
Malam Hari.
Adi terus memandangi wajah istrinya dan begitu juga dengan Caca yang terus memandangi wajah suaminya. Mereka benar-benar sedang dimabuk cinta dan efeknya adalah mereka sulit untuk tidur.
Walaupun belum bisa melakukan hubungan suami istri selama berbulan-bulan, cinta mereka sedikitpun tidak berkurang. Justru, cinta mereka semakin besar dan sangat tidak mungkin untuk dihancurkan oleh manusia manapun.
“Mas, menurut Mas bagaimana wajah Caca sekarang ini? Apakah Caca terlihat tua?” tanya Caca.
“Kenapa Caca bertanya begitu? Apakah ada yang mengatakan bahwa Caca tua?” tanya Adi terheran-heran.
Posisi mereka saat itu saling berhadapan satu sama lain dan saling menggenggam tangan dengan erat.
“Tidak ada. Justru, ada yang mengira bahwa Caca masih anak SMA,” jawab Caca sambil tersenyum bangga.
“Lalu, kenapa Caca mengatakan mengenai wajah Caca? Lagipula, kalau dilihat-lihat justru Mas lah yang terlihat tua. Buktinya saja, banyak yang memanggil Mas dengan panggilan Pak. Sementara Caca, lebih sering dipanggil Adik,” ucap Adi protes.
“Kan, faktanya begitu,” celetuk Caca dan tertawa lepas melihat raut wajah kecut suaminya.
Para orang tua yang sedang menonton televisi di ruang tamu cukup terganggu dengan tawa sepasang suami-istri yang berada di dalam kamar. Meskipun begitu, para orang tua juga memaklumi suara berisik dari keduanya.
“Sepertinya, malam ini kita akan sulit untuk tidur,” ucap Mama Ismia.
“Saya juga setuju, Mbak Ismia!” seru Ibu Puspita.
“Papa pun setuju!” seru Papa Rio.
Adi dan Caca terlihat sangat bahagia, bahkan mereka berdua sama sekali tidak merasa mengantuk karena keasikan berbincang-bincang.
“Mas, kita dari pagi belum berciuman. Apakah Mas mau melakukannya?” tanya Caca dengan suara lirih supaya tidak didengar oleh para orang tua.
Adi menggigit bibirnya sendiri dan dengan raut wajah tegang.
“Kenapa, Mas? Apa ada yang salah dengan ucapan Caca barusan?” tanya Caca kebingungan melihat raut wajah suaminya yang cukup aneh.
“Bagaimana ya bilangnya, Mas merasa agak kaku,” jawab Adi.
Caca tersenyum lebar dan dengan tiba-tiba mencium bibir suaminya. Adi melotot merasakan permainan istrinya yang sangat agresif.
Saat sedang asik kissing, Yusuf bangun dan menangis sambil menggerakkan kedua kakinya.
Adegan kissing pun terganggu karena tangisan Yusuf.
“Kesayangannya Ayah dan Bunda kenapa bangun? Yusuf mau minum susu?” tanya Caca dan suara tangisan Yusuf semakin kencang.
Para orang tua yang mendengar tangisan Yusuf hanya bisa saling melempar senyum satu sama lain.
Sepertinya, Yusuf mengerti harus berbuat apa untuk mencegah adiknya lahir. 🤣
“Yusuf sayang, jangan nangis ya. Ayo sekarang minum susu,” tutur Caca dan pada akhirnya menyusui bayi Yusuf.
Adi hanya bisa menghela napas panjang ketika melihat istrinya sedang menyusui buah hati mereka.
5 menit, 10 menit, 30 menit Yusuf belum juga tertidur. Mata Adi perlahan menutup dan akhirnya tertidur pulas.
Caca memanyunkan bibirnya dengan perasaan yang agak kecewa.
“Yusuf mau punya Adik atau tidak?” tanya Caca penasaran.
Yusuf yang sebentar lagi akan terlelap, tiba-tiba saja kembali bangun dan menangis.
“Yusuf belum mau punya seorang Adik? Baiklah. Untuk sementara ini Ayah dan Bunda akan menunda memiliki bayi lagi,” pungkas Caca.
__ADS_1
***
Pagi Hari.
Seusai sholat subuh, Caca memutuskan untuk melanjutkan tidurnya sambil menyusui buah hatinya yang saat itu cukup rewel.
Melihat istri kecilnya yang tertidur sambil menyusui buah hati mereka, membuat Caca kagum dengan jiwa keibuan Sang istri.
“Caca sayang..” panggil Adi dengan cara berbisik ditelinga istri kecilnya.
Panggilan Caca sama sekali tidak ditanggapi oleh Caca, dikarenakan Caca sudah tertidur pulas dan sangat susah untuk dibangunkan ketika sudah tidur dalam keadaan mengantuk parah.
Karena Caca sudah terlelap dengan pulas, pada akhirnya Adi memutuskan untuk keluar kamar meninggalkan istri dan bayi Yusuf.
Tak berselang lama, Caca bangun dari tidurnya dan tak menemukan keberadaan suaminya di dalam kamar.
Dengan perlahan, Caca turun dari tempat tidurnya meninggalkan Yusuf seorang diri yang masih tidur nyenyak.
Wanita muda itu berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan wajahnya dari debu-debu kasur yang menempel. Kemudian, setelah beres dari kamar mandi Caca pun mencari suaminya.
“Di dapur tidak ada, di ruang tamu tidak ada dan dan di warung juga tidak ada. Kemana ya Mas Adi?” gumam Caca yang tak bisa menemukan keberadaan suaminya.
Caca kemudian menanyakan keberadaan suaminya kepada Ibu mertua.
“Ibu, Mas Adi di mana ya? Caca sudah cari ke mana-mana tapi Mas Adi tidak kelihatan,” tutur Caca yang mulai panik, takut sesuatu hal buruk terjadi kepada suami tercinta.
“Jangan panik dulu, Nak Caca. Suami Caca sekarang sedang bersama Mama dan Papa Caca di belakang rumah. Coba Caca lihat ke belakang rumah!”
Saat itu juga Caca berbalik menuju arah belakang rumah dan ternyata suaminya sedang latihan berjalan bersama kedua orang tuanya.
“Ya Allah, hampir saja Caca menangis ketakutan,” ucap Caca sambil menyentuh dadanya yang hampir copot.
“Ketakutan kenapa, sayang? Mama dan Papa hanya mengajak Nak Adi melatih kekuatan kaki supaya bisa berjalan normal 100%” terang Mama Ismia.
“Mas tadi ingin bilang sama Caca. Tapi, Caca dibangunkan tidak baik juga. Ya jadinya, Mas berlatih berjalan dengan Mama dan Papa,” terang Adi pada istri kecilnya.
“Kalau Caca tidak juga bangun, Mas bisa menciun Caca seperti di drama Korea yang Caca tonton. Mas tidak asik ah, malas Caca. Pokoknya Caca ngambek,” ucap Caca dan pergi dengan suara kaki yang sengaja dihentak ke Bumi.
Adi ingin mengejar istri kecilnya, akan tetapi ia tidak mungkin bisa melakukannya. Karena jika Adi memaksa kakinya untuk berlari, maka resikonya cukup besar.
“Pura-pura jatuh,” bisik Papa Rio membantu Adi agar tidak jadi ngambek.
Adi mengikuti saran Papa mertua dan saat itu juga berakting seperti orang kesakitan karena terjatuh.
“Aakhhh.... sakit,” ucap Adi sebisa mungkin mengekspresikan perasaan sakit yang ia rasakan.
Caca berbalik badan dan berlari secepat mungkin membantu suaminya bangkit.
Mama Ismia tertegun sejenak dan cukup kagum dengan bakat akting yang sedang dimainkan oleh menantunya atas saran dari suaminya, yaitu Papa Rio.
Tidak suami, tidak menantu ternyata sama saja. Sama-sama pandai berakting. (Batin Mama Ismia)
“Mas kenapa? Maaf ya Mas, gara-gara Caca Mas jadi begini,” ucap Caca merasa bersalah karena gara-gara dirinya membuat Sang suami terjatuh.
“Sudah tidak apa-apa,” balas Adi seraya tersenyum.
“Mama dan Papa lebih baik masuk ke dalam rumah saja. Biar Mas Adi Caca yang temani,” ucap Caca yang akan menemani suaminya melatih otot kaki.
Papa Rio tersenyum lebar dan merangkul lengan Mama Ismia sambil berjalan masuk ke dalam rumah.
“Mas kenapa ingin sekali cepat berjalan? Bukannya dokter Jefry mengatakan bahwa Mas jangan terlalu memaksa melatih otot ketika sudah berada di rumah?”
__ADS_1
“Sudah berbulan-bulan lamanya Mas berada di Rumah sakit dan setelah keluar dari Rumah sakit, apakah Mas tidak boleh melihat-lihat area sekitar rumah sini?” tanya Adi sambil berjalan dengan langkah yang sangat kecil.
“Tentu saja boleh, suamiku sayang. Tidak ada yang melarang Mas mau pergi ke mana pun, tapi jangan terlalu memaksakan diri,” balas Caca.
Adi tersenyum dan fokus dengan jalan yang akan dilewatinya.
Ibu Puspita melambaikan tangan dan meminta keduanya untuk segera masuk ke dalam.
“Adi, Nak Caca! Cepat masuk ke dalam, kita sarapan bersama!” panggil Ibu Puspita.
“Iya Ibu!” seru Adi dan Caca kompak.
Sekitar hampir 5 menit para orang tua menunggu mereka dan akhirnya mereka berdua pun tiba di ruang makan.
“Bagaimana kaki kamu, Adi?” tanya Ibu Puspita sambil meletakan nasi putih ke piring Adi.
“Alhamdulillah agak mendingan, Ibu. InshaAllah kurang dari sebulan Adi sudah bisa menggerakan tangan dan kaki Adi dengan normal,” jawab Adi.
“Aamiin!” seru merek berempat termasuk Caca Lestari.
Caca menyuapi suaminya, meskipun sebenarnya Adi ingin makan sendiri karena dimeja makan itu ada para orang tua yang menyaksikan bagaimana Caca menyuapi makanan ke dalam mulutnya.
“Mas kenapa sih kelihatan tegang begitu? Apa karena Caca yang menyuapi Mas?” tanya Caca.
“Nak Adi santai saja, lagipula tidak masalah disuapin istri sendiri. Ya kan, Papa? Ya, Mbak Puspita?” tanya Mama Ismia.
“Benar sekali,” jawab Ibu Puspita.
“Sudah santau saja, tidak perlu sungkan sama kamu,” ujar Papa Rio.
Setelah sarapan bersama, Adi ingin duduk di warung dan ingin bersantai sejenak di warung miliknya bersama istri kecilnya.
“Mbak, biar kali ini saya saja yang memandikan Yusuf,” ucap Mama Ismia yang ingin memandikan Yusuf.
“Iya Mbak Ismia, silakan!” seru Ibu Puspita mempersilakan besannya untuk memandikan Cucu pertama mereka.
Di warung, Adi tertawa geli melihat kelakuan istri kecilnya yang di luar nalar. Kelakuan yang membuat Adi ingin sekali mencubit pipi istri kecilnya berulang kali.
“Mas, coba lihat bagaimana indahnya bokong Caca!” pinta Caca dan bergoyang-goyang layaknya seorang biduan dangdut terkenal.
Pada saat Caca sedang asik berhoyau, tiba-tiba saja hal tak terduga terjadi begitu saja.
Kreeeekkk!! Suara celana robek yang Caca kenakan.
Adi tertawa terpingkal-pingkal melihat ekspresi wajah istrinya yang terkejut mendengar celana istrinya sendiri robek.
Caca sangat malu dan berlari secepat kilat sambil menutup bagian celana yang robek dengan tangannya sebisa mungkin.
Caca yang sudah masuk ke dalam kamar hanya bisa geleng-geleng kepala dengan perasaan yang sangat malu.
“Haduh, bisa-bisanya kejadian memalukan itu disaksikan oleh Mas Adi?? ” tanya Caca lirih.
Caca terkejut dan hampir saja kehilangan keseimbangannya ketika baru saja menyadari bahwa ada Mama Ismia dikamarnya sedang memakaikan pakaian untuk Cucu pertamanya.
“Mama kok bisa ada di kamar Caca?” tanya Caca terheran-heran.
“Mama memandikan Yusuf dan membantu Yusuf memakai baju,” jawab Mama Ismia.
Caca mengangguk paham dan tak lupa mengucapkan terimakasih kepada Sang Mama Tercinta.
“Sudah santai saja, sekarang Mama izin bawa Yusuf ke warung ya.”
__ADS_1
“Iya Ma, di warung sekarang ada Mas Adi yang sedang menunggu pembeli,” pungkas Caca.