
Adi buru-buru bangkit dari tubuh Caca untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Sementara Caca, masih dengan posisi terlentang karena bingung harus menjelaskan apa kepada orang tuanya.
Saat Adi ingin mencoba menjelaskan, Papa Rio sudah bersiap untuk menghajar habis Adi. Untungnya saja, Mama Ismia lebih dulu menghentikan Papa Rio yang ingin memberi pelajaran kepada Adi Hidayatullah.
“Papa yang sabar, kita sekarang fokus kepada Caca,” ucap Mama Ismia.
Ketika Papa Rio sudah mulai tenang, barulah Mama Ismia berlari menghampiri Caca yang masih dalam posisi terlentang.
“Mama...” Caca menangis dan memeluk Mamanya dengan sangat erat.
Sebagai Kepala sekolah, Hanung meminta mereka untuk segera meninggalkan gudang tersebut dan membahas permasalahan tersebut di Ruang Guru.
Setibanya di Ruang Guru, Papa Rio meminta penjelasan yang jujur mengenai Adi dan juga putri kesayangannya, Caca Lestari.
“Sebagai seorang Guru, saya ingin kamu menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi!” pinta Papa Rio.
“Papa, biar Caca saja yang jelaskan,” sahut Caca pada Papanya.
“Diam Caca. Papa tidak bicara sama kamu, lebih baik kamu diam saja. Papa ingin mendengarkan laki-laki ini,” tegas Papa Rio yang nampak sangat marah.
“Saya akan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dengan sangat jujur. Akan tetapi, saya memohon untuk Pak Hanung serta Pak Tyo untuk memberikan ruang agar saya bisa berbicara dengan orang tua Caca,” ucap Adi karena ia merasa bahwa yang perlu tahu secara detail adalah orang tua dari Caca itu sendiri.
Kepala sekolah dan penjaga sekolah mengiyakan keinginan Adi untuk berbicara dengan orang tua dari Caca.
“Sekarang ceritakan!” perintah Papa Rio.
Adi menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan. Kemudian, menjelaskan dengan perlahan namun detail mengapa ia dan Caca bisa terperangkap di Gudang hingga ada kejadian yang sebelumnya telah mereka saksikan.
Adi menjelaskan dengan detail bahkan ketika ia tak sengaja menyentuh bagian sensitif milik Caca.
Caca terkejut dan sama sekali tidak tahu mengenai hal itu.
Mama Ismia dan Papa Rio juga sangat terkejut. Mereka saling bertatapan dengan sangat serius.
“Kalian berdua harus menikah,” ucap Mama Ismia yang merasa bahwa mereka haruslah menikah. Terlebih lagi, Adi secara tidak langsung mendapatkan keuntungan dari kejadian di gudang sekolah itu.
Papa Rio pun setuju dengan ucapan istrinya karena tidak mungkin kejadian itu mereka lupakan begitu saja.
“Sebagai laki-laki, kamu harus bertanggung jawab dengan putri saya,” tegas Papa Rio.
Rio tidak ingin harga diri putrinya turun karena insiden tersebut.
“Bagaimana?” tanya Rio dengan tatapan tegasnya.
Adi berpikir keras mengenai hal itu dan pada akhirnya Adi mengiyakan hal itu.
“Sebagai seorang laki-laki, saya akan bertanggung jawab menikahi Caca,” jawab Adi tegas.
__ADS_1
Caca tersenyum kecil karena Guru olahraganya akan menjadi suaminya.
“Kamu memang lelaki yang bertanggung jawab,” puji Papa Rio sembari menepuk pundak calon menantunya.
Papa Rio kemudian meminta dengan serius agar Adi secepatnya datang membawa kedua orang tuanya mengenai masalah pernikahan.
“Besok pagi saya dan orang tua saya akan datang untuk membahas mengenai pernikahan,” ujar Adi.
Adi sama sekali tidak menyesal dengan keputusan. Karena ia memang harus bertanggung jawab dan membersihkan harga diri Caca Lestari.
Karena masalah sudah selesai, Caca pun pulang bersama keduanya orang tuanya.
****
Sesampainya di rumah, Papan Rio meminta Caca untuk duduk di ruang keluarga untuk membahas masalah di gudang sekolah.
Caca mengiyakan dan bergegas menuju ruang keluarga.
“Papa mau bicara serius dengan Caca, Papa harap Caca berkata jujur!” pinta Papa Rio.
“Caca sama sekali tidak pernah bohong pada Papa, karena dari kecil Mama dan Papa mendidik Caca untuk selalu jujur,” tandas Caca.
Mama dan Papa saling mengangguk mendengar apa yang putri mereka katakan.
“Caca menyukai Guru olahraga itu?” tanya Papa Rio penasaran.
“Cukup. Hanya itu yang ingin Papa tanyakan sama kamu, Nak. Papa juga tidak ingin nama keluarga kita tercoreng gara-gara masalah kalian berdua,” pungkas Papa Rio.
Papa Rio meminta Mama Ismia untuk mengantarkan Caca ke kamarnya.
Setibanya di kamar, Caca memeluk Mama Ismia dan meminta maaf atas apa yang telah terjadi.
Sebagai seorang Ibu, Mama Ismia sama sekali tidak marah kepada putrinya karena hal itu. Lagipula, Adi bersedia bertanggung jawab dengan menikahi putri tunggal kesayangannya.
“Caca sekarang mandi dan setelah itu kita makan bersama,” ucap Mama Ismia sembari menyentuh rambut Caca dengan penuh kasih sayang.
Di sisi lain.
“Assalamu'alaikum,” ucap Adi sebelum masuk ke dalam rumah.
“Wa’alaikumsalam, Ya Allah Adi. Kamu dari mana saja? Kenapa baru pulang?” tanya Ibu Puspita, Ibu dari Adi Hidayatullah.
“Maaf Bu, Adi pulang terlambat karena ada sesuatu yang telah terjadi. Ayah mana Bu? Ada yang ingin Adi sampaikan kepada Ayah dan juga Ibu,” ujar Adi.
“Ayah masih di rumah Pak RT, mungkin sebentar lagi Ayahmu pulang,” jawab Ibu Puspita.
“Adi ke kamar dulu Bu, kalau Ayah sudah pulang tolong panggil Adi di kamar,” ucap Adi dan melenggang pergi menuju kamar.
__ADS_1
Ibu Puspita merasa ada sesuatu hal yang cukup serius.
“Adi tidak biasanya seperti ini. Sebenarnya apa yang telah terjadi?” gumam Ibu Puspita.
Tak berselang lama, Ayah Faizal pulang.
“Assalamualaikum, Adi sudah pulang?” tanya Ayah Faizal pada istrinya.
“Wa'alaikumussalam, alhamdulillah sudah. Tapi, ada yang aneh dengan Adi,” ujar Ibu Puspita.
“Aneh yang bagaimana, Bu?” tanya Ayah Faizal.
“Sebentar, Ibu panggilkan dulu Adi karena katanya ada yang ingin Adi sampaikan kepada kita,” balas Ibu Puspita.
Ibu Puspita bergegas menghampiri Adi yang saat itu tengah berada di kamar.
“Adi, Ayahmu sudah pulang dan sedang menunggu kamu di ruang tamu,” ujar Ibu Puspita.
Adi pun membuka pintu kamarnya dan berjalan menuju ruang tamu sembari menggandeng tangan Ibunya.
Mereka bertiga akhirnya duduk berkumpul di ruang tamu.
“Ayah, Ibu. Adi akan menikah,” ucap Adi berterus terang.
Mendengar Adi yang ingin menikah, kedua orang tuanya sangat kaget. Karena yang mereka tahu, Adi belum pernah memiliki kekasih. Bahkan berpacaran pun Adi belum pernah.
“Apa Ayah dan Ibu tidak salah dengar, Nak? Kamu mau menikah dengan siapa?” tanya Ayah Faizal.
“Siapa wanita yang ingin kamu nikahi, Adi? Kenapa mendadak seperti ini?” tanya Ibu Puspita.
“Dia adalah murid di sekolah tempat Adi mengajar,” jawab Adi.
“Apa? Kamu tidak mungkin menghamili murid mu sendiri, kan?” tanya Ayah Faizal yang nampak panik.
Adi pun menjelaskan apa yang terjadi dan sebagai seorang pria dirinya harus bertanggung jawab. Walaupun, ia dan Caca tidak melakukan hal ke arah maksiat.
Ayah dan Ibu nampak syok mendengar penjelasan dari putra mereka. Akan tetapi, Adi kembali menyakinkan kedua orang tuanya untuk menikahi Caca.
Setelah memikirkan hal tersebut, Ayah dan Ibu akhirnya setuju. Mereka juga tidak ingin bila Caca dianggap sebagai wanita kurang baik.
“Jadi, kapan kita pergi ke orang tua Caca?” tanya Ayah Faizal.
“Adi ingin secepatnya, Ayah. Besok kita akan ke sana untuk melamar Caca,” terang Adi.
“Nak, sebenarnya besok itu terlalu cepat. Kami tidak memiliki cukup uang,” ucap Ayah Faizal.
Adi bisa memaklumi apa yang dikatakan oleh Ayah Faizal,karena memang mereka terlahir dari keluarga yang sangat pas-pasan. Untungnya, Adi memiliki tabungan untuk acara pernikahannya dengan Caca.
__ADS_1
“Ayah dan Ibu tidak perlu khawatir masalah uang. Adi memiliki tabungan yang InsyaAllah cukup untuk acara pernikahan dan juga kehidupan kami setelah menikah,” pungkas Adi.