Istri Centil Mas Adi

Istri Centil Mas Adi
Syukuran


__ADS_3

Beberapa Bulan Kemudian.


Caca dengan semangat menghampiri suaminya yang sedang mengamati warung mereka yang hampir jadi. Warung yang sekitar 3 bulan lalu dibakar oleh salah satu tetangga yang iri serta dendam karena Adi dan Caca membangun warung untuk berjualan.


“Yusuf sudah tidur?” tanya Adi pada istri kecilnya.


“Alhamdulillah sudah, Mas. Kekenyangan menyusu dan akhirnya tidur,” jawab Caca.


Adi menyentuh pipi Caca dan merapikan poni pendek Sang istri yang sedikit berantakan.


“Caca sayang, sebaiknya masuk saja ke dalam rumah. Lihatlah matahari hari ini sangat panas,” tutur Adi meminta Caca untuk masuk ke dalam rumah.


“Mas, habis isya nanti syukuran di rumah. Kira-kira yang datang banyak tidak ya?” tanya Caca penasaran.


“InshaAllah ramai, semakin banyak orang yang datang semakin banyak keberkahan yang kita dapatkan,” jawab Adi sembari merangkul pinggang istri kecilnya menuju rumah.


Ibu Puspita keluar rumah dengan membawa es kelapa muda untuk para tukang yang sedang mengecat tembok warung.


“Biar Adi saja yang memanggil mereka,” ucap Adi pada Ibu Puspita.


Adi berlari kecil menghampiri para tukang yang tengah mengecat tembok warung.


“Kang, ayo istirahat dulu. Mari minum yang segar-segar!” ajak Adi.


Mereka bertiga mengiyakan ajakan Adi dan bergegas berjalan menuju teras rumah.


Adi dan Caca saling tukar pandang serta saling melempar senyum satu sama lain.


“Ehemm..” Ibu Puspita berdehem sengaja mengganggu kemesraan Adi dan juga Caca.


Adi dan Caca tersenyum malu-malu karena gangguan dari Ibu Puspita.


Ayah Faizal datang dengan nomornya yang telah usang. Motor yang sudah menjadi legenda ketika dirinya masih muda.


“Assalamu'alaikum,” ucap Ayah Faizal sambil meletakkan buah duku yang ia beli ketika dalam perjalanan pulang menuju rumah kontrakan.


“Wa'alaikumsalam,” balas mereka.


Ayah Faizal dengan langkah besar masuk ke dalam kamar. Kemudian, ia duduk di kursi ruang tamu untuk mengatur napasnya yang terengah-engah.


“Ayah sudah minum obat?” tanya Adi sambil mendaratkan bokongnya disamping Ayah Faizal.


“Sudah Adi, Ayah tadi sudah minum obat. Tapi, dada Ayah masih saja sesak,” jawab Ayah Faizal.


“Apa kita ke dokter lagi untuk memeriksa kondisi Ayah?” tanya Adi khawatir.


“Tidak perlu, besok pasti sudah sembuh,” balas Ayah Faizal yang enggan pergi ke dokter untuk kembali berobat.


Caca menatap sedih Ayah mertuanya yang sudah sakit hampir 1 minggu. Caca berharap Ayah mertua bisa segera sembuh dari sakitnya.


“Nak Caca, bagaimana keperluan yang lain. Apakah sudah siap? Perlu Ayah bantu?” tanya Ayah Faizal yang berdiri ditengah pintu.


“Semuanya sudah siap, Ayah. Tinggal menunggu makanan dari Mama dan Papa,” jawab Caca.


Ibu Puspita menggandeng tangan Caca, mengajak Caca untuk duduk bersama.


“Warung kalian sebentar lagi siap, bagaimana kalau Ibu membantu kalian berjualan? Maksudnya, sekalian Ibu bisa dekat dengan Yusuf,” tutur Ibu Puspita yang tak bisa jauh dari Cucu kesayangannya.


“Ibu, bukannya Caca tidak senang dengan keinginan Ibu membantu kami. Akan tetapi, Caca tidak ingin membuat Ibu kelelahan. Belum lagi Ibu harus bolak-balik dari rumah ke sini,” terang Caca.

__ADS_1


“Kami tidak ingin merepotkan Ibu dan juga Ayah. Di usia Ibu dan Ayah sekarang, seharusnya beristirahat.”


Ibu Puspita menunduk sedih, ia sama sekali tidak merasa direpotkan. Justru, dengannya membantu Adi dan Caca, ia tidak kesepian di rumah.


“Ibu jangan sedih, baiklah kalau Ibu maunya begitu. Tapi, kalau Ibu merasa lelah dan ingin istirahat, jangan sungkan untuk bicara pada Caca maupun Mas Adi,” tutur Caca sambil mengelus punggung Ibu mertuanya.


Ibu Puspita mengangkat kepalanya menoleh ke arah putranya, Adi Hidayatullah.


Adi tersenyum seraya mengangguk pelan, menyetujui keinginan Ibunya tercinta.


****


Malam Hari.


Ibu Puspita dan Mama Ismia tengah sibuk di dapur, mereka berdua sedang membuat teh dan juga kopi untuk orang-orang yang datang ke rumah.


“Mbak, kopinya manis atau bagaimana?” tanya Mama Ismia.


“Sedang saja, Mbak. Tidak terlalu manis dan juga tidak terlalu hambar,” jawab Ibu Puspita yang mendapat bagian membuat teh.


Adi datang menghampiri Ibu Puspita dan Mama Ismia.


“Ibu, Mama. Teh dan kopi sudah jadi?” tanya Adi yang ingin segera menyuguhkan minuman tersebut kepada para tetangga.


“Sudah jadi,” jawab Ibu Puspita.


“Sebentar,” tutur Mama Ismia yang tiba-tiba panik karena kopi yang ia rasakan sama sekali tidak ada rasa manis, padahal ia sudah mencampurkan gula ke dalam kopi cukup banyak.


“Mbak Ismia, bagaimana kalau saya mencicipi kopi ini?” tanya Ibu Puspita.


“Silakan, Mbak Puspita. Maklum, saya sedikit flu. Indera perasa dan penciuman saya berkurang,” balas Mama Ismia.


Ibu Puspita tersenyum setelah mencicipi kopi yang besannya buat.


Mama Ismia bernapas lega dan tak lupa mengucapkan Terima kasih atas bantuannya besannya itu,


Adi tersenyum lebar dan bergegas membawa tekok teh serta kopi untuk disuguhkan ke orang-orang yang menghadiri acara syukuran tersebut.


Syukuran yang diadakan di rumah kontrakan adalah syukuran atas usia 3 bulan bayi Yusuf serta pembukaan warung yang kemungkinan mulai dibuka pada hari Jum'at, lebih tepatnya 3 Hari kemudian.


“Silakan dinikmati,” ucap Adi dan memilih duduk diantara Ayah Faizal serta Papa Rio.


“Mas Adi, adik bayinya mana?” tanya salah satu tetangga yang ikut menghadiri acara syukuran tersebut.


“Ada di dalam, Pak Tono. Sedang timur, maklum mulai rewel dengan bertambahnya usia,” jawab Adi.


“Wah, justru itu menandakan bahwa adik bayi mau pintar,” sahut Pak Tono.


“Amiin!” seru mereka mengaminkan ucapan Pak Tono.


Di dalam kamar, Caca sedang memandangi wajah bayinya dengan pipi Chubby yang menggemaskan.


“Kesayangan Bunda minum susunya banyak ya? Lihat nih pipi, mau disembunyikan di mana lagi?” tanya Caca pada bayinya yang cukup gembul untuk usia 3 bulan.


Caca menghela napasnya dan beranjak dari tempat tidur untuk melihat kalender.


“Ternyata puasa sebentar lagi, jadi tidak sabar puasa di sini. Kira-kira aku kuat tidak ya berpuasa tahun ini?” gumam Caca.


Adi masuk ke dalam kamar dengan membawa teh hangat serta lemper yang istri kecilnya inginkan.

__ADS_1


“Mas kok sudah di sini? Kenapa tidak menunggu acara syukuran sampai selesai?” tanya Caca sambil menerima nampan berisi secangkir teh serta beberapa lemper favoritnya.


“Mas hanya mengantarkan ini saja, lagian Mas tidak ingin sampai Caca kelaparan di kamar,” sahut Adi.


“Cie... Perhatian banget deh sama istrinya,” ucap Caca.


“Tentu saja harus perhatian dengan Caca, biar hubungan kita semakin awet,” pungkas Adi.


Caca tersenyum malu-malu dan reflek memukul dada suaminya berkali-kali.


“Caca sayang, rasanya cukup sakit loh,” tutur Adi sambil menyilangkan dadanya agar tidak kembali dipukul oleh Caca.


“Begitu saja sakit? Mas tidak merasakan bagaimana sakitnya melahirkan? Belum lagi ****** Caca sakit akibat dari seringnya menyusui Yusuf,” terang Caca dengan memasang raut wajah penuh kesakitan.


“Sayang, Mas hanya bercanda. Jangan dianggap serius.”


Caca tersenyum lebar dan tiba-tiba saja tangannya menyentuh sosis milik suaminya.


“Oopss... Caca tidak sengaja,” ucap Caca dengan tampang tanpa rasa bersalah sedikitpun.


Adi hanya bisa bersabar, dikarenakan istrinya sedang datang bulan.


“Lihat saja, tunggu pembalasan dari Mas. Mas akan memastikan bahwa Caca tidak akan bisa kemana-mana,” ujar Adi dan berlari secepat mungkin keluar dari kamar.


Caca tertawa kecil mendengar ucapan suaminya yang ingin membalas dendam atas apa yang telah ia lakukan.


“Dasar suami mesum. Eit, kalau suamiku mesum itu artinya aku juga mesum dong?”


1 Jam Kemudian.


Acara syukuran yang dihadiri oleh para tetangga akhirnya selesai juga. Adi, Caca serta orang tua berharap dengan diadakannya syukuran mereka semua terhindar dari aura negatif.


“Sayang, Mama dan Papa tidak bisa menginap. Maafkan kami ya sayang,” tutur Mama Ismia seraya memeluk putri kesayangannya.


“Iya Mama, Caca paham kok. Mama dan Papa hati-hati di jalan, jangan lupa juga untuk memberitahu Caca setibanya di rumah!” pinta Caca.


“Siap kesayangannya Mama dan Papa!” seru Mama Ismia.


Tak sampai 5 menit, akhirnya Mama dan Papa pulang ke rumah.


“Oek... Oek... Oek...” Bayi Yusuf kembali menangis, Caca pun berlari secepat mungkin untuk menenangkan bayi gembul nya.


“Ayah, Ibu! Adi mau ke kamar, mau istirahat dulu,” ujar Adi pada kedua orang tuanya yang sedang duduk di kursi teras depan rumah.


Ibu Puspita dan Ayah Faizal sedang memperhatikan warung yang sebentar lagi akan diisi dengan berbagai macam kebutuhan dapur. Tidak hanya kebutuhan dapur saja, Adi dan Caca juga berniat untuk menjual bahan-bahan kue.


“Ayah, semoga saja kedepannya tidak ada halangan untuk mereka berdua,” tutur Ibu Puspita.


“Aamiin, Allah selalu menyertai mereka berdua,” balas Ayah Faizal.


“Lebih tepatnya kita semua,” sahut Ibu Puspita membetulkan perkataan suaminya agar mencakup semuanya.


“Aamiin Allahumma Aamiin,” pungkas Ayah Faizal.


Karena udara malam yang sangat dingin serta tulang tua yang tak sanggup lagi menahan udara dingin tersebut, membuat Ibu Puspita tiba-tiba saja menggigil.


“Ibu menggigil lagi, ayo kita masuk saja. Sudah waktunya beristirahat,” tutur Ayah Faizal sembari menggandeng tangan Ibu Puspita untuk segera masuk ke dalam rumah.


Ibu Puspita tersenyum malu karena perlakuan manis suaminya yang muncul dengan tiba-tiba.

__ADS_1


“Kok kita terlihat seperti Adi dan Caca ya?” tanya Ibu Puspita.


Ayah Faizal tertawa lepas mendengar pertanyaan konyol istrinya.


__ADS_2