Istri Centil Mas Adi

Istri Centil Mas Adi
Datang Melamar


__ADS_3

Pagi Hari.


Caca menjadi tak nafsu makan setelah diberitahu oleh Mama Ismia bahwa Adi serta keluarganya akan datang untuk melamarnya. Tentu saja hal itu membuat Caca senang, hingga ia merasa tidak perlu lagi untuk makan.


“Mbak Caca tidak boleh tidak makan, Bapak dan Ibu nanti akan memarahi Bibi,” ucap Bibi Ningrum.


“Bi, Caca beneran kenyang. Caca cuma mau ketemu calon suami Caca,” balas Caca yang sibuk menyisir rambutnya yang panjang.


Bibi Ningrum sudah tahu bahwa hari Caca akan di lamar. Respon Bibi Ningrum tentu saja sangat bahagia, karena keluarga Caca adalah keluarga kaya raya. Jadi tidak ada masalah jika Caca menikah muda.


“Mbak Caca kalau tidak makan, yang ada wajah Mbak Caca pucat seperti mayat. Kalau di lihat calon suami Mbak Caca, bagaimana?” tanya Bibi Ningrum dengan memasang ekspresi ketakutan.


“Bibi kok bicara begitu? Ya sudah ayo, temani Caca makan!” Caca seketika itu menggandeng tangan Bibi Ningrum menuju ruang makan.


Mama Ismia yang saat itu sudah berpakaian rapi terkejut melihat Caca yang belum mengganti pakaiannya.


“Caca, kok belum ganti baju?” tanya Mama Ismia.


“Nanti ya Ma, Caca mau makan dulu,” jawab Caca dengan terus menggandeng tangan Bibi Ningrum.


****


Adi beserta keluarga besarnya hampir sampai menuju kediaman rumah keluarga Caca. Saat itu Adi terlihat sangat gugup dan banyak diam ketika kedua orang tuanya berbincang-bincang di dalam mobil bersama saudara lainnya.


Tidak ada yang tahu alasan mengapa Adi tiba-tiba ingin menikahi muridnya sendiri. Kecuali, orang tua Adi yang memang sengaja merahasiakan alasan besar Adi menikahi muridnya sendiri.


“Mas Adi, apakah ini benar rumah calon istri Mas Adi?” tanya Latif adik sepupu Adi.


Mereka yang ada di mobil nampak ragu-ragu untuk masuk ke dalam area rumah mewah tersebut. Rumah yang begitu besar nan kokoh, identik dengan warna putih layaknya istana.


“Keluarga Mas Adi?” tanya penjaga rumah.


“Iya benar, apakah ini rumah Pak Rio?” tanya Ayah Faizal.


“Benar sekali, silakan masuk!”


Caca, Mama Ismia dan Papa Rio berdiri di teras depan rumah menyambut kedatangan keluarga Adi Hidayatullah.


Jantung Caca berdetak lebih cepat dari biasanya, ketika melihat Adi tersenyum kecil padanya.


Mama Ismia dengan ramah mempersilahkan keluarga Adi untuk segera masuk ke dalam.


Orang tua Adi serta keluarga Adi yang kebetulan ikut menemani Adi lamaran, terlihat sangat serius memperhatikan calon istri Adi yang begitu cantik.

__ADS_1


“Mas Adi, itu calon kakak ipar kenapa cantik sekali?” tanya Latif.


Adi hanya tersenyum kecil, pria itu sangat gugup sampai-sampai ia tidak sadar bahwa tangannya gemetaran.


Melihat Adi yang gemetaran, Ayah Faizal lah yang membuka pembicaraan untuk melamar Caca Lestari.


“Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” ucap Ayah Faizal.


“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh!” seru mereka membalas salam dari Ayah Faizal.


“Di hari ahad yang cerah ini, kami sekeluarga datang dengan maksud melamar Nak Caca sebagai istri dari putra Kami, Adi Hidayatullah. Mohon kiranya, Pak Rio sekeluarga menerima itikad baik dari putra kami,” ucap Ayah Faizal.


“Caca, ini semua keputusan Caca. Apakah Caca mau menerima lamaran dari saudara Adi Hidayatullah?” tanya Papa Rio.


Caca mengangguk pelan dan menyembunyikan wajahnya di pelukan Mama Ismia.


Melihat anggukan dari Caca, mereka dengan kompak mengucapkan syukur alhamdulillah karena Caca menerima lamaran tersebut.


Satu-persatu seserahan lamaran di terima oleh keluarga Caca.


Dalam hati, Caca begitu senang karena keinginannya menjadi istri dari guru olahraganya sebentar lagi akan tercapai.


Ibu Puspita menyematkan cincin di jari manis Caca sebagai tanda bahwa Caca akan menjadi istri dari putra tunggalnya itu.


Ayah Faizal dan Ibu Puspita tak mempermasalahkan hal itu. Karena, mereka juga tidak memiliki uang banyak untuk melaksanakan resepsi yang tentu saja akan memakan uang cukup banyak.


“Resepsi akan diadakan ketika putri saya berumur 18 tahun, yang artinya tahun depan,” ucap Papa Rio.


Papa Rio ingin putrinya lulus sekolah terlebih dahulu dan sekaligus tahun depan adalah tahun dimana Papa Rio membuka usaha barunya.


“Bapak, Ibu serta keluarga sekalian. Mari silakan makan siang bersama!” Mama Ismia menggandeng tangan calon besannya menuju ruang makan.


Sementara itu, Adi dan Caca diberi waktu sebentar untuk berbincang-bincang.


“Yeaayyy, akhirnya Pak Adi dan Caca telah resmi lamaran,” ucap Caca sembari memamerkan cincin yang tersemat di jari manisnya.


“Caca, Bapak melakukan ini sebagai bentuk tanggung jawab. Meskipun begitu, Caca harus menjaga jarak dari Bapak,” tutur Adi.


“Pak Adi kenapa sih sensitif banget sama Caca, lagian Caca suka sama Pak Adi,” balas Caca.


Adi hanya bisa mendengus kasar mendengar ucapan Caca.


“Pak Adi mau makan? Ayo kita makan!” ajak Caca sembari menggandeng tangan calon suaminya.

__ADS_1


“Caca, lepaskan tangan Bapak!” pinta Adi.


“Iya-iya,” balas Caca yang agak ngambek dengan sikap dingin Adi.


Merekapun makan bersama dengan hidangan yang cukup banyak serta bergizi.


Ayah Faizal dan Ibu Puspita merasa sangat dimuliakan sebagai calon besar, karena orang tua dari calon menantu mereka begitu memuliakan serta menghargai kedatangan mereka.


“Pak Adi makan yang banyak ya,” ucap Caca sambil meletakkan paha ayam bakar di piring calon suaminya.


Kedua orang tua Caca memaklumi sifat Caca yang bisa dikatakan belum dewasa itu. Sementara Adi, agak canggung dengan cara Caca itu.


Usai makan siang bersama, mereka kembali berbincang-bincang mengenai masalah pekerjaan.


Ayah Faizal sedikit tertutup masalah pekerjaannya, karena merasa bahwa pekerjaan terlalu rendah di mata pemimpin perusahaan.


“Jika Pak Faizal tidak nyaman, tidak perlu diceritakan. Bagi saya, apapun pekerjaan Pak Faizal yang terpenting pekerjaan itu adalah pekerjaan halal. Banyak kok di luar sana yang menggunakan segala macam cara untuk mendapatkan uang, bahkan tidak sedikit dari mereka yang bermain curang untuk mendapatkan suatu pekerjaan,” ujar Papa Rio.


Mendengar hal itu, Ayah Faizal bernapas lega karena Calon besannya memiliki pemikiran yang sangat bijak.


“Saya bekerja sebagai guru honorer,” terang Ayah Faizal.


“Pak Faizal seorang guru ternyata, mashaAllah sekali,” sshut Papa Rio.


“Alhamdulillah, Adi menjadi guru dan berhasil menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS)” Ayah Faizal sangat bangga memberitahu kepada calon besannya, kalau Adi sudah berhasil menjadi PNS.


***


Beberapa jam kemudian.


Adi dan keluarga besarnya akhirnya pamit untuk pulang. Papa Rio pun berpesan kepada Adi untuk selalu menjaga serta mengawasi Caca di sekolah. Bila perlu, Adi harus bersikap tegas ketika Caca membuat masalah.


.


Merekapun satu-persatu masuk ke dalam mobil dan ketika Adi ingin masuk ke dalam mobil, Caca tiba-tiba memegang tangan Calon suaminya.


“Pak Adi, besok berangkat bareng bisa?” tanya Caca yang ingin berangkat ke sekolah bersama dengan Adi.


Adi ingin menolak secara halus, akan tetapi ia sama sekali tidak bisa menolak. Dikarenakan Orang tua Caca begitu serius mendengar jawaban darinya, seakan-akan mereka yakin kalau Adi mengiyakan keinginan Caca ingin berangkat bersama.


“Baiklah, besok Bapak jemput Caca,” jawab Adi.


Saat itu juga Caca melepaskan tangan Adi yang ingin segera masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


__ADS_2