Istri Centil Mas Adi

Istri Centil Mas Adi
Kesabaran Adi Hilang Karena Ulah Intan


__ADS_3

Keesokan Pagi.


Adi baru saja pulang dari pasar bersama istri kecilnya, mereka pagi-pagi buta sudah berbelanja di pasar untuk mengisi warung mereka agar semakin banyak.


“Mas lebih baik bersiap-siap, biar Caca saja yang menata barang-barang jualan kita,” ujar Caca.


“Caca sayang, biar ini bisa tugas Mas. Soal bersiap-siap, nanti saja,” balas Adi.


“Kalau begitu, kita sama-sama menata ya Mas. Supaya cepat selesai!” seru Caca.


Adi mengangkat karung beras dan meletakkannya di atas meja. Sementara Caca, menata sayur-mayur ke atas meja.


Beberapa tetangga yang lewat, pada akhirnya mampir karena Adi dan Caca berjualan sayur.


“Ternyata di sini jualan sayur juga, untung saja Ibu melihat sayur di sini. Kalau tidak, Ibu harus jauh-jauh ke pasar hanya untuk membeli sayur,” ucap seorang wanita sembari mengambil 2 ikat kangkung dan tahu putih yang sudah dibungkus.


Caca tersenyum senang sepagi itu sudah ada yang membeli jualan mereka.


“Berapa, Dek cantik?” tanya pembeli.


“Total semuanya, 9 ribu,” jawab Caca.


“9 ribu? Murah juga ternyata, nanti Ibu akan merekomendasikan jualan kalian sama Ibu-ibu yang lain,” balasnya dan memberikan uang pas kepada Caca.


Caca mengucapkan terima kasih kepada Ibu itu seraya tersenyum puas.


“Mas, baru buka saja sudah ada yang beli. Alhamdulillah ya Mas, untung saja kita mendapatkan rumah kontrakan di tempat yang strategis untuk berjualan,” tutur Caca.


“Alhamdulillah, Allah masih sangat sama kita,” balas Adi dan kembali menata barang belanjaan.


Tak berselang lama, mereka akhirnya selesai menata barang belanjaan.


“Ca, Mas ke kamar dulu ya mau ganti baju,” ucap Adi.


“Iya, Mas. Caca akan tetap di sini, menunggu pembeli,” sahut Caca dan duduk di kursi plastik seraya membuka catatan belanjaan yang ia beli di pasar.


Baru saja duduk, seorang pria tua datang bersama dengan cucunya.


“Mbak, ada gula?” tanya Bapak tua itu.


“Ada, Pak. Mau yang 1/4 kg atau yang 1/2 kg?” tanya Caca.


“1/2 kg saja, sama beras 1 kg,” jawabnya.


Caca dengan hati-hati mengambil gula dan menimbang beras seberat 1 kg.

__ADS_1


“Ini Pak barangnya,” ucap Caca seraya tersenyum ramah.


Adi yang masih di dalam kamar, tiba-tiba saja mendapatkan pesan dari Intan. Pesan yang berisikan bahwa Intan merindukan dirinya.


“Ada apa lagi dengan wanita ini?” tanya Adi yang cukup kesal dengan kelakuan Intan.


Adi sudah cukup bersabar dan sabar yang ia miliki akhirnya habis juga. Seketika itu juga, Adi memblokir nomor Intan agar tak bisa menghubunginya lagi.


“Ca, Mas berangkat dulu ya,” ucap Adi yang telah siap untuk pergi mengajar.


“Mas hati-hati ya di jalan dan jangan lupa kasih kabar kalau sudah sampai sekolah!” pinta Caca.


“Iya, Caca sayang. Mas berangkat, assalamu'alaikum!”


“Wa'alaikumsalam,” balas Caca dan mencium punggung tangan suaminya, lalu Adi mengecup kening Caca sebelum pergi.


Caca melambaikan tangannya seraya tersenyum pada Adi yang sudah pergi untuk mengajar.


***


Di Sekolah.


Adi buru-buru turun dari motor untuk segera masuk ke dalam Ruang Guru. Intan dari sisi kanan Adi mencoba menghentikan langkah Adi dengan cara memanggil Adi.


“Pak Adi! Pak Adi!” Intan terus memanggil Adi, namun Adi sama sekali tidak tidak menoleh padanya.


“Pak Adi, kenapa sih dipanggil kok tidak menoleh?” tanya Intan menghampiri Adi yang sudah duduk manis di kursi kerjanya.


Adi tetap diam dan fokus dengan tumpukan buku di mejanya.


“Pak Adi, saya itu sedang bertanya pada Bapak,” ucap Intan dengan nada tinggi.


Adi tidak bisa diam lagi, saat itu juga Adi bangkit dari duduknya seraya mengebrak mejanya.


Brak!!!!! Suara gebrakan meja yang cukup kencang, sampai semua Guru yang berada di ruangan itu melihat ke arah Adi.


“Jangan mencoba mendekati saya atau mencoba menggoda saya. Satu lagi, jangan pernah menghubungi saya dengan kata-kata yang sangat tidak penting. Kamu mengirim pesan yang istrinya merindukan saya? Di mana harga dirimu sebagai seorang wanita? Bukankah kamu sudah tahu saya sudah beristri?”


Seketika itu juga Para Guru menatap Intan dengan tatapan jijik. Bahkan, beberapa dari mereka senang melihat Adi memarahi Intan.


Setelah mengatakan kalimat itu, Adi memutuskan untuk pergi ke kelas di mana ia mengajar. Sementara Intan, terlihat bingung karena Adi dengan mudahnya mempermalukan dirinya.


“Bu Intan, tolong ya jangan coba-coba jadi pelakor,” celetuk Guru wanita.


Adi tak menyesal telah mengatakan hal itu di depan para Guru. Mungkin dengan cara seperti itu, Intan bisa segera sadar bahwa memaksakan diri untuk mendekatinya adalah kesalahan besar.

__ADS_1


Intan masih berada di ruang Guru, ia terlihat sedih karena Adi menolaknya sekaligus membuatnya malu. Intan bahkan tidak ingin mengajar karena terlalu malu dengan apa yang telah Adi Lakukan padanya.


***


Sore hari.


Caca tersenyum lebar karena dirinya sudah selesai mandi dan akan kembali berjualan. Pemasukan dari berjualan sejak pagi hingga sore cukup banyak. Hal itu, membuat Caca bersemangat untuk terus menghasilkan uang agar bisa cepat menabung.


“Mas Adi!” Caca berteriak penuh semangat sembari melambaikan tangannya pada Sang suami yang sudah terlihat dari kejauhan.


Adi akhirnya tiba di depan rumah dan buru-buru turun dari motor.


“Assalamu'alaikum, istri Mas yang cantik luar dalam,” ucap Adi memuji kecantikan Caca.


“Wa’alaikumsalam, Mas bisa saja. Bagaimana di sekolah hari ini, Mas?” tanya Caca dan mencium punggung tangan suaminya.


“Kita bicarakan di dalam saja, oh ya Mas tadi membeli ayam goreng untuk lauk makan kita,” tutur Adi sembari membuka tasnya dan memberikan ayam goreng yang ia bilang ketika hendak dalam perjalanan pulang.


“Alhamdulillah, terima kasih Mas Adi,” balas Caca.


Mereka berdua masuk ke dalam kamar dengan terus bergandengan tangan.


“Tadi Mas di sekolah sempat marah kepada Bu Intan,” tutur Adi yang akan menceritakan semuanya kepada Caca.


“Marah? Memangnya Mas kenapa bisa marah sama Bu Intan? Apa Bu Intan sudah sangat keterlaluan sama Mas?” tanya Caca seraya membantu suaminya melepaskan pakaian.


“Mas terlalu banyak bersabar kepada dia dan malah membuatnya menjadi tidak sopan,” jawab Adi yang sudah bertelanjang dada.


“Tidak sopan? Apa Bu Intan tiba-tiba saja memeluk atau mencium Mas?” tanya Caca dengan raut wajah kesal.


“Bukan, Ca. Dia mengirim pesan kepada Mas yang isinya sangat menggelikan untuk seorang Guru wanita,” terang Adi dan memperlihatkan isi pesan yang dikirim Intan kepadanya.


Caca membaca pesan tersebut dengan terkaget-kaget. Caca sungguh bingung dengan pemikiran Intan yang sangat berani menggoda suaminya.


“Bukankah Guru seharusnya bisa berpikir yang main yang baik dan mana yang tidak?” tanya Caca.


“Caca yang tenang, sebentar lagi wanita itu tidak akan bisa mengganggu Mas ataupun kamu,” pungkas Adi dan memeluk tubuh istrinya dengan perasaan tenang.


Hanya Caca obat segala obat yang bisa membuat suasana hatinya segera membaik.


“Mas jangan lama-lama ya peluk Caca, soalnya Mas belum mandi,” ucap Caca dan tertawa kecil.


Adi tersenyum lebar mendengar ucapan istrinya yang selalu saja bisa menghibur dirinya.


“Bau ya?” tanya Adi.

__ADS_1


“Kalau boleh jujur, bau banget!” seru Caca penuh semangat.


__ADS_2