
Malam Hari.
Caca terus saja menatap perutnya yang masih rata dan mencoba membayangkan bagaimana nanti perutnya membuncit seperti balon.
Adi mendekati istri kecilnya yang sangat serius menatap perut yang masih rata itu.
“Caca sayang, ada yang aneh di perut kamu?” tanya Adi penasaran.
“Caca penasaran Mas, kira-kira perut Caca bakal sebesar apa ya?” tanya Caca sambil terus menatap perutnya.
“Sayang, butuh waktu beberapa bulan lagi. Caca sabar ya, ayo sudah waktunya minum susu,” tutur Adi mengajak istri kecilnya ke dapur untuk segera minum susu khusus Ibu hamil.
Caca dengan semangat turun dari tempat tidur dan dengan santainya melompat kegirangan.
“Ayo bayi di perut, kita minum susu!” seru Caca melompat kegirangan dan berlari kecil menuju dapur.
Adi sangat takut dengan tingkah istrinya yang bukan seperti wanita yang sedang hamil.
Entah sudah berapa kali Adi memperingatkan istrinya untuk tidak banyak tingkah, akan tetapi Caca malah semakin tidak mau diam.
“Caca, jangan larian seperti tadi dong. Apalagi melompat-lompat begitu,” tutur Adi.
“Mas, itu terjadi secara tiba-tiba. Ya mau bagaimana lagi? Caca juga baik-baik saja,” jawab Caca yang sudah duduk cantik di kursi meja makan.
“Iya, Caca sayang. Tapi, dikurangi ya tingkah yang seperti tadi!” pinta Adi.
“Siap, Pak Guru!” seru Caca sambil mengangkat jari jempol tangannya.
“Kok Pak Guru? Suami dong,” sahut Adi.
Caca tertawa kecil melihat respon suaminya dan mencium pipi Sang suami agar tidak ngambek karena dipanggil Pak Guru.
“Jangan ngambek, Caca cuma bercanda,” ucap Caca dan kembali mencium pipi Adi.
Adi tersenyum sumringah karena mendapatkan ciuman cinta dari istri kecilnya.
“Mas, cepat buatkan Caca susu!” pinta Caca.
“Hampir saja Mas lupa,” celetuk Adi dan mulai menyeduh susu untuk Caca.
Susu pun siap untuk diminum dan tanpa pikir panjang Caca meneguk nya sampai hampir. Susu yang Adi buat tentu saja tidak panas dan tidak dingin, sehingga tidak perlu lama-lama untuk menunggu Caca menghabiskan susu tersebut.
“Mas, habis ini kita mau ngapain?” tanya Caca yang belum mengantuk, padahal sudah jam 9 malam.
“Sudah jam segini, tentu saja kita tidur,” jawab Adi.
“Jangan tidur dulu ya Mas, Caca belum mengantuk. Bagaimana kalau kita menonton televisi sambil menulis daftar belanjaan untuk jualan kita?” tanya Caca yang masih ingin beraktivitas.
“Baiklah, tapi kalau sudah mengantuk langsung tidur ya. Tidak boleh di tahan!”
“Siap!” seru Caca dan menggandeng tangan Adi untuk segera duduk di ruang tamu.
__ADS_1
Caca mengambil remote control dan mencari acara televisi yang menurutnya bagus untuk di tonton.
“Nah ini dia,” ucap Caca ketika menemukan film luar negeri yang berkisah tentang superhero.
Caca menonton film tersebut dengan serius, sementara Adi justru sibuk memandangi wajah istri kecilnya yang sangat serius.
“Mas, kok malah melihat Caca terus? Itu lihatlah film baru dan untung saja baru di mulai. Saya banget 'kan, kalau sudah sampai pertengahan film yang pasti tidak seru,” ucap Caca dan kembali menonton film tersebut.
Adi tersenyum kecil dan mendekatkan wajahnya di perut Sang istri. Kemudian, menyibak pakaian yang istri kecilnya kenakan dan menciumi perut putih mulus Caca.
“Mas, perut Caca jadinya geli,” ucap Caca.
“Sebentar ya Caca, Mas masih ingin melihat perut kamu dan berbicara dengan bayi kita,” jawab Caca.
Caca menyenderkan tubuhnya di kursi, agar Sang suami dapat leluasa bermain dengan perutnya itu.
“Hallo bayi kecil!” Adi menyapa calon buah hati mereka di dalam perut Caca.
Caca tertawa kecil hingga perut istrinya kembang kempis karena efek tawa istri kecilnya.
Beberapa saat kemudian.
Caca terlalu fokus menonton film superhero yang belum selesai dan ketika ingin meminta tolong kepada Sang suami, rupanya pria yang duduk tepat di sampingnya sudah tertidur pulas.
“Ya ampun, ternyata Mas sudah tertidur,” gumam Caca dan menggerakkan kepala suaminya agar bersandar di bahunya.
Tak berselang lama, film pun berakhir dan dengan lembut Caca membangunkan Adi yang masih terlelap di bahunya.
“Mas, bangun... Ayo tidur di dalam,” ucap Caca.
“Astaghfirullah, maaf Caca. Mas tidak sengaja, pasti bahu Caca sakit ya,” ucap Adi meminta maaf karena membuat bahu istri kecilnya menjadi sakit.
“Mas santai saja, lagipula siapa yang bilang sakit? Ayo ke kamar!” ajak Caca.
Merekapun memutuskan untuk mengambil air wudhu rutinitas sebelum tidur.
***
Keesokan paginya.
Sehabis sholat subuh, Adi pergi berbelanja sendirian tanpa membawa istri kecilnya. Lagipula Caca tengah tertidur dan tidak mungkin juga bagi Adi membangunkan Sang istri yang tertidur pulas.
Adi telah pulang dari pasar dan disambut dengan tatapan kesal oleh istri kecilnya.
“Assalamu'alaikum,” ucap Adi sambil menurunkan barang belanjaannya.
“Wa’alaikumsalam, Mas kenapa pergi ke pasar sendirian? Kenapa Caca tidur tidur dibangunkan?” tanya Caca yang protes kepada Adi yang baru saja pulang dari pasar.
“Kamu tidur, tidak mungkin juga Mas membangunkan kamu, Caca.”
“Caca ngambek, tidak mau bicara sama Mas,” balas Caca dan masuk ke dalam rumah sambil menghentakkan kakinya.
__ADS_1
Caca kesal dan meluapkan kekesalannya dengan cara berlarian di dalam rumah. Melihat kelakuan istri kecilnya, Adi dengan cepat menghentikan Sang istri dan tak lupa meminta maaf.
“Maafkan Mas ya Caca. Caca mau makan apa, biar Mas memasak untuk Caca.”
Caca akhirnya tak jadi ngambek, sebegitu mudahnya membuat Caca bersikap seperti sediakala.
“Mas beli tempe, tidak?” tanya Caca penasaran.
“Coba Caca lihat di tas belanjaan!” pinta Adi.
“Okeeey!” seru Caca dan berlari secepat kilat untuk melihat barang belanjaan Sang suami.
Adi menepuk dahinya sendirinya, ia salah karena meminta Caca melihat barang belanjaannya. Pria 28 tahun itu buru-buru menyusul istri kecilnya yang sedang berada di ruang tamu.
“Caca, kenapa susah ya dibilangin. Mas bilang jangan berlarian, kok malah menjadi-jadi?” tanya Adi seraya menyentuh wajah Caca dengan lembut.
“Mas, Caca sudah kalau ini tuh datangnya secara tiba-tiba. Sepertinya kalau tidak berlari, rasanya tidak enak,” jawab Caca dan meminta Sang suami untuk menggoreng tempe tersebut dengan Krispy.
Adi mengiyakan dan bergegas menggoreng tempe sampai Krispy untuk istri kecilnya.
Begitu tempe itu jadi, Caca dengan semangat melahap nya tanpa menambahkan nasi.
“Caca sayang, makanlah dengan perlahan. Mas mau ganti baju, setelah itu mau buka warung,” tutur Adi.
Caca tak menghiraukan perkataan suaminya karena ia sibuk menikmati tempe goreng tersebut. Tak butuh waktu lama Caca menghabiskannya dan karena ingin terus bergerak, Caca memilih untuk membongkar semua belanjaan Sang suami dan menata barang-barang tersebut untuk dijual.
“Astaghfirullah,” ucap Adi terkejut melihat bagaimana Caca membuka warung sendirian.
“Mas kenapa istighfar? Seharusnya Mas itu memuji Caca,” sahut Caca dan tersenyum genit.
“Ya Allah. Kenapa istriku yang cantik dan sedang hamil ini tidak bisa mau diam? Apa susahnya untuk duduk cantik dan membiarkan Mas yang menata nya?” tanya Adi geleng-geleng kepala.
“Mas jangan berlebihan begitu, Caca memang hamil. Tapi, Caca masih bisa melakukan semuanya dengan mudah. Lagipula, Caca lihat di internet kalau wanita hamil itu bagusnya banyak bergerak dan tidak malas-malasan di dalam kamar,” pungkas Caca.
Entah itu memang perasaannya atau tidak, tapi Adi merasa kalau istrinya lebih cerewet dibandingkan ketika belum hamil.
“Hayo, Mas pasti membatin yang tidak-tidak ya soal Caca?” tanya Caca sambil mengernyitkan keningnya.
“Tidak, Caca. Kamu jangan banyak beraktifitas ya!” pinta Adi karena Caca yang tak bisa diam selalu melakukan hal secara tiba-tiba.
“Baik, Mas,” jawab Caca dengan patuh.
Adi tersenyum lega dan mengangkat dua karung beras untuk diletakkan di bawa meja jualan.
“Ya sudah, Mas berangkat dulu. Kalau ada apa-apa dan ingin dibelikan sesuatu, hubungi saja Mas!” pinta Adi yang sebenarnya tidak tega jika meninggalkan Sang istri dalam keadaan hamil sendirian di rumah.
“Mas tenang saja, Caca pasti akan menghubungi Mas. Di sekolah Mas jangan dekat-dekat dengan wanita lain, apalagi dekat dengan Guru wanita yang sifatnya sama seperti Mak Lampir.”
Adi akhirnya berangkat mengajar dan hanya tinggal Caca sendirian di rumah bersama bayi yang sedang di kandungnya.
“Ok sayang, di rumah hanya ada kita berdua. Ngomong-ngomong di jam segini enaknya ngapain ya?” tanya Caca seraya mengelus-elus perutnya.
__ADS_1
Saat Caca sedang asik mengelus-elus perutnya, muncul seorang anak kecil yang ingin membeli tempe. Caca dengan ramah melayani anak kecil itu.
“Terima kasih, besok balik lagi ya dik beli di sini,” tutur Caca dengan ramah.