
Adi baru saja menghubungi kedua orang tuanya untuk mengajak mereka liburan bersama. Caca pun juga begitu, ia menghubungi orang tuanya dan ternyata Mama serta Papa belum bisa berlibur bersama dalam waktu dekat ini.
“Mas, sepertinya kita tidak jadi liburan. Mama dan Papa minggu ini sangat sibuk, belum bisa mengambil cuti,” terang Caca sedih.
Caca dengan langkah lemas pergi menuju kamar, rencana liburan yang sudah ia bayangkan pada akhirnya belum juga kesampaian.
“Caca jangan sedih dong,” ucap Adi menghibur istrinya.
“Lalu, Caca harus tertawa terbahak-bahak setelah tahu Mama dan Papa sibuk?” tanya Caca dengan suara cempreng.
“Caca, bukankah masih ada minggu depan? Sudah dong jangan sedih, nanti cantiknya hilang.”
“Jangan ganggu Caca, pokoknya Caca tidak mau di ganggu!” pinta Caca.
Caca menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya, ia pun tidur dengan posisi membelakangi Sang suami.
“Caca, tidak boleh ngambek sama suami,” ujar Adi sambil menyentuh pundak Caca.
“Maaf, Caca juga begini karena sedih tidak jadi liburan,” sahut Caca sambil melepaskan selimut yang menutupi seluruh wajahnya.
Ponsel Caca kembali berbunyi dan ternyata itu adalah panggilan dari Mama Ismia.
“Ca, Mama menelpon,” ucap Adi dan memberikan ponsel tersebut apa Caca.
Caca pun buru-buru mengangkat telepon dari Mama tercinta.
“Hallo, assalamu'alaikum. Ada apa lagi?” tanya Caca.
Senyum Caca yang tadinya hilang, seketika itu mekar kembali. Caca tersenyum lebar karena liburan yang ia inginkan akan segera terwujud.
“Terima kasih, Ma. Caca sama Mama selamanya,” ujar Caca dan mengakhiri sambungan telepon tersebut.
Dengan penuh semangat, Caca memberitahu Sang suami bahwa liburan keluarga mereka akan segera terwujud. Bahkan, Caca mengatakan bahwa semua fasilitas akan Mama dan Papa bayar.
“Alhamdulillah,” ucap Adi senang.
Caca dengan tak sabaran mengajak Sang suami untuk segera mengemasi pakaian mereka.
“Mas, besok pagi kita liburan di pantai sekalian menyewa villa. Kira-kira bawa baju berapa setel ya Mas?” tanya Caca yang sedang memilih pakaian mana yang akan di masukkan ke dalam kamar.
“Tidak usah banyak-banyak, Caca sayang. Bawa saja 3-4 setelan pakaian termasuk piyama,” jawab Caca.
“Apa tidak terlalu sedikit, Mas? Bagaimana kalau kita bawa 10 setelan pakaian?” tanya Caca.
Adi geleng-geleng kepala seraya tersenyum kecil.
“Caca, kita hanya berlibur semalam saja. Besok kita berangkat dan lusa sudah pulang, lagipula kita liburan tidak jauh. Hanya 4 jam dari sini,” terang Adi.
“Mas jawab jujur, apakah dulu Mas pernah pergi ke pantai sama wanita lain?” tanya Caca penasaran dan duduk di pangkuan Adi.
“Pernah, waktu zaman kuliah dulu. Itupun beramai-ramai,” jawab Adi.
“Maksud Caca itu berduaan,” pungkas Caca.
“Tidak pernah sama sekali,” jawab Adi dan menjelaskan bahwa ke pantai saat zaman kuliah itu saja adalah keterpaksaan karena acara
kampus.
Caca mencium pipi suaminya berkali-kali dan meminta Sang suami untuk menemaninya ke kamar mandi.
Adi mengiyakan permintaan istrinya dan bergegas menemani istri kecilnya ke kamar mandi.
__ADS_1
Setelah selesai dari kamar mandi, Caca minta dibuatkan pisang goreng. Kebetulan masih ada pisang di dalam kulkas sisa dari jualan mereka.
“Mas, gorengnya pakai tepung roti ya habis itu di kasih topping coklat!” pinta Caca.
Adi sangat penurut dengan permintaan istrinya, terlebih lagi jika istrinya ingin memakan masakannya.
“Mas tidak kesal apa sama Caca yang sering minta ini dan itu? Kalau suami lain pasti sudah mengomeli istrinya,” ucap Caca yang duduk di kursi meja sambil memperhatikan suaminya mengupas kulit pisang.
“Kesal kenapa? Mas sama sekali tidak kesal. Justru Mas senang karena Caca masih bergantung sama Mas dan Mas senang karena bisa membuat Caca kenyang,” pungkas Adi.
Caca menggigit bibirnya sendiri sambil mencubit gemas lengan suaminya yang berotot.
“Mas ini ya paling bisa membuat Caca salah tingkah,” ucap Caca tersipu malu.
“Alhamdulillah,” balas Adi dan mengecup basah bibir Caca.
Caca menutup seluruh wajahnya setelah mendapatkan kecupan cinta dari Adi.
“Mas genit,” celetuk Caca.
“Siapa yang lebih genit?” tanya Adi menggoda istri kecilnya.
Caca dengan malu-malu menujuk dirinya sendiri, ia mengakui bahwa dirinya lebih genit dari Sang suami.
“Tapi, Caca genit juga cuma sama Mas. Kalau sama yang lain ogah deh,” pungkas Caca.
“Ya tentu saja dong, sesuai judul istri genit Mas Adi,” pungkas Adi.
Caca hanya terkekeh kecil mendengar ucapan suaminya dan meminta Sang suami lebih cepat lagi mengolah pisang goreng yang ia inginkan.
****
Mama dan Papa telah tiba dengan membawa mobil masing-masing, ternyata di dalam mobil Papa terdapat orang tua dari Adi Hidayatullah.
“Horee, liburan ke pantai akhirnya jadi juga. Caca senang sekali, terima kasih semuanya. Terima kasih suami Caca yang paling baik sedunia,” pungkas Caca yang sangat bahagia.
Caca reflek ingin mencium bibir suaminya, untung saja Adi buru-buru menghindar sehingga mereka tak menjadi tontonan oleh para orang tua.
Caca menggaruk kepalanya yang tiba-tiba gatal seraya tersenyum bodoh karena hampir saja mencium bibir suaminya.
“Untung saja Mas Adi cepat menghindar, kalau tidak sudah malah aku,” gumam Caca.
Papa Rio dan Ayah Faizal sibuk memasukkan koper serta beberapa keperluan untuk liburan mereka. Sementara itu, Mama Ismia mengajak Caca untuk segera masuk ke dalam mobil.
“Mama, Caca maunya semobil dengan Mas Adi!” pinta Caca ketika melihat Adi yang sudah masuk ke mobil Papa Rio.
“Caca, tahan sebentar ya. Kalau sudah sampai, kalian bisa sama-sama lagi,” balas Mama Ismia.
“Pokoknya Caca mau sama Mas Adi, kalau tidak boleh ya sudah. Caca tidak jadi pergi,” pungkas Caca merengek seperti anak kecil.
Adi akhirnya keluar dari mobil Papa Rio dan memeluk istrinya agar tidak menangis.
“Ya maunya bagaimana?” tanya Adi.
“Caca mau semobil sama Mas,” jawab Caca.
Adi menoleh ke arah Papa mertua dan setelah itu mengajak istri kecilnya untuk masuk ke dalam mobil Papa mertua. Kemudian, mobil milik Mama Ismia ditumpangi oleh Ibu Puspita serta Ayah Faizal.
“Sudah jangan sedih, lihat kita sudah semobil,” tutur Adi pada Caca yang duduk di sampingnya.
“Terima kasih, Mas,” balas Caca.
__ADS_1
Istri mana yang tidak sedih jika harus berpisah walaupun hanya hitungan jam, maksud Caca semobil dengan Sang suami adalah karena ingin menikmati perjalanan bersama-sama. Entah apa jadinya kalau mereka pisah mobil, tentu saja mereka tidak akan bisa menikmati perjalanan menuju pantai.
Mobil perlahan pergi meninggalkan daerah itu menuju tempat wisata yang ingin mereka datangi.
Caca begitu menikmati perjalanannya, ia terus memegang tangan suaminya sambil bersandar di bahu Sang suami tercinta.
“Papa, nanti bakar-bakar ya!” pinta Caca.
“Bakar-bakar? Caca mau bakar ayam atau jagung?” tanya Papa Rio sambil mengemudikan mobilnya.
“Kalau dua-duanya boleh, Pa?” tanya Caca.
“Oh tentu saja boleh, nanti Papa akan menghubungi pihak villa untuk menyiapkan ayam dan jagung,” jawab Papa Rio.
Papa Rio dan Mama Ismia sengaja tidak menggunakan jasa sopir pribadi mereka, karena mereka benar-benar ingin menikmati waktu bersama keluarga.
“Pa, sepertinya bakar singkong juga enak,” ucap Caca.
“Singkong? Caca mau makan siang?” tanya Papa Rio karena seingatnya Caca terakhir makan singkong waktu masih kecil.
“Papa, Caca itu sudah lama tidak makan singkong bakar. Terakhir makan singkong bakar waktu SD kelas 4, itupun Papa marahin Caca karena makan singkong bakar diam-diam,” terang Caca mengingat masa ketika ia masih SD.
Adi mengangkat kedua alisnya dengan ekspresi terkejut.
“Mas jangan kaget ya,” tutur Caca dengan berbisik.
Adi hanya mengangkat jempol tangannya tanda setuju.
“Caca yakin mau makan singkong bakar?” tanya Papa Rio memastikan kembali keinginan Caca.
“Iya, Papa. Jangan lupa pesan yang banyak, biar bisa Caca bawa pulang ke rumah kontrakan kami,” balas Caca seraya tersenyum lebar pada Sang suami tercinta.
Untuk mengusir kejenuhan di dalam mobil, Caca pun bernyanyi dengan cukup semangat. Suaranya pun mendadak cempreng dan itu membuat suasana di dalam mobil menjadi berisik.
Papa Rio dan Adi mencoba menikmati setiap nyanyian yang di bawa oleh Caca. Namun, ekspresi mereka menunjukkan sebuah ketidaknyamanan.
“Sudahlah, lebih baik Caca diam,” ucap Caca dan tak lagi menyanyi.
“Kok berhenti?” tanya Adi.
“Caca, ayolah nyanyi lagi!” pinta Papa Rio.
“Sudahlah, tidak perlu meminta Caca untuk bernyanyi lagi. Caca tahu kalau suara Caca pas-pasan,” balas Caca dan memilih tidur di pelukan Adi.
Adi pun tetap dalam posisi duduk seraya memeluk istri kecilnya yang ingin tidur di pelukannya.
“Mas pegang Caca yang erat, awas ya kalau Caca sampai jatuh,” tutur Caca dengan mata yang telah terpejam.
Di sisi lain.
Mama Ismia tertawa lepas mendengar cerita dari besannya tentang Adi ketika masih kecil. Ayah Faizal dan Ibu Puspita asik menceritakan masa kecil Adi yang sangat takut di dekati anak perempuan sebayanya.
Bahkan, pernah Adi menangis karena ada anak perempuan yang berlari ingin mengajaknya bermain bersama.
Mama Ismia merasa terhibur dengan apa yang besannya ceritakan. Bahkan, Mama Ismia sangat senang karena yang menjadi menantunya adalah Adi.
“Mbak, saya minta maaf ya karena Caca masih belum dewasa. Jiwanya masih seperti anak-anak,” ucap Mama Ismia.
“Benarkah? Menurut saya justru Caca adalah istri sekaligus menantu yang cukup dewasa. Di usianya yang masih terbilang sangat muda, Caca mulai belajar banyak ketika menjadi seorang dan saya sendiri menganggap Caca seperti putri kandung saya,” ungkap Ibu Puspita.
Mama Ismia tersenyum lega karena Caca memiliki suami serta mertua yang sangat menyayanginya.
__ADS_1