
Lia dan Rina perlahan menyentuh pipi lembut bayi Yusuf yang kemerah-merahan. Akan tetapi, belum juga disentuh bayi itu menangis dengan cukup keras. Lia dan Rina reflek menjauh karena tangisan Bayi Yusuf seakan-akan meminta mereka untuk tidak menyentuh pipinya.
“Masih bayi galak juga ya ternyata,” celetuk Lia.
Semua orang yang ada di ruang tamu tertawa mendengar celetuk Lia.
“Maaf semua, saya izin ke dalam,” tutur Caca yang ingin menyusui bayi Yusuf di dalam kamar.
Lia dan Rina masih ingin bermain-main dengan bayi mungil itu.
“Caca kami ikut ya!” pinta Rina dan tanpa pikir panjang Caca mengiyakan.
Kedua gadis itu dengan senang ikut masuk ke dalam kamar.
“Tidak apa, 'kan? Kami masuk ke kamar mu?” tanya Rina yang tiba-tiba sungkan untuk masuk ke dalam kamar.
“Masuklah, santai saja denganku. Tapi, jangan kaget ya kamarku sedikit berantakan,” tutur Caca sembari mempersilakan kedua sahabatnya masuk ke dalam kamar.
Lia dan Rina tersenyum lega sambil melangkah masuk ke dalam kamar.
“Tidak berantakan kok,” tutur Lia.
“Iya, sama sekali tidak berantakan,” sahut Rina dan mengajak Lia duduk di kursi yang ada di kamar tidur tersebut.
“Kalian ini bisa saja, maaf ya aku menidurkan Yusuf dulu,” balas Caca dan menyusui buah hatinya.
Lia dan Rina tersenyum lebar mengetahui nama keponakannya begitu indah.
“Wah, pasti besarnya lebih tampan dari Ayahnya. Caca, sepertinya ketika sudah beranjak dewasa kamu pasti kewalahan dengan para wanita yang ingin mendekati Yusuf,” tutur Lia.
“Oek.... Oek....” Yusuf kembali menangis seakan mengatakan bahwa mereka tidak boleh menggoda Bunda kesayangannya.
Lia segera menutup mulutnya rapat-rapat mendengar tangisan protes dari Bayi Yusuf.
Caca kembali mengarahkan put!ng kemulut bayinya.
“Maaf ya, biasanya Yusuf tidak rewel seperti ini,” tutur Caca pada Lia dan Rina.
Mama Ismia dan Papa Rio akhirnya datang, mereka datang dengan membawa makanan berat. Yaitu, nasi kotak dengan lauk ayam panggang.
“Assalamu'alaikum,” ucap Mama Ismia dan Papa Rio yang masih mengenakan pakaian formal.
“Wa’alaikumsalam!” seru mereka yang ada di ruang tamu.
Adi bangkit untuk mengambil nasi kotak yang dibawa oleh mertuanya.
__ADS_1
***
Malam Hari.
Setelah sholat isya berjama'ah, Mama Ismia dan Papa Rio harus segera kembali ke rumah. Mengingat besok pagi mereka akan melakukan perjalanan bisnis ke luar kota.
Caca memaklumi kesibukan kedua orang tuanya dan tak mempermasalahkan kesibukan tersebut.
“Caca sayang, maafkan Papa dan Mama ya,” tutur Papa Rio.
“Papa dan Mama tidak perlu merasa bersalah. Caca sudah menikah dan Caca tahu alasan mengapa Mama serta Papa bekerja keras,” balas Caca.
Mama Ismia menangis terharu, putri mereka yang dulu sangat manja kini sudah sangat dewasa dalam berpikir.
Papa dan Mama akhirnya pulang ke rumah mereka. Caca tersenyum manis dengan terus melambaikan tangannya ke arah mobil yang perlahan pergi.
“Ayo sayang!” ajak Adi untuk segera masuk ke dalam rumah, mengingat suasana malam saat itu cukup menyeramkan.
Caca dengan genit menepuk bokong suaminya sebanyak dua kali.
Adi tertegun sejenak sebelum akhirnya mengejar Sang istri yang lebih dulu masuk ke dalam kamar.
Bayi Yusuf kebetulan sedang berada di dalam kamar yang ditempati oleh Ibu Puspita dan Ayah Faizal.
Caca lagi-lagi menepuk bokong suaminya dengan cukup keras, lebih keras dari sebelumnya.
“Jangan dong, kalau mau bagaimana?” Protes Adi sambil menahan tangan istrinya yang digunakan menepuk bokongnya.
“Ya ditahan dong Mas,” jawab Caca santai dan tertawa lepas ketika melihat wajah pasrah suaminya.
Ibu Puspita dan Ayah Faizal samar-samar mendengar perbincangan sepasang suami-istri itu dari kamar sebelah. Akan tetapi, perhatian mereka justru fokus kepada bayi Yusuf yang tiba-tiba bangun.
“Hallo cucu Nenek!” Ibu Puspita dengan bahagia menyapa cucu pertamanya.
Bayi Yusuf perlahan kembali memejamkan matanya dan melanjutkan tidurnya.
Ibu Puspita tertawa kecil melihat Yusuf yang kembali tidur dengan tangan yang menutup sebelah mata bagian kanan.
Beberapa saat kemudian.
Caca tersenyum genit melihat suaminya yang tengah fokus berkutat dengan laptop. Karena Bayi Yusuf masih berada di kamar mertuanya, Caca memutuskan untuk kembali mengganggu suami tercinta.
“Mas!” panggil Caca dengan genit yang saat itu mengenakan daster cukup terbuka.
Adi menoleh dan menelan salivanya ketika melihat betapa menggairahkan istri kecilnya.
__ADS_1
“Caca,” balas Adi sambil geleng-geleng kepala dan kembali fokus dengan laptop dihadapannya.
Melihat suaminya yang masih cuek padahal mau, membuat Caca semakin bersemangat menggoda suaminya.
“Mas!” panggil Caca sekali lagi dengan suara yang cukup manja.
Adi tak bisa menahan gejolak dihatinya, saat itu juga ia bangkit dari kursi dan bergegas naik ke tempat tidur.
“Caca memang istri yang genit,” ucap Ada dan perlahan tangannya menyelinap masuk kedalam daster yang Caca kenakan.
Pada saat ingin melakukan aksinya, Tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu.
“Adi, Caca!” panggil Ibu Puspita yang ingin mengantarkan Bayi Yusuf.
Adi mendengus kesal, sementara Caca tertawa kecil melihat raut wajah kecewa dari suaminya.
Meskipun tidak sampai berhubungan intim, Adi ingin selalu melakukan pemanasan sebagai bentuk keintiman mereka. Akan tetapi, keinginannya itu belum bisa terlaksana karena panggilan Ibu Puspita.
“Ibu ganggu ya?” tanya Ibu Puspita sesaat Adi membuka pintu.
Adi hanya senyum mendapat pertanyaan dari Ibunya dan dengan hati-hati menggendong bayi Yusuf yang tidur dengan nyenyak.
“Terima kasih Ibu sudah menjaga Yusuf,” ucap Adi.
“Ya sudah, Ibu mau segera tidur. Kamu dan Caca juga harus tidur,” balas Ibu Puspita.
Adi kembali menutup pintu kamarnya dan tak lupa menguncinya. Kemudian, memberikan bayi Yusuf kepada Caca untuk disusui.
“Hallo kesayangan Bunda,” tutur Caca yang tengah menyusui bayi Yusuf.
Karena istri sedang fokus menyusui bayi mereka, Adi pun memutuskan untuk melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda karena kelakuan genit Caca yang terus mencoba menggoda dirinya.
“Mas mau minum teh?” tanya Caca menawarkan suaminya apabila ingin minum teh.
“Tidak sayang, Mas hanya ingin segera menyelesaikan tugas ini dan setelah itu tidur sama istri Mas yang paling cantik,” jawab Adi.
“Mas bisa saja deh,” celetuk Caca.
Sekitar 20 menit Caca menyusui bayi Yusuf dan setelah waktu sudah cukup, Caca meminta suaminya untuk meletakkan bayi mereka ke ranjang bayi.
Adi mengiyakan dengan suara lirih sambil berjalan menuju tempat tidur.
“Anak Bunda dan Ayah sudah minum susu, waktunya untuk tidur,” tutur Adi dan perlahan meletakkan bayi Yusuf ke dalam ranjang bayi.
Caca tersenyum lega seraya mengucapkan terima kasih kepada suaminya.
__ADS_1