
“Ayo, Mbak sedikit lagi. Kepala bayi sudah terlihat,” ucap Dokter Sintya menyemangati Caca untuk terus mengejan.
“Aaakkhhhh.... ” Caca berteriak panjang.
“Oek.... Oek... Oek...” Suara tangisan bayi terdengar dengan sangat keras.
“Alhamdulillah,” ucap Dokter serta dua perawat karena berhasil melakukan tugas mereka.
Adi menangis terharu sambil terus berbisik mengucapkan terima kasih tanpa hentinya kepada Caca yang terlihat sangat lemas.
“Sayang, terima kasih banyak. Mas mengucapkan beribu-ribu terima kasih karena telah berjuang untuk melahirkan buah hati kita,” ujar Adi.
Caca hanya diam dengan terus meneteskan air matanya, untuk sekedar mengatakan sepatah katapun Caca sudah tidak kuat.
“Selamat ya atas kelahiran bayi pertamanya,” tutur Dokter Sintya.
“Terima kasih, Dok,” balas Adi yang terus saja menatap istrinya.
Salah satu perawat bergegas membersihkan tubuh bayi mungil yang dipenuhi dari. Sementara perawat yang lain, membersihkan darah milik Caca.
“Sekarang, Mas boleh keluar. Kalau bayinya sudah bersih, akan saya panggil lagi,” tutur Dokter Sintya.
Adi dengan berat meninggalkan istrinya dan segera memberitahu keluarganya.
“Nak Adi, apakah Caca sudah melahirkan? Apakah suara tangisan bayi itu adalah cucu kami?” tanya Papa Rio penasaran.
Adi mengiyakan dan menjelaskan bahwa sebelum melahirkan Caca sempat mengalami keadaan di mana Adi hampir saja kehilangan setengah hidupnya. Akan tetapi, Allah masih sayang dan memberikan kesempatan kepada dirinya untuk selalu membahagiakan Caca.
Para orang tua mengucapkan syukur karena Caca berhasil melahirkan secara normal.
“Ya Allah, Terima kasih,” ucap Mama Ismia.
Mama Ismia memeluk suaminya seraya menangis terharu. Mereka sangat bangga dengan Caca yang diusia 18 tahun sudah menjadi seorang Ibu.
“Adi, tanggung jawab kamu semakin besar. Ayah harap kamu bisa mengemban tugas sebagai seorang suami sekaligus seorang Ayah untuk anak kalian,” tutur Ayah Faizal.
“Oya, ngomong-ngomong jenis kelamin cucu kami apa?” tanya Mama Ismia penasaran.
“Ya Allah, Adi sampai lupa menanyakannya,” tutur Adi yang baru saja ingat bahwa dirinya lupa untuk menanyakan jenis kelamin bayinya.
Selama di USG, bayi yang di dalam perut Caca selalu saja menghadap ke arah lain. Seakan-akan tidak ingin jika *********** dilihat oleh kedua Orangtuanya.
“Sudah tidak apa-apa, Papa tahu bagaimana rasanya panik ketika menemani istri melahirkan,” sahut Papa Rio.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian.
Dokter Sintya meminta Adi untuk masuk ke dalam ruangan. Karena bayi harus segera di adzan kan.
“Dok, jenis kelamin bayi saya apa?” tanya Adi mumpung belum masuk ruang bersalin.
“Bayinya berjenis kelamin laki-laki,” jawab Dokter Sintya.
“Alhamdulillah!” seru mereka.
Keinginan Adi, Caca serta para orang tua akhirnya terwujud. Sebenarnya tidak masalah jika yang lahir adalah perempuan. Akan tetapi, mereka menginginkan bayi pertama laki-laki dan bayi selanjutnya adalah perempuan.
Adi pun berlari kecil menghampiri Caca yang sedang istirahat dan tak lupa mengecup lembut kening istri kecilnya.
Mama Ismia dan Ibu Puspita juga ikut masuk karena ingin melihat Caca yang baru saja melahirkan.
“Silakan,” tutur Perawat sambil menyerahkan bayi laki-laki tersebut ke Adi untuk segera di adzan kan.
Untuk pertama kalinya, Adi menggendong bayi mungil yang baru dilahirkan dengan kulitnya masih kemerah-merahan.
Adi mendekatkan telinga bayi mungilnya dan mulai mengadzankan putra pertamanya bersama Sang istri tercinta.
Keesokan Pagi.
“Mas, sepertinya Asi Caca tidak keluar lagi,” tutur Caca panik karena dirinya harus menyusui bayinya.
“Caca yang tenang ya, coba rileks dan berikan pijatan lembut agar Asi bisa keluar,” tutur Adi yang mengikuti saran dari Dokter Sintya.
“Mas saja yang memberikan pijatan!” pinta Caca.
Di dalam ruangan itu hanya ada mereka bertiga, sementara para orang tua sedang pulang ke rumah dan akan kembali beberapa jam lagi.
Adi pun memulai memijat jalannya Asi keluar dengan perlahan dan tak butuh waktu lama Asi milik Caca keluar. Dengan hati-hati Caca kembali menyusui bayi mereka.
“Terima kasih ya sayang, maaf karena selama menjadi suami Caca. Mas membuat Caca sebal maupun kesal,” tutur Adi sambil menyentuh dagu Caca dengan lembut.
“Mas sudah melihat bagaimana Caca berjuang untuk melahirkan bayi kita. Itu artinya, Mas harus sayang dan cinta sama Caca berlipat-lipat,” balas Caca.
“Iya sayang, tidak mungkin juga Mas berkhianat sekalipun kamu tidak memberikan Mas keturunan,” tegas Adi yang selalu mencintai istrinya dengan tulus.
Caca terharu mendengar ucapan suaminya yang penuh dengan kesetiannya.
“Lantas, kenapa banyak suami diluaran sana yang justru tega berselingkuh? Padahal sakitnya melahirkan sangat luar biasa,” terang Caca.
__ADS_1
“Itu artinya mereka tidak memiliki pedoman hidup dan tidak memiliki rasa tanggungjawab terhadap keluarga. Yang terpenting, Mas tidak akan pernah seperti itu,” pungkas Adi.
Caca tersenyum lega sambil mengaminkan dalam hati perkataan suaminya.
“Mas, bayi kita sudah tidur nyenyak. Tolong pindahkan bayi kita ke ranjang bayi!” pinta Caca.
Adi dengan hati-hati menggendong bayi mereka dan meletakkan bayi itu diranjang bayi.
“Sayang, mulutnya yang imut bergerak-gerak. Seperti sedang menyusu,” tutur Adi yang sangat gemas melihat mulut bayi mungilnya yang sangat imut.
“Lebih imut mana Caca sama bayi kita?” tanya Caca penasaran.
Adi tersenyum bingung karena tidak mudah menjawab pertanyaan istri kecilnya. Bagi Adi keduanya sangat imut, sedangkan Caca butuh satu jawaban.
“Mas, kok malah senyum? Jawab dong!” pinta Caca penasaran dengan jawaban suaminya.
“Karena bayi kita masih bayi, maka yang lebih imut tentu saja adalah Caca,” jawab Adi.
“Berarti bayi kita sama sekali tidak imut?” tanya Caca.
“Tentu saja imut. Tapi, keimutan Caca sangat istimewa,” jawab Adi.
Caca tertawa geli mendengar jawaban suaminya yang sangat menggelikan.
“Kok malah tertawa?” tanya Adi yang juga tertawa geli.
Adi berjalan mendekati istrinya dan perlahan menyentuh pipi istrinya.
“Caca semakin cantik, apalagi sekarang sudah menjadi seorang Ibu.”
“Mas juga semakin tampan, ditambah sekarang sudah menjadi seorang Ayah. Bayi kita pasti akan sangat bahagia kalau tahu Ayahnya adalah Ayah yang baik,” tutur Caca.
Caca tersenyum lebar karena keberuntungan selalu berpihak padanya.
“Mas, Caca mau minum!” pinta Caca sambil menyentuh tenggorokannya yang terasa kering.
“Sebentar,” balas Adi sambil berjalan menuju meja yang disediakan beberapa botol air mineral.
“Terima kasih,” ucap Caca sambil menerima botol mineral yang dipegang suaminya.
Caca yang sangat haus meneguk sebotol air mineral itu sampai habis.
“Haus banget ya sayang?” tanya Adi.
__ADS_1
“Iya, Mas. Caca sangat haus,” jawab Caca sambil memberikan botol kosong itu kepada suaminya untuk dibuang ke kotak sampah.