
Sore Hari.
Ibu Puspita telah pulang bersama Ayah Faizal dan kini di rumah hanya ada Caca seorang. Caca terus saja menoleh ke arah sisi jalan menunggu kedatangan suami tercinta.
“Mas kenapa ya belum pulang?” tanya Caca yang mengkhawatirkan suaminya.
Sang suami bahkan belum juga mengirim kabar, biasanya jika ingin pulang Sang suami pasti berkabar terlebih dahulu.
Caca ingin menunggu suaminya di dalam rumah, karena ia tidak berani berlama-lama di luar. Caca pun memutuskan memasukkan barang jualan ke dalam rumah karena pendapatan hari itu cukup laris.
Untuk mengusir kejenuhan dan rasa sepinya di dalam rumah, Caca memilih untuk menonton televisi dengan volume suara yang cukup kencang.
“Mas kenapa sih belum juga mengirim pesan? Haduh, kenapa juga aku malah berpikiran yang tidak-tidak,” gumam Caca.
Saat Caca tengah menatap pesan terakhir Sang suami, tiba-tiba saja pesan Sang suami masuk yang isi memberitahukan bahwa Suami tercinta akan pulang malam karena sedang makan-makan bersama Kepsek serta Guru yang lain.
“Jangan lupa bungkus untuk Caca ya Mas!” Begitulah isi pesan balasan Caca untuk suami tercinta.
Karena Adi pulang terlambat, Caca hanya bisa diam menunggu. Untuk pertama kalinya, Caca berada di rumah seorang diri sampai malam.
“Haduh, aku lapar sekali,” ucap Caca dan mengambil 1 buah toples berisi stick bawang yang ia buat bersama Ibu mertua.
Meskipun dengan memakan cemilan tidak membuat Caca kenyang, setidaknya adalah cemilan yang bisa ia kunyah sampai menunggu Sang suami pulang ke rumah kontrakan.
Caca tertawa lepas ketika melihat acara anak-anak berasal dari Malaysia yang menjadi acara favoritnya dari kecil hingga dirinya menikah.
“Lucu kali ya kalau punya anak aku kasih nama Upin dan Ipin,” gumam Caca.
Beberapa jam kemudian.
Caca terlelap di kursi ruang tamu karena jenuh menunggu Sang suami pulang. Televisi tentu saja masih menyala karena Caca takut jika televisi itu mati, otomatis tidak ada suara apapun alias keheningan yang ia dapatkan dan Caca takut itu.
“Assalamu'alaikum, Caca! Mas pulang!” panggil Adi.
Bunyi televisi bahkan terdengar sampai keluar rumah, sampai Adi harus melantangkan suaranya agar bisa sampai ke telinga Istri tercinta.
“Caca!” panggil Adi.
Caca terbangun dari tidurnya karena mendengar suara Sang suami yang terus saja memanggil dirinya.
Tiba-tiba saja perasaan takut menghampiri Caca, dirinya mengira bahwa yang memanggilnya adalah hantu.
“Caca!” panggil Adi.
Caca terkejut dan jatuh begitu saja dari kursi yang ia diduduki. Perlahan tangan Caca meraih remote control dan mengecilkan volume televisi.
“Caca!” Adi kembali memanggil istri kecilnya.
“Si.. siapa?” tanya Caca terbata-bata dengan posisi yang masih terduduk di lantai karena takut untuk bangkit.
“Caca sayang, Ini Mas Adi suami kamu,” jawab Adi.
Caca bangkit dan berlari menuju pintu untuk segera membuka pintu tersebut.
“Mas kenapa lama sekali? Caca takut sendirian di rumah. Pokoknya Mas tidak boleh lagi meninggalkan Caca sendirian di rumah, terlebih lagi kalau malam begini,” tutur Caca sambil memukul lengan suaminya, sebagai bentuk protes.
__ADS_1
“Maafin Mas ya Caca, bukan ingin Mas untuk pulang malam begini. Kebetulan Pak Ganjar mengadakan makan bersama, ya karena ini juga hari terakhir Mas masuk, Mas tentu saja harus ikut bergabung,” pungkas Adi dan menuntun Sang istri untuk segera masuk.
Tak lupa Adi memberikan nasi ayam panggang serta lalapan untuk Sang istri tercinta.
“Mas beli ayam panggang utuh?” tanya Caca terkejut.
“Iya Caca, sebagai tanda permintaan maaf Mas karena telah pulang telat,” jawab Adi.
Caca tersenyum bahagia dan tak lupa mengucapkan terima kasih.
“Sekarang Caca sudah tidak ngambek lagi?” tanya Adi.
“Ngambek? Memangnya siapa yang ngambek? Caca tidak ngambek kok,” terang Caca dan meminta Adi untuk menemaninya ke dapur.
Setelah berada di dapur, Caca pun menaruh ayam panggang ke atas piring berukuran besar dan meletakkannya di atas meja beserta dengan lalapan.
“Mas nanti mau makan lagi sama Caca?” tanya Caca.
“Baiklah,” jawab Adi singkat dan mencium tengkuk leher istri kecilnya.
“Mas, ayo cepat mandi. Mas bau keringat, kalau sudah mandi kita makan malam bersama.”
“Iya ini juga mau mandi, oya tadi Caca sudah sholat isya?” tanya Adi sembari melepaskan kancing seragam yang ia kenakan.
“Alhamdulillah sudah, pas dengar suara adzan Caca langsung mengambil air wudhu. Untung saja masjid di sini dekat, kalau jauh pasti Caca tidak berani ke kamar mandi,” terang Caca.
Caca cukup penakut di rumah kontrakan itu, jika tinggal di rumah sebelumnya Caca justru tidak kenal takut.
“Mas mandi dulu ya,” ujar Adi dan bergegas masuk ke dalam kamar untuk mengambil handuk miliknya.
“Akhirnya besok Mas Adi mengajar di SMA Cendekiawan. Itu artinya, Si Mak Lampir tidak akan mengganggu Mas Adi,” gumam Caca.
Siapa yang tidak kesal jika suami tercinta di dekati oleh wanita lain. Terlebih lagi wanita itu adalah satu profesi dengan Sang suami, yaitu sebagai seorang Guru. Meskipun Sang suami tidak merespon, tetap saja itu adalah sebuah gangguan yang harus segera di hempaskan agar tidak menempel seperti benalu.
“Ya Allah, lindungilah rumah tangga kami dari godaan syaitan yang terkutuk.” Do'a Caca kepada Allah SWT.
Tak sampai setengah jam, Adi akhirnya keluar dari kamar mandi dan berlari kecil masuk ke dalam kamar.
“Terima kasih,” ucap Adi ketika melihat pakaiannya sudah ada di atas kasur.
“Sama-sama,” jawab Caca dan terus menatap suaminya yang akan mengenakan pakaian.
“Caca mau lihat?” tanya Adi yang bersiap-siap untuk melepaskan handuk yang melilit sempurna di pinggang.
Caca menggelengkan kepalanya dan berbalik badan membelakangi Sang suami.
“Siapa juga yang mau melihat? Caca itu tadi mau memandangi wajah Mas saja. Bukan bagian yang itu,” terang Caca.
“Kalau begitu, sini lihat wajah Mas lagi!” pinta Adi.
“Tidak, ah. Yang ada malah Caca melihat yang aneh-aneh,” celetuk Caca dan berlari keluar kamar.
Adi tertawa kecil melihat tingkah Caca yang malu-malu kucing.
“Bukankah Caca sudah sering melihat ini,” tutur Adi sambil menoleh ke arah bawah.
__ADS_1
1 Jam Kemudian.
Caca membantu Sang suami melipat pakaian mereka berdua. Melihat bagaimana Sang suami selalu sabar dalam mengajarinya cara melakukan pekerjaan rumah, membuat Caca merasa sangat beruntung.
“Kenapa sih semakin ke sini Mas itu kelihatan makin tampan?” tanya Caca penasaran.
Adi terdiam sejenak seraya mengernyitkan keningnya. Kemudian, Adi tertawa geli menyadari pertanyaan Caca yang cukup lucu untuk di jawab.
“Bahkan, ketika Mas tertawa seperti itu terlihat semakin tampan. Oh, sepertinya Caca harus membuat Mas jelek ketika akan keluar rumah,” terang Caca sembari menyentuh dadanya yang terus saja berdebar kencang setiap kali berada dekat dengan suami tercinta.
Adi tak bisa menahan tawanya lagi, pria itu tertawa lepas setelah mendengar keinginan Caca yang ingin membuat tampangnya jelek ketika keluar rumah.
“Apa tidak ada ide yang lebih bagus lagi?” tanya Adi terkekeh geli.
“Hhmm.. Sepertinya Caca harus memikirkan dengan matang,” jawab Caca serius.
Adi tak bisa diam saja, ia gemas mendengar jawaban istrinya yang begitu serius memikirkan cara membuatnya terlihat jelek.
“Sini kamu!” pinta Adi.
Caca dengan patuh mendekat dan saat itu juga Adi menjitak kening istri kecilnya.
Pletak!
“Awwww, sakit...” ucap Caca sambil menyentuh keningnya yang cukup sakit.
Adi tersenyum penuh kemenangan dan menarik tubuh Caca ke dalam pelukannya.
“Itu tanda cinta Mas untuk Caca,” ungkap Adi.
“Tanda cinta kok begitu?” tanya Caca kesal.
“Sekarang apa masih sakit? Itu tadi adalah kekesalan Mas kepada Caca. Sekaligus Mas gemas karena jawaban Caca tadi,” terang Adi dan mencium kening istrinya berulang kali.
“Dasar aneh,” celetuk Caca.
“Aneh begini siapa yang punya?” tanya Adi.
“Siapa ya? Hhm... Siapa ya?” tanya Caca yang sengaja menggoda Adi.
“Kok malah tanya siapa? Ya jelas Caca dong!” seru Adi dan menuntun Caca untuk berbaring di tempat tidur.
Caca tentu saja menurut ajakan Sang suami kepada dirinya.
“Caca masih lapar?” tanya Adi.
“Ya kali masih lapar, Mas? Tadi Mas menyuapi Caca dengan sangat banyak. Bagaimana kalau nanti Caca menjadi gendut?” tanya Caca penasaran ingin mengetahui pendapat suaminya.
“Apapun bentuk tubuh Caca ke depannya Mas tentu saja tidak akan protes. Akan tetapi, demi kesehatan Caca ataupun Mas harus tetap menjaga kesehatan kita dan berat badan tubuh kita. Pola makan juga harus di atur dan perbanyak aktivitas, itu sudah termasuk olahraga,” terang Adi.
“Enak ya punya suami Guru olahraga,” ucap Caca seraya tersenyum bahagia.
“Caca, ayo mencari pahala!” ajak Adi dan menciumi leher Caca.
Caca mengangguk kecil seraya menikmati apa yang tengah dilakukan Sang suami tercinta.
__ADS_1
“Mas kangen, Ca.” Adi berkata tepat di telinga istri kecilnya.