Istri Centil Mas Adi

Istri Centil Mas Adi
Maafkan, Caca!


__ADS_3

Malam Hari.


Caca tidak bisa tidur, berulang kali ia mencoba untuk memejamkan mata. Namun, tetap saja ia tidak bisa tidur. Rasa ngantuk bahkan belum datang menyerangnya dan hal itu membuat Caca kesal.


“Caca belum mengantuk?” tanya Adi pada istri kecilnya.


“Belum,” jawab Caca singkat tanpa ekspresi.


“Mas temani ya,” tutur Adi yang ingin menemani istri kecilnya begadang.


Caca tiba-tiba saja merasakan mulas dan meminta suaminya untuk menuntun dirinya menuju kamar mandi.


“Mas, Caca ingin buang air. Tolong bantu Caca!” pinta Caca yang harus ditemani oleh Adi.


Adi mengiyakan dan dengan hati-hati menuntun istri kecilnya pergi ke kamar mandi.


“Kok cepat sekali?” tanya Adi pada Caca yang baru keluar dari kamar mandi.


Caca hanya diam dan kembali masuk ke kamar mandi, Adi dengan sabar menunggu Sang istri di depan pintu kamar mandi.


Caca bolak-balik masuk kamar mandi merasakan sakit pada perutnya, akan tetapi ketika sudah berada di dalam kamar mandi dirinya sama sekali tidak ingin buang air.


Keringat mengucur deras ditambah dengan suara rintihan kesakitan Caca, membuat Adi serta para orang tua panik dengan kondisi Caca.


“Mas, Caca rasanya mau mati,” tutur Caca yang tak sanggup lagi untuk melangkahkan kakinya.


“Apa sudah waktunya Caca melahirkan?” tanya Mama Ismia panik melihat keringat putri kesayangannya sebesar biji jagung.


Sontak saja semuanya panik mendengar ucapan Mama Ismia.


“Cepat, kita harus membawa Caca ke rumah sakit!” Mama Ismia berlari masuk ke dalam kamar Caca dan Adi untuk segera mengambil peralatan bayi.


Adi dengan tangan gemetar menggendong istrinya, sementara Papa Rio berlari ke depan untuk memanaskan mesin mobil.


Ibu Puspita pun masuk ke dalam kamar Caca dan Adi untuk mengemas pakaian milik menantunya.


“Mbak, saya sudah selesai,” ucap Mama Ismia yang sudah selesai mengemas pakai cucu mereka yang akan segera lahir ke dunia.


“Saya juga, Mbak!” seru Ibu Puspita yang bersiap untuk pergi menuju rumah sakit.


Mereka berdua pun berlari secepat mungkin untuk segera masuk ke dalam mobil. Sementara, Ayah Faizal bertugas mengunci jendela dan pintu rumah sebelum meninggalkan rumah itu.

__ADS_1


Di dalam mobil, Caca tak henti-hentinya merintih kesakitan karena perutnya begitu sakit. Bayi di dalam perutnya seperti memberontak ingin segera keluar dari rahimnya.


Papa Rio menyetir mobil dengan kecepatan cukup tinggi karena harus segera sampai ke rumah sakit terdekat.


Jarak rumah sakit yang hanya beberapa kilometer terasa sangat jauh, tentu saja karena kepanikan yang tengah mereka semua rasakan.


“Mas, sakit sekali. Caca takut,” ucap Caca yang sangat ketakutan karena akan melahirkan.


“Sayang, ada Mas yang akan selalu berada disamping kamu. Kamu yang tenang ya sayang, kamu harus kuat,” ucap Adi yang terus memeluk istrinya.


Caca menggenggam erat tangan suaminya seraya merintih kesakitan merasakan sakit ketika akan melahirkan.


“Caca sayang, banyak-banyak istighfar ya sayang,” tutur Mama Ismia.


“Astaghfirullahaladzim,” ucap Caca beristiqhfar berulangkali.


Adi mengecup lembut kening istrinya sembari berdo'a untuk keselamatan istri serta bayi mereka.


***


Rumah Sakit.


Caca merasa bahwa hidupnya tidak lama lagi, ia sangat tidak siap jika harus berpisah dengan orang yang ia cintai.


“Maafkan, Caca!” Caca meminta maaf seraya menangis ketakutan.


Dua perawat menghampiri Caca dengan membawa kursi roda, kemudian membawa Caca ke sebuah ruangan bersalin.


“Salah satu keluarga dimohon masuk ke dalam menemani pasien melahirkan,” ucap seorang dokter.


Adi dengan cepat masuk ke dalam menemani istrinya yang hendak melahirkan.


Dokter wanita yang akan menangani Caca melahirkan, saat itu sedang memeriksa pembukaan jalannya lahir dan ternyata sudah terbuka sempurna.


“Dok, apakah saya akan meninggal?” tanya Caca yang terkulai lemas di ranjang rumah sakit.


“Mbak yang tenang ya, tidak akan ada hal yang seperti itu. Yang paling penting, Mbak yang rileks ya,” tutur Dokter tersebut dengan entah.


Dokter bernama Sintya itu sudah banyak menangani berbagai macam tipe Ibu hamil dan banyak juga yang mengatakan hal yang Caca ucapkan sebelumnya.


“Mbak yang rileks ya, InshaAllah semuanya baik-baik saja,” tutur Dokter Sintya.

__ADS_1


Dokter Sintya meminta Adi untuk mengawasi Caca agar tidak tertidur. Karena akan berakibat fatal jika sampai Caca tertidur tak sadarkan diri.


Adi dengan mulut gemetar mengiyakan pesan Dokter Sintya dan berharap istri serta buah hati mereka selamat.


“Maafkan, Caca!” Caca lagi-lagi meminta maaf dan pasrah jika Allah berkehendak lain padanya.


“Mas sangat sayang sama kamu, Caca,” balas Adi dengan mata berkaca-kaca.


Adi susah payah menahan air matanya agar tidak keluar, akan tetapi ia tidak sanggup lagi menahan air matanya itu. Saat itu juga ia menangis sambil menyentuh pipi istri kecilnya.


“Ayo Mbak, sekarang ambil napas dalam-dalam!” pinta Dokter Sintya.


Mama Ismia terus saja menangis karena putri kesayangannya sedang berada di ruang bersalin untuk melahirkan cucu mereka. Wanita berusia 41 tahun itu tidak bisa menyembunyikan rasa kekhawatiran serta ketakutannya. Ia berharap proses melahirkan Caca lancar tanpa ada kendala sedikitpun.


“Mama, duduklah di sini,” tutur Papa Rio karena istrinya itu terus saja berjalan bolak-balik.


“Papa, biarkan Mama seperti ini. Dengan cara seperti ini, rasa kekhawatiran Mama bisa terkontrol,” ucap Mama Ismia.


Ibu Puspita berdiri didekat jendela berusaha mengintip dalam ruangan, akan tetapi yang terlihat hanyalah gorden.


Ya Allah, selamatkanlah menantu dan juga cucu hamba. Tolong berikanlah kelancaran dalam proses melahirkan Caca. (Batin Ibu Puspita)


Di dalam ruangannya, Adi tiba-tiba saja pusing ketika melihat gumpalan darah yang cukup banyak keluar dari jalan lahirnya bayi mereka.


Salah satu perawat melihat wajah pucat Adi dan saat itu juga menepuk punggung Adi.


“Mas, tolong fokus!” pinta perawat.


Caca berusaha keras untuk mengejan agar bayinya segera lahir, akan tetapi bayinya tak kunjung keluar dan itu semakin membuat Caca overthinking tentang keselamatannya serta bayi mungilnya.


“Ayo, Mbak. Sedikit lagi!” pinta Dokter Sintya meminta Caca untuk kembali mengejan.


Tiba-tiba saja Caca tak sadarkan diri dan berhenti bernapas. Saat itu juga, mereka panik karena hal yang tak terduga tiba-tiba saja terjadi.


“Dok, kenapa sama istri saya?” tanya Adi panik.


Dokter Sintya meminta salah satu asistennya untuk mengambil alat pernapasan, sementara dirinya menekan dada Caca untuk membuat Caca bisa bernapas kembali.


Caca membuka matanya dan seketika itu semuanya bernapas lega, termasuk Adi.


Caca yang kembali sadar, mencoba untuk mengatur napasnya dan kembali mengejan dengan cukup panjang.

__ADS_1


__ADS_2