Istri Centil Mas Adi

Istri Centil Mas Adi
Tabungan Adi Menipis


__ADS_3

Pagi hari.


Caca tak bisa bangkit dari tidurnya dan untungnya Sang suami memberikan semua perhatiannya kepada Caca yang sedang datang bulan.


“Caca, kamu yakin di rumah sendirian? Apa perlu Mas menghubungi Mama supaya datang kemari?” tanya Adi yang khawatir jika meninggalkan Caca di rumah sendirian, ditambah kondisi Caca yang sedang sakit karena datang bulan.


“Mas, Caca sudah menikah dan masalah seperti ini Mama tidak perlu ikut campur. Caca hanya butuh istirahat, nanti siang pasti sudah baikan,” balas Caca dengan tenang.


Adi melihat banyak perubahan dari sikap istrinya yang lebih dewasa dari sebelumnya. Adi juga bersyukur karena selama ini Caca tidak banyak menuntun dan minta ini itu pada dirinya.


“Kamu yakin?” tanya Adi memastikan.


“Mas jangan khawatir dong, Caca sudah besar. Sekarang Mas berangkat ke sekolah, ingat jangan dekat-dekat dengan Mak Lampir,” balas Caca mengingatkan suaminya untuk menjaga jarak dari Intan.


“Kamu tenang saja, Mas akan selalu menjaga jarak dari dia. Lagipula, Mas bukan pria yang suka mendekati wanita lain,” ujar Adi.


“Iya, Caca percaya!” seru Caca seraya tersenyum.


Adi akhirnya pamit pergi untuk mengajar, meninggalkan Caca seorang diri di rumah. Meskipun begitu, Adi sudah menyiapkan semua keperluan istrinya.


Mulai dari sarapan, pakaian yang akan istrinya gunakan dan juga cemilan di meja ruang tamu untuk istri kecilnya.


***


Di sekolah.


Adi baru saja turun dari motornya dan akan masuk ke Ruang Guru. Tiba-tiba saja Intan datang dengan menepuk punggung Adi, seakan-akan mereka adalah rekan kerja yang sangat dekat.


“Pak Adi!”


Adi terkejut dan melangkah menjauh dari Intan yang tiba-tiba saja datang dengan menepuk punggungnya.


“Saya permisi,” ucap Adi dingin.


“Pak Adi jangan cuek dong sama saya,” tutur Intan berlari kecil mengimbangi langkah besar Adi.


Adi seketika itu berhenti dengan memberikan tatapan tajam pada Intan.

__ADS_1


“Bu Intan ini punya rasa malu tidak? Apakah Saya terlihat senang ketika Ibu mendekati saya? Tolong ya Bu, saya sudah menikah dan saya tidak ada waktu jika harus meladeni Ibu,” tegas Adi dan melanjutkan langkahnya menuju Ruang Guru.


Intan mencoba terlihat tenang setelah mendengar ucapan Adi yang menyakitkan. Intan tidak ingin ia terlihat lemah hanya karena Adi telah menikah.


“Kamu pikir aku akan menyerah atas pernikahan kalian? Lagipula, Caca masih terlalu kecil untuk menjadi seorang istri. Bisa saja kalian bercerai dan akan secepat mungkin masuk ke dalam hati kamu, Pak Adi,” gumam Intan.


Adi duduk di kursinya dan mencoba mengontrol emosinya yang berapi-api atas sikap Intan yang sangat mengganggu. Adi sebelumnya sempat berpikir kalau Intan adalah wanita yang baik dan juga mengerti dengan yang namanya rekan kerja sesama Guru, akan tetapi setelah dilihat-lihat kelakuan Intan sungguh menjengkelkan.


Pria 28 tahun menghela napasnya dengan berat ketiga melihat tabungannya lewat ponsel tersisa sedikit. Tabungan itu tentu saja hanya cukup untuk dua bulan ke depan. Tidak termasuk uang biaya pendaftaran kuliah Sang istri.


“Ya Allah, uang di rekening hanya segini. Bagaimana bisa aku mendapatkan uang lebih, sementara gajiku hanya segini-gini saja, ” gumam Adi.


Bel masuk berbunyi, waktunya bagi Para Guru untuk mengajar.


Sore hari.


Kondisi Caca sudah mulai membaik, ia bahkan sudah bisa wara-wiri seperti biasanya. Meskipun, nyeri di perutnya kadang kambuh secara tiba-tiba.


“Mas Adi jam segini kok belum pulang ya?” tanya Caca ketika menyadari sudah jam 4 sore.


Caca mengambil ponselnya di atas meja ruang tamu untuk menghubungi suaminya.


“Assalamu'alaikum! Mas pulang, Ca,” ucap Adi.


Caca membuka pintu pintu dengan memberikan senyuman terbaiknya. Tak lupa, Caca mencium punggung tangan suaminya dengan penuh cinta.


“Wa'alaikumsalam, kenapa Mas baru pulang?” tanya Caca sembari memeluk suaminya dengan manja.


Adi buru-buru menutup pintu agar kemesraan nya tidak menjadi konsumsi tetangga.


“Caca dari tadi menunggu Mas?” tanya Adi sembari melepaskan pelukan Sang istri. “Bagaimana, apakah sudah mendingan?” sambung Adi.


Caca mendongak menatap suaminya yang tidak terlihat seperti biasanya.


“Caca sudah mendingan, Mas. Ada masalah ya di sekolah?” tanya Caca memastikan.


“Tidak ada, Caca,” jawab Adi dan merangkul pinggang Caca untuk masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


Ketika sudah berada di dalam kamar, Adi tak langsung bersiap-siap untuk mandi. Pria itu malah duduk melamun, membuat Caca kebingungan.


“Mas cerita dong,” ucap Caca sedih.


“Caca, Mas sedang bingung mengatur keuangan Mas yang menipis. Kalau hanya menunggu gaji Guru, hanya sedikit dan tidak cukup untuk biaya kuliah kamu,” tutur Adi.


Caca menunduk sedih mendengar penuturan suaminya yang ternyata sedang bingung masalah keuangan.


Terbesit di pikiran Caca untuk meminta uang kepada orang tuanya, akan tetapi Caca langsung sadar bahwa tidak semuanya harus bergantung kepada orang tuanya.


“Caca sayang, tolong jangan beritahu Papa dan Mama ya. Mas akan berusaha mencari uang lebih untuk kita berdua,” ujar Adi menyentuh kedua tangan istrinya.


“Mas tidak perlu takut, masalah ini akan Caca simpan dengan baik. Mas yang semangat ya, kita pasti akan melewati kesulitan ini bersama-sama.”


Adi meneteskan air matanya, ia tidak menyangka mendengar kata-kata bijak dari istrinya yang terlahir kaya raya, justru mendapatkan suami yang pas-pasan seperti dirinya.


“Mas Adi ternyata cengeng, sama seperti Caca,” ucap Caca mengejek suaminya.


“Apa Caca tidak menyesal menikah dengan Mas?”


“Mas ini bicara apa sih? Daritadi tanya mulu. Pokoknya Caca bahagia bisa menikah dengan Mas dan tidak ada sedikitpun rasa menyesal. Justru, Caca semakin bahagia karena menjadi istri Mas,” jawab Caca.


Caca kemudian meminta suaminya untuk mandi karena keringat di tubuh suaminya cukup menganggu indera penciuman nya.


Adi tertawa kecil melihat raut wajah istrinya yang sangat lucu ketika mencium bau tubuhnya yang tak sedap.


“Mau ikut?” tanya Adi barangkali Caca ingin mandi bersama dirinya.


“Caca sudah mandi,” jawab Caca seraya memberikan handuk kepada suaminya.


Adi melepaskan pakaian yang ia kenakan dan menenteng pakaian kotornya untuk diletakkan di keranjang khusus pakaian kotor.


Sambil menunggu suaminya selesai mandi, Caca mencoba untuk menggoreng telur. Caca berharap ia bisa menggoreng telur dengan baik, karena sebelumnya ia menggoreng telur sampai gosong tak bisa dimakan.


“Caca, kamu mau ngapain?” tanya Adi mengintip istrinya yang sedang memegang wajan.


“Mas cepat mandi, Caca akan membuat lauk makan untuk kita,” jawab Caca.

__ADS_1


“Kamu yakin bisa memasak?” tanya Adi yang khawatir akan Caca yang belum bisa memasak.


“Tenang saja!” seru Caca penuh percaya diri.


__ADS_2