
Beberapa hari kemudian.
Caca mencoba untuk mengurangi sifat manja nya setelah apa yang terjadi kepada suaminya. Sang suami dua hari yang lalu menceramahi nya karena manja tidak pada tempatnya dan tentu saja Caca menerima apapun yang suaminya katakan termasuk mengurangi sifat manja nya.
“Caca, kamu kenapa sih banyak berubah? Ayo dong cerita apa saja kepada kami!” pinta Lia.
“Kamu tidak lagi sakit, 'kan?” tanya Rina penasaran.
“Aku sedang ingin fokus belajar, bukankah sebentar lagi kita akan ujian?” tanya Caca yang saat itu sedang ingin fokus belajar matematika.
Gadis itu sadar bahwa pelajaran matematika adalah pelajaran yang tidak sepenuhnya ia kuasai.
Lia dan Rina akhirnya diam setelah mengetahui alasan diamnya Caca yang ingin fokus belajar menghadapi ujian nasional.
Leo dari kejauhan memandangi gadis pujaan hatinya yang sedang fokus menatap buku cetak matematika.
“Leo, kamu aku perhatikan dari tadi melihat ke arah Caca. Kenapa tidak kamu tembak saja si Caca?” tanya Gading mendesak Leo untuk segera menyatakan cinta kepada Caca.
“Aku tidak berani dan takut jika di tolak,” jawab Leo yang tidak percaya diri.
Gading seketika itu menertawai ketidakpercayaan diri seorang Leonardo.
“Kamu itu belum maju kenapa sudah mundur duluan? Sudah sana, kamu datangi dia dan ajak dia bicara empat mata. Kamu tunjukkan kalau kamu bisa, cowok ganteng seperti kamu siapa sih yang mau menolak?”
Mendengar ucapan Gading perlahan membuat Leonardo memiliki rasa percaya diri. Remaja berusia 17 tahun mencoba mencari cara agar bisa berbicara empat mata dengan gadis idamannya.
Tak berselang lama, Leo datang menghampiri Caca yang masih sibuk belajar.
“Caca, kamu pulang sekolah nanti ada waktu tidak?” tanya Leo.
“Seperti biasa, tentu saja aku langsung pulang,” jawab Caca tanpa melihat wajah lawan bicara.
“Boleh minta waktu kamu sebentar saja?” tanya Leo penuh harap.
“Kapan? Sekarang?” tanya Caca yang kini menatap Leo.
“Tidak sekarang. Pulang sekolah nanti, bagaimana?”
“Baik,” jawab Caca singkat.
__ADS_1
Lia dan Rina tak terlalu menanggapi pembicaraan Leo dan juga Caca. Justru, Lia dan Rina asik menikmati kacang goreng yang mereka beli.
“Semuanya, kembali ke kursi kalian masing-masing!” perintah Intan yang baru saja masuk kelas.
Mereka yang sedang mengobrol dan juga asik menikmati jajan, pada akhirnya harus kembali fokus dengan mata pelajaran yang akan segera berlangsung.
“Anak-anak cepat buka buku kalian halaman 156!” perintah Intan selaku Guru matematika.
Intan menatap sinis Caca yang sedang memperhatikan dirinya.
“Kenapa sih Nenek lampir itu selalu saja menatapku dengan sinis?” gumam Caca.
Leo tersenyum sambil terus memperhatikan gerak-gerik gadis incarannya dan berharap Caca menerima pernyataan cintanya.
“Leo, kamu sekarang fokus dengan pelajaran Bu Intan. Soal Caca, bukankah nanti kalian akan bicara empat mata?” tanya Gading menggoda Leo.
Leo hanya tersenyum kecil mendengar ucapan Gading yang sengaja menggoda dirinya.
***
Akhirnya yang ditunggu-tunggu Leo datang juga. Jam sekolah akhirnya berakhir dan waktunya bagi para murid untuk pulang ke rumah mereka masing-masing.
“Caca, kami pulang duluan ya!”
Caca menoleh ke arah luar kelas dan mengirim pesan ke suaminya agar menunggunya di area parkir.
“Leo mana sih? Katanya mau bicara empat mata. Kok malah menghilang?” tanya Caca setelah mengirim pesan singkat pada suaminya.
Sekitar 5 menit Caca menunggu di kelas, akhirnya Leo datang dengan membawa beberapa snack dan juga cokelat yang jumlahnya tentu saja tidak sedikit.
“Leo, aku sudah menunggumu dari tadi dan kamu malah datang dengan membawa banyak sekali cemilan,” ucap Caca terheran-heran.
“Maaf deh, lagian aku bingung harus beliin kamu apa,” balas Leo.
“Maksud kamu apa? Jangan bilang kalau ini semua buat aku?”
Leo tersenyum malu-malu dan mengiyakan pertanyaan dari Caca yang nampak terheran-heran dengan sikapnya.
“Kamu tidak perlu membelikan aku cemilan sebanyak ini, Leo. Lagipula aku sedang diet,” ucap Caca yang memang sedang ingin menurunkan berat badannya.
__ADS_1
“Benarkah? Kalau begitu, kamu tidak perlu memakan semua cemilan ini.”
“Cepat beritahu aku alasan kamu ingin bicara empat mata padaku!” pinta Caca mendesak Leo agar segera memberitahu alasan mengapa Leo ingin bicara empat mata padanya.
Remaja berusia 17 tahun itu mendadak salah tingkah dan juga tegang karena tiba-tiba saja ia tidak berani menyatakan perasaannya kepada Caca.
Di saat yang bersamaan, Adi masih menunggu istrinya di area parkir. Entah kenapa, Adi tak bisa menunggu lama. Saat itu juga Adi memutuskan untuk menyusul istrinya yang berada di kelas.
“Caca, sebenarnya aku....” Leo berulang kali menyeka keringatnya yang bercucuran sebesar biji jagung.
“Sebenarnya apa, Leonardo? Cepat katakan! Jangan membuat aku penasaran,” ucap Caca yang penasaran dengan ucapan Leo selanjutnya.
“Sebenarnya aku....” Lagi-lagi Leo menggantungkan ucapannya.
“Sebenarnya apa, Leo? Kalau kamu tidak melanjutkan ucapanmu, sebaiknya tidak usah,” pungkas Caca dan memutuskan untuk meninggalkan kelas.
Leo dengan cepat menahan tangan Caca untuk tidak pergi begitu saja.
“Caca, sebenarnya aku suka sama kamu. Maukah kamu jadi pacarku?” tanya Leo.
Caca tertegun dan seketika itu berbalik badan menghadap ke arah Leo yang menatapnya dengan serius.
“Apa yang kamu bilang barusan? Kamu suka sama aku?” tanya Caca terkaget-kaget.
“Aku suka sama kamu, Caca. Aku pikir ini waktu yang tepat untuk kamu menyatakan perasaan ini ke kamu. Karena sebentar lagi kita akan lulus dan aku tidak ingin kita berpisah begitu saja,” terang Leo dengan mata berkaca-kaca.
Caca menghargai keberanian Leo dengan pernyataan cinta itu. Akan tetapi, Caca sama sekali tidak memiliki perasaan untuk Leo. Terlebih lagi, Caca sekarang telah bersuami dan sangat tidak pantas jika ia pacaran.
Leo sangat mengharapkan balasan cinta dari Caca. Akan tetapi, tatapan Caca saja sudah cukup menjawab pernyataan cintanya.
Adi ternyata mendengar pernyataan cinta Leo kepada istrinya. Pernyataan cinta itu sangat terdengar jelas din telinganya dan itu membuat Adi merasakan yang namanya cemburu.
Pria 28 tahun itu tak bisa masuk begitu saja, meskipun ingin sekali ia membawa istrinya untuk segera pulang.
Pada akhirnya Adi memilih untuk menunggu di area parkir sampai istrinya kembali.
“Leo..”
“Stop, Caca! Tidak perlu kamu bicara, aku sudah tahu bahwa kamu tidak bisa membalas perasaanku. Maaf, karena membuatmu terkejut atas pernyataan cintaku ini. Kamu bawalah semua cemilan ini, anggap saja aku mentraktir kamu jajan. Sekali lagi maaf, aku permisi!” Leo berlari secepat mungkin meninggal Caca di dalam kelas, remaja itu tentu saja sangat sedih atas penolakan Caca.
__ADS_1
Caca hanya bisa membiarkan Leo pergi karena bingung harus berkata apa.
“Aku harap kamu tidak marah padaku,” gumam Caca.