Istri Centil Mas Adi

Istri Centil Mas Adi
Perhatian Kecil Adi


__ADS_3

Selama kelas berlangsung Caca tak bisa memfokuskan pelajaran yang dibawakan oleh Guru. Hal itu, dikarenakan posisi duduknya sangat tidak nyaman dan Caca ingin segera pulang ke rumah untuk beristirahat.


“Ok semuanya, pelajaran kita sampai di sini dulu. Kalian boleh istirahat!”


Para murid dengan semangat berlarian ke luar kelas untuk segera beli jajan di kantin. Begitu juga dengan Lia dan Rina yang ingin menyantap mie ayam di kantin.


“Caca, ayo ke kantin!” ajak Lia sambil menggandeng tangan Caca.


“Iya, Ca. Ayo ke kantin!” seru Rina penuh semangat.


Caca melepaskan gandengan tangan Lia dan menolak ajakan tersebut dengan halus.


“Maaf, aku sedang tidak ingin pergi ke kantin,” ucap Caca menolak secara halus.


“Apakah bisul di bok0ng mu semakin parah?” tanya Lia khawatir.


Suara Lia ketika bertanya cukup lantang dan tentu saja terdengar oleh beberapa murid di kelas, termasuk Leonardo.


Leo menatap Caca dengan penuh kekhawatiran dan di saat yang bersamaan Caca juga menatap Leo. Seketika itu Caca memalingkan pandangannya melihat ke arah sisi jendela.


Leo yang penasaran memutuskan menghampiri Caca untuk menanyakan kondisi gadis yang ia cintai.


“Kamu benar sedang bisulan?” tanya Leo khawatir.


Mendengar pertanyaan Leo membuat Caca malu. Tidak seharusnya Leo menanyakan hal yang cukup sensitif itu.


“Kalau kalian ingin ke kantin, pergilah sekarang,” ucap Caca pada kedua temannya dengan tatapan tak bersahabat.


Lia dan Rina kompak meminta maaf sebelum mereka berdua pergi ke kantin untuk menyantap mie ayam.


“Kamu sakit, Ca?” tanya Leo sembari mendaratkan bokongnya di kursi milik Lia.


“Leo, sebaiknya kamu menjauh dari aku. Aku sedang tidak ingin berbicara padamu,” ucap Caca sambil menoleh ke arah pintu, memastikan bahwa suaminya tidak melintasi kelas 12 IPS 3.


Leo menyadari satu hal dari Caca, bahwa Caca sama sekali tidak tertarik padanya.


“Kamu sungguh tidak pernah menyukaiku, Ca?” tanya Leo memastikan kembali bahwa setidaknya Caca memiliki rasa ketertarikan, meskipun hanya sedikit.


Caca menggelengkan kepalanya seraya tersenyum.


Di saat yang bersamaan, Wuri masuk ke kelas dengan membawa kantong plastik berisi cemilan.


“Leo, kamu mau cokelat?” tanya Wuri sembari memperlihatkan cemilan yang ia beli dari kantin.

__ADS_1


Leo tak langsung menjawab, remaja itu justru menatap Caca. Seakan-akan meminta pendapat dari Caca mengenai tawaran Wuri.


Caca tersenyum memberi isyarat pada Leo agar segera datang menghampiri Wuri.


“Tega kamu, Ca,” ucap Leo yang hanya di dengar oleh Caca.


Saat itu juga, Leo bangkit dari duduknya dan memilih untuk pergi ke kantin.


Wuri menatap kesal sikap Leo yang selalu cuek padanya.


Kenapa sih Leo tidak pernah mendekati ku? (Batin Wuri)


Di sisi lain.


Adi menunggu pesan singkat dari Sang istri, akan tetapi istri kecilnya itu belum juga membalas pesannya dan tentu saja membuat Adi sangat khawatir.


Tanpa pikir panjang, Adi memutuskan untuk pergi ke kantin dan membelikan cemilan untuk Caca.


Leo yang kebetulan berdiri tepat di samping Guru olahraganya, menatap Adi dengan tatapan terheran-heran. Karena Adi membeli cemilan dan bukan makanan berat.


“Terima kasih, Bu,” ucap Adi setelah membayar cemilan yang ia beli.


Adi berlari kecil meninggalkan kantin dan Leo terus saja memperhatikan tingkah Guru olahraganya itu.


“Pak Adi beli cemilan sebanyak itu seperti anak kecil saja,” gumam Leo sambil tersenyum tipis.


“Nak, sini sebentar!” panggil Adi sembari melambaikan tangannya ke arah murid yang kebetulan sedang lewat di dekatnya.


“Iya, Pak Adi. Ada apa ya?” tanya murid itu kebingungan.


“Bisa tolong antarkan jajan ini ke 12 IPS 3?” tanya Adi.


“Bisa sekali, Pak Adi. Kebetulan saya mau lewat sana!”


“Kalau begitu, Bapak nitip jajan ini ya. Tolong berikan jajanan ini ke kelas 12 IPS 3 atas nama Caca,” ucap Adi sembari menyerahkan kantong plastik berisi aneka cemilan untuk istri kecilnya.


Sebelum siswa itu pergi ke kelas Caca, Adi tak lupa memberikan sedikit uang saku untuk murid kelas 10 itu.


“Ini buat kamu jajan, sebelumnya Terima kasih,” ucap Adi.


Di dalam kelas, Caca merasa sangat jenuh. Karena Lia dan Rina tak kunjung kembali ke kelas.


“Permisi, Kak Caca!” panggil murid yang berdiri di depan kelas sembari menenteng kantong plastik berisi cemilan dari Adi.

__ADS_1


Caca pun menoleh setelah mendengar namanya di panggil.


“Iya, Dik. Ada apa?” tanya Caca penasaran.


Murid itu tersenyum dan bergegas masuk memberikan kantong plastik itu kepada Caca.


“Kak Caca, ini dari Pak Adi,” ucapnya setelah itu berlari kecil meninggalkan kelas tersebut.


Caca tersenyum bahagia karena suaminya begitu pengertian.


Wuri dan beberapa murid yang lain memandangi Caca dengan tatapan penuh tanya. Mereka penasaran sekaligus bertanya-tanya mengenai cemilan tersebut.


Caca memilih masa bodo' dan fokus menikmati cemilan yang suaminya beli.


Lia dan Rina baru saja kembali dari kantin setelah menyantap mie ayam. Mereka berdua terkejut melihat meja Caca sudah dipenuhi oleh cemilan.


“Caca, kamu tadi ke kantin?” tanya Lia terheran-heran.


“Aku rasa tidak deh, lagipula mana bisa secepat ini dengan bokong yang sedang bisul,” sahut Rina.


“Astaghfirullah, bisa tidak kalian itu jangan membahas tentang bisul ku? Kalau kalian mau, ambillah jajan ku ini. Lagipula, aku dibeliin sua...” Caca seketika itu menutup mulutnya rapat-rapat karena hampir saja keceplosan.


“Sua apa, Ca?” tanya Lia dan Rina dengan kompak.


“Sudah tidak usah banyak tanya, ambillah sesuka kalian,” balas Caca mempersilakan Lia dan Rina mengambil cemilannya.


***


Jam telah menunjukkan pukul 14.15 WIB. Sudah waktunya bagi mereka untuk pulang ke rumah.


Caca merasa bahwa Leo sengaja menunggunya sampai ke luar dari kelas. Karena tak ingin ketahuan, Caca dengan terpaksa meninggalkan kelas.


Untungnya, sakit yang ia rasakan sebelumnya sudah agak mendingan.


“Kenapa juga Leo masih di kelas, untung saja milikku sudah tidak terlalu sakit. Karena kalau masih sakit, aku pasti akan tetap berada di kelas,“ gumam Caca.


Adi berlari kecil menghampiri istrinya yang sedang berjalan ke arahnya.


“Kamu tidak apa-apa, Ca?” tanya Adi khawatir.


“Mas tenang saja, Caca sudah agak mendingan,” jawab Caca.


Adi bernapas lega dan menggandeng erat tangan istrinya. Sesampainya di area parkir, Adi membantu istrinya naik ke motor.

__ADS_1


Pemandangan itu ternyata disaksikan langsung oleh Leo tanpa sepengetahuan Adi dan juga Caca. Dari kejauhan, nampak Leo yang sangat syok melihat kedekatan antara keduanya.


“Haaa??? Apa aku tidak salah lihat?” Mata Leo melotot lebar seraya menyentuh dadanya yang terasa sangat sesak.


__ADS_2