
Adi reflek membungkam mulut Caca dengan tangannya dan kejadian itu di lihat langsung oleh Intan.
Intan tertegun sejenak sebelum berlari menghampiri Caca dan Adi.
“Pak Adi!” Intan nampak cemburu melihat bagaimana seorang siswi dekat dengan Pria yang ia suka.
Wiwin pun ke luar dari kelas untuk melihat apa yang terjadi. Untungnya saja, Adi telah bangkit bersiap-siap masuk ke kelas 12 IPS 1.
“Caca, kamu kenapa? Sekarang masuk ke dalam dan jangan pernah mengulangi kesalahan seperti tadi,” tutur Wiwik.
Caca mengiyakan dan kembali masuk ke dalam kelas.
“Pak Adi,” ucap Wiwik menyapa Adi.
“Permisi, Bu Wiwik,” balas Adi dan melenggang pergi menuju IPS 1.
Caca masuk ke dalam kelas dan bertingkah seperti biasanya. Justru, Caca terlihat sangat bahagia karena Adi menyentuh mulutnya.
“Caca, itu tadi Pak Adi?” tanya Lia penasaran karena melihat dari jendela kelas.
“Ssuuttss.. Nanti saja kita bahas, aku harus fokus dengan pelajarannya Bu Wiwik,” jawab Caca dengan berbisik.
Selesai pelajaran Sosiologi, datanglah Guru Bahasa Indonesia, yaitu Pramono.
Pramono sendiri Guru yang cukup Humoris ketika sedang mengajar dan membuat para murid tidak jenuh jika Pramono yang mengajar di kelas.
“Si sipit yang cantik, ayo maju ke depan dan ceritakan pengalaman pertama ketika bertemu lawan jenis yang kamu suka!” pinta Pramono yang memanggil Ling-ling, salah satu murid keturunan Chindo.
Ling-ling dengan semangat maju ke depan dan menceritakan pengalaman pertamanya ketika tertarik dengan lawan jenis.
Caca dan teman yang lainnya tertawa geli ketika mendengar curahan hati Ling-ling, gadis bermata sipit yang cantik itu.
“Terima kasih Ling-ling cantik, sekarang Leonardo maju dan ceritakan versi kamu!” pinta Pramono.
Leo merapikan rambutnya sebelum maju ke depan dan tersenyum kecil ke arah Caca.
“Hai Guys, aku mau sedikit cerita tentang cinta pertama ku dan dia ada di kelas ini,” ucap Leo yang tidak berhenti menatap Caca.
Mendengar ucapan Leo, seketika itu mereka mengarahkan pandangan ke Caca.
“Oh No. Apa mungkin Leo ingin menebak Caca?” tanya Kevin teman sebangku Leo.
Caca merasa tak nyaman dan meminta izin kepada Guru untuk ke toilet.
“Pak, saya permisi ke toilet,” ucap Caca sengaja menghindar.
Caca memang kurang peka, akan tetapi melihat tatapan Leo membuat Caca bergidik ngeri. Caca sama sekali tidak menyukai Leo karena menurut Caca, Leo hanya teman sekelas yang baik sekaligus pintar.
__ADS_1
“Loh, kenapa aku malah ke sini?” tanya Caca terheran-heran karena kakinya membawa dirinya ke depan ruang Guru.
Caca tak bisa menyia-yiakan kesempatan yang ada, siswi kelas 12 itu mengintip Ruang Guru untuk melihat apakah Adi ada ruangan itu atau tidak.
“Kok tidak ada ya?” Caca bertanya-tanya mengenai Adi yang tidak ada di Ruang Guru.
“Cari siapa?” Tiba-tiba saja Adi sudah berada tepat di belakang Caca.
Siswi itu tertangkap basah dan segera berbalik menghadap Pria tampan incaran para Guru muda serta siswi di sekolah.
“Cari Pak Adi, memangnya siapa lagi?” tanya Caca.
“Ini masih jam kelas, kenapa malah di sini. Cepat masuk kelas!”
Caca tersenyum manis dan memasang wajah imutnya yang membuat Adi tertegun.
“Caca imut, 'kan?” tanya Caca sambil menahan tawanya ketika melihat Adi tertegun sejenak.
“Caca cantik, sana masuk kelas!” perintah Adi.
Gadis itu memukul lengan Adi dengan sedikit manja.
“Calon suami sekarang genit ya,” tutur Caca dan berlari kecil untuk kembali ke kelas.
****
Meskipun hujan, satu-persatu para murid pulang dengan modal nekat.
“Ini sedang hujan, seharusnya mereka tetap di sekolah,” ucap Caca.
“Caca, aku duluan ya. Papaku sudah menungguku di depan,” tutur Lia.
“Aku juga ya Caca, Bye!”
Tinggal Caca dan tiga lainnya, termasuk Wuri yang berada di kelas itu.
Caca tak nyaman dengan cara Wuri melihatnya dan memutuskan untuk meninggalkan kelas.
Gadis itu melihat Adi yang sedang membawa sebuah kardus dan sedang menuju ke gudang belakang. Caca pun mengikuti Adi yang nampak kerepotan.
“Mau ke mana Pak Adi?” gumam Caca.
Caca terus mengikuti dan Adi masuk ke sebuah gudang, tempat biasa menaruh barang-barang/peralatan yang biasa digunakan untuk acara sekolah mereka.
Caca dengan santai mengikuti Adi masuk ke dalam dan ternyata Wuri mengikuti Caca dari belakang. Wuri sama sekali tidak tahu kalau Adi lebih dulu masuk ke dalam gudang tersebut.
“Lihat saja, apa kamu bisa ke luar dari gudang ini atau bermalam bersama hantu,” ucap Wuri dan mengunci gudang itu dari luar.
__ADS_1
Caca masih tak menyadari bahwa gudang itu telah di kunci, karena yang siswi SMA itu pikirkan adalah mengikuti Guru olahraganya masuk.
Senyum Caca merekah lebar manakala melihat dengan jelas bagaimana tegap nya tubuh Adi jika di perhatikan dari belakang.
“Guru olahraga memang lain daripada yang lain,” gumam Caca.
Adi masih belum menyadari kalau Caca ada di belakangnya, memperhatikan dirinya dengan sangat antusias.
“Hatttcchim!” Caca tiba-tiba bersin karena debu masuk ke dalam lubang hidungnya.
Adi terkejut dan berbalik badan mendengar suara bersin tersebut.
“Caca, kamu ngapain di sini?” tanya Adi terheran-heran.
“Caca sengaja ngikutin Pak Adi. Siapa tahu Pak Adi butuh bantuan Caca,” jawab Caca dan berjalan mendekat.
“Berhenti, kamu jangan ke sini. Di sini banyak debu!” perintah Adi.
Caca tak mengindahkan perintah Adi dan malam mendekat.
“Memangnya kenapa kalau banyak debu?” tanya Caca mendekat.
Adi hanya menghela napasnya dan kembali menyusun peralatan olahraga ke tempat semula.
“Pak Adi dan Bu Intan tidak pacaran, 'kan?” tanya Caca yang masih penasaran dengan hubungan Adi dan juga Intan.
“Kamu masih kecil, tidak pantas bertanya seperti itu sama Bapak,” jawab Adi.
“Apa susahnya sih menjawab pertanyaan Caca? Pak Adi tidak tahu rasa penasaran Caca itu membuat Caca tidak bisa tidur nyenyak,” terang Caca.
Adi mempercepat menyusun barang tersebut agar segera ke luar dari gudang.
“Pak Adi, kenapa diam saja?” tanya Caca sembari manarik-narik seragam milik Adi.
Duaaarrr! Suara kilatan petir yang sangat keras.
Caca berteriak dan reflek memeluk erat tubuh Guru olahraganya.
“Caca takut,” ucap Caca yang semakin erat memeluk tubuh Adi.
Adi mencoba melepaskan pelukan muridnya, akan tetapi Caca malah semakin erat memeluk dirinya.
“Caca, lepaskan Bapak! Kamu tidak boleh sembarangan memeluk orang,” ucap Adi.
Caca pun melepaskan pelukannya dan mundur selangkah ke belakang.
“Siapa juga yang sembarangan memeluk orang? Hanya Pak Adi yang Caca peluk, itupun karena suara petir tadi,” jawab Caca.
__ADS_1
Adi bergegas menuju pintu untuk segera ke luar dari gudang yang pengap itu.