
Seharian penuh, Lastri bekerja menyelesaikan cuciannya dan bahkan Ibu Puspita tidak lagi mengarahkan Lastri karena wanita muda itu sangat pintar dalam menyelesaikan pekerjaannya.
Adi maupun Caca bernafas lega, karena mereka telah menemukan sosok Lastri yang begitu bagus dengan kinerjanya itu.
Dengan adanya Lastri, pekerjaan mereka jauh lebih ringan dan mudah. Karena kinerja Lastri yang sangat bagus, keduanya memutuskan untuk memberikan bonus kepada Lastri.
“Lastri, ini ada bonus untuk kamu,” ujar Caca sambil memberikan sebuah amplop untuk Lastri.
“Apa ini mbak Caca? gaji saya itu dibayar dua minggu sekali. Kenapa Mbak Caca memberikan saya bonus? Apakah saya dipecat?” tanya Lastri sedih.
“Tidak. Siapa yang memecat kamu? justru Kami sangat senang dengan kinerja kamu,” ucap Caca pada Lastri.
Lastri tersenyum senang dan tak lupa Mengucapkan terima kasih karena Adi serta Caca telah memberikannya bonus.
“Sudah sore, waktunya kamu pulang,” ucap Caca.
Lastri sekali lagi berterima kasih dan pamit pulang karena bayi kecilnya telah menunggu kepulangannya.
Setelah Lastri pergi, Adi maupun Caca melempar senyum satu sama lain. Mereka sangat senang dengan kinerja Lastri dan berharap Lastri betah bekerja dengan mereka berdua.
“Ayo, sudah waktunya tutup warung dan beristirahat,” ujar Adi mengajak istrinya untuk segera masuk ke rumah.
Di dalam rumah itu hanya ada Adi, Caca, Ibu Puspita dan juga Yusuf. Sementara kedua orang tua Caca sudah pulang ke rumah mereka.
“Kesayangannya Bunda!” sapa Caca pada buah hatinya yang sedang duduk di pangkuan ibu mertua.
Yusuf hanya melempar senyum dan kembali fokus mengunyah pisang yang diberikan oleh sang nenek tercinta.
“Kalian sekarang lebih baik pergilah mandi. sebelum mendekati Yusuf,” ucap Ibu Puspita meminta keduanya untuk segera mandi membersihkan diri mereka.
Adi dan Caca dengan kompak beranjak dari duduk mereka, kemudian mereka bergegas masuk ke dalam kamar untuk segera mandi bersama.
“Mas, kita pakai baju apa ya biar serasi,” tutur Caca yang ingin memakai piyama kembar dengan suami tercinta.
Adi membuka lemari pakaian dan memilih piyama berwarna coklat muda.
“Bagaimana kalau yang ini?” tanya Adi sambil memperlihatkan piyama yang ada di tangannya.
Caca tersenyum dan mengiyakan pilihan piyama berwarna coklat muda tersebut.
__ADS_1
“Ayo Mas sudah waktunya kita mandi!” ajak Caca yang ingin segera mandi bersama sang suami tercinta.
Beberapa saat kemudian.
Mereka bertiga tengah menikmati makan malam di ruang makan. Caca dengan senang mengangkat kedua jempol tangannya dan mengatakan bahwa masakan ibu mertuanya adalah yang terbaik.
Sekeras apapun Caca belajar memasak, tetap saja masakan ibu mertuanya tidak ada tandingannya. Meskipun begitu, Adi justru ingin istrinya lah yang memasak karena itu bentuk dari rasa cinta untuk sang istri.
“Caca sayang, besok kamu ya yang memasak. Mas ingin memakan masakan dari tangan Caca,” terang Adi.
“Kalau masakan Caca tidak enak bagaimana? Caca merasakan Caca jauh berbeda dengan rasa masakan ibu,” pungkas Caca yang sadar diri dengan masakannya yang jauh dari kata enak.
“Kok Caca malah berpikir seperti itu? Masakan Caca juga enak maka dari itu mas ingin Caca yang memasaknya,” balas Adi.
Ibu Puspita telah menghabiskan makanannya dan saat itu juga bergegas pergi ke kamar untuk mengambil Yusuf.
“Ibu mau ke mana?” tanya Adi pada ibu kandungnya yang hendak pergi meninggalkan ruang makan.
“Ibu sudah selesai dan ibu harus menjaga Yusuf,” terang Ibu Puspita.
Adi maupun Caca mengangguk setuju. Kemudian mereka mengucapkan terima kasih kepada Ibu Puspita yang banyak sekali membantu mereka.
“Ya sudah ya, kalian lanjutkan makannya dan ibu akan pergi ke kamar,” tutur Ibu Puspita dan melenggang pergi untuk segera menghampiri cucu pertama kesayangannya.
Tak berselang lama, Adi dan Caca telah selesai menikmati makanan mereka. Mereka pun bergegas berkumpul di ruang tamu bersama Ibu Puspita serta buah hati mereka.
Melihat kedua orang tuanya yang baru saja datang, Yusuf dengan senang menggerakkan tangannya dan mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi seakan meminta agar ia segera digendong.
Adi tertawa kecil dan menggendong buah hatinya.
“Halo Yusuf, kesayangannya Ayah dan Bunda,” ucap Adi dan mencium lembut pipi chubby Yusuf.
Adibkala itu fokus menimang-nimang buah hatinya. Sementara Caca dan ibu mertua asik berbincang-bincang mengenai warung Serta usaha laundry yang baru dijalankan beberapa hari.
Ketika Adi sedang fokus menggendong buah hatinya, tiba-tiba saja Yusuf menangis sambil mengucek matanya yang artinya bahwa bayi kecil itu ingin tidur.
Caca terpaksa mengakhiri perbincangannya bersama ibu mertua, dikarenakan Yusuf yang semakin rewel padahal sudah digendong oleh Adi.
Caca pun pamit kepada Ibu mertuanya untuk masuk ke dalam kamar karena harus menidurkan Yusuf.
__ADS_1
“Sudah jam 9 malam, waktunya bagi kita untuk istirahat dan besok kita kembali bekerja,” ujar Ibu Puspita pada Adi dan juga Caca.
Ibu Puspita terlebih dulu meninggalkan ruang tamu untuk segera beristirahat. kemudian disusul oleh Adi dan Caca yang juga hendak beristirahat.
“Mas, besok kita mendapatkan banyak orderan baju kotor dan pasti kita akan sangat sibuk,” ujar cacah yang saat itu sudah berada di atas tempat tidur sambil menyusui Yusuf.
“Insya Allah, Allah akan memberikan kita rezeki yang berlimpah serta berkah. Meskipun begitu, Mas berharap Caca salat tepat waktu,” ujar Adi pada istrinya.
“Insya Allah saja usahakan ya Mas,” balas Caca.
Tak sampai 10 menit, Yusuf akhirnya terlelap dan dengan hati-hati Adi mengangkat tubuh buah hatinya. kemudian meletakkan sang buah hati ke dalam ranjang bayi.
Setelah dirasa aman, Adi mengajak istri kecilnya untuk berwudu sebelum tidur.
Caca yang sudah memejamkan matanya, tak sanggup lagi untuk berjalan ke kamar mandi dan Adi berinisiatif menggendong istrinya menuju kamar mandi.
“Mas,” ucap Caca terkejut karena tiba-tiba saja Adi telah menggendongnya.
Tadi katanya sudah tidak bisa melek, maka dari itu mas berinisiatif menggendong Caca untuk bisa pergi ke kamar mandi mengambil air wudhu,” terang Adi Seraya berjalan keluar kamar dengan masih menggendong Caca.
“Mas, Bagaimana kalau ibu melihat kita?” tanya Caca dengan berbisik.
“Ya mau bagaimana lagi? kalau sudah dilihat ya sudah,” jawab adi yang terdengar sangat santai di telinga Caca.
“Mas, cepat turunkan Caca!” minta Caca meminta sang suami untuk segera menurunkan dirinya dari gendongan sang suami tercinta.
Adi tertawa kecil dan enggan untuk menurunkan sang istri.
Tanpa aba-aba, Ibu Puspita ternyata keluar dari kamarnya dan melihat adegan tersebut.
Mereka bertiga saling tatap menatap syok.
“Caca bilang juga Apa Mas,” celetuk Caca dan saat itu juga Adi menurunkan istri kecilnya.
Ibu Puspita hanya geleng-geleng kepala dan kembali masuk ke dalam kamar tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Caca sangat malu karena Ibu mertuanya melihat adegan tersebut. tanpa pikir panjang lagi, Caca berlari masuk ke dalam kamar mandi untuk segera mengambil air wudhu dan bergegas tidur.
Tersenyum kecil dan berlari menyusul istrinya yang sudah berada di dalam kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
__ADS_1
Setelah mengambil air wudhu, Mereka pun bergegas masuk ke dalam kamar untuk segera beristirahat menyiapkan tenaga untuk besok pagi.