Istri Centil Mas Adi

Istri Centil Mas Adi
Caca Menangis


__ADS_3

“Bu Intan jangan coba-coba mendekati calon suami Caca,” ucap Caca yang cemburu dengan sikap Intan pada Adi.


“Kamu itu masih kecil, kenapa tidak sopan sama Bu Intan? Terus, ngapain juga bilang kalau Pak Adi ini suami kamu?” Intan tak terima dengan ucapan Caca yang mengklaim bahwa Adi adalah Calon suaminya.


“Bu Intan lebih baik pergi duluan, ada yang ingin saya sampaikan kepada Caca!” pinta Adi.


Intan sebenarnya ingin menolak, akan tetapi ia juga harus terlihat profesional di depan Adi.


“Baik, Pak Adi. Saya permisi,” sahut Intan.


Kini, hanya ada Caca dan Adi di depan kelas 12 IPA 1.


“Nak, kamu harus jaga sikap dan tidak boleh berbicara seperti tadi,” ucap Adi menasehati Caca.


“Kalau kita berjodoh bagaimana? Bukankah jodoh rahasia Allah?” tanya Caca.


Bibir Adi seketika itu terdiam. Pertanyaan Caca membuatnya bingung tak bisa berkata apa-apa.


“Pak Adi kenapa diam saja? Kata Pak Zainal jodoh itu takdir Allah. Dan siapapun tidak bisa melawan takdir yang sudah di tentukan,” pungkas Caca.


“Caca!” panggil Papa Rio dari depan koridor.


Caca bergegas pamit pulang dan tak lupa gadis 17 tahun itu mencium punggung tangan Adi.


“Bye bye, calon suamiku. Assalamu'alaikum!” Caca berlari kecil sebelum meninggalkan Guru olahraganya.


Adi menyentuh dadanya sembari menghela napasnya yang tiba-tiba saja bernapas tidak beraturan.


“Bisa-bisanya aku tak bisa berkutik dengan ucapan muridku sendiri,” gumam Adi.


Papa Rio meminta maaf atas keterlambatannya menjemput Caca.


“Maaf ya sayang, tadi di jalan macet,” ucap Papa Rio sembari membawa tas ransel Caca.


Jika biasanya Caca ngambek, lain halnya dengan hari itu. Caca menyikapi keterlambatan Papa Rio dengan sangat santai.


“Santai, Pa. Lagipula, Caca sedang mengobrol sama calon menantu Papa,” balas Caca.


Papa Rio menanggapi ucapan Caca sebagai candaan belaka dan bergegas mengemudikan mobilnya untuk mengantarkan putri kesayangannya pulang ke rumah.


“Setelah mengantarkan Caca pulang, Papa berangkat ke kantor lagi?” tanya Caca penasaran.


“Iya sayang, bulan depan Papa akan pergi ke luar negeri selama seminggu,” jawab Papa Rio.


Caca sudah terbiasa dengan kesibukan Mama dan Papa nya. Untungnya saja, Caca bukan termasuk anak yang suka memberontak seperti kebanyakan anak kaya lainnya.

__ADS_1


“Seperti biasa, Papa harus membawakan Caca hadiah. Kali ini Caca ingin kalung bertuliskan nama Caca!” pinta Caca.


“Baik, Tuan Putri!” seru Papa Rio.


***


Di Rumah.


Caca bergegas masuk ke dalam rumah setelah berpisah kembali dengan Papa Rio yang harus kembali bekerja.


“Assalamu'alaikum,” ucap Caca yang tak lupa mengucapkan salam.


“Wa’alaikumsalam,” balas Bibi Ningrum, asisten rumah tangga yang bekerja di rumah keluarga Caca.


Bibi Ningrum sendiri hanya bekerja dari pagi sampai sore hari. Selebihnya, Mama Ismia yang menangani pekerjaan rumah.


“Makan siang sudah siap belum, Bi?” tanya Caca.


“Sudah, Mbak Caca,” jawab Bibi Ningrum.


“Caca ganti baju dulu ya Bi!” seru Caca.


Caca berlari kecil menaiki anak tangga dan tiba-tiba saja senyum Guru olahraganya muncul di pikirannya.


Semakin hari semakin besar rasa suka Caca untuk Guru olahraganya dan berharap bahwa Adi lah yang akan menjadi suaminya kelak.


Adi adalah cinta pertama Caca. Hal yang membuat Caca menyukai Adi karena Guru olahraga itu pernah membantunya ketika Caca terpeleset di lapangan upacara. Kebetulan Caca menjadi salah satu petugas upacara yaitu, mengibarkan bendera merah putih.


Kejadian yang tidak akan pernah Caca lupakan seumur hidupnya. Saat itu setelah berhasil mengibarkan bendera merah putih, Caca tak sengaja terpeleset di sebuah kubangan lumpur yang memang pada waktu itu sedang musim hujan.


Ketika semua orang menertawakannya, hanya Adi lah yang maju membantu Caca bangkit dan menyemangatinya untuk tidak mendengarkan hinaan serta sorakan dari murid satu sekolah.


Membayangkan senyum Adi membuat Caca menjadi salah tingkah.


Karena terlalu asik memikirkan seorang Adi Hidayatullah, Caca sampai lupa mengganti pakaiannya.


“Mbak Caca!” panggil Bibi Ningrum karena Caca tak kunjung turun untuk makan siang.


Caca tersadar dari pikirannya dan bergegas mengganti seragamnya dengan pakaian santai rumahan.


“Sebentar, Bi. Caca sebentar lagi turun ke bawah!” seru Caca.


Tak berselang lama, Caca keluar dari kamarnya untuk makan siang.


“Bibi sudah makan?” tanya Caca sembari mendaratkan bokongnya di kursi.

__ADS_1


“Alhamdulillah Bibi sudah makan, Mbak Caca. Sebelum jam 5 Bibi harus sudah pulang karena anak Bibi yang kecil sakit, Mbak Caca,” terang Bibi Ningrum.


“Bibi sudah bicara dengan Mama dan Papa?” tanya Caca yang akan menyantap makan siangnya.


“Sudah, Mbak Caca. Bapak dan Ibu meminta Bibi untuk memberitahukan Mbak Caca,” jawab Bibi Ningrum.


“Baik, Bi. Caca makan siang dulu ya Bi,” ujar Caca dan mulai menyantap makan siangnya.


****


Sore Hari.


Bibi Ningrum telah pulang ke rumah dan di rumah hanya ada Caca seorang. Mama dan Papa belum juga kembali dari pekerjaan mereka.


Untuk mengusir rasa bosannya, Caca memutuskan untuk menelpon Guru olahraganya, Adi Hidayatullah.


“Semoga saja diangkat,” ucap Caca penuh harap.


Tak disangka dan tak diduga-duga, Adi menerima panggilan telepon Caca.


“Assalamu'alaikum, calon suami!” Caca dengan berani menyapa Adi.


Adi tak langsung menjawab sapaan Caca melalui telepon karena sepertinya ia sedang berbicara dengan seseorang.


“Pak Adi, coba lihat baju ini.” Terdengar suara seorang wanita yang tak asing bagi Caca.


Seketika itu juga, Caca menutup panggilannya dan menangis sedih. Suara itu adalah suara Bu intan, Guru Matematika di sekolah yang juga menyukai Adi.


“Hiks.. hiks...” Caca menangis sedih dan juga cemburu mendengar suara Guru Matematikanya yang terdengar begitu dekat dengan Adi.


“Kenapa Pak Adi bisa sedekat itu dengan Bu Intan? Apa Pak Adi sengaja menerima telepon ku untuk mendengar suara Bu intan?” tanya Caca dengan terus mengeluarkan air mata.


Ketika Caca sedang menangis, Mama Ismia tiba-tiba masuk ke dalam kamar Caca.


“Caca sayang!” panggil Mama Ismia yang saat itu membawa paper bag berisi cemilan untuk Caca.


Caca terkejut dan buru-buru menghapus air matanya. Belum sempat menghapus air matanya, Mama Ismia sudah lebih dulu memergoki Caca yang tengah menangis.


“Caca kenapa menangis? Ada apa sayang?” tanya Mama Ismia yang meletakkan begitu saja paper bag di tangannya dan berjalan mendekati Caca.


Caca menggelengkan kepalanya dengan terus menunduk sedih.


“Caca tidak biasanya menangis seperti ini. Coba ceritakan apa yang membuat Caca menangis, siapa tahu Mama bisa membantu Caca,” tutur Mama Ismia.


Caca akhirnya menceritakan alasan mengapa ia menangis dan setelah mendengar penjelasan dari Caca, Mama Ismia merespon Caca dengan sebuah pelukan.

__ADS_1


“Caca sayang, kamu cantik dan juga pintar. Tidak pantas bagi seorang perempuan menangis seorang pria. Lebih baik, Caca tanyakan dengan jelas kenapa Pak Adi dan Bu Intan bersama,” ucap Mama Ismia.


__ADS_2