Istri Centil Mas Adi

Istri Centil Mas Adi
Keinginan Adi Untuk Tinggal Berdua


__ADS_3

Malam itu, Adi nampak sedang memikirkan sesuatu yang begitu serius. Bahkan, Caca tidak berani mengganggu suaminya yang sedang memikirkan sesuatu.


Caca hanya berbaring di lengan suaminya sambil memainkan ponselnya yang hanya men-scroll foto-foto miliknya.


“Kenapa diam?” tanya Adi menyadari Caca yang tak mengganggu dirinya.


“Mas sudah selesai melamun?” tanya Caca sambil berbalik badan menatap suaminya.


“Kenapa Caca tanya begitu?”


“Habisnya Mas diam saja, macam orang susah saja,” ujar Caca dan segera menutup mulut rapat-rapat.


Adi tertawa mendengar perkataan istrinya yang terdengar seperti mengejek dirinya.


“Mas sedang memikirkan apa?” tanya Caca penasaran dan berharap Adi mau berbagi cerita padanya.


“Tapi, Caca harus jawab jujur ya!” pinta Adi.


“Caca tidak pernah berbohong, bohong itu dosa. Jadi, tanpa Mas memintanya Caca sudah pasti jujur,” pungkas Caca.


Caca saat itu juga turun dari tempat tidur dan memilih untuk duduk di sofa.


“Kok pindah di sofa sih Mas?” tanya Caca.


“Caca duduklah di sini, ada yang ingin Mas bicarakan pada Caca!” pinta Adi agar Caca segera duduk di sofa bersamanya.


Gadis itu mengiyakan dengan terpaksa apa yang suaminya katakan.


“Caca, bukan di pangkuan Mas,” ucap Adi terkejut karena tiba-tiba saja Caca duduk di atas pangkuannya.


“Mas ini kenapa sih tidak bisa romantis sama istri sendiri. Sebenarnya doyan tidak sama Caca?” tanya Caca kesal sambil berpindah tempat duduk.


“Kamu kira makanan? Lagipula, belum waktunya untuk kita melakukannya,” balas Adi.


“Terserah Mas saja,” sahut Caca pasrah.


Caca memutar matanya jengah dan memalingkan pandangannya ke sisi kanan.


“Tidak sopan menoleh ke arah lain ketika sedang diajak berbicara,” ujar Adi mengingatkan Caca untuk berperilaku sopan santun kepada lawan bicara.


Caca pun mengarahkan wajahnya ke arah Adi, namun tatapannya ke arah lain.

__ADS_1


“Mas tanya dengan serius, apakah Caca mau tinggal bersama Mas?” tanya Adi serius.


Seketika itu Caca menatap suaminya dengan tatapan bertanya-tanya.


“Silakan ajukan pertanyaan, Mas tidak suka melihat Caca menatap Mas seperti ini,” ujar Adi bersiap untuk mendengarkan bagaimana respon istrinya.


“Maksudnya Mas adalah kita tinggal di rumah Mas?” tanya Caca dan menggelengkan kepalanya berulang kali.


“Kenapa? Kamu tidak mau?” tanya Adi ketika melihat respon penolakan dari istrinya.


“Bukannya tidak mau, Mas. Caca belum pernah tidur di tempat orang lain, kenapa tidak tinggal di sini saja?” tanya Caca sedih.


“Sebenarnya, Mas tidak mengajak Caca untuk tinggal di rumah orang tua Mas. Mas ingin kita tinggal berdua saja,” jawab Adi.


“Berdua saja? Maksudnya apa? Caca tidak paham dengan ucapan Mas Adi,” terang Caca yang tidak mengerti maksud dan tujuan dari ajakan suaminya.


“Mas ingin kita berdua mandiri, lagipula kita sudah berumah tangga. Kalaupun nantinya Caca ingin tidur di sini, tentu saja boleh. Mas sama sekali tidak melarang Caca untuk tidur di sini selama beberapa hari,” ungkap Adi.


Caca menunduk terdiam sambil mencoba memahami perkataan dari suaminya.


“Berikan waktu untuk Caca berpikir ya Mas!” pinta Caca yang tidak bisa langsung mengiyakan keinginan serta ajakan dari Sang suami.


Caca tersenyum kecil merasakan sentuhan lembut dari suaminya yang membuatnya menjadi salah tingkah.


“Kenapa senyum?” tanya Adi dan segera menjauhkan tangannya dari rambut Caca.


“Caca suka, kenapa berhenti? Cepat belai rambut Caca dengan penuh kasih sayang!” Caca dengan semangat menarik tangan suaminya untuk kembali menyentuh rambutnya.


Adi bergegas beranjak dari sofa itu dan berlari kecil untuk ke luar dari kamar istrinya.


“Mas Adi!” Caca pun beranjak dari sofa itu dan berlari mengejar suaminya.


Aksi kejar-kejaran pun tak terelakkan, Caca dengan semangat berlari mendekat dan Adi sebisa mungkin berlari menjauh dari istrinya.


Mama dan Papa yang sedang berbincang di ruang keluarga, mendadak diam karena pengantin baru yang begitu aktif di malam hari.


Adi tak sengaja melihat mertuanya dan seketika itu juga ia berhenti berlari.


“Akhirnya tertangkap juga!” Caca dengan semangat melompat ke dalam pelukan suaminya, persis sekali seperti monyet yang sedang di gendong oleh induknya.


Papa dan Mama melongo ketika melihat bagaimana Caca begitu aktif melompat ke tubuh menantu mereka.

__ADS_1


“Caca turun, Papa dan Mama sedang melihat kita,” ucap Adi lirih.


Gadis itu menoleh ke arah sekitar dan terkejut melihat orangtuanya yang melongo lebar melihat dirinya.


Bruk!!! Caca jatuh setelah melepaskan pelukannya, karena kebetulan Adi sama sekali tidak menahan tubuh istrinya.


“Caca!” Mama dan Papa seketika itu bangkit dari tempat duduk mereka.


Caca dengan cepat bangkit sambil menyentuh pinggangnya yang sakit.


“Gwenchana, gwenchana,” ucap Caca dalam bahasa Korea yang artinya bahwa ia tidak apa-apa.


“Caca, kita pergi ke rumah sakit. Siapa tahu ada bagian vital yang geser,” balas Mama Ismia yang mulai panik.


“Mama apa-apaan sih? Caca yang bisa merasakan sakitnya. Lagian, tidak ada yang ke geser. Sudahlah, Caca mau ke kamar saja sama Mas Adi,” pungkas Caca dan menarik tangan suaminya agar kembali masuk ke dalam kamar.


Mama dan Papa meringis kesakitan melihat Caca berjalan sedikit membungkuk.


“Papa, lihat itu anak Papa. Jalannya saja begitu,” ucap Mama Ismia khawatir.


“Mama jangan khawatir, kalau dia sakit pasti langsung bilang ke kita,” balas Papa Rio dengan santai, padahal hatinya begitu khawatir dengan putri mereka satu-satunya itu.


Pada saat Caca dan Adi menaiki anak tangga, Caca tiba-tiba saja meminta suaminya untuk menggendong dirinya menuju kamar.


“Mas, gendong Caca sampai ke kamar. Pinggang Caca agak sulit untuk tegap,” ujar Caca dengan memasang raut wajah kesakitan.


“Lain kali jangan pecicilan seperti tadi. Apalagi di depan Mama dan Papa, ingat Caca sudah bersuami,” balas Adi dan menggendong istrinya menuju kamar.


“Caca berat ya Mas?” tanya Caca sambil melingkarkan kedua tangannya di leher Adi.


Adi diam saja memilih fokus melewati anak tangga yang sedang dilaluinya.


“Mas, Caca mau kita tinggal berdua,” ujar Caca serius.


“Benarkah?” tanya Adi yang ketika itu menghentikan langkahnya.


“Setelah dipikirkan berulang kali, itu ide yang bagus. Kita bisa berduaan setiap hari, makan bareng, tidur bareng, mandi bareng pokoknya semuanya kita lalu berdua,” terang Caca penuh semangat.


“Caca siap dengan segala resikonya? Ini tidak semudah yang Caca kira. Akan ada hal yang sebelumnya belum pernah kita lalui,” ungkap Adi yang ingin mendapatkan jawaban Caca dengan penuh keyakinan, tanpa adanya penyesalan.


Caca mengiyakan dengan yakin dan saat itu juga Adi bergegas membawa istrinya ke kamar untuk membicarakan hal tersebut dengan matang.

__ADS_1


__ADS_2