Istri Centil Mas Adi

Istri Centil Mas Adi
Marahnya Seorang Caca Lestari


__ADS_3

Intan perlahan mendekatkan wajahnya di dada Adi dan melakukan hal yang sungguh menjijikkan. Adi lagi-lagi berusaha untuk berteriak dan meminta Intan untuk berhenti melakukan hal yang sangat menjijikkan itu.


Saat yang bersamaan, Caca masuk dan terkejut melihat seorang wanita berpakaian dengan sangat terbuka sedang menciumi bagian dada suaminya.


Belum lagi suaminya yang berteriak meminta wanita itu untuk segera menjauh dari tubuhnya.


“Siapa kamu?” teriak Caca sambil menarik rambut wanita tersebut.


Caca menariknya dengan sangat kencang dan mendorong wanita itu hingga jatuh ke lantai dengan cukup keras.


Bruk!


Wanita itu jatuh dengan wajah yang lebih dulu mencium lantai.


“Mas tidak apa-apa?” tanya Caca panik sambil mengancingkan kembali kancing pakaian suaminya.


Intan bangkit dan memukul punggung Caca dengan tas miliknya. Saat itu Caca belum tahu bahwa wanita berpakaian kurang bahan itu adalah Intan. Wanita yang pernah menjadi Guru matematika ketika di sekolah.


“Beraninya kamu melakukan hal ini kepada saya,” ucap Intan sambil bangkit dari jatuhnya.


Caca yang sudah mengancingkan kancing pakaian suaminya, seketika itu menoleh ke arah wanita yang telah lancang membuka pakaian suaminya dan melakukan hal yang tidak pantas kepada suaminya.


“Kamu!” Caca terkejut bukan main melihat Intan dengan tampilan layaknya wanita murahan.


Belum sempat Intan mengeluarkan apa yang ia ucapkan, Caca lebih dulu melayangkan tamparan keras ke wajah Intan.


Plak! Plak! Plak! Plak!


Bukan sekali atau dua kali Caca melayangkan tangan ke wajah Intan. Melainkan empat kali dan empat tamparan itu kerasmu bukan main.


Intan yang lebih dulu mematik api di dalam dada Caca dan tentu saja api itu membuat Caca murka. Bahkan, Caca ingin sekali merusak wajah Intan dan mencukur habis rambut Intan agar botak mengkilap.


Disaat yang bersamaan, Caca merasakan sakit dan panas di bagian wajahnya. Tamparan Caca sungguh-sungguh menyakitkan.


Adi tercengang melihat istrinya yang lembut tiba-tiba berubah menjadi singa ganas.


“Caca, kamu kurang ajar ya sama saya,” ucap Intan dan mencoba untuk menampar wajah Caca.


Caca dengan gesit menghindar dan menjegal kaki Intan, hingga Intan terjatuh dan salah satu high heels miliknya pantas.


Tak sampai disitu saja, Caca mengacak-acak rambut Intan dan menghapus tatanan rias diwajah Intan hingga rusak.


Dendam Intan semakin besar pada Caca, saat itu juga Intan melepaskan high heels miliknya dan memukul bagian tubuh Caca berulang kali.


Caca tentu saja kesakitan, tapi sebisa mungkin Caca menahan rasa sakit itu dan membalas pukulan Intan dengan sebuah tinjuan tepat dimata Intan.


Intan terjatuh setelah mendapat tinju dari Caca. Kemudian, ia bangkit dan bersiap-siap menghajar wajah Caca dengan high heels miliknya.


Perkalian mereka seketika itu dihentikan oleh seorang perawat dan juga Dokter yang kebetulan ada jadwal untuk memeriksa kondisi pasien.

__ADS_1


“Lepaskan saya, akan saya bunuh wanita kurang ajar itu,” ucap Intan mencoba untuk membalas tinjuan Caca yang sangat menyakitkan.


“Saya akan menuntun Anda,” tegas Caca.


Caca tidak akan melepaskan Intan dan berjanji untuk menjerumuskan Intan ke dalam penjara atas apa yang telah Intan lakukan kepada suaminya dan juga dirinya.


Bahkan, jika nanti Intan menangis darah sekalipun, Caca tidak akan pernah mencabut laporannya.


“Kita selesaikan semuanya di meja hijau,” tegas Caca yang akan memberikan pelajaran kepada Intan.


“Kamu pikir aku takut?” tanya Intan menantang dan sama sekali tidak takut dengan apa yang Caca katakan padanya.


“Kita lihat saja nanti,” balas Caca dengan tatapan penuh amarah.


Dokter bernama Jefry saat itu juga membawa paksa Intan keluar dan meminta Intan untuk segera pergi.


Sementara Caca, memutuskan untuk melakukan visum agar bisa segera melaporkan Intan kepada pihak berwajib.


Sebelum Caca keluar dari ruangan tersebut, Caca menghampiri suaminya yang ternyata sudah tak sadarkan diri.


Dokter Jefry mengatakan kemungkinan Adi terkejut dan pingsan melihat keduanya berkelahi.


“Maafkan Caca, Mas. Tidak seharusnya Caca buru-buru pergi membeli jus apel. Apa yang telah wanita itu lakukan, Caca pasti akan membalasnya,” tutur Caca.


Caca pun bergegas untuk melakukan Visum dan berharap Intan segera masuk ke dalam penjara atas perbuatannya.


Intan berjalan meninggalkan rumah sakit dengan kondisi berantakan dan bahkan ada yang melihatnya dengan tatapan jijik.


Bahkan, ketika Intan ingin masuk ke dalam angkutan umum, orang-orang tidak ingin duduk dekat dengan Intan.


Mereka semua takut melihat Intan, melihat Intan seperti orang kecanduan obat-obatan terlarang.


Malam Hari.


Caca akhirnya kembali ke rumah kontrakan dengan raut wajah yang nampak lesu. Ayah Faizal dan Ibu Puspita terheran-heran dengan Caca yang malah pulang malam tanpa memberikan kabar.


Melihat Caca yang tiba-tiba saja menangis, membuat Ibu Puspita sedih dan merangkul pundak Caca sambil menghapus air mata Sang menantu.


“Ibu, apakah Yusuf sudah tidur?” tanya Caca lirih.


“Alhamdulillah, sudah tidur dari jam 8 tadi. Kalau siang tadi, Yusuf tidurnya pulas sekali,” jawab Ibu Puspita.


Sebelum Caca masuk ke dalam kamar, Ibu Puspita menanyakan kabar putranya di rumah sakit dan Caca menjawab bahwa suami tercintanya baik-baik saja di rumah sakit. Bahkan, bubur ayam buatannya sampai habis tak tersisa.


“Lalu, bagaimana dengan rantang adah bubur ayam yang Caca bawa?” tanya Ibu Puspita karena Caca tidak kembali membawa rantang tersebut.


“Sepertinya ketinggalan, Bu. Besok Caca akan membawa pulang rantang yang ketinggalan itu. Ayah, Ibu! Caca permisi untuk istirahat,” tutur Caca dan perlahan masuk ke dalam kamarnya.


Caca sebenarnya ingin tetap menemani Sang suami di rumah sakit. Akan tetapi, Caca memiliki tanggungjawab kepada bayi Yusuf dan sangat tidak mungkin membiarkan Mertuanya menjaga Yusuf sampai besok pagi.

__ADS_1


Kalau sampai begitu, itu artinya Caca mengabaikan kewajibannya sebagai seorang Ibu untuk bayi Yusuf.


“Maaf ya sayang, Bunda pulang sangat malam. Hari ini adalah hari yang sangat Bunda benci. Ada wanita gila yang menyentuh tubuh Ayah kamu dan bahkan sedikitpun tidak merasa malu maupun bersalah,” ucap Caca pada Bayi Yusuf yang tengah tertidur pulas.


Caca menangis sambil memegang tangan mungil bayi Yusuf. Caca cukup takut menghadapi kehidupan di masa mendatang. Entah apalagi yang akan ia hadapi dan berapa banyak lagi rintangan yang harus ia lewati.


“Nak Caca, apakah sudah tidur? Ibu membawa secangkir teh hangat untuk Caca,” tutur Ibu Puspita.


Ibu Puspita tak tenang dan sengaja membuatkan teh hangat untuk Sang menantu.


Di dalam kamar, Caca segera menghapus air matanya dan perlahan turun dari tempat tidur untuk menerima secangkir teh buatan Ibu Mertua.


Caca membuka pintu kamarnya seraya tersenyum lebar untuk menutupi matanya yang baru saja menangis.


Ibu Puspita bisa melihat jelas kesedihan dimata menantunya, meskipun Caca berusaha untuk menutupinya.


“Nak Caca, Ibu membuatkan secangkir teh buat Caca. Ibu harap dengan teh ini Caca bisa tidur nyenyak,” ucap Ibu Puspita sambil memberikan secangkir teh itu kepada menantu kesayangannya.


“Terima kasih, Ibu. Ibu seharusnya tidak perlu repot-repot membuatkan Caca teh,” balas Caca sambil menerima teh secangkir tersebut.


“Apa Caca sudah makan malam? Apa perlu Ibu menyiapkan makan malam untuk Caca?” tanya Ibu Puspita yang hendak pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam.


Caca saat itu juga meminta Ibu mertuanya untuk beristirahat.


“Ibu sebaiknya beristirahat saja. Sebelum pulang, Caca sudah makan bersama Mas Adi dan InshaAllah Caca akan kembali ke rumah sakit untuk menemani Mas Adi,” ungkap Caca.


“Baiklah, kalau memang Nak Caca sudah makan malam. Kalau nanti Caca kembali lapar, jangan sungkan untuk membangunkan Ibu,” tutur Ibu Puspita.


“Terima kasih, Ibu. Caca sangat bahagia mendapatkan Ibu mertua yang sangat perhatian sama Caca dan juga menyayangi Caca. Kalau begitu, Caca juga mau istirahat.”


Caca kembali masuk ke dalam kamarnya dan meletakkan secangkir teh tersebut ke atas meja. Kemudian, ia mengganti pakaiannya dengan piyama berwarna hijau.


Bayi Yusuf bangun dari tidurnya karena popok yang ia kenakan sudah penuh. Caca pun bergegas mengganti popok bayinya dan setelah selesai, Caca dengan penuh keibuan menyusui bayi mungilnya.


“Yusuf sayang, Bunda berharap di masa depan kamu menjadi Putra yang baik, Cucu yang baik, Suami yang baik dan Ayah yang baik,” tutur Caca dan tersenyum bahagia melihat wajah Suci buah hatinya bersama Sang suami.


10 Menit Kemudian.


Caca perlahan meletakkan bayinya ke dalam ranjang bayi dan tak lupa menutup kelambu agar tidak ada seekor nyamuk pun yang mencuri dari bayinya.


“Selamat tidur kesayangan Ayah dan Bunda,” ucap Caca lirih.


Setelah itu, Caca duduk di kursi sambil menikmati teh buatan Ibu Mertua.


“Ya Allah, lindungilah keluarga kami!” pinta Caca sambil menatap langit-langit kamar.


Tak terasa secangkir teh pun habis, waktunya bagi Caca pergi ke kamar mandi untuk menyikat gigi serta mengambil air wudhu sebelum tidur.


“Nak Caca, kok belum tidur?” tanya Ibu Puspita yang kebetulan berpapasan dengan Caca.

__ADS_1


“Sebentar lagi Caca tidur, Ibu. Caca ingin ke kamar mandi dulu sebelum tidur,” jawab Caca.


“Ya sudah, habis itu tidur ya sayang. Jangan lupa baca do'a sebelum tidur,” balas Ibu Puspita sambil menyentuh pundak Caca sebelum masuk ke dalam kamar.


__ADS_2