Istri Centil Mas Adi

Istri Centil Mas Adi
Kesedihan Lia Dan Rina


__ADS_3

Siang Hari.


Semua keluarga telah Caca beritahukan termasuk orang tuanya yang sudah berada di Bali. Tanggapan para orang tuanya sangat memuaskan, yaitu sama sekali tidak membuat Caca merasa bersalah. Justru, mereka kompak menyemangati Caca atas keputusannya itu.


Sore itu, Caca baru saja mandi dan bergegas mengenakan pakaiannya. Kemudian, Caca mulai menyusui bayi Yusuf yang agak sedikit rewel.


Caca percaya, Yusuf saat itu sedang protes karena dirinya justru tidur di rumah sakit dan bukan menemaninya tidur di rumah.


“Yusuf ngambek ya sama Bunda? Maaf ya sayang, lain kali Bunda tidak akan meninggalkan Yusuf lagi,” ucap Caca.


Saat hendak menyentuh pipi chubby bayi Yusuf, tiba-tiba saja Yusuf dengan tangan kecilnya menggenggam jari telunjuk Caca.


Mulut Caca terbuka lebar, tercengang melihat Yusuf menggenggam erat jari telunjuknya.


“Hiks... hiks...” Caca menangis terharu seakan-akan Yusuf mengatakan bahwa Bundanya harus kuat dalam menghadapi ujian yang sedang Allah.


Pada saat Ibu Puspita sedang melewati kamar Adi dan Caca. Ibu Puspita tak sengaja melihat Caca yang tengah menangis, tentu saja Ibu kandung Adi dapat melihat Caca menangis. Dikarenakan saat itu, pintu dalam posisi tidak tertutup rapat.


Pelan-pelan Ibu Puspita menutup pintu kamar tersebut dan melanjutkan langkahnya menuju warung.


“Bu, badan Ayah tiba-tiba tidak enak. Ayah istirahat di kamar ya Bu,” tutur Ayah Faizal pada istrinya yang baru saja masuk ke dalam warung.


Ibu Puspita mengernyitkan keningnya ketika melihat wajahnya suaminya yang memucat.


“Apa sebaiknya kita ke rumah sakit saja? Wajah Ayah terlihat sangat pucat,” balas Ibu Puspita yang khawatir dengan kondisi suaminya.


“Ibu tidak perlu khawatir, dipakai istirahat pasti langsung sembuh,” tutur Ayah Faizal dan melenggang pergi masuk ke dalam rumah untuk segera beristirahat.


Beberapa saat kemudian.


Caca memutuskan untuk segera menghubungi dua sahabatnya, yaitu Lia dan juga Rina. Caca ingin memberitahu perihal dirinya yang tidak bisa lanjut kuliah.


Caca yakin jika kedua sahabatnya bisa mengerti dan memahami dirinya. Meskipun, nantinya keputusannya itu membuat kedua sahabatnya sedih.


Setelah mengirim pesan lewat grup pesan, Caca memilih untuk menonaktifkan ponselnya. Karena jika ponselnya hidup, Lia dan Rina akan terus menghubungi dirinya.


“Sayang, kamu tidak akan kecewa dengan keputusan Bunda, 'kan?” tanya Caca dan memindahkan bayinya ke ranjang bayi.


Kemudian, Caca bergegas menuju warung untuk ikut menunggu warung.


“Ibu, Ayah kemana?” tanya Caca yang tak melihat Ayah Faizal di dalam warung.


“Ayah sedang beristirahat di kamar, tadi Ayah mengeluh tidak enak badan,” jawab Ibu Puspita.


“Kenapa beristirahat di kamar, Ibu? Lebih baik Ayah segera diperiksa ke rumah sakit,” tutur Caca yang khawatir dengan kondisi Ayah mertuanya.


“Tadi Ibu sudah menyarankan Ayah kamu untuk pergi ke rumah sakit, tapi tidak mau. Lalu, apa yang harus Ibu lakukan?” tanya Ibu Puspita.


“Karena pilihan Ayah begitu, mau bagaimana lagi? Semoga Ayah segera sembuh,” balas Caca.


“Aamiin Allahumma Aamiin,” sahut Ibu Puspita berharap suaminya segera sembuh.


Caca menoleh ke arah lemari pendingin dan membuka pintu lemari pendingin alias kulkas itu.


“Ibu mau apa? Mau kelengkeng, anggur, jeruk, apel atau buah-buahan yang lain?” tanya Caca.


“Terserah Caca saja,” jawab Ibu Puspita.


Caca menghela napasnya yang bingung ketika harus memutuskan buah mana yang akan ia nikmati bersama Ibu mertua.


“Ya sudah, Caca keluarkan semuanya saja,” tutur Caca.

__ADS_1


“Jangan, Nak Caca. Kalau begitu, Ibu ingin jeruk saja,” terang Ibu Puspita.


Caca tertawa kecil dan mengeluarkan buah jeruk, kelengkeng serta anggur untuk mereka nikmati sambil menunggu pelanggan datang.


Waktu terus berjalan dan tak terasa sudah memasuki sholat ashar. Ibu Puspita dan Caca kompak menutup warung untuk sholat ashar.


Ibu Puspita sholat di kamarnya sendiri dan Caca pun sholat di kamarnya sendiri. Sementara Ayah Faizal tentu saja sholat di Masjid.


Usai sholat ashar, Caca bergegas pergi ke dapur untuk mengambil segelas air minum.


Saat Caca baru selesai meneguk segelas air, terdengar suara klakson mobil.


“Nak Caca, siapa di depan?” tanya Ibu Puspita yang juga baru selesai sholat.


“Caca juga tidak tahu, Ibu. Mama dan Papa saat ini ada di Bali, kalau begitu siapa ya?” tanya Caca sambil berjalan menuju ruang depan.


Mata Caca terbelalak lebar mengetahui bahwa yang datang adalah Lia dan Rina.


“Assalamu'alaikum,” ucap keduanya.


“Wa'alaikumsalam, kenapa kalian datang ke sini?” tanya Caca yang sebenarnya sudah tahu alasan mengapa kedua sahabatnya datang menemuinya.


“Caca, apakah kamu sudah gila? Bagaimana bisa kamu mengatakan hal yang akan membuat kami sedih?” tanya Lia.


“Caca, aku tahu kamu sedang bercanda. Tapi, tidak dengan masalah kuliah juga,” sahut Rina.


Caca terdiam sejenak dan menghela napasnya yang terasa berat.


“Apa ada masalah sama kamu, Ca? Bukankah kamu sangat ingin kuliah bersama dengan kami?” tanya Lia sambil menahan air matanya.


“Akhir-akhir ini aku menghadapi berbagai macam cobaan. Bahkan, aku bingung untuk menjelaskan apa yang telah terjadi kepada keluarga ku,” tutur Caca.


Ibu Puspita datang dengan membawa teh hangat. Kemudian, memilih pergi memberi tiga wanita muda itu ruang untuk berbincang-bincang.


Lia dan Rina sangat terkejut. Mereka tidak tahu bahwa Adi mengalami kecelakaan.


“Mas Adi sempat kritis dan untungnya Allah masih memberikan kami kesempatan untuk terus bersama,” terang Caca.


“Ya Allah, aku sungguh tidak tahu kalau Pak Adi mengalami kecelakaan. Aku minta maaf ya Ca,” ucap Lia.


“Aku juga bahkan tidak tahu, Caca. Kenapa kamu tidak cerita ke kami?” tanya Rina.


Lia dan Rina menangis tersedu-sedu mengetahui apa yang telah menimpa Caca maupun Adi.


“Jadi, kamu sungguh memutuskan untuk berhenti kuliah?” tanya Lia yang sangat sedih mengetahui Caca tidak meneruskan pendidikannya.


“Maaf, tapi aku tidak bisa. Aku ingin menjadi istri yang baik sekaligus Ibu yang baik Aku sedang membahasnya kepada keluargaku dan mereka semua justru mendukung pilihanku,” terang Caca.


Lia menunduk sedih dan air matanya kembali menetes. Bagaimana dirinya tidak sedih, Caca sudah seperti keluarga untuknya.


Rina pun menangis dan seketika itu memeluk Caca.


“Kamu sungguh berhenti kuliah, Ca? Aku dan Lia pasti akan sangat kesepian di kampus,” tutur Rina.


“Tolong, jangan menangis. Maaf, karena aku tidak bisa menepati janji ku pada kalian untuk lulus bareng. Aku harap, kalian bisa menerima keputusanku ini dan tidak membenciku karena melanggar janji yang telah kita sepakati,” ujar Caca.


Tangisan Lia dan Rina semakin menjadi-jadi, mereka sangat sedih dan mau tak mau harus mengikhlaskan keputusan Caca untuk berhenti kuliah.


“Ayolah, jangan menangis lagi. Kalian bukan anak SMA yang dikit-dikit nangis. Simpan air mata kalian, masih banyak hal yang belum kalian lewati. Selama aku masih hidup, bukankah kita masih bisa bertemu? Kalau kalian ada waktu, jangan sungkan main ke sini. Yusuf pasti akan senang melihat kedua tantenya datang main ke sini,” pungkas Caca.


“Oek... Oek... Oek....” Suara tangisan Bayi Yusuf.

__ADS_1


Caca segera berlari menghampiri Bayi Yusuf yang menangis dengan cukup keras.


“Iya sayang,” ucap Caca sambil menggendong bayinya.


Caca menimang-nimang bayinya dan perlahan tangisan Yusuf mereda.


Wanita muda itu, tersenyum lega dan membawa Bayi Yusuf ke ruang tamu.


“Hallo ganteng!” sapa Lia.


“Kesayangannya Tante Rina tadi kok nangis?” tanya Rina.


Ibu Puspita kembali datang ke ruang tamu dengan membawa sebotol susu untuk cucunya.


“Nak Caca, ini Asi yang baru saja Ibu cairkan,” tutur Ibu Puspita.


“Terima kasih, Ibu. Maaf Caca lagi-lagi merepotkan Ibu,” balas Caca.


“Tidak merepotkan sama sekali, ya sudah Ibu tinggal menunggu warung ya,” ucap Ibu Puspita dan melenggang pergi menuju warung.


Lia dan Rina menatap sayu sahabat mereka yang tengah menyusui bayi Yusuf dengan menggunakan dot.


“Caca, kami memang sangat sedih dengar keputusan kami. Akan tetapi, melihatmu yang berjuang seperti ini membuat kami bangga dengan diri kamu Caca,” ucap Rina.


“Caca yang dulu dan Caca yang sekarang sangat berbeda. Kamu hebat Caca dan kami belum tentu bisa seperti kamu,” sahut Lia.


Caca tak bisa berkata-kata lagi, ia senang karena akhirnya kedua sahabatnya bisa mengerti dan memahami dirinya.


“Semangat ya Caca,” ucap Lia dan Rina dengan kompak.


“Harus dong!” seru Caca.


Caca tersenyum lega dan memutuskan untuk tidak menceritakan perkara Intan yang sudah mendekam di penjara.


“Caca, kamu sedang memikirkan apa? Apa ada yang ingin kamu sampaikan kepada kami?” tanya Lia penasaran.


“Hm..... Aku rasa tidak ada,” jawab Caca.


Beberapa jam Kemudian.


Lia dan Rina kembali menangis ketika hendak pulang ke rumah mereka masing-masing. Berulang kali mereka menyemangati Caca dan berharap Caca bisa melewati masa-masa sulitnya.


“Cepat pulanglah, kalian dari tadi banyak bicara dan membuatku semakin pusing,” ucap Caca.


“Maaf ya, habisnya mau bagaimana lagi? Pasti di kampus terutama di kelas akan sangat sepi karena tidak ada kamu, Caca.”


“Sudah dong, jangan dibahas lagi. Aku tidak ingin mengingat yang namanya kesedihan.”


“Baiklah, kami pula. Assalamu'alaikum!”


“Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,” balas Caca.


Lia dan Rina pun masuk ke dalam mobil. Dengan perlahan Rina mengendarai mobilnya meninggalkan area halaman rumah kontrakan tersebut.


Setelah Lia dan Rina sudah tak terlihat lagi, saat itu juga Caca menangis tersedu-sedu. Ia pasti akan sangat merindukan Lia maupun Rina.


Melihat menantunya menangis diteras depan rumah, membuat Ibu Puspita ikut merasakan kesedihan. Saat itu juga Ibu Puspita menghampiri Caca dan mengajak Caca untuk masuk ke dalam warung.


“Sudah jangan nangis. Tidak baik kalau menangis terus-menerus,” ucap Ibu Puspita menghibur menantunya.


“Maaf ya Ibu, karena Caca menangis Ibu jadinya melihat Caca yang seperti ini. Caca cengeng ya Bu?” tanya Caca penasaran.

__ADS_1


“Lumayan cengeng dan berisik,” jawab Ibu Puspita.


Caca tertawa geli dengan ucapan Ibu mertua yang cukup menggemaskan itu.


__ADS_2