
Restoran.
Adi turun dari motor begitu juga dengan Caca, terlihat Caca yang cukup gelisah karena akan bertemu dengan teman sekolah dari suami tercinta.
Bahkan, untuk bernapas saja Caca merasa kesulitan. Rasanya melebihi ketika ia berada di kursi pelaminan bersama Sang suami.
Adi menggenggam erat tangan istri kecilnya berusaha menyakinkan Sang istri bahwa semuanya akan berjalan lancar seperti keinginan mereka berdua.
“Ayo masuk, mereka pasti sudah berkumpul di dalam,” ucap Adi mengajak istri kecilnya untuk masuk ke dalam restoran.
“Mas, kita pulang saja ya. Caca tiba-tiba saja merasa gugup,” balas Caca.
“Caca, tatap mata suamimu ini! Apakah Mas berbohong atas apa yang Mas ucapkan sebelumnya? Bukankah Caca tadi siang bilang kita hanya perlu masuk selama 5 menit, setelah itu kita pulang,” pungkas Adi.
“Mas janji ya jangan jauh-jauh dari Caca, pokoknya Mas harus selalu berada di samping Caca!” pinta Caca.
“Mas berjanji akan selalu berada di samping Caca. Ayo kita masuk!”
Caca menariknya napas panjang dan menghembuskan dengan perlahan. Kemudian, merangkul lengan suaminya seraya berjalan masuk ke dalam restoran.
“Adi! Caca!” panggil Monica melihat keduanya yang baru saja memasuki restoran.
Monica dengan semangat melambaikan tangannya ke arah Adi dan Caca yang baru saja tiba. Sontak saja, para teman yang menghadiri acara reuni tersebut menoleh ke arah pasangan muda yang baru saja datang.
Kebanyakan dari mereka menatap Adi dan Caca dengan penuh pertanyaan. Terlebih lagi, Adi datang dengan seorang wanita yang cantik dan juga sangat muda.
“Adi, anak SMA mana yang kamu bawa ini?” tanya salah satu teman sekolah Adi yang bernama Baim.
Baim menghampiri Adi dan memberikan pelukan persahabatan.
“Ini istriku, Caca. Kami menikah tahun lalu,” terang Adi memperkenalkan Caca.
“Apa? Kamu sudah menikah kenapa tidak mengundang aku?” tanya Baim.
“Tidak hanya kamu, Baim. Aku bahkan teman sebangku nya saja tidak di undang,” sahut Morgan.
“Maaf, aku tidak bermaksud begitu. Maaf karena tidak mengundang kalian,” tutur Adi meminta maaf.
“Kalian semua tidak di undang, kecuali aku,” sahut Monica sambil memberikan senyum seksi.
“Hallo Caca, bagaimana tugas yang Ibu berikan? Apakah sudah selesai?” tanya Monica.
“Sudah dong, Bu!” seru Caca dengan mengedipkan sebelah matanya pada Monica.
Baim, Morgan serta teman yang lain terkejut melihat bagaimana Monica dan Caca terlihat cukup akrab.
“Kalian berdua sudah saling mengenal, Mon?” tanya Morgan.
“Tentu saja, Caca ini salah satu mahasiswi ku,” jawab Monica dan mengajak Caca untuk duduk dengannya.
Sementara Adi, berbincang-bincang dengan teman sekolahnya yang lain.
“Bu, seharusnya biarkan Caca dan Mas Adi saling berdekatan. Kalau begini, nanti ada wanita lain yang mencoba mendekati Mas Adi,” ucap Caca lirih.
“Sudah, kamu tenang saja. Ibu tahu kok bagaimana Adi dan dia itu termasuk cowok yang cuek sama wanita. Mau bagaimanapun cuma kamu yang dicintai Adi,” ungkap Monica apa adanya.
“Ibu kok menceritakan tentang Mas Adi sama Caca?” tanya Caca seraya tersenyum dengan penuh kemenangan.
“Karena kamu istrinya, ya aneh kalau sampai Ibu menceritakan suamimu sama wanita lain,” celetuk Monica.
“Btw, malam ini Bu Monica cantik sekali. Suaminya mana Bu?” tanya Caca penasaran.
__ADS_1
Monica tersenyum lebar seraya menunjuk ke arah pria berbadan besar keturunan india.
“Yang tinggi itu Bu? Wow, seram juga ya,” tutur Caca yang keluar begitu saja dari mulutnya.
“Seram begitu juga suami Ibu,” balas Monica.
Beberapa wanita tiba-tiba saja mengerumuni Caca dengan memandangi Caca begitu detail.
“Mon, gadis muda ini beneran istrinya Adi si cuek? Gila, cantik banget,” ucap Rosi yang berpenampilan seperti wanita rentenir.
“Iya jelas cantiklah, Adi saja tampan,” sahut Monica.
Caca tiba-tiba saja merasa bahwa dirinya seperti bidadari yang jatuh dari kayangan.
“Btw, kenalan dimana kalian?” tanya Rosi semakin penasaran. Sementara yang lain, hanya sebagai penonton.
“Kebetulan saya dulu murid Mas Adi,” jawab Caca.
“Wah, pintar juga ya Adi mencari istri cantik begini,” tutur Rosi.
Monica risih dengan Rosi serta beberapa teman lainnya yang hanya berdiri sambil terus memandangi Caca.
“Woy, bokong kalian bisul atau bagaimana? Atau kalian sedang sakit ambeien? Duduk kenapa sih!” pinta Monica agar Rosi serta yang lain duduk manis daripada harus berdiri.
“Gila, tahu saja kamu kalau minggu kemarin aku habis sembuh karena bisul di bokong ku,” celetuk Rosi.
Mereka pun tertawa lepas mendengar jokes receh Rosi, sementara Caca sebisa mungkin terlihat anggunly meskipun tengah tertawa.
Adi tidak fokus mengobrol dengan teman sekolahnya, ia justru berusaha mencari Caca dengan sepasang matanya.
“Adi, kenapa kamu? Baru berpisah sebentar saja sudah kangen sama istri. Sabar dong, aku saja yang menduda 2 tahun santai-santai saja,” ucap Morgan.
Adi mengernyitkan keningnya terkejut mendengar ucapan Morgan yang ternyata sudah menduda.
“Sorry, Adi. Aku juga nikahnya kecil-kecilan, hanya saudara dekat saja yang aku undang. Aku juga menduda bukan karena bercerai, akan tetapi karena istriku meninggal dunia akibat sakit jantung,” ungkap Morgan.
“Maaf ya Morgan, aku sama sekali tidak tahu. Aku turut berdukacita atas kematian istrimu,” balas Adi.
“Santai, Adi. Ini sudah takdirku,” sahut Morgan tersenyum santai.
Makanan yang sudah di pesan sebelumnya akhirnya datang juga. Mereka pun berkumpul di sebuah meja panjang dan saling berhadapan dengan pasangan yang mereka bawa.
Adi tersenyum seraya mengedipkan sebelah matanya begitu juga Caca yang juga mengedipkan matanya kepada Sang suami.
“Hei kalian berdua, jangan membuat kami seperti tidak ada di ya!” pinta Monica yang cukup itu dengan keromantisan Adi dan Caca.
“Lakukan juga dengan suamimu,” celetuk Adi dan di balas tatapan dingin Monica.
Caca sangat bersyukur karena kekhawatiran yang ia rasakan sebelumnya langsung sirna karena ternyata teman sekolah suaminya adalah orang-orang yang asik.
Entah apa jadinya jika para teman dari suami tercinta tak menyukai kehadirannya, mungkin saja Caca meminta untuk segera pulang atau menangis di tempat seketika itu juga.
Usai makan bersama, mereka kembali berbincang-bincang. Bahkan tak sedikit dari mereka yang ingin menjadi teman Caca, mungkin karena Caca paling muda diantara mereka dan juga bisa jadi karena Caca adalah istri dari Adi yang terkenal cuek ketika masih sekolah dulu.
“Caca, kamu hamil?” tanya Monica lirih ketika melihat perut Caca yang agak membuncit.
“Yah, ketahuan deh,” tutur Caca dan meminta Monica untuk merahasiakan mengenai dirinya yang tengah berbadan dua.
Monica mengiyakan dengan syarat ia diperbolehkan menyentuh perut Caca, maklum saja Monica belum juga hamil padahal pernikahannya telah menginjak 5 tahun. Bisa saja, setelah Monica menyentuh perut Caca, Monica langsung tertular dan hamil.
“Bagaimana, Caca?” tanya Monica penasaran.
__ADS_1
Caca pun mengizinkan Monica menyentuh perutnya dan tanpa pikir panjang Monica menyentuh perut Caca sembari berdo'a agar dirinya segera dikaruniai momongan.
“Terima kasih, Caca,” ucap Monica sambil mengelus perutnya berharap segera tertular.
Beberapa saat kemudian.
Sebelum mereka berpisah, mereka memutuskan untuk berfoto bersama sebagai kenangan.
“Caca, sini sayang!” panggil Adi dan membuat yang lainnya bersorak mendengar bagaimana Adi memanggil istrinya.
Caca menutup wajahnya yang memerah karena para teman Sang suami terus saja menggoda dirinya serta Sang suami tercinta.
Usai berfoto bersama, mereka pun pulang ke rumah masing-masing.
Adi dan Caca mereka berdua tidak langsung pulang ke rumah. Mereka justru memilih untuk berkencan berkeliling melihat-lihat indahnya suasana malam.
“Mas, kita ke sana ya!” pinta Caca sambil menunjuk ke arah sebuah taman yangyang kelihatan dari jauh cukup indah untuk di nikmati.
Adi mengendarai motornya dan menuju taman yang dimaksud oleh Caca.
“Mas, kita beli jagung bakar dulu,” tutur Caca ketika melihat ada bapak tua yang menjual jagung bakar.
Adi meminggirkan motornya berhenti tepat di depan penjual jagung bakar.
“Caca diam di sini saja, biar Mas yang pesan. Caca mau jagung 1 atau 2?” tanya Adi.
“Lihat ukurannya ya Mas, kalau kecil beli 2 kalau besar beli 1 saja,” jawab Caca dan meminta mentega nya ditambahkan lagi agar terasa mentega nya.
Adi pun bergegas memesan jagung bakar untuk istri kecilnya dan untungnya Adi tidak perlu mengantre.
Tak berselang lama, jagung bakar pun matang. Caca tersenyum bahagia karena jagung yang dibeli oleh suami tercinta berukuran besar.
“Mas, kita jalan kaki saja ya ke taman. Tanggung kalau harus naik motor,” tutur Caca.
Adi merangkul pinggang Caca dan berjalan dengan mesra menuju taman.
Sesampainya di taman, Caca terkejut karena ternyata taman yang ia lihat dari kejauhan indah malah biasa-biasa saja jika di lihat dari dekat.
“Mas, jangan di sini deh. Tanahnya becek dan tidak ada jalan akses untuk melewati tanah basah ini,” ujar Caca yang cukup kecewa karena ia ingin sekali duduk di kursi taman sembari menikmati jagung bakar yang mereka beli.
“Caca jangan sedih ya, ayo kita lewat sini saja!” seru Adi dan membawa istrinya ke jalan lain untuk mencari kursi terdekat.
Adi tersenyum lega manakala dirinya melihat sebuah kursi taman tak jauh dari mereka.
“Caca sayang, lihat di sana ada kursi. Kita bisa duduk di sana!”
Caca mengiyakan dan reflek berlari untuk segera sampai di kursi tersebut.
Adi hanya bisa geleng-geleng kepala melihat bagaimana istri kecilnya masih aktif berlarian.
“Mas, tadi Caca hampir saja khawatir kalau-kalau Teman Mas tidak menyukai Caca. Ternyata dugaan Caca salah, mereka sangat asik untuk diajak bicara. Bahkan, karena mereka Caca tertawa lepas,” terang Caca yang sudah duduk di kursi bersiap untuk menikmati jagung bakar.
“Alhamdulillah, apa yang Mas katakan tidak bohong, bukan?” tanya Adi.
“Maaf ya Mas, tadi Caca tidak percaya dengan perkataan Mas,” balas Caca menyesal.
“Sudah tidak apa-apa, jangan sedih. Ayo sekarang kita nikmati jagung bakar ini!”
Caca menoleh arah sekitar dan mengecup sekilas pipi suaminya.
“Caca!” Ada terkejut mendapatkan kecupan istri kecilnya dengan tiba-tiba.
__ADS_1
“Ssuutttsss!” Caca mengedipkan matanya seraya memberi isyarat agar Sang suami diam.