
Caca mencoba melepaskan selimut yang menutupi seluruh tubuh suaminya, namun usaha untuk melepaskan selimut itu sama sekali tidak berhasil.
“Mas yakin akan tidur dengan tertutup selimut sampai besok pagi?” tanya Caca penasaran.
Adi hanya mengangguk kepalanya menjawab pertanyaan dari istrinya.
“Terserah deh,” celetuk Caca putus asa.
Gadis itu akhirnya berbaring dan memeluk guling miliknya.
Adi yang berada di dalam selimut mulai merasakan pengap dan juga tubuhnya mulai berkeringat. Akan tetapi, Adi berusaha untuk tetap di posisi itu agar Caca tidak secara tiba-tiba menyerang dirinya.
“Mas Adi!” panggil Caca sembari menggerakan tubuh suaminya yang terbungkus selimut.
Adi memutuskan untuk mengabaikan panggilan Caca tersebut.
Caca begitu serius memperhatikan gulungan tubuh suaminya di balik selimut dan sama sekali tidak ada tanda-tanda kehidupan.
“Mas Adi? Mas masih hidup?” tanya Caca panik.
Gadis itu pun bergegas turun dari tempat tidur untuk memanggil orang tuanya dan juga mertuanya.
“Ya Allah, aku harus panggil yang lain,” ucap Caca panik.
Saat itu juga Adi dengan cepat melepaskan selimut yang menutup seluruh tubuhnya.
“Jangan!” pinta Adi.
Caca tersenyum licik sembari mengibaskan rambutnya yang panjang.
“Sudah Caca duga kalau Mas memang sengaja menghindari Caca,” ujar Caca yang ternyata ia hanya berakting panik untuk membuat Adi melepaskan selimut itu.
Adi menghirup udara banyak-banyak dan menghembuskannya secara perlahan.
“Kita tidurnya sambil pelukan ya!” pinta Caca penuh harap.
Adi tidak tahan jika harus begadang, saat itu juga ia mengiyakan permintaan Caca dan meminta Caca untuk segera naik ke tempat tidur.
Dengan semangat Caca melompat ke tempat tidurnya dan bergerak-gerak layaknya ulat bulu.
“Caca bisa pelan, tidak?” tanya Adi ketika tangan Caca mengenai bagian perutnya sebanyak 2 kali.
“Iya, maaf. Lagian Caca sangat bersemangat,” jawab Caca yang sudah lebih dulu memeluk suaminya.
Adi belum bisa melupakan status Caca sebagai muridnya, rasanya begitu aneh ketika seorang guru memeluk muridnya sendiri.
“Mas kenapa belum juga memeluk Caca?” tanya Caca dan mengarahkan tangan suaminya ke tubuhnya.
Adi pun mengikuti arahan istrinya dan berusaha tetap tenang ketika Caca semakin erat memeluk tubuhnya.
__ADS_1
“Astagfirullahalazim,” ucap Adi ketika bagian menonjol kembar milik Caca menempel tepat di bagian dadanya.
“Ada apa, Mas? Kenapa mengucapkan istighfar? Kita ini sudah resmi menjadi suami istri. Bahkan, bertelanj*ng pun tak masalah,” ujar Caca yang sangat santai dengan apa yang ia katakan.
“Astaghfirullahaladzim.” Lagi-lagi Adi mengucapkan istighfar dengan ucapan Caca yang begitu senon0h.
Caca membungkam mulutnya suaminya dengan tangannya yang terus saja mengucapkan istighfar.
“Sekali lagi Mas mengucapkan istighfar, Caca cium bibir Mas itu,” ucap Caca.
Adi menganggukkan kepalanya berulang kali mendengar ucapan Caca yang lebih ke arah peringatan.
Karena suaminya sudah setuju, Caca pun menjauhkan tangannya dari mulut Sang suami. Kemudian, Caca kembali memeluk suaminya dengan erat.
****
Pagi hari.
Mama Ismia tersenyum lebar dan menyambut pengantin baru yang baru saja turun dari kamar mereka.
“Bagaimana semalam? Lancar?” tanya Mama Ismia penasaran.
Caca yang terlihat bersemangat ingin menjawab pertanyaan Mama Ismia, saat itu juga langsung di cegah oleh Adi dengan cara membelai rambut istrinya.
Melihat bagaimana Adi membelai rambut putrinya, itu sudah cukup menjawab rasa penasarannya.
“Kalian pasti lapar, 'kan? Mari kita sarapan bersama!” ajak Mama Ismia.
Adi yang duduk di sebelah Ibu Puspita dan Caca pun menyusul duduk tepat di sebelah suaminya.
“Mas mau Caca ambilkan?” tanya Caca yang dengan semangat mengisi nasi di piring suaminya.
Caca mengisi dan terus mengisi piring tersebut dengan tumpukan nasi yang menggunung.
“Haaa? Caca itu terlalu banyak,” ucap Mama Ismia dengan tatapan melongo.
“Nak Caca, Suamimu tidak makan sebanyak itu,” ujar Ibu Puspita.
“Siapa bilang ini untuk Mas seoarang? Caca juga akan makan di piring ini. Bukankah sangat romantis jika kami makan sepiring berdua?” tanya Caca.
Mereka melongo sekaligus heran dengan perkataan Caca yang begitu santai.
Caca hanya mengedipkan sebelah matanya dengan centil dan kembali mengisi piring tersebut dengan lauk-pauk kesukaannya.
Mama Ismia dan Papa Rio hanya bisa melempar pandang melihat kelakuan putri mereka yang terbilang cukup santai.
“Suapin Caca!” pinta Caca yang sifat manjanya kembali muncul.
Adi ingin sekali menenggelamkan seluruh tubuhnya di gentong besar dan berharap tidak ada satupun orang yang dapat menemukannya.
__ADS_1
“Aaaaakkkk!” Caca membuka mulutnya lebar-lebar dan Adi terpaksa memyuapi Caca di depan orang tua serta mertuanya.
Caca mengunyah makanannya sembari bersandar di lengan suaminya.
Seusai makan, Adi memilih untuk berjalan-berjalan di sekitar rumah, sekaligus menghindari istrinya yang terus manja dengannya.
“Ibu, Mas Adi ada di mana?” tanya Caca yang sebelumnya mencari keberadaan suaminya.
“Tadi Adi bilang ke Ibu mau berkeliling mencari udara segar,” jawab Ibu Puspita.
“Apa?” Caca dengan buru-buru berlari ke luar rumah untuk segera menghampiri suaminya yang entah ke mana.
Caca berlari dan terus berlari untuk segera menemukan suaminya yang entah pergi ke mana.
“Mas Adi!” panggil Caca yang mempercepat laju larinya.
Adi yang mendengar suara panggilan Caca, seketika itu menoleh ke belakang dan diam di tempat menunggu Caca.
“Kenapa harus bocah ini yang membuatku kikuk?” gumam Adi.
Caca berlari sambil tersenyum lebar ke arah suaminya.
“Huh.. hah..” Caca mencoba mengatur napasnya yang berantakan.
“Caca ngapain nyusul Mas? Sekarang Caca pulang!” perintah Adi yang sengaja menjauhkan diri dari istrinya untuk sebentar saja.
“Mas, Caca itu harus selalu berada di dekat Mas. Bagaimana jika ada perempuan yang menggoda Mas yang sudah jelas-jelas telah beristri?”
“Astagfirullahaladzim, banyak-banyak istighfar Caca. Kenapa kamu bicara yang tidak baik begitu? Ya sudah Caca boleh temani Mas berkeliling,” pungkas Adi dengan sabar.
“Nah gitu dong!” seru Caca.
Caca pun menggandeng tangan suaminya dengan erat.
“Harus gandengan tangan seperti ini?” tanya Adi.
“Astagfirullahaladzim,” ucap Caca geleng-geleng kepala.
“Kenapa sekarang Caca yang mengucapkan istighfar?” tanya Adi terheran-heran.
“Gandengan tangan saja kenapa harus bertanya alasannya? Apa perlu kita mendatangi ustadz untuk menanyakan perihal ini?” tanya Caca menantang suaminya.
“Tidak perlu, Mas minta maaf atas ucapan Mas tadi,” ujar Adi meminta maaf kepada Caca.
“Tidak nyambung, seperti kabel konslet,” celetuk Caca dan meminta suaminya untuk mengejar dirinya.
Adi menerima tantangan itu dan berlari secepat mungkin untuk mengejar istrinya yang sudah berada jauh di depan.
“Mas, cepat tangkap Caca!” pinta Caca yang semakin mempercepat laju larinya.
__ADS_1
“Kamu pasti akan tertangkap!” seru Adi dengan terus berlari mengejar istrinya.