
Selesai sarapan, Adi memutuskan untuk mencuci peralatan makan yang sebelumnya telah ia dan istri gunakan.
“Sini biar Caca saja,” ucap Caca.
Adi menoleh sekilas ke arah Caca dan menolak keinginan Caca itu.
“Caca lebih baik belajar dan masalah cuci piring biar Mas saja,” balas Adi menolak keinginan Caca.
“Mas kok gitu sih? Caca juga mau mencuci piring, kenapa lagi-lagi Caca di suruh belajar?” tanya Caca yang protes dengan sikap suaminya yang selalu saja menyuruhnya untuk belajar.
“Ya sudah, cucilah semua ini dan jangan sampai meninggalkan noda sedikitpun,” ujar Adi dan mempersilakan Caca mencuci alat makan yang kotor itu.
Gadis itu tersenyum sinis dan duduk di sebuah kursi kecil karena ia harus mencuci alat makan yang kotor itu dengan cara duduk.
“Mas ngapain masih di sini?” tanya Caca yang belum juga menyentuh piring di bak berukuran sedang berwarna hitam.
“Mas akan tetap di sini sampai Caca selesai,” jawab Adi.
Haduh, bagaimana ini? Aku belum pernah mencuci piring sebelumnya. (Batin Caca) 😞
Adi tersenyum kecil melihat raut wajah kebingungan istrinya.
“Kenapa diam saja? Cepat selesaikan!” perintah Adi mendesak Caca untuk segera melakukan pekerjaan mencuci piring.
“Sabar, Caca juga sebentar lagi akan melakukannya,” balas Caca.
Caca menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan. Kemudian, Caca mengambil piring dan menggosokkan spon ke tubuh piring.
Tyaaarrrr!!! Piring di tangannya tak sengaja terlepas dan pecah seketika itu juga.
“Caca!” Adi segera membawa Caca menjauh dari pecahan piring.
Gadis itu tentu saja panik sekaligus syok, ia tidak menyangka bahwa piring di tangannya terlepas hingga pecah tak berbentuk.
“Caca sungguh tidak sengaja, Mas. Masalah piring itu biar Caca ganti ya,” ucap Caca merasa bersalah karena sudah memecahkan piring milik suaminya.
“Untuk apa kamu ganti? Kalau pecah ya sudah, yang penting kamu tidak terluka. Lain kali, kalau dibilangin Mas jangan membantah ya,” tutur Adi.
Caca akhrinya mengiyakan dengan patuh apa yang suaminya katakan.
“Bagus. Sekarang lebih baik Caca masuk ke dalam dan belajar!” perintah Adi.
“Lalu, bagaimana dengan pecahan piring itu?” tanya Caca kebingungan.
__ADS_1
“Kamu tidak perlu memikirkannya, sekarang masuklah ke kamar!” perintah Adi.
“Baik,” balas Caca singkat dan berlari kecil masuk ke dalam kamar.
***
Malam hari.
Udara di malam hari sangat dingin, bahkan selimut yang Caca gunakan sama sekali tidak bisa menghangatkan tubuhnya. Di tambah lagi suara gemuruh yang menandakan akan datangnya turun hujan.
“Mas Adi, cepat naik ke kasur! Apakah Mas akan terus di situ? Cepatlah kemari!” panggil Caca pada Adi yang sedang sibuk dengan buku besarnya.
“Iya, sebentar lagi. Mas harus menyelesaikan tugas-tugas ini untuk hari Senin,” jawab Adi.
Caca yang penasaran akhirnya datang mendekat pada suaminya.
“Ini semua data-data apa, Mas?” tanya Caca duduk di pangkuan suaminya.
“Caca, Mas sedang sibuk dan tidak sopan jika Caca berada di pangkuan Mas seperti ini,” ujar Adi sambil menggeser tubuh Caca agar duduk di sampingnya.
“Terserah Mas saja, kalau begitu Caca akan tidur duluan,” balas Caca ketus.
Di saat yang bersamaan, Mama Ismia menangis di kamar. Wanita berusia 40 tahun itu merindukan putri semata wayangnya yang telah bersuami dan tidak lagi tinggal di rumah mewah itu.
“Papa apa tidak mengerti perasaan seorang Ibu? Meskipun putri kita sudah menikah, tetap saja Caca putri kita,” balas Papa Rio.
“Besok hari ahad, bagaimana kalau kita berkunjung ke rumah mereka?” tanya Mama Ismia penuh harap.
“Papa tidak bisa pergi menemui mereka,” jawab Papa Rio sambil melirik ke arah kalender kecil di atas nakas.
“Kenapa memangnya? Papa sudah tidak sayang lagi dengan putri kita?”
“Besok Papa ada urusan bisnis di Bali. Kemungkinan, dua minggu Papa akan berada di sana,” terang Papa Rio sambil memperlihatkan isi pesan grup di ponselnya.
Sebagai seorang istri, tentu saja Mama Ismia tidak terkejut dengan jadwal padat suaminya. Terlebih lagi, mereka berdua adalah pengusaha yang cukup terkenal.
“Kenapa Papa baru bilang sekarang? Ya sudah Mama siapkan semua keperluan Papa ya,” ujar Mama Ismia.
Mama Ismia seketika itu melupakan kesedihannya sementara waktu, memfokuskan diri mengurusi semua keperluan suaminya yang akan pergi ke luar kota.
Papa Rio sangat mengerti istrinya yang saat itu tengah bersedih dan tanpa pikir panjang, Papa Rio mengirim pesan kepada menantunya untuk datang ke rumah besok pagi. Sebelum Papa Rio melakukan perjalanan bisnis ke Bali.
***
__ADS_1
Caca tertidur pulas sembari memeluk guling, sementara Adi masih terjaga karena masih ada beberapa data murid yang belum selesai ia salin.
Ddddrrrrtttt! Suara getaran ponsel milik Adi.
Adi berpikir bahwa pesan itu adalah pesan iseng dan tak ada niatan untuk melihat isi pesan tersebut. Sampai akhirnya Caca bangun karena tak sengaja mendengar getaran ponsel milik suaminya.
“Ini sudah malam, siapa yang mengirim pesan malam-malam begini?” tanya Caca curiga.
“Kamu kenapa melihat Mas seperti curiga begitu?” tanya Adi datar.
“Coba lihat!” pinta Caca sambil mengulurkan tangannya meminta ponsel suaminya.
Adi dengan santai memberikan ponsel miliknya kepada Caca yang masih dalam posisi berbaring.
“Mas, besok kita ke rumah Caca ya!” pinta Caca setelah membaca isi pesan yang ternyata dari Papa Rio. Memberitahu dirinya bahwa Mama sangat merindukan dirinya.
Adi mengiyakan permintaan Caca tanpa bertanya apapun.
“Kok Mas mengiyakan tanpa bertanya alasan Caca ingin ke rumah?” tanya Caca penasaran sambil meletakkan ponsel suaminya di atas meja.
“Kenapa harus menanyakan alasan segala? Bukankah sangat wajar jika Caca mau pulang?” tanya Adi.
Caca mengangguk kecil dan meminta suaminya untuk segera datang padanya.
“Mas, cepat naik kasur. Caca itu ingin tidur sambil dipeluk!” pinta Caca manja.
“Bukankah tadi Caca sudah bisa tidur dengan memeluk guling?”
“Kalau yang ini kenapa harus banyak tanya? Cepat ke sini!” pinta Caca.
Berhubung Adi sudah selesai dengan tugasnya, tanpa pikir panjang pria 28 tahun itu akhirnya naik ke tempat tidur. Caca dengan semangat mendekat dan mendekap suaminya dengan erat.
“Mas, Papa besok pagi berangkat ke Bali. Mama pasti kesepian di rumah. Bagaimana kalau kita besok menginap saja?”
“Boleh. Lagipula lusa sudah hari senin,” jawab Adi.
Caca tersenyum kecil dan mengarahkan tangan suaminya ke pinggang.
“Mas harus terbiasa tidur dengan memeluk Caca,” ujar Caca dan dengan genit mengedipkan sebelah matanya.
Adi mengernyitkan keningnya dengan tangan yang memeluk pinggang Caca.
“Selamat tidur,” ucap Caca yang ingin segera tidur di pelukan Adi.
__ADS_1