mengenai kebakaran warung miliknya dan istri.


“Mas, apakah semuanya akan baik-baik saja setelah mendapatkan cobaan seperti ini?” tanya Caca penasaran.


“Soal itu hanya Allah yang tahu, sayang. Tugas kita hanyalah berusaha dan juga berserah diri kepada yang di Atas,” balas Adi.


Caca bergeser mendekati Sang suami dan memeluk erat tubuh suaminya.


“Mas, besok sepulang mengajar tolong belikan Caca buah srikaya ya!” pinta Caca yang tiba-tiba ingin makan buah Srikaya.


“Iya, besok Mas akan mencari buah srikaya yang Caca inginkan. Mumpung masih musim buah srikaya,” balas Adi sambil membelai lembut rambut Caca.


Caca tersenyum lega, meskipun ada sedikit kesedihan karena kebakaran tersebut.

__ADS_1


Tak berselang lama, keduanya pun terlelap dengan posisi saling memeluk.


__ADS_2