
Keesokan Pagi.
Ibu Puspita masih dalam suasana berduka dan bahkan untuk makan pun Ibu Puspita sama sekali tidak berselera.
Caca bahkan sangat bingung dengan sikap Ibu Puspita yang justru menyakiti dirinya sendiri.
“Ibu, lihat Caca!” pinta Caca sambil menyentuh wajah Ibu Puspita agar bisa menatap langsung mata Caca.
Ibu Puspita menatap sekilas sepasang mata milik Caca dan kembali menangis.
“Sampai kapan Ibu begini? Apa Ayah akan senang bila melihat Ibu menangis seperti ini dan meratapi kepergian Ayah?” tanya Caca dengan nada cukup tinggi.
Caca harus berkata dengan nada seperti itu, agar Ibu mertuanya bisa mengerti bahwa apa yang dilakukan oleh Ibu Puspita tidaklah benar.
“Ibu, kita harus belajar untuk ikhlas. Mencoba ikhlas atas kepergian Ayah dan yang paling penting kita harus mengirim do'a bukannya tangisan,” ucap Caca.
Perkataan Caca membuat Ibu Puspita perlahan tersadar dengan tindakannya yang salah.
“Caca, mencoba ikhlas rasanya sangat berat. Apakah Ibu bisa?” tanya Ibu Puspita.
“Ibu pasti bisa, kita semua pasti bisa. Lebih baik kita fokus pada kesehatan Mas Adi,” balas Caca.
Ibu Puspita menghapus air matanya dan meminta Caca untuk memeluknya.
“Jika Ibu ingin menangis, maka menangislah. Tapi Ibu juga harus bisa kembali tersenyum dan tertawa,” tutur Caca.
Mama Ismia bernapas lega melihat Caca yang berhasil membuat Ibu Puspita tenang.
“Sekarang Ibu sarapan ya, apa perlu Caca suap?” tanya Caca.
“Tidak usah, Ibu bisa makan sendiri,” jawab Ibu Puspita.
Mama Ismia dan Papa Rio berjalan mendekat untuk kembali pergi ke Bali. Mereka tidak bisa meninggalkan pekerjaan yang sangat penting itu.
“Mbak Puspita, kami sungguh minta maaf karena harus kembali ke Bali. Kami harap Mbak tidak marah kepada kami,” ucap Mama Ismia.
“Ya Allah, Mbak. Saya sama sekali tidak marah, justru saya sangat berterima kasih kepada Mas dan juga Mbak yang sudah datang ke sini. Bahkan, Mas dan Mbak banyak sekali membantu, sementara saya hanya di dalam kamar saja,” terang Ibu Puspita yang justru sangat sungkan dengan kedua orang tua dari menantunya.
Mama Ismia dan Ibu Puspita saling berpelukan. Mereka berdua saling memberi semangat satu sama lain sebelum akhirnya Mama Ismia serta Papa Rio pergi ke Bandara.
***
Malam Hari.
Setelah tahlilan selesai, Caca memberikan amplop kepada Ibu-ibu yang bertugas mengurus semua hal yang berkaitan dengan tahlilan tersebut. Bahkan, Caca memberikan amplop kepada tukang cuci piring yang telah bersedia bekerja di rumah mertuanya untuk beberapa hari ke depan.
“Ibu kenapa masih sedih?” tanya Caca.
“Nak Caca, malam ini bagaimana kalau kita bermalam di rumah sakit? Semenjak Ayah Faizal meninggal, Ibu belum datang menemui Adi. Pasti Adi sangat sedih karena tidak bisa mengantarkan Ayahnya ke tempat peristirahatan terakhir,” balas Ibu Puspita.
“Baiklah, kalau Ibu memang mau bertemu Mas Adi. Mungkin Mas Adi bisa sedikit lebih tenang,” ujar Caca.
__ADS_1
Caca membantu Ibu mertuanya mengemas pakaian dan setelah itu, Caca juga mengemas pakaiannya serta pakaian bayi Yusuf.
“Bu, Caca sudah memesan mobil untuk kita ke rumah sakit. Kalau begitu, Caca permisi mau ganti baju dulu,” tutur Caca dan melenggang pergi masuk ke kamarnya, meninggalkan Ibu Puspita yang tengah menunggu mobil online di depan rumah.
Tak berselang lama, mobil yang Caca pesan telah datang dan untungnya Caca telah siap.
“Atas Nama Caca Lestari?” tanya pengemudi online tersebut.
“Benar. Saya Caca Lestari,” jawab Caca.
Mereka lalu masuk ke dalam mobil untuk segera pergi menuju rumah sakit.
***
Rumah Sakit.
Caca dan Ibu Puspita akhirnya sampai di rumah sakit. Mereka berjalan dengan penuh kekhawatiran karena akan bertemu dengan Adi.
“Assalamu'alaikum,” ucap Caca dan juga Ibu Puspita.
Adi yang saat itu tengah menangis, terkejut melihat istri dan Ibunya datang dengan tiba-tiba. Adi pikir mereka tidak datang karena saat itu waktu telah menunjukkan jam 9 malam.
Adi secepat mungkin memalingkan wajahnya agar istri dan Ibunya tidak tahu bahwa dirinya sedang menangis.
“Mas menangis?” tanya Caca yang melihat suaminya menangis.
“Adi, maafkan Ibu,” ucap Ibu Puspita sambil berjalan menghampiri putra kandungnya.
Melihat Ibu Puspita menangis, membuat Adi tak kuasa menyembunyikan kesedihannya. Mereka berdua pun menangis bersama atas meninggalnya Ayah Faizal.
“Yusuf...” panggil Caca lirih sambil menyentuh pipi kemerah-merahan bayi Yusuf.
Caca menatap serius wajah buah hatinya dengan harapan yang sangat besar kepada putra pertamanya itu.
“Yusuf, Bunda tidak meminta banyak pada kamu, Nak. Bunda berharap kamu bisa menjadi anak yang sholeh. Agar, ketika nanti Bunda dan Ayah meninggal dunia, kamu dapat mengirim do'a untuk kami,” ucap Caca sambil berlinang air mata.
Tetesan air mata Caca mengenai pipi Yusuf dan saat itu juga Yusuf bangun tanpa menangis.
“Assalamu'alaikum, kesayangannya Bunda,” ucap Caca menyapa Yusuf.
Yusuf hanya diam dan kembali memejamkan matanya.
“Yusuf mau tidur lagi?” tanya Caca tersenyum lebar.
Saat Caca sedang memandangi wajah Yusuf, tiba-tiba saja ada seorang wanita duduk di samping Caca.
“Kamu Caca ya?” tanya wanita muda yang duduk di samping Caca.
Caca terdiam sejenak sambil memandangi wajah wanita disampingnya.
“Iya benar, kamu siapa ya?” tanya Caca penasaran.
__ADS_1
“Aku Cici, anak Ips 1. Dulu ketika kita awal masuk sekolah, aku dan kamu satu tenda. Kita regu 14 ketika pramuka,” jawab Cici.
Caca tersenyum lebar setelah mengingat siapa wanita muda yang duduk di sampingnya.
“Ya Allah, aku hampir saja tidak mengenalimu,” ucap Caca.
“Karena aku sekarang gemuk ya?” tanya Cici dan tertawa lepas menertawakan bentuk tubuhnya yang mengembang seperti donat.
“Kamu semakin cantik,” balas Caca.
“Kamu ini bisa saja, oya kamu ke sini ngapain? Siapa yang sakit? Bayi lucu ini adik kamu? Ya ampun lucu sekali.Bagaimana rasanya memiliki Adi padahal kamu sudah lulus SMA?” tanya Cici penasaran.
Caca tertawa kecil mendengar Cici mengira bahwa Yusuf adalah adiknya.
“Cici, ini bukan adik aku. Ini Yusuf, buah hatiku bersama Guru olahraga kita dulu,” terang Caca.
Cici tercengang dengan tatapan tak percaya.
“Caca, kamu jangan suka bercanda seperti ini deh,” tutur Cici yang menganggap bahwa Caca sedang bercanda.
“Aku serius, untuk apa aku berbohong. Suamiku adalah Pak Adi, Guru olahraga kita di SMA,” jelas Caca.
“What? Jadi, gosip di sekolah itu benar? Aku kira kamu dan Pak Adi hanya cosplay menjadi suami istri,” balas Cici.
Cici kemudian dipanggil oleh seorang wanita dari kejauhan.
“Caca, aku pergi dulu ya. Senang bertemu denganmu,” ucap Cici.
Caca bangkit dari duduknya dan memutuskan untuk kembali masuk ke dalam ruang kamar Sang suami.
Dilihatnya Sang suami dan juga Ibu Mertua yang sedang berbincang-bincang serius.
“Sayang!” panggil Adi ketika Sang istri hendak duduk di sofa.
Wanita muda itu tersenyum lebar dan berjalan menghampiri suaminya.
“Terima kasih, sayang. Karena kamu, Mas dan Ibu merasakan ketenangan. Mas akan mengikuti saran Caca dan mencoba ikhlas untuk menerima semua ujian ini,” tutur Adi.
“Mas dan Ibu jangan sedih lagi ya. Caca yakin bahwa Ayah sudah bahagia di surga dan saat ini tengah mengawasi kita dari atas,” balas Caca.
Adi meminta Caca untuk mendekat dan mereka bertiga pun berpelukan.
“Oek... oek...” Bayi Yusuf menangis, seakan protes karena dirinya tidak diajak berpelukan.
Caca berbalik badan dan berjalan dengan langkah terburu-buru menuju buah hati tercinta.
Saat Caca baru saja menggendong Yusuf, hal menggemaskan pun terjadi. Yaitu, Yusuf berhenti menangis dan membuat mereka bertiga tertawa karena kejahilan Yusuf yang sangat menggemaskan.
“Mas, bayi kita sangat persis dengan Mas Adi,” tutur Caca.
“Sepertinya lebih ke kamu, Caca sayang!” seru Adi.
__ADS_1
Caca menggelengkan kepalanya karena yang seringkali jahil adalah suaminya dan bukan dirinya.
“Sudah cukup, kalian berdua sama-sama usil dan sama-sama jahil. Yusuf sendiri adalah perpaduan dari kalian berdua,” pungkas Ibu Puspita.