
Setelah menata barang belanjaan, Adi mau mencacat bergegas masuk ke dalam karena mereka harus mengisi perut mereka dengan makanan. Setibanya di ruang makan, rupanya Ibu Puspita telah menyiapkan sarapan yang cukup banyak untuk sepasang suami istri tersebut.
“Ibu memasak makanan banyak sekali,” tutur Caca melihat banyaknya hidangan makanan yang berada di atas meja.
“Ibu sengaja memasak banyak untuk kalian berdua,” terang Ibu Puspita pada menantu kesayangannya.
“Apakah ibu, Mama dan Papa sudah sarapan,” tanya Caca.
“Alhamdulillah kami sudah sarapan,” balas Ibu Puspita.
Ibu kandung dari Adi meminta keduanya untuk segera duduk dan menikmati sarapan yang sudah ia masak.
Sepasang suami istri itu mengucapkan terima kasih karena Ibu Puspita telah memasak makanan untuk mereka.
Ibu Puspita mengiyakan dan memutuskan untuk pergi ke ruang tamu, berkumpul dengan besannya.
Beberapa saat kemudian.
Matahari pada siang hari itu cukup panas dan kipas angin Bahkan tidak dapat mengurangi rasa panas yang ada di warung.
“Mas kenapa panas sekali ya?” tanya Caca kegerahan.
“Caca mau masuk ke dalam rumah? kalau begitu tinggallah warung ini, biar Mas aja yang menunggu warung kita,” tutur Adi.
“Kok mas malah mengusir Caca? Caca ingin ada di samping Mas Adi, duduk bersama dan berbincang-bincang,” pungkas Caca.
“Bukankah tadi Caca merasa panas? mas tidak masalah kalau Caca pergi masuk ke dalam rumah,” sahut Adi sambil membelai rambut panjang Caca yang tergerai dengan sangat indah.
“Tidak. Caca tetap di sini menemani Mas Adi,” tutur Caca sambil membuka pintu kulkas.
Caca tersenyum lebar dan duduk sambil membelakangi kulkas yang terbuka lebar.
Adi tertawa aneh, melihat tingkah menggemaskan istri kecilnya. kelakuan Caca cukup menggelikan dan Adi sangat menyukai hal tersebut.
__ADS_1
“Mas tertawa meledek Caca ya?” tanya Caca dengan raut wajah jutek.
“Tidak Caca sayang, Siapa juga yang mau meledek wanita secantik Caca?” tanya Adi Seraya menyentuh pipi kiri Caca dengan tatapan penuh cinta.
Caca terbuai dengan perkataan suaminya dan juga sentuhan lembut dari suami tercinta. Ingin rasanya Caca memeluk suaminya saat itu juga dan tak ingin melepaskan pelukannya itu untuk selamanya.
“Mas jangan mau mancing Caca seperti ini, Caca takut tidak bisa membedakan yang mana dunia nyata dan dunia mimpi tutur,” Caca sambil menahan tawa melihat raut wajah suaminya yang terkejut dengan perkataannya.
“Mas sama sekali tidak memancing Caca, sepertinya Caca yang ingin dipancing,” celetuk Adi.
Mereka berdua saling melempar balasan dan di saat yang bersamaan Papa Rio datang menghampiri keduanya dengan membawa bayi Yusuf yang saat itu terlelap di gendongan Papa Rio.
“Caca, ada urusan jadi Yusuf kalian Jaga dulu ya,” tutur Papa Rio sambil memberikan Yusuf ke pangkuan bundanya.
Setelah memberikan cucu kesayangannya kepada Caca, papa Rio bergegas masuk ke dalam rumah.
“Mas, Yusuf kenapa ya cepat sekali besarnya? Perasaan baru kemarin melahirkan Yusuf,” tutur Caca sambil terus menatap wajah buah hati mereka.
“Yusuf juga harus tumbuh dan berkembang, Caca sayang. Sebagai orang tua kita harus mendoakan agar buah hati kita menjadi anak yang sholeh, berguna bagi orang sekitar dan juga menjadi orang yang bermanfaat bagi orang banyak!”
Yusuf tiba-tiba saja bangun dari tidurnya dan sedikit merengek. Adi saat itu bangkit dari duduknya dan menutup pintu warung agar tidak ada yang masuk, sementara bagian warung di depan tetap terbuka lebar.
Caca tersenyum lebar dan duduk di pojok tembok dan perlahan menyusui bayi Yusuf agar kembali tertidur.
Tak Butuh waktu lama Yusuf kembali terlelap, dengan hati-hati Caca meletakkan Yusuf di atas tempat tidur kecil dan tak lupa memberi belaian lembut agar Yusuf semakin nyenyak.
Ranjang yang ditiduri oleh Yusuf, lebarnya hanya setengah meter dan panjangnya tidak sampai 2 meter. ranjang tersebut biasa menjadi tempat bersantai sambil menunggu pembeli datang.
“Caca sayang, bagaimana kalau besok kita membuka laundry?” tanya Adi yang ingin memperluas usaha milik mereka berdua.
“Baik Mas, apapun yang Mas Katakan Caca akan selalu mendukung dan Caca akan ikut bertindak dalam bisnis kita ini,” terang Caca pada sang suami tercinta.
Adi mengucapkan banyak terima kasih atas dukungan istrinya yang tak pernah ada habisnya. Adi bahkan sangat bahagia karena mendapatkan sosok istri yang sangat sempurna seperti Caca Lestari.
__ADS_1
“Caca pesan banner ya Mas untuk usaha baru kita ini,” tutur Caca.
Caca mengambil ponselnya yang berada di etalase dan saat itu juga ia menghubungi salah satu kenalannya untuk membuatkan banner yang akan ia pasang besok pagi.
“ Mas, Caca sudah memesan banner laundry dan Insya Allah besok pagi banner tersebut sampai ke sini,” terang Caca.
“Memangnya Caca Sudah menentukan ukuran serta harga yang akan kita pasang?” tanya Adi penasaran.
“Mas tenang saja, pokoknya Mas hanya tinggal terima beres. Insya Allah semuanya sudah aman terkendali,” balas Caca sambil menyentuh lengan suaminya.
Malam Hari.
Selepas makan malam, mereka berkumpul di ruang tamu sambil menonton televisi. karena suasana yang sedang hangat, Adi dan Caca memutuskan untuk membicarakan Keinginan mereka membuka laundry di rumah.
“Mama, papa dan juga Ibu. Kami ingin memberitahu sesuatu mengenai keinginan kami membuka laundry,” tutur Adi pada para orang tua.
“Laundry? Maksudnya bagaimana Adi?” tanya ibu Puspita penasaran.
Adi menjelaskan secara mendetail dan Caca pun ikut membantu menjelaskan majukeinginan mereka untuk membuka laundry agar usaha mereka semakin maju.
Setelah mendapat penjelasan dari keduanya, para orang tua sangat setuju dan berharap apapun keinginan Adi serta Caca bisa terwujud tanpa ada satu halangan pun.
“Lalu, Apakah kalian yang akan mencuci pakaian-pakaian kotor tersebut?” tanya Mama ismia penasaran.
“Sebelumnya kami sudah membahas dan insya Allah kami akan mencari orang untuk bekerja di bagian cuci mencuci,” terang Adi.
“Kalau soal itu biar Mama saja yang mencari ikan orang untuk membantu kalian. Mama ada banyak kenalan dan mencarikan orang yang bisa membantu kalian berdua,” terang Mama Ismia sambil mengeluarkan ponselnya.
Caca dan Adi saling melempar senyum karena mama ismia telah meringankan beban mereka untuk mencari orang yang akan membantu mereka.
Takk sampai 10 menit, Mama ismia telah mengumpulkan beberapa wanita yang nantinya akan bekerja dengan Caca dan Adi.
“Caca, Adi! silakan lihat data diri mereka dan insya Allah lusa salah satu dari mereka akan datang untuk menjadi karyawati yang nantinya akan membantu kalian berdua,” tutur mama ismia.
__ADS_1
“Mama, Bagaimana kalau semuanya diminta untuk datang kemari? maksudnya Caca ingin melihat dan berbicara dengan mereka secara langsung,” tutur Caca.
“Oh tentu saja boleh,” balas mama ismia dan kembali mengirim pesan kepada kenalannya agar membawa calon karyawati untuk datang secara langsung.