Istri Centil Mas Adi

Istri Centil Mas Adi
Caca Akhirnya Memaafkan


__ADS_3

Siang Hari.


Adi akhirnya kembali ke rumah kontrakan, ternyata kepulangan Adi dinantikan oleh Ibu Puspita yang sengaja duduk di teras depan rumah. Ibu Puspita duduk seorang diri, sementara Caca dan Bayi Yusuf beristirahat di kamar.


Adi turun dari motor sambil mengucapkan salam kepada Sang Ibu tercinta.


“Assalamu'alaikum,” ucap Adi dan mencium punggung tangan Ibunya.


“Wa'alaikumsalam, akhirnya kamu pulang.”


Adi mengernyitkan keningnya dan bertanya apa yang telah terjadi karena wajah dari Ibunya nampak tak tenang.


“Jadi begini, tadi pagi Neng Fatimah dan Pak Yahya datang berkunjung. Yang menjadi permasalahannya, Caca sengaja tidak ingin menemui mereka. Justru, Caca bilang kalau Kamu yang akan menjelaskannya kepada Ibu,” terang Ibu Puspita.


“Ibu, nanti Adi akan jelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Sekarang Adi mau ke kamar,” balas Adi dan berlari kecil masuk ke dalam kamar.


Ketika Adi masuk ke dalam kamar, ia melihat istri kecilnya dan bayi Yusuf yang sedang tidur siang.


“Ternyata mereka berdua sedang tertidur,” gumam Adi.


Adi berjalan menuju almari pakaian dengan langkah pelan. Pria 29 tahun itu tidak ingin membuat Caca maupun bayi mereka terjaga.


“Mas sudah pulang,” ucap Caca yang ternyata sudah bangun.


Adi terkejut dan hampir saja ia menabrak meja kecil didekatnya.


“Bagaimana hari ini, Mas?” tanya Caca yang sudah bangkit dari tempat tidur dan datang menghampiri suaminya untuk memeluk tubuh suami tercinta.


Adi bisa merasakan bahwa pelukan Caca adalah pelukan kesedihan. Itu semua pasti karena kedatangan Fatimah dan Pak Yahya.


“Mas, hari ini Caca sangat sedih. Pikiran Caca sedang kacau,” tutur Caca yang tidak memperjelas alasannya.


“Sedih kenapa? Kacau kenapa?” tanya Adi yang juga memeluk erat tubuh suaminya.


“Ibu pasti sudah memberitahu kepada Mas Adi,” jawab Caca.


“Maaf ya sayang,” ucap Adi meminta maaf.


“Mas kenapa meminta maaf? Lagipula, bukan karena Mas,” terang Caca dan melepaskan pelukannya, kemudian kembali naik ke tempat tidur.


“Caca mau makan sesuatu? Bagaimana kalau kita keluar mencari sesuatu yang segar?” tanya Adi mengajak istri kecilnya untuk mencari minuman di luar.


Caca tentu saja tak bisa menolak ajakan suaminya itu, bagaimanapun ia juga butuh untuk menghirup udah luar.


“Tapi, bagaimana dengan Yusuf?” tanya Caca.


“Caca sayang, kita pergi hanya sebentar. Yusuf juga sedang tidur,” jawab Adi.

__ADS_1


Senyum Caca menghiasi wajah cantiknya, saat itu juga Caca turun untuk bergegas mengganti pakaiannya.


Adi tak mau kalah, ia dan istrinya balapan paling cepat memakai pakaian.


“Yes, Caca menang,” tutur Caca lirih.


“Iya, istri Mas ini yang menang. Mas tunggu di depan ya,” tutur Adi.


Adi pun menghampiri Ibu Puspita yang masih berada di teras depan rumah.


“Mau kemana, Nak?” tanya Ibu Puspita.


“Bu, kami mau pergi cari minuman segar. Tolong jaga Yusuf ya Bu,” jawab Adi.


Ibu Puspita dengan semangat mengiyakan dengan senang hati.


“Adi, kamu belum menceritakan apa yang ingin Ibu dengar,” tutur Ibu Puspita mengingatkan Adi untuk menceritakan sekaligus menjelaskan apa yang telah terjadi sehingga Caca enggan bertemu Fatimah serta Pak Yahya.


Adi perlahan duduk dikursi kayu dan mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.


“Astaghfirullah,” ucap Ibu Puspita yang tak menyangka bahwa Fatimah dan Pak Yahya sampai melakukan hal seperti itu kepada menantu kesayangannya.


Adi bahkan memberitahukan respon Caca yang menampar Fatimah karena telah lancang untuk menjadi madunya.


“Adi, Ibu tidak setuju kalau kamu memilih istri lebih dari satu,” tegas Ibu Puspita.


“Kalau sampai itu benar-benar terjadi, Ibu tidak akan pernah menganggap kamu sebagai putra Ibu,” tegas Ibu Puspita.


“Istighfar Ibu, Adi juga tidak akan mau dan tidak akan pernah berpoligami. Cukup Caca yang menjadi istri Adi,” pungkas Adi yang sedikitpun tidak ada niatan atau memikirkan untuk memiliki istri lebih dari satu.


“Mas, Caca sudah siap,” tutur Caca yang sudah selesai berhias.


Adi dan Caca pun bergegas pergi untuk mencari minuman segar.


Beberapa jam kemudian.


Adi dan Caca telah kembali dari membeli minuman segar. Mereka terkejut melihat mobil yang sudah terparkir di depan rumah.


“Mas, apakah itu mereka?” tanya Caca.


“Iya sayang, itu mereka. Apakah Caca mau menemui mereka?” tanya Adi yang sudah merangkul pinggang.


“Bismillah,” balas Caca sambil menganggukkan kepalanya.


Adi dan Caca bersama-sama masuk ke dalam rumah. Terlihat jelas Fatimah dan Pak Yahya yang menatap lurus Caca.


“Assalamu'alaikum,” ucap Adi dan Caca sebelum memasuki rumah.

__ADS_1


“Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuhwabarakatuh,” balas Ibu Puspita, Fatimah dan juga Pak Yahya.


Keduanya pun duduk di kursi bersama dengan Ibu Puspita.


“Mbak Caca, apa kabar?” tanya Fatimah.


“Alhamdulillah, baik.” Sebisa mungkin Caca menatap mata Fatimah seraya tersenyum kecil.


Fatimah dengan lembut menyentuh tangan Caca untuk meminta maaf dari lubuk hati yang paling dalam.


“Mbak Caca, saya dan Abi sudah menceritakan semuanya kepada Ibu Puspita. Demi Allah, saya meminta maaf atas permintaan saya yang sangat tidak sopan,” tutur Fatimah dengan berderai air mata.


Fatimah memohon maaf dan berharap Caca mau memaafkan dirinya serta Pak Yahya atas permintaan tak masuk akal beberapa bulan yang lalu itu.


Caca tidak langsung menjawab, justru ia menangis karena kejadian itu kembali membayanginya.


“Mbak Caca, Mas Adi. Tolong maafkan kami, sesungguhnya kami adalah manusia biasa yang tak luput dari khilaf,” ujar Pak Yahya penuh penyesalan.


Caca menghela napasnya dan membalas sentuhan tangan dari Fatimah.


“Saya sudah memaafkan Mbak Fatimah dan juga Pak Yahya. Tapi jujur, kejadian itu belum bisa sepenuhnya saya lupakan,” ungkap Caca dengan jujur.


Fatimah dan Pak Yahya mengucap terima kasih karena akhirnya Caca mau memaafkan mereka.


“Bagaimana dengan Mas Adi?” tanya Pak Yahya.


“Saya pun manusia biasa, Pak Yahya. Semoga menjadi pengalaman sekaligus pelajaran untuk kita di masa depan,” pungkas Adi.


Caca pun tersenyum begitu juga dengan Fatimah serta Pak Yahya yang merasa sangat lega atas permintaan maaf mereka kepada Caca.


“Oek... Oek...” Bayi Yusuf yang berada di dalam kamar tiba-tiba saja menangis, Caca pun memutuskan untuk meninggalkan ruang tamu karena harus menyusui bayi kecilnya.


Suasana di ruang tamu masih canggung, untungnya ada Ibu Puspita yang terus berbicara sehingga rasa canggung tersebut tertutup oleh Ibu Puspita.


Tak berselang lama, Caca keluar untuk kembali bergabung di ruang tamu.


“Maaf, sudah waktunya kami kembali ke panti. Anak-anak panti tidak bisa ditinggal lama-lama,” tutur Fatimah.


“Mbak Fatimah semangat,” ucap Caca yang entah kenapa justru menyemangati Fatimah yang mengurus panti asuhan bersama dengan Pak Yahya.


Fatimah tersenyum haru dengan ucapan Caca yang memberinya semangat. Fatimah bahkan menyalahkan dirinya yang bisa-bisanya menyakiti hati tulus dari seorang Caca Lestari.


Setelah Fatimah dan Pak Yahya pergi, Caca terduduk lemas di kursi.


Caca bersyukur karena akhirnya ia bisa memaafkan Fatimah dan juga Pak Yahya. Caca berharap ke depannya tidak ada lain Fatimah dan Pak Yahya yang lain, yang mencoba mengganggu rumah tangganya.


“Kalian pasti butuh waktu berdua, biar Yusuf Ibu yang jaga,” tutur Ibu Puspita dan melenggang masuk ke dalam kamar Adi serta Caca untuk menemani Yusuf di kamar.

__ADS_1


__ADS_2