
Adi dengan mata yang masih mengantuk harus mengemban tugasnya sebagai seorang Guru Olahraga. Sebelum berangkat ke sekolah, Adi meminta istri kecilnya untuk tidak tidur siang dan makan teratur.
Caca mengiyakan apa yang dikatakan suaminya dan meminta Sang suami untuk tidak mengkhawatirkan dirinya.
“Sayang, Mas berangkat kerja dulu ya. Ingat pesan Mas,” tutur Adi yang sebelumnya sudah pamit kepada Mama Ismia dan Papa Rio.
“Iya, Mas Adi. Caca akan selalu ingat pesan Mas,” balas Caca.
Caca pagi itu terlihat sangat lelah, sekitar matanya nampak hitam efek kurangnya tidur.
“Sayang, kalau memang sangat mengantuk. Sebaiknya tidur siang ya,” ucap Adi.
“Mas tenang saja, kalau terus bicara kapan Mas mau berangkat?” tanya Caca sambil mendorong kecil suaminya agar segera naik motor.
Setelah drama yang cukup panjang antara Adi dan Caca, akhirnya Adi berangkat ke sekolah juga.
“Kalian kalau Mama perhatikan seperti anak kecil saja. Sama-sama tidak bisa terpisahkan, padahal setiap hari selalu bertemu dan tidur bareng,” tutur Mama Ismia menggoda Caca.
Caca tersenyum malu-malu mendengar apa yang dikatakan Mama Ismia mengenai dirinya dan Sang suami.
Papa Rio tiba-tiba saja datang menghampiri Mama Ismia dan Caca yang masih berada di teras depan rumah.
“Mama, kita harus pulang sekarang. Jam 10 kita ada meeting bersama Klien dari Malaysia,” ucap Papa Rio sambil menunjukkan pesan dari salah satu bawahannya di kantor.
Mama Ismia membaca pesan tersebut dan menoleh ke arah Caca yang menatap Mama Ismia dengan tatapan penasaran.
“Mama dan Papa mau pulang ya?” tanya Caca.
“Iya, Caca sayang. Sepertinya kami harus pulang. Kamu ikut ya sayang!” pinta Mama Ismia mengajak Caca untuk ikut pulang.
“Caca di sini saja, Ma. Menunggu Mas Adi pulang,” balas Caca yang enggan pulang ke rumah orang tuanya.
“Kalau Mama dan Papa pergi, itu artinya kamu sendirian sayang di sini,” tutur Papa Rio yang nampak berat meninggalkan Caca seorang diri di rumah kontrakan.
“Mama dan Papa tidak perlu khawatir. Caca di sini baik-baik saja, lagipula sebelum jam 2 Mas Adi sudah kembali ke rumah,” sahut Caca.
Karena tak ada waktu lagi, akhirnya Mama dan Papa bergegas untuk membereskan barang-barang mereka.
Sebelum pergi, Mama Ismia menghubungi besannya barangkali bisa datang sebelum sore untuk segera menemani putri kesayangannya.
__ADS_1
Caca hanya duduk diam di kursi ruang tamu sambil melihat kedua orang tuanya yang tengah sibuk membawa koper serta tas untuk dimasukkan ke dalam mobil.
Tak berselang lama, Mama Ismia dan Papa Rio akhirnya pamit meninggalkan Caca seorang diri di rumah.
“Sayang, kami pulang dulu. Tadi, Mama sudah mengirim pesan ke Ibu mertua kamu dan insyaallah sebelum jam 2 mertua Caca akan datang kemari,” tutur Mama Ismia.
“Terima kasih, Mama. Papa dan Mama hati-hati ya,” ujar Caca.
Setelah kedua orang tuanya pergi menjauh, Caca buru-buru menutup pintu rumahnya. Dan tidak akan sembarangan membuka pintu untuk orang lain.
***
Siang Hari.
Caca yang sedang berbaring di tempat tidur, tiba-tiba saja ingin makan sesuatu untuk menyibukkan mulutnya. Ketika hendak pergi ke dapur, terdengar suara ketukan pintu dan itu membuat Caca menjadi waspada.
Suara ketukan pintu itu lagi-lagi terdengar dan tentu saja membuat Caca mulai takut.
“Assalamu'alaikum!” suara seorang wanita mengucapkan salam.
“Suara perempuan,” gumam Caca dan akhirnya memutuskan untuk membuka pintu.
Caca perlahan membuka pintu rumah dan terkejut ketika tahu siapa datang berkunjung di siang bolong.
Fatimah dan juga Pak Yahya masuk setelah dipersilakan oleh Caca.
“Apa kabar, Mbak Caca?” tanya Fatimah dengan sopan.
“Kabar saya sangat baik,” jawab Caca yang sangat penasaran alasan kedatangan Fatimah dan Pak Yahya.
Mata Fatimah tertuju pada perut buncit Caca dan terlihat jelas ada kesedihan yang mendalam dari tatapan Fatimah.
Caca tak nyaman dengan tatapan Fatimah dan buru-buru menutup perutnya dengan sebuah bantal kecil yang kebetulan ada di dekatnya.
“Mbak Caca sendirian di rumah? Apakah Mas Adi belum kembali?” tanya Pak Yahya.
Kedatangan Fatimah dan Pak Yahya membuat Caca tak nyaman. Kedatangan mereka berdua mengingatkan dirinya dengan kejadian beberapa bulan yang lalu, di mana Fatimah meminta dirinya untuk rela dimadu.
“Mbak Caca,” ucap Pak Yahya karena Caca justru melamun dan bukannya menjawab pertanyaan darinya.
__ADS_1
“Mbak Caca sudah hamil berapa bulan?” tanya Fatimah penasaran.
Caca sangat tak nyaman dengan kehadiran Fatimah dan Pak Yahya. Bahkan, pertanyaan mereka membuat Caca semakin tertekan.
Untungnya, Adi kembali tepat waktu dan Caca dengan perutnya yang besar berlari kecil menghampiri suaminya.
“Sayang, kamu kenapa? Apakah ada tamu?” tanya Adi melihat wajah Caca yang terlihat tertekan.
“Mas, Caca tidak nyaman dengan kehadiran mereka. Caca tidak ingin bicara dengan mereka,” tutur Caca gelisah.
Adi yang penasaran mengajak istri kecilnya masuk ke dalam rumah dan ternyata yang datang adalah dua orang yang telah membuat istrinya sedih.
“Caca sayang, masuklah ke dalam kamar!” perintah Adi.
Adi kemudian duduk di kursi ruang tamu berhadapan langsung dengan Fatimah dan juga Pak Yahya.
“Maaf sebelumnya, kedatangan Mbak Fatimah dan Pak Yahya alasannya apa?” tanya Adi.
“Kami datang ke sini hanya sekedar silahturahmi, Mas Adi,” jawab Pak Yahya.
“Kalau memang itu tujuan Mbak Fatimah dan Pak Yahya, saya sebagai tuan rumah cukup senang atas kedatangan Mbak Fatimah serta Pak Yahya,” tutur Adi.
Fatimah peka dengan sikap dingin Caca padanya dan juga orang tuanya. Rasanya aneh jika Caca dengan mudahnya melupakan kejadian yang menyakitkan itu.
“Mas Adi, kami merasa tidak enak dengan Mbak Caca dan juga Mas Adi. Untuk itu kami undur diri dan akan mencari waktu yang tepat untuk datang kemari. Bolehkah ke depannya kami datang kembali ke sini?” tanya Fatimah.
Fatimah tidak bermaksud membuat tuan rumah menjadi sedih atas kedatangannya dan orang tuanya. Maka dari itu, Fatimah memutuskan untuk pamit pulang dan berjanji akan datang kembali setelah Caca selesai melahirkan.
Adi tak bisa menahan mereka berdua untuk tetap di rumah. Lagipula, istri kecilnya sedang tidak baik-baik saja.
Fatimah dan Pak Yahya akhirnya kembali ke panti asuhan dengan rasa bersalah.
“Sayang.” Adi masuk ke dalam kamar untuk segera menghampiri istrinya yang ternyata tengah menangis.
“Apakah mereka sudah pergi?” tanya Caca.
“Caca sayang, sudah ya jangan menangis. Mereka sudah pergi dan akan kembali setelah kamu melahirkan,” jawab Adi yang sudah memeluk erat istrinya.
“Maafkan Caca, Mas. Caca tidak bermaksud tidak sopan terhadap mereka, hanya saja Caca masih belum bisa menghilangkan rasa sakit yang diperbuat oleh mereka berdua. Terlebih lagi mengingat kejadian di mana Mbak Fatimah meminta Caca untuk setuju menjadikan dia istri kedua dari Mas Adi,” ungkap Caca.
__ADS_1
“Iya sayang, Mas tahu perasaan kamu. Sudah ya jangan sedih, InsyaAllah mereka memahami kesedihan Caca. Sekarang, Caca fokus untuk tetap tenang. Ingat, bayi kita tidak boleh ikut sedih,” tutur Adi sambil menghapus air mata istri kecilnya.
Tak dapat dipungkiri, Adi merindukan sosok istrinya yang ceria dan juga centil. Sosok yang selalu membuat dirinya tertawa lepas dan juga bahagia disaat yang bersamaan.