
Beberapa hari kemudian.
Adi mengajak Caca serta kedua mertuanya untuk berbincang-bincang di ruang keluarga membahas keinginannya membawa Caca untuk tinggal mengontrak rumah dengannya. Adi berharap mertuanya mau mengerti dan mengizinkan Caca hidup bersamanya di rumah kontrakan yang sangat sederhana.
“Nak Adi mau membicarakan tentang apa sama Mama dan Papa?” tanya Papa Rio penasaran.
“Saya ingin membawa Caca untuk tinggal bersama,” jawab Adi.
Mama dan Papa nampak terkejut ketika mendengar bahwa Adi ingin membawa putri kesayangan mereka untuk tinggal bersama menantunya itu.
“Kenapa? Apa Mama dan Papa membuat Nak Adi tak nyaman tinggal di sini?” tanya Papa Rio.
“Alhamdulillah Saya nyaman tinggal di sini, akan tetapi saya ingin mengajak Caca tinggal bersama saya sebagai bukti bahwa saya akan bertanggung jawab atas kehidupan Caca. Tolong Mama dan Papa mengerti maksud Adi,” terang Adi.
Papa dan Mama seketika itu menatap Caca dengan penasaran. Mereka ingin tahu jawaban dari putri semata wayang yang sangat mereka sayangi.
“Caca, apakah kamu mau tinggal bersama suamimu? Jawab jujur!” pinta Mama Ismia.
Caca tersenyum dan mengiyakan dengan sangat yakin.
“Caca sudah bersuami dan sudah sepatutnya Caca mengikuti keinginan suami Caca,” pungkas Caca.
Mama Ismia langsung menangis di pelukan suaminya setelah mendengar jawaban dari putrinya itu.
“Papa, anak kita sudah besar,” ucap Mama Ismia yang terus menangis di pelukan Sang suami.
Papa menepuk pelan punggung istrinya agar berhenti menangis.
“Mama jangan menangis, Caca tidak mau melihat Mama menangis seperti ini.” Caca pun ikut bersedih melihat Mamanya menangis.
“Mama menangis karena terharu, Caca sayang. Kalau itu keputusan kamu, Mama akan menghargainya,” pungkas Mama Ismia sembari menghapus air matanya.
Papa Rio pun menyetujui keinginan pengantin baru itu dan menanyakan kapan rencana mereka berdua untuk pindah dari rumah mewah itu.
Karena Adi dan Caca sudah membahas sebelumnya, mereka pun menjawab bahwa sore nanti mereka akan pergi untuk melihat rumah kontrakan yang nantinya akan mereka tempati.
“Papa dan Mama boleh ikut melihat kontrakan kalian?” tanya Mama Ismia.
Caca menoleh semuanya agar Sang suami segera menjawab pertanyaan dari Sang Mama.
“Boleh, Ma. Adi senang kalau Papa dan Mama bisa ikut melihat,” jawab Adi.
****
Sore hari.
Merekapun pergi ke lokasi tempat di mana Caca dan Adi akan tinggal bersama sebagai suami istri tanpa adanya orang tua di dekat mereka. Papa dan Mama terlihat sangat antusias untuk segera sampai di tempat tujuan.
“Sudah siap?” tanya Papa Rio yang saat itu bertugas sebagai pengemudi.
“Siap!” seru Mama Ismia dan juga Caca, sementara Adi hanya tersenyum mengangguk.
Orang tua dari Adi juga pergi menuju lokasi tempat di mana Adi dan Caca tinggal untuk ke depannya.
Caca bersandar di pelukan suaminya dan itu membuat Adi cukup risih, karena adegan secara langsung di lihat oleh mertuanya.
“Caca, jangan begini tidak enak dengan Papa dan Mama,” bisik Adi tak nyaman.
Dengan sangat terpaksa, Caca menjaga jarak dari suaminya yang sebenarnya Caca sangat ingin menempel dan menempel selamanya bersama Sang suami.
__ADS_1
“Nak Adi, rencana kapan kalian mau tinggal di kontrakan?” tanya Mama Ismia.
“Insya Allah hari Jum'at, Ma. Sekalian mau syukuran kecil-kecilan, supaya bisa menjalin silaturahmi bersama para tetangga,” jawab Adi.
“Jum'at besok?” tanya Mama dan Papa kompak.
“Insha Allah,” jawab Adi sambil menganggukkan kepalanya.
Mama dan Papa nampak agak lemas, mereka terkejut mendengar jawab Sang Menantu. Meskipun begitu, mereka berdua tidak bisa mencegah keinginan Adi maupun Caca yang terkesan buru-buru.
Setelah hampir 1 jam. perjalanan, mereka tiba di sebuah desa yang penduduknya lumayan ramai.
Mobil pun berhenti di depan sebuah rumah kecil berukuran 7x10 yang cukup membuat orang tua dari Caca terkejut.
“Nak Adi, kalian yakin mau tinggal di rumah kecil seperti ini?” tanya Papa Rio.
“Coba kalian pikirkan kembali untuk tinggal di sini,” ujar Mama Ismia.
Adi hanya mampu membayar sewa rumah kontrakan itu, karena uang yang ia miliki hanya segitu.
“Mama, Papa. Caca tidak masalah tinggal di sini,” pungkas Caca sambil menggenggam erat jemari tangan suaminya.
Di saat yang bersamaan, Ayah Zainal dan Ibu Puspita datang dengan mengendarai motor.
“Assalamu'alaikum,” ucap Ayah dan Ibu.
“Wa’alaikumsalam!” seru mereka.
Adi dan Caca masuk terlebih dahulu, kemudian di susul oleh yang lainnya. Ketika Mama Ismia masuk ke dalam, ia buru-buru ke luar dari rumah itu karena debu yang begitu banyak.
“Mama kenapa?” tanya Caca menyusul Mamanya yang berada di depan rumah.
“Mama jangan begini dong sama Caca. Mana masker Mama? Sekarang Mama pakai Masker,” ujar Caca.
Mama pun berlari kecil menuju mobil untuk mengambil masker miliknya.
Caca akhirnya berhasil membuat Mama Ismia masuk ke dalam rumah kontrakan itu.
“Kalian sungguh akan tinggal di sini?” tanya Papa Rio memastikan kembali.
Adi dan Caca kompak mengiyakan pertanyaan dari Papa Rio.
“Menurut Pak Zainal dan Bu Puspita bagaimana?” tanya Papa Rio menanyakan pendapat dari besannya itu.
“Soal ini kami serahkan kepada mereka berdua. Karena pada dasarnya mereka lah yang menjalaninya,” jawab Ayah Zainal.
Mama Ismia tak banyak bicara dan memilih untuk mendengarkan saja apa yang sedang mereka perbincangkan.
Tiba-tiba seorang pria datang menghampiri mereka dengan membawa kunci rumah.
“Assalamu'alaikum,” ucap Pria bernama Pak Fattah.
“Wa’alaikumsalam!” Mereka kompak menatap Pak Fattah.
Adi tersenyum sembari menghampiri pemilik kontrakan dan mempersilakan Pak Fattah untuk masuk.
“Perkenalkan, ini Pak Fattah. Ketua Rt di sini termasuk pemilik kontrakan ini,” terang Adi memperkenalkan Pak Fattah.
Merekapun saling berjabat tangan dan saling memperkenalkan diri.
__ADS_1
“Bagaimana, Mas Adi? Apakah sudah ada keputusan untuk tinggal di sini?” tanya Pak Fattah sekali lagi.
“Inshaa Allah, besok pagi kami akan membersihkan rumah ini, Pak Fattah,” jawab Adi.
“Alhamdulillah, sekalian saya datang kemari untuk memberikan kunci rumah ini,” tutur Pak Fattah sembari memberikan kunci rumah itu kepada Adi.
Pak Fattah kemudian izin pamit karena ada urusan yang harus ia selesaikan.
Mama dan Papa berharap kedepannya, Adi maupun Caca tidak menyesali keputusan mereka untuk tinggal di rumah kontrakan yang begitu kecil itu.
“Mas, ayo kita lihat kamar!” ajak Caca untuk melihat ruangan kecil yang akan menjadi kamar mereka.
Keduanya masuk dan saling menatap satu sama lain.
“Bagaimana, Caca suka tidak dengan kamar yang ini?” tanya Adi penasaran ingin mengetahui respon dari istrinya.
Caca tidak langsung menjawab, gadis itu menoleh sekilas ke arah pintu memastikan bahwa tidak ada yang mendengarkan ucapan mereka berdua.
“Caca tidak suka, Mas. Maksudnya, Caca ingin kamar ini di cat ulang dengan warna yang Caca suka,” terang Caca.
“Caca tenang saja, dari luar sampai dalam Mas akan mengganti warna cat rumah ini dengan warna kesukaan Caca. Lalu, akan ada tambahan lainnya agar suasana di dalam rumah terlihat hidup yang nantinya akan membuat Caca nyaman tinggal di sini,” pungkas Adi.
Caca tersenyum dan meminta suaminya untuk memeluk dirinya.
“Mas, peluk Caca sekarang juga!” pinta Caca.
“Sekarang?” tanya Adi terheran-heran karena Caca selalu ingin di peluknya.
“Tidak mungkin juga tahun depan,” celetuk Caca kesal.
Adi menghela napasnya dan memeluk Caca yang terlihat ngambek.
“Jangan sering-sering ngambek begini, Mas tidak suka kalau Caca tiba-tiba ngambek tanpa sebab,” ujar Adi yang kini telah memeluk istrinya.
Mama dan Papa yang tak sengaja melihat mereka berpelukan, seketika itu memalingkan tubuh mereka dan bergegas menjauh dari kamar pengantin baru itu.
“Mereka terlihat serasi ya, Papa,” ujar Mama Ismia.
“Semoga saja begitu, entah apa yang terjadi kalau kita tidak menikahkan mereka berdua atas kejadian waktu itu,” balas Papa Rio.
Beberapa jam kemudian.
Karena hari sudah malam dan mereka telah melaksanakan sholat di masjid yang tak jauh dari rumah kontrakan, mereka pun memutuskan untuk segera kembali.
Tentu saja besok pagi mereka akan datang kembali untuk membersihkan rumah kontrakan yang banyak sekali debunya itu.
“Kami pulang lebih dulu,” ucap Ayah Zainal dan Ibu Puspita yang memutuskan untuk pulang duluan.
“Kami juga akan pulang,” balas Papa Rio.
Orang tua dari Adi akhirnya pulang lebih dulu dengan mengendarai motor.
“Karena Pak Zainal dan Ibu Puspita sudah pulang, kita juga harus pulang,” ajak Papa Rio.
Adi tak lupa mengunci pintu rumah tersebut sebelum meninggalkannya.
“Adi, sepertinya kalian harus mengganti kunci itu dengan kunci yang baru. Supaya aman kalau kalian meninggalkan rumah itu,” ujar Papa Rio mengingatkan Menantunya.
“Rencananya juga begitu, Pa. Inshaa Allah besok Adi akan menggantinya dengan yang baru,” balas Adi.
__ADS_1
Papa Rio mengangguk setuju dan mulai menyalakan mesin mobilnya agar segera pulang ke rumah.