
Pagi itu, Caca bersikeras untuk izin tidak masuk sekolah karena ingin ikut suaminya pergi ke rumah kontrakan yang nantinya akan mereka tempati. Adi sebagai suami mencoba untuk membujuk Caca agar pergi sekolah, akan tetapi Caca bersikeras untuk tidak berangkat.
“Pokoknya Caca mau ikut ke rumah kontrakan kita,” tegas Caca yang tidak bisa di ganggu gugat lagi.
“Nak Adi, biarkanlah Caca izin tidak masuk hari ini,” ujar Mama Ismia yang pada akhirnya menyetujui keinginan putrinya untuk izin tidak masuk sekolah.
“Ya sudah, tapi untuk hari ini saja,” tutur Adi pada istrinya.
“Horee!” seru Caca.
Caca melompat senang dan berlari kecil menuju kamarnya untuk segera mengganti pakaiannya dengan pakaian santai.
“Mobil sudah siap, Nak Adi bisa menggunakannya,” ujar Papa Rio yang sebelumnya memanaskan mesin mobil untuk digunakan oleh menantunya.
“Terima kasih, Pa,” balas Adi.
Adi pun bergegas naik ke lantai atas untuk bersiap-bersiap.
“Mas Adi kalau mau masuk ya masuk saja, tidak perlu mengetuk pintu!” seru Caca setelah mendengar suara ketukan pintu.
Adi tak langsung masuk, ia menunggu sekitar 1 menit.
“Kenapa baru masuk?” tanya Caca yang sudah berpakaian lengkap.
“Jaga-jaga,” jawab Adi singkat.
“Mas Adi kenapa sih? Masuk menjaga jarak dari Caca? Caca kurang apa coba?” tanya Caca kesal sembari berjalan ke luar dari kamar.
Adi menggaruk tengkuk lehernya yang tiba-tiba saja gatal.
“Tidak ada yang kurang dari kamu, Caca. Hanya saja aku masih belum sanggup untuk menyentuhmu,” gumam Adi.
Caca berjalan melewati Papa dan Mamanya tanpa ada niatan untuk menyapa kedua orangtuanya.
“Kenapa lagi dengan putri kita, Pa?” tanya Mama Ismia penasaran.
“Papa juga tidak tahu, Ma. Biarkan mereka berdua yang menyelesaikannya, sudah waktunya Papa berangkat ke kantor,” balas Papa Rio.
“Mama ikut ya Pa, Mama baru ingat ada janji sama Bu Veronica!”
Adi turun dengan membawa sebuah koper berukuran cukup besar, yang isinya adalah pakaian miliknya dan isteri.
“Nak Adi mau berangkat sekarang?“ tanya Mama Ismia.
“Iya Mas, lebih cepat lebih baik. Ini juga hari Jum'at, biar nanti sholat jum'at di sana,” jawab Adi.
“Mama dan Papa juga ingin berangkat ke kantor, tolong jaga Caca ya Nak Adi. Kalau Caca membuat masalah, kamu tegur saja dia!”
“Mama dan Papa tenang saja, Inshaa Allah Caca akan selalu saya jaga,” balas Adi.
Adi kemudian izin untuk segera pergi menuju kontrakan yang akan ia tempati bersama Sang istri.
“Mas kenapa lama sekali?” tanya Caca sesaat suaminya masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
“Tadi sedang berbicara dengan Papa dan Mama. Caca sebaiknya ke luar pamit kepada Papa dan Mama!” pinta Adi.
Gadis itu pun bergegas ke luar dari mobil untuk berpamitan kepada orang tuanya.
“Mama, Papa! Caca pergi dulu ya, Assalamu'alaikum!”
“Wa’alaikumsalam, kalau sudah sampai nanti jangan lupa hubungi kami!” perintah Mama Ismia.
Caca tersenyum dan bergegas masuk ke dalam mobil. Caca tak sabar ingin bersih-bersih bersama Sang suami.
“Sudah pamit sama Mama, Papa?” tanya Adi memastikan.
“Sudah dong, ayo Mas kita berangkat!” pinta Caca penuh semangat.
****
Mereka akhirnya tiba dan dengan semangat Caca turun dari mobil untuk segera membuka pintu rumah kontrakan tersebut.
“Mas, ini hanya kita berdua saja yang bersih-bersih?” tanya Caca memastikan.
“Iya Caca, rumah ini tidak terlalu besar. Insya Allah kita bisa melakukannya,” jawab Adi.
“Alhamdulillah, untung saja Caca tidak sekolah. Seandainya Caca sekolah, pasti Mas bersih-bersih sendirian,” ujar Caca.
Adi kembali ke mobil untuk mengambil peralatan bersih-bersih seperti sapu, ember dan juga alat pel lantai.
“Caca bisa menyapu lantai?” tanya Adi memastikan apakah Caca bisa menyapu atau tidak.
“Mas kok tanya begitu? Tentu saja Caca bisa menyapu, di sekolah Caca mendapatkan tugas piket kelas,” terang Caca yang merasa di remehkan oleh suaminya sendiri.
“Kalau Mas tidak percaya, berikan sapu itu!” Caca mengambil sapu lantai yang dipegang suaminya dan bergegas masuk ke dalam rumah.
Adi tersenyum kecil melihat bagaimana Caca menyapu lantai dengan suasana hati yang sedang ngambek.
“Hanya menyapu saja, apa susahnya?” gumam Caca.
Ketika sedang fokus menyapu, tiba-tiba saja ada tikus lewat di kaki Caca.
“Mas! Mas Adi!” Caca berteriak ketakutan memanggil suaminya.
Adi pun berlari secepat mungkin menghampiri istrinya yang ternyata sudah menangis.
“Kenapa, Caca?” tanya Adi panik melihat Caca yang sudah menangis.
“Adi tikus besar lewat di kaki Caca, Mas. Caca takut, Caca mau pulang,” jawab Caca menangis ketakutan.
“Caca tidak boleh begini, itu hanyalah seekor tikus. Ketika rumah ini sudah bersih, Mas jamin tidak ada lagi seekor tikus pun masuk ke dalam rumah ini,” ujar Adi mencoba menenangkan Caca agar tidak lagi menangis.
“Benarkah?” tanya Caca dengan terus memperhatikan sekitarnya.
“Tentu saja, ya sudah Caca lanjutkan menyapu. Mas mau mengambil air untuk membersihkan lantai rumah ini.”
Caca dengan perlahan kembali melanjutkan pekerjaannya menyapu, sedangkan Adi pergi ke kamar mandi untuk mengambil air mengisinya ke dalam ember yang sebelumnya ia bawa dari rumah.
__ADS_1
***
Waktu sudah hampir mendekati jam 11 siang, tapi Adi masih semangat membersihkan rumah kontrakan itu. Sementara Caca tidak sanggup lagi karena ia merasa seluruh tubuhnya telah di penuhi debu-debu di rumah itu.
“Mas, Caca mau pulang,” ucap Caca yang ingin segera membersihkan tubuhnya.
“Mau pulang kenapa? Kita belum selesai, masih harus membersihkan jendela kaca dan rumput di depan,” balas Adi yang sedang mengelap jendela kaca.
“Caca sekarang bau keringat, Mas. Pokoknya Caca mau pulang ke rumah,” tegas Caca.
“Mas tanya sekali lagi, Caca kenapa tadi tidak mau masuk sekolah kalau ujung-ujungnya begini?” tanya Adi dengan tatapan serius.
Caca yang saat itu tengah duduk, seketika itu bangkit dan ikut membersihkan jendela kaca.
“Mas itu suami Caca, tapi kenapa bersikap seperti Guru di sekolah?”
“Mas hanya ingin Caca mengerti, bahwa Caca harus memiliki rasa tanggung jawab. Terlebih lagi Mas sudah menjadi seorang suami,” terang Adi.
Caca tersenyum lebar dan mencubit lengan suaminya karena gemas.
“Caca, kita di luar sekarang. Bagaimana kalau ada yang melihat?” tanya Adi karena Caca begitu genit padanya.
“Memangnya siapa yang mau melihat kita?” tanya Caca sambil menoleh ke arah sekitar yang terdapat ada beberapa orang sedang memperhatikan dirinya.
Melihat orang-orang berdiri dari kejauhan dengan pandangan kurang bersahabat, gadis itu memilih masuk ke dalam rumah.
“Kenapa?” tanya Adi menyusul istrinya masuk ke dalam.
“Caca risih dengan Ibu-ibu di luar, Caca lapar mau makan,” balas Caca sambil menyentuh perutnya.
“Lebih baik Caca mandi dulu, kamar mandi sudah bersih dan bak mandi sudah Mas isi air,” ucap Adi meminta istrinya untuk segera mandi sebelum makan siang.
Caca mengiyakan dengan patuh karena ia merasa tubuhnya begitu lengket karena keringat.
Tak berselang lama, Adi yang sudah rapi berpamitan kepada Sang istri untuk berangkat ke masjid melaksanakan sholat jum'at. Mau tak mau Caca harus berani tinggal sendirian karena suaminya harus melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim.
“Mas pergi dulu ke Masjid, Caca jangan lupa sholat dzuhur!”
“Mas jangan lama-lama ya di Masjid, pokoknya setelah sholat jum'at langsung pulang. Caca takut sendirian di sini,” ucap Caca sambil menarik pakaian yang dikenakan Adi.
“Caca tidak perlu takut dan angan lupa mengunci pintu!”
Caca mengiyakan dengan patuh dan sebelum suaminya benar-benar pergi, Caca meminta suaminya untuk memeluk dan menciumnya. Tentu saja keinginan itu tidak dikabulkan oleh Adi, karena Adi sudah berwudhu.
“Nanti saja kalau sudah pulang, sekarang Mas berangkat. Assalamu'alaikum!”
“Wa’alaikumsalam, ingat ya Mas langsung pulang dan jangan singgah ke rumah orang lain,” tegas Caca.
Sesaat setelah suaminya pergi dengan berjalan kaki yang kebetulan jarak dari rumah ke masjid tidak terlalu jauh, Caca pun bergegas masuk dan buru-buru mengunci pintu rumah agar tidak ada yang masuk.
“Ternyata rumah bagus juga kalau sudah dibersihkan, semua ini karena ada suami yang pintar dalam berbenah rumah,” gumam Caca.
Caca tak sengaja melihat ponsel suaminya yang tergeletak di atas meja. Entah kenapa, tiba-tiba saja terbesit dipikiran Caca untuk melihat-lihat isi di dalam ponsel suaminya itu.
__ADS_1
Dipegangnya ponsel itu dan tiba-tiba saja Caca ingat dengan pesan Mama Ismia untuk tidak menyentuh ponsel orang lain, tanpa izin si empunya ponsel.
“Ya ampun, hampir saja aku melakukan perbuatan tidak sopan. Sebaiknya aku taruh ponsel ini di kamar saja,” ucap Caca bermonolog dan membawa ponsel milik Adi ke dalam kamar tanpa ingin melihat-lihat isi di dalam ponsel tersebut.