
3 Hari Kemudian.
Caca duduk terdiam di teras depan rumah sambil memperhatikan gelagat suaminya yang sangat aneh. Yaitu, Sang suami lebih baik diam dan tak lagi perhatian dengan Caca.
Caca berkali-kali mencoba mengajak Sang suami berbicara santai, namun suaminya itu tetap saja diam tak merespon.
“Mas Adi kenapa sih dari semalam dan sampai pagi ini diam saja? Mas sudah tidak sayang lagi ya sama Caca? Caca minta maaf, jika ada perkataan maupun kelakuan Caca yang membuat Mas merasa tidak nyaman,” ucap Caca meminta maaf karena suaminya terus saja diam.
Adi tetap diam dan memilih meninggalkan Caca yang baru saja nyerocos panjang lebar.
“Mas Adi kenapa tiba-tiba begini? Apa yang salah denganku?” gumam Caca.
Caca tidak bisa didiamkan seperti itu, karena sudah tidak ada jalan lain lagi. Caca memutuskan untuk menghubungi kedua orang tuanya mengenai diamnya Adi.
“Kalau Mas masih seperti ini, Caca akan bilang sama Papa dan Mama. Caca juga akan bilang pada Ibu, supaya Mas Adi kena marah karena telah membuat Caca sedih,” ucap Caca yang sudah berada di dalam kamar untuk mengambil ponsel miliknya.
Sekali lagi, kesabaran Caca kembali diuji ketika Sang suami sedikitpun tak merespon ucapan yang keluar dari mulutnya.
“Terserah Mas saja,” ucap Caca dan kembali ke ruang tamu.
Setelah mendaratkan bokongnya dikursi, Caca pun mencoba menghubungi Mama Ismia. Akan tetapi, panggilan telepon Caca justru ditolak oleh Mama Ismia.
“Kok Mama menolak telpon ku?” tanya Caca yang kini ganti menghubungi Papa Rio.
Panggilan Caca pun ditolak dan itu cukup membuat pikiran Caca terganggu.
Ada apa sih dengan Mas Adi, Mama dan juga Papa? Buat aku kesal saja. (Batin Caca)
Caca pun kembali masuk ke dalam kamar dan memutuskan untuk tidur.
Caca melirik sinis dan perlahan memejamkan matanya. Sebenarnya Caca belum mengantuk, karena pagi itu masih jam 9 pagi. Akan tetapi, Caca sengaja ingin tidur pagi.
Mas Adi sungguh tidak mencintaiku lagi. Bisa-bisanya Mas Adi diam melihat aku yang akan tidur di jam lagi seperti ini. (Batin Caca)
1 Jam Kemudian.
Caca bangun dari tidurnya dengan rasa pusing yang cukup menyakitkan. Ia pun memanggil suaminya, namun tak digubris oleh Sang suami.
Perlahan, Caca turun dari tempat tidur untuk mengeluh pusing dikepalanya.
“Mas Adi! Mas!” panggil Caca sambil berjalan menuju teras depan rumah.
Saat itu juga Caca tahu bahwa suaminya sedang di warung bersama dengan buah hati mereka.
“Mas Adi, kepala Caca sakit,” tutur Caca mengeluh pada suaminya.
Caca berharap suaminya bisa segera berbicara padanya dan menanyai sakit yang tengah ia rasakan.
__ADS_1
“Suruh siapa tidur pagi?” tanya Adi dingin.
“Mas, kok tiba-tiba jadi cuek begini sama Caca? Caca salah apa sama Mas Adi? Dari semalam sampai sekarang Mas mendiamkan Caca dan cuek dengan Caca. Kalau begini terus, lebih baik Caca pulang ke rumah orang tua Caca,” pungkas Caca.
Caca pun melangkah keluar dan berlari kembali masuk ke dalam kamar. Wanita muda itu menangis tersedu-sedu karena suaminya sudah tidak sayang dan cinta padanya.
Caca menangis cukup lama, sampai akhirnya ia kembali tertidur untuk yang kedua kalinya.
Belum ada 1/2 jam Caca tidur, suaminya masuk ke dalam kamar sambil dengan mendorong kereta bayi Yusuf dengan pelan.
“Caca sayang, maafkan Mas yang karena sudah keterlaluan,” ucap Adi dan mengecup lembut pipi istri kecilnya agar segera bangun.
Kecupan Adi yang berulang kali ternyata berhasil membuat Caca bangun dari tidurnya.
“Sayang, maafkan Mas yang mengenai semalam dan hari ini. Sebenarnya, Mas tidak ada niatan membuat Caca menangis,” tutur Adi meminta maaf dengan penuh penyesalan.
“Maksud Mas itu apa? Apakah dengan meminta maaf semua masalah selesai? Mas kalau bercanda jangan keterlaluan begini dong. Itu sama saja Mas sengaja menggoreskan luka di hati Caca,” terang Caca dan meminta suaminya untuk segera menjauh dari dirinya.
Ketika Caca sedang dipuncak amarah, tiba-tiba saja kedua orang tuanya, Ibu mertua, Lia dan Rina sudah ada dihadapannya.
“Kena prank!” teriak mereka penuh semangat.
Tangis Caca pecah karena ternyata apa yang suaminya lakukan hanya sebuah kejahilan.
“Mas jahat, kenapa melakukan ini pada Caca? Caca mengira kalau Mas sudah tidak sayang lagi sama Caca,” tutur Caca.
Caca bangkit dari tempat tidurnya sambil membawa guling miliknya. Kemudian, Caca memukul kedua sahabatnya dengan guling berulangkali.
“Kali ya sangat keterlaluan dan Mas Adi kenapa harus mengikuti ide gila dari dua cewek gila ini?” tanya Caca.
“Caca, apakah kamu sudah lupa hari ini adalah hari apa?” tanya Lia.
“Memangnya hari apa? Yang sudah jelas bukan hari ulang tahunku maupun ulang tahun keluarga ku,” jawab Caca.
“Selamat hari persahabatan untuk kita!” Lia dan Rina dengan kompak berteriak lantang.
Caca menepuk dahinya dan mengucapkan maaf kepada sua sahabatnya karena lupa dengan hari persahabatan mereka bertiga.
Lia dan Rina izin keluar dari kamar untuk mengambil sesuatu yang sebelumnya telah mereka persiapkan untuk Caca lestari.
“Apa ini? Kenapa besar sekali?” tanya Caca penasaran.
“Dibuka saja, Caca. Aku harap kamu menyukai hadiah dari kami,” jawab Lia meminta Caca untuk segera membuka kado tersebut.
“Aku tahu ini apa, pasti ini adalah boneka raksasa?” tanya Caca penuh keyakinan.
Lia dan Rina seketika itu menghela napas merek dengan penuh kekecewaan. Mereka kecewa karena ternyata Caca sudah tahu bahwa di dalam bungkus tersebut adalah sebuah boneka.
__ADS_1
“Ya ampun, ternyata boneka raksasa ini sangat besar. Pasti sangat nyaman ketika dibawa tidur sambil memeluk erat boneka Doraemon.
Caca mengucapkan terima kasih kepada kedua sahabatnya. Kemudian, mereka saling berpelukan satu sama lain.
Mama Ismia dengan gerakan cepat mengeluarkan ponselnya yang berada di dalam. Kemudian, Mama Ismia memotret mereka yang sedang berpelukan.
“Foto-foto ini akan menjadi kenangan untuk kalian bertiga,” gumam Mama Ismia.
“Mama sedang bicara dengan siapa?” tanya Papa Rio yang samar-samar mendengar Mama Ismia berbicara yang entah membicarakan apa.
“Tidak sedang berbicara dengan siapa-siapa. Cepat Papa keluarkan kalung yang kita beli kemarin untuk Caca!” punya Mama Ismia agar Papa Rio segera memberikan kepada Caca.
“Mama tenang saja, kalung yang kita beli ada di kantong celana Papa. Apa perlu kita memberikannya sekarang?”
“Ya tentu dong Papa. Ini waktu yang tepat untuk menberikan kalung berlian itu kepada putri kesayangan kita berdua,” terang Mama Ismia.
Jika Lia, Rina, Mama Ismia dan Papa Rio memberikan sebuah barang yang cukup mahal. Lain halnya dengan Ibu Puspita. Ibu kandung dari Adi Hidayatullah justru membawa makanan kesukaan Caca yang ia masak dengan penuh kash sayang.
“Terima kasih atas cinta kalian untuk Caca. Sampai Kapanpun, Caca tidak akan pernah melupakan kebahagiaan yang sangat luar biasa ini,” pungkas Caca.
Mereka pun berfoto bersama dan akan menyimpan foto mereka sebagai kenangan di masa mendatang.
Setelah berfoto bersama dan saling melempar Candaan, mereka pun dipersilakan Ibu Puspita makan siang bersama.
“Ibu terlalu bersemangat, padahal seharusnya Caca yang menjamu para tamu,” ujar Adi.
“Jangan sungkan pada Ibu. Anggap saja Ibu ini adalah Lian dan Rina,” pungkas Ibu Puspita.
“Ibu bisa saja. Bagaimana bisa Caca menganggap Ibu seperti Lia dan Rina? Ibu tetaplah Ibu mertua kesayangannya Caca,” tutur Caca.
Lagi-lagi kedekatan antara Caca dan Ibu Puspita dilihat oleh Mama Ismia. Sekeras apapun Mama Ismia mengelak, tetap saja Mama Ismia merasa bahwa Caca lebih dekat serta lebih bergantung dengan Besannya.
Adi yang melihat kesedihan dimata Mama Ismia, seketika itu juga meminta Caca untuk menggendong Yusuf.
“Caca sayang! Yusuf sepertinya ingin digendong oleh Bundanya,” ucap Adi agar Caca dan Ibu Puspita tidak terlalu menempel dihadapan Mama Ismia.
Caca pun mengiyakan dan menggendong bayi Yusuf dengan penuh cinta.
“Hallo kesayangannya Bunda. Maaf ya sayang, hari ini Bunda tidak banyak berinteraksi dengan Yusuf. Semua itu gara-gara ayah kamu,” ujar Caca sambil mendelik tajam menatap suaminya.
Adi hanya tersenyum lebar dan berharap bahwa kelakuan menjengkelkan dirinya tidak membuat Caca dendam padanya.
“Awas kalau sampai Mas ngeprank Caca lagi. Caca tidak akan mau tidur seranjang dengan Mas Adi,” tegas Caca.
Semua orang yang ada di kamar itu tertegun mendengar pernyataan Caca.
“Rina, ayo kita keluar dari kamar ini. Sepertinya ada yang sedang ingin membahas perihal sesuatu,” tutur Lia.
__ADS_1
Para orang tua pun bergegas keluar dari kamar itu dan memberikan kesempatan bagi keduanya untuk kembali berbaikan.