
Keesokan Paginya.
Adi bernapas lega karena telah menyelesaikan administrasi pendaftaran kuliah Caca. Tak lupa Caca mengucapkan terima kasih kepada Sang suami tercinta dan berjanji akan belajar giat agar mendapatkan hasil yang memuaskan.
“Caca, ayo kita pergi liburan bersama keluarga kita!” ajak Adi yang menghabiskan waktu akhir pekan bersama keluarga besar.
“Uangnya lebih baik di hemat saja, Mas. Tidak perlu sampai liburan keluarga,” sahut Caca yang lebih memilih menghemat uang daripada menghabiskannya untuk liburan.
“Caca sayang, kamu masuk kuliah masih ada 3 bulan lagi. Masih ada waktu untuk kita menabung uang. Momen keluarga itu penting untuk semakin mempererat tali silaturahmi. Lagipula liburan tidak setiap hari,” terang Adi menjelaskan dengan baik-baik seraya mengelus punggung Caca.
Caca akhirnya mengerti apa yang Adi katakan dan pada akhirnya setuju dengan ajakan suami untuk berlibur bersama keluarga.
“Jadi, kita mau liburan kemana, Mas?” tanya Caca.
Adi tak langsung menjawab, pria 28 tahun itu malah meminta Caca untuk duduk ke pangkuannya.
Caca tersenyum centil dan duduk di pangkuan Adi dengan penuh semangat.
“Soal kemana kita liburan, Mas belum bisa menentukan. Kita tanyakan terlebih dahulu orang tua kita mau liburan kemana, suara terbanyak itulah pemenangnya,” jelas Adi.
Caca mengangguk mengerti dan sibuk menyentuh bibir suaminya.
“Bibir Mas sangat sering, mau Caca buat lembab?” tanya Caca dengan mengedipkan sebelah matanya.
Belum juga mengiyakan, Caca sudah dengan cepat menyambar bibir Adi. Adi cukup terkejut karena Caca melakukannya agak kasar dan Adi menyukainya.
Baru saja ingin bermesraan, sudah ada saja yang mengganggu. Caca pun memdengus kesal dan bergegas keluar rumah.
“Neng, ada tempe?” tanya pembeli wanita.
“Maaf, Bu. Kebetulan kami tidak belanja tempe, kalau tahu ada,” jawab Caca.
“Ya sudah deh, beli 5 Ribu ya!” pintanya.
“Baik, Bu. Tunggu sebentar ya!” seru Caca dan bergegas mengambil tahu di dalam kulkas.
Pagi itu, Adi dan Caca belum sempat membuka warung. Meskipun begitu, tidak menyurutkan niat pembeli untuk berbelanja pada sepasang suami-istri itu.
“Terima kasih, Bu. Besok belanja lagi ya,” tutur Caca yang sangat ramah.
Caca pun masuk ke dalam rumah dan meminta Sang suami untuk membantunya membuka warung. Adi mengiyakan dengan semangat dan bergegas membuka warung mereka.
“Besok kita belanja ya Mas. Jualan kita sudah banyak di kenal orang-orang sekitar, tidak baik juga kalau sering tutup,” ujar Caca.
“Iya Caca sayang, besok kita belanja yang banyak. Oya, Mas sebenarnya ada keinginan untuk menanam cabe, tomat dan juga terong di belakang rumah,” ucap Adi karena di belakang rumah ada lahan kosong yang cukup jika ditanami bahan-bahan dapur.
“Iya ya Mas, kenapa tidak kita tanam saja bahan-bahan dapur di belakang rumah. Tanah di belakang sepertinya subur, bagaimana kalau nanti sore kita bersih-bersih?”
“Caca sebelumnya sudah pernah mencabut rumput?” tanya Adi.
Seketika itu Caca menggelengkan kepalanya. Ia tidak pernah mencabut rumput terlebih lagi menyentuh cacing.
“Kalau begitu, biar Mas saja yang membersihkan tanah di belakang. Caca lebih baik diam di sini sambil menunggu pelanggan datang,” pungkas Adi.
Mata Caca memerah bersiap untuk menangis. Caca kecewa dengan dirinya sendiri yang tidak pernah melakukan apa-apa. Bukan salahnya terlahir menjadi orang kaya, tapi karena dia tidak pernah melakukan hal seperti itu.
“Caca jangan nangis, kalau menangis kita tidak jadi menanam bahan dapur,” tutur Adi.
__ADS_1
“Siapa juga nangis? Memangnya Caca hanya bisa menangis saja?” tanya Caca.
Caca tiba-tiba saja ingin minum teh buatan Sang suami tercinta.
“Mas, tolong buatkan Caca teh ya. Tapi gulanya sedikit saja.”
“Tumben, biasanya kamu suka yang manis-manis,” balas Adi.
“Ya Caca sekarang maunya yang tidak manis, Mas. Habis itu buatkan Caca sambal ijo ya!” pinta Caca lagi.
Agar suaminya mau menuruti keinginannya, Caca dengan centilnya menyentuh perut sixpack Sang suami sembari berbisik.
Adi tersenyum sumringah dan buru-buru pergi ke dapur.
Beberapa menit kemudian.
Adi berlari kecil menghampiri Sang istri yang sedang bersantai di ruang tamu sambil membaca majalah.
“Mas Adi!” teriak Caca karena Adi tiba-tiba saja mengangkat tubuhnya tinggi-tinggi.
“Mau lagi?” tanya Adi yang bersiap untuk mengangkat istrinya tinggi-tinggi.
“Mas, Caca mau buru-buru minum teh dan makan sambal ijo,” jawab Caca meminta suaminya untuk segera menurunkan dirinya.
Adi tidak mau menurunkan istrinya dan justru membawa Sang istri ke dapur. Caca memeluk tengkuk suaminya dengan erat seraya tersenyum bahagia.
“Tada... Teh gula sedikit dan sambal ijo sudah jadi. Silakan menikmati!” seru Adi.
“Mas memang yang terbaik,” ucap Caca memuji Sang suami tercinta.
Caca kemudian meminta Adi untuk menyuapi dirinya karena ia sedang tidak ingin makan sendiri. Adi mengiyakan karena sudah menjadi kebiasaannya menyuapi Sang istri.
“Caca juga mau ikan asin?” tanya Adi karena biasanya Caca tidak mau jika memakan asin tersebut.
“Ya mau dong, Mas Adi juga sering makan ikan asin. So, Caca juga mau!” seru Caca.
Adi tertawa lega dan menyuapi ikan asin tersebut ke dalam mulut Caca.
“Bagaimana rasanya?” tanya Adi ingin mengetahui respon Caca.
“Mas, ternyata ikan asin ini enak ya kalau dipadukan dengan sambal ijo. Kalau tahu rasanya begini, Caca mau deh makan ikan asin setiap hari,” pungkas Caca.
“Haaa???” Adi sangat terkejut mendengar ucapan Caca yang begitu antusias untuk makan ikan asin setiap hari.
“Caca yakin mau makan ikan asin setiap hari?” tanya Adi dengan tatapan terheran-heran.
“Iya dong!” seru Caca dan meminta Sang suami kembali menyuapi dirinya.
****
Sore hari.
Adi telah pulang dari sekolah dan saat itu juga Caca meminta Adi untuk membuatkan teh dengan sedikit gula. Adi tidak mengeluh sama sekali, justru ia senang karena Caca ketagihan dengan teh buatannya.
“Bagaimana jualan hari ini?” tanya Adi yang sedang merebus air panas dengan masih mengenakan seragam.
“Alhamdulillah, Mas. Sepertinya besok kita belanja lebih banyak lagi ya. Tadi juga Ibu-ibu di dekat masjid pesan beras 2 karung dan tadi sudah DP 100 ribu,” terang Caca sambil menyerahkan uang tersebut kepada Adi.
__ADS_1
“Alhamdulillah ya, Ca. Jualan kita laris manis, semoga berkah dan selalu mendapatkan kepercayaan dari para pembeli,” pungkas Adi yang sangat bersyukur dengan rezeki yang Allah limpahkan kepada keluarganya.
“Aamiin,” balas Caca dan memeluk punggung suaminya.
Adi meminta Caca untuk sedikit menjauh, karena takut nanti air panas yang baru saja mendidih mengenai tangan istri kecilnya.
“Mas, Caca tiba-tiba saja mau pergi makan KFC. Ayo Mas kita pergi!” ajak Caca.
“Sekarang?” tanya Adi memastikan.
“Iya, Mas. Boleh ya?”
“Caca, berangkatnya nanti saja bagaimana? Sehabis maghrib?” tanya Adi.
“Iya deh, kalau begitu Caca duduk di sini sambil menghabiskan teh ini,” ujar Caca dan duduk manis di kursi meja makan.
“Ada lagi yang Caca inginkan? Kalau tidak ada, Mas mau mandi,” tutur Adi.
“Mas mandi saja dulu, Caca tidak ingin apa-apa selain KFC. Oya, nanti kita beli 5 ya Mas!” pinta Caca.
“Sebanyak itu mau Caca makan sendiri?”
“Tidak, Mas Adi. Punya Caca 3 dan punya Mas 2, bagaimana?”
“Ok! Mas mandi dulu ya!”
Adi masuk ke dalam kamar untuk segera menanggalkan pakaiannya dan mengambil handuk untuk menutup bagian bawahnya.
“Mas!” panggil Caca dan memberikan cium jauh kepada Adi yang ingin masuk ke dalam kamar mandi.
Adi tersenyum lebar sambil menggerakkan tangannya seakan-akan tengah menangkap cium jauh Caca. Kemudian, menempelkan ke pipi kanannya.
Caca tertawa dan berlari menghampiri suaminya. Kemudian, tanpa aba-aba Caca melompat ke tubuh suaminya dan membuat handuk yang suaminya kenakan terlelap.
“Upss...” Caca pun menutup mulut rapat-rapat ketika tahu bahwa handuk yang suaminya kenakan sudah terlepas dari pinggang Sang suami.
“Caca, kok tidak bisa diam begini?” tanya Adi dengan posisi Caca yang masih menempel di tubuhnya layaknya cicak.
Caca pun buru-buru turun ketika merasa milik suaminya yang mulai mengeras.
“Lihatlah, gara-gara Caca punya Mas jadi bangun. Caca harus tanggung jawab!” pinta Adi sambil menepuk bokong Sang istri.
“Nanti ya Mas, Caca masih sibuk mau menghabiskan teh dan juga menutup warung,” balas Caca dan berlari kecil meninggalkan Sang suami.
Adi menggigit bibirnya sendiri dengan terus menatap bokong istrinya.
“Tahan.. tahan,” gumam Adi dan memungut handuk miliknya. Kemudian, bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
Caca yang ada di meja makan, hanya bisa tertawa kecil melihat bagaimana wajah suaminya yang begitu ingin memakannya.
“Haduh, tiba-tiba aku mau main hujan-hujanan,” gumam Caca dan berlari kecil menuju teras depan rumah untuk melihat cuaca sore itu.
Caca menghela napasnya ketika mengetahui bahwa malam itu tidak akan turun hujan.
Adi yang sedang mandi, mencoba berbicara dengan kesayangannya dan meminta kesayangannya itu untuk bersabar.
“Sabar, nanti juga masuk ke sarang,” ucap Adi dan mengguyur kepalanya dengan air.
__ADS_1
Memiliki istri yang usianya jauh lebih muda darinya, membuat seorang Adi merasakan kebahagiaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Ada kalanya Caca bertingkah seperti seorang istri, ada kalanya Caca bertingkah seperti seorang murid dan ada kalanya Caca bertingkah seperti anak kecil.
Apapun itu, Adi merasa sangat beruntung. Karena kehadiran Caca membuat hidupnya terasa lebih berwarna dan juga penuh tawa kebahagiaan yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan.