
Adi sedang sibuk di dapur untuk membuat es tapi yang nantinya akan mereka jual. Adi yakin bahwa es tape buatannya akan ludes tak tersisa.
“Itu es tape kok dimasukkan ke dalam plastik, Mas?” tanya Caca penasaran karena hanya jadi penonton untuk suaminya.
“Iya Caca sayang, ini nanti namanya es balon rasa tape,” terang Adi.
Karena Caca tidak mengerti, Caca hanya bisa mengiyakan sembari terus memperhatikan bagaimana Sang suami membuat tape tersebut menjadi es balon yang bisa dinikmati.
“Mas, boleh Caca bantu bungkus ke dalam plastik?” tanya Caca penasaran yang sangat ingin mencoba apa yang dilakukan Sang suami.
“Boleh, silakan saja!” seru Adi.
Adi melakukannya dengan sangat cepat, sedangkan Caca masih harus banyak belajar lagi.
Setelah semuanya sudah selesai, Adi dan Caca memasukannya satu-persatu ke dalam kulkas agar segera membeku.
“Terus, kalau sudah membeku baru deh kita jual,” tutur Adi.
Adi mengambil kertas dan jual spidol untuk menuliskan bahwa mereka menjual es tape singkong.
Sedia Es Tape Singkong 2000/Pcs
Begitulah Adi menulisnya dan akan menjual es tape singkong keesokan harinya.
“Sekarang kita mau ngapain lagi, Mas?” tanya Caca yang ingin terus bergerak.
“Caca tidak lelah?” tanya Adi karena Caca terlihat tak ada lelahnya.
“Tidak sama sekali, Mas. Alasan Caca lelah apa? Perasaan Caca tidak melakukan pekerjaan berat,” tutur Caca.
Adi menatap istrinya dengan terheran-heran, karena dari pagi sampai saat ini istrinya itu tidak bisa diam. Bahkan, tidurpun tidak sampai 2 jam.
“Kok malah diam, Mas? Ayo temenin Caca menyetrika pakaian!” pinta Caca dan bergegas masuk ke dalam kamar untuk menyetrika pakaian mereka.
Pada saat Caca dan Adi sibuk memisahkan antara baju dan celana, terdengar suara yang memanggil.
Caca pun meminta Sang suami untuk keluar karena pasti adalah orang yang ingin membeli jualan mereka.
“Caca yang hati-hati ya, jangan sampai terkena panas,” ucap Adi berpesan kepada istri kecilnya sebelum pergi melayani pembeli.
__ADS_1
“Mas tenang saja, ya kali Caca sengaja menyentuh setrika yang panas ini.”
Adi bergegas menuju warung dan ternyata yang datang bukanlah pembeli. Melainkan orang tuanya dan kedua mertua.
Adi mencium satu-persatu punggung tangan para orang tua dan memanggil istri kecilnya untuk segera datang ke ruangan depan.
“Caca!” panggil Adi.
Mendengar namanya di panggil, Caca bergegas menghampiri suaminya dan lupa mencabut colokan setrika.
“Mama, Papa!” Caca berlari dengan penuh semangat menghampiri kedua orangtuanya. “Ayah, Ibu!” Caca pun tak lupa menyapa mertuanya.
“Caca, bagaimana keadaan kamu?” tanya Mama Ismia.
“Mama tidak perlu khawatir, Caca di sini baik-baik saja,” jawab Caca.
“Caca tidak merasakan pusing atau mual di pagi hari?” tanya Mama Ismia penasaran.
Tidak sama sekali, Mas,” jawab Caca karena tidak pernah merasakan yang namanya mual atupun pusing.
“Adi, benar apa kata Caca?” tanya Mama Ismia memastikan.
“Alhamdulillah Caca tidak merasakan keduanya, Mama. Justru, Caca sekarang tidak bisa diam dan sedikit cerewet,” ungkap Adi.
“Caca tidak cerewet, Mas. Caca itu hanya ingin mengeluarkan isi hati Caca. Mas tahu sendiri kalau sekarang itu Caca inginnya beraktivitas,” pungkas Caca.
Mama Ismia serta yang lain sepertinya setuju dengan apa yang Adi katakan mengenai Caca yang sedikit cerewet.
Mama Ismia memberi isyarat mata kepada besannya untuk memberikan buah-buahan yang sebelumnya Ibu Puspita dan Ayah Rio beli ketika hendak menemui Caca serta suaminya.
“Caca, ini buah-buahan untuk kamu dan calon buah hati kalian. Di makan ya Caca,” tutur Ibu Puspita menyerahkan keranjang buah berukuran cukup besar.
“Terima kasih, Ibu. Caca pasti akan memakannya. Ngomong-ngomong Mas Adi boleh tidak makan buah-buahan ini?” tanya Caca serius.
Pertanyaan Caca membuat mereka tertawa lepas karena ekspresi wajah Caca begitu menggemaskan.
“Kok Caca malah ditertawakan? Caca serius bertanya,” ucap Caca dengan tatapan polosnya.
Ibu Puspita tersenyum seraya menyentuh tangan menantunya.
__ADS_1
“Kalau itu terserah Caca saja,” balas Ibu Puspita.
Caca menganggukkan kepalanya tanda mengerti dan menoleh ke arah Sang suami yang ternyata sedang serius memperhatikan dirinya.
“Mas, nanti kita makan sama-sama,” ucap Caca tersenyum lebar.
Adi mengiyakan seraya tersenyum menatap istri kecilnya yang sangat bahagia mendapatkan banyak buah-buahan.
“Hallo bayi, nanti kita makan buah yang banyak ya,” tutur Caca sembari menyentuh perutnya.
Beberapa saat kemudian.
Sebelum kembali berpisah, mereka makan sore bersama. Tentu saja yang memasak adalah Mama Ismia dan Ibu Puspita. Sementara Caca, asik memakan buah semangka bersama Adi, Papa Rio dan Ayah Faizal.
Setelah makan sore bersama, para orang tua bergegas untuk pulang dan akan kembali datang untuk melihat kondisi Caca yang sedang mengandung.
“Sayang, Mama dan Papa pulang ya. Kamu kalau ada apa-apa atau ingin sesuatu langsung telpon kami ya,” tutur Mama Ismia.
“Iya Mama,” balas Caca.
Caca tidak bersungguh-sungguh dalam mengiyakan, tidak mungkin juga dirinya merepotkan kedua orang tuanya. Toh, ada Sang suami di sampingnya yang selalu menjaga dirinya.
“Nak Caca, Ibu harap selama kehamilan kamu tidak stress dan jika merasa tidak enak badan, jangan di tahan. Langsung pergi ke dokter atau klinik terdekat untuk memeriksa keadaan Nak Caca dan juga bayi di perut,” tutur Ibu Puspita.
Para orang tua tentu saja sangat mengkhawatirkan kesehatannya, terlebih lagi bayi yang dikandung Caca adalah buah hati pertama Caca dan Adi. Serta, cucu pertama bagi para orang tua.
Setelah banyaknya pesan, saran dan nasihat. Akhirnya mereka pulang juga dan tentu saja pasangan suami-istri itu kompak mengucapkan hamdallah.
“Alhamdulillah,” ucap mereka dengan kompak dan tertawa lepas karena ucapan mereka sama persis.
Adi merangkul pinggang Caca sembari menuntun istri kecilnya masuk ke rumah.
“Mas, ternyata bawaan Papa, Mama, Ibu dan juga Ayah banyak ya,” tutur Caca melihat ruang tamu yang sudah dipenuhi oleh buah-buahan, susu khusus Ibu hamil, selimut, vitamin serta masih banyak lagi keperluan khusus untuk Caca.
“Bayi kita pasti senang memiliki dua kakek dan dua nenek yang sangat perhatian,” balas Adi seraya menyentuh perut Caca.
Caca masih ingin menikmati buah-buahan pemberian Ayah Faizal dan Ibu Puspita. Padahal sebelumnya Caca sudah memakan setengah buah semangka yang rasanya sangat manis.
“Mas, Caca mau makan buah naga!” pinta Caca sambil mengambil buah naga yang masih utuh dan memberikannya kepada Sang suami agar dikupas kulitnya.
__ADS_1
“Baiklah, Mas akan mengupas nya untuk Caca. Kamu diam di sini dulu ya!” seru Adi meminta istri kecilnya untuk tetap diam di ruang tamu.
Sambil menunggu Sang suami mengupas buah naga untuknya, Caca menyibukkan diri dengan mengambil gambar dirinya sembari memegang buah alpukat.