Istri Centil Mas Adi

Istri Centil Mas Adi
Hasil Tidak Akan Mengkhianati Usaha


__ADS_3

Beberapa Tahun Kemudian.


Siang Hari.


Tepat di usia Caca yang ke 24 tahun, dirinya mendapatkan hadiah yang luar biasa dari Allah melalui suaminya.


Sang Suami berhasil mengumpulkan uang dan dengan uang itu, Adi membeli tanah sekaligus rumah yang mereka tempati. Bahkan, Adi telah merenovasi rumah tersebut menjadi rumah yang mereka idamkan selama ini.


Kamar yang sebelumnya hanya ada dua kamar, kini telah menjadi 5 kamar. Tentu saja besar rumah mereka dua kali lebih besar dari kamar sebelumnya. Dua kamar lantai atas dan tiga kamar di lantai bawah.


“Mas, Caca sungguh tidak pernah menyangka bahwa kehidupan kita semakin hari semakin membaik. Terima kasih telah menjadi suami dan juga Ayah yang baik untuk Yusuf serta calon adik Yusuf,” ucap Caca yang saat itu tengah mengandung calon buah hati kedua mereka.


“Selama Mas masih bernapas, Mas akan berusaha membahagiakan kalian dan memenuhi semua kebutuhan kalian,” balas Adi yang akan terus menjadi suami sekaligus orang tua yang baik bagi buah hati mereka.


Selama beberapa tahun terakhir, Adi benar-benar serius mencari rezeki. Sampai akhirnya Allah memberikan rezeki berkali-kali lipat untuk keluarga kecil mereka.


Meskipun begitu, Papa Rio berharap besar pada Adi agar menantu kesayangannya segera mengambil alih salah satu perusahaan milik Papa Rio.


“Besok kita ke rumah Papa dan Mama. Bagaimana menurut Caca?” tanya Adi sambil membelai pipi Sang istri.


“Sekalian menginap ya Mas!” pinta Caca yang ingin tidur di rumah orang tuanya.


“Iya sayang, sekalian menginap. Caca mau menginap di sana berapa hari? Seminggu cukup?” tanya Adi.


Caca menggelengkan kepalanya. Menurut Caca, seminggu itu terlalu lama. Karena di rumah mereka sendiri masih banyak pekerjaan yang harus mereka kontrol.


“Kenapa sayang? Apakah seminggu tidak cukup?” tanya Adi.


“Dua hari saja ya Mas! Kalau kita menginap selama seminggu, bagaimana dengan para pegawai kita? Kasihan kalau mereka kita tinggal selama seminggu,” ucap Caca yang memikirkan para bawahan.


Total keseluruhan ada 15 pegawai yang bekerja untuk mereka dan tentu saja mereka berdua tidak bisa lepas tangan begitu saja.


“Astaghfirullah, hampir saja Mas lupa,” ucap Adi.


“Untung ada Caca yang selalu siap mengingatkan Mas,” balas Caca.


Caca hanya tersenyum kecil mendengar balasan suaminya.


“Pak Adi, maaf mengganggu. Saya dan Chiko mau berangkat mengirim barang,” ucap Erwin salah satu kaki tangan Adi.

__ADS_1


Adi pun mengiyakan dan memberikan kunci truk miliknya kepada Erwin.


“Ini kuncinya dan jaga lupa jaga kesehatan,” ucap Adi.


Erwin tersenyum lebar dan bergegas pergi untuk mengirim barang ke pelanggan.


***


Malam Hari.


Semua pegawai telah pulang ke rumah mereka masing-masing dan waktunya bagi keluarga kecil itu untuk pergi ke rumah orang tua Caca Lestari.


Yusuf yang usianya kini telah menginjak 6 tahun sudah pandai menghitung dan juga membaca. Jika anak seusianya banyak bermain, lain halnya dengan Yusuf. Yusuf justru sibuk belajar atas keinginan sendiri. Dengan alasan dirinya ingin pintar agar ketika dewasa ia saja yang mencari uang, sementara kedua orang tuanya bersantai di rumah.


“Yusuf sedang apa? Ayo masuk ke mobil. Ayah sudah menunggu kita,” ucap Caca ketika memasuki kamar putra kecilnya yang sedang membaca.


“Yusuf sedang membaca biografi tentang Albert Einstein, Bunda,” jawab Yusuf yang saat itu sedang duduk manis di kursi meja belajar.


“Yusuf dapat dari mana buku itu? Perasaan Ayah dan Bunda tidak membelikan Yusuf buku biografi Albert Einstein,” ucap Caca terheran-heran.


“Tadi pagi Yusuf minta tolong Tante Lisa untuk membeli buku ini di Gramedia,” pungkas Yusuf.


Lisa sendiri salah satu pegawai yang bekerja di bagian pencatatan serta laporan barang masuk maupun keluar.


“Sudah Bunda,” jawab Yusuf.


“Yusuf sudah selesai membaca? Kalau sudah, ayo kita menyusul Ayah di mobil. Oma, Opa dan Nenek pasti tidak sabar ingin bertemu Yusuf,” tutur Caca pada buah hati pertamanya.


Keduanya tersenyum dan berjalan beriringan keluar dari kamar.


“Bunda, biar Yusuf saja yang mengunci pintu rumah,” tutur Yusuf.


Caca mengiyakan dan perlahan masuk ke dalam mobil.


Beberapa Saat Kemudian.


Kedatangan mereka disambut hangat oleh para orang tua. Terutama Mama Ismia yang sangat merindukan cucu pertamanya.


“Assalamu'alaikum,” ucap mereka bertiga dan bergantian bersalaman dengan para orang tua.

__ADS_1


“Wa'alaikumsalam,” sahut para orang tua.


Mama Ismia memeluk Yusuf dengan penuh kasih sayang dan tiba-tiba saja menangis.


“Oma kenapa?” tanya Yusuf ketika melihat oma kesayangannya menangis.


“Oma tidak kenapa-kenapa, Yusuf. Yusuf lapar tidak? Oma dan Nenek telah memasak makanan kesukaan Yusuf,” tutur Mama Ismia.


“Kebetulan Yusuf lapar, Oma. Terima kasih karena Oma dan Nenek sudah memasak makan malam untuk kami,” ucap Yusuf.


“MasyaAllah, pintar sekali cucu Oma ini,” puji Mama Ismia.


“Mengobrol nya lebih enak di dalam. Ayo sebaiknya kita masuk ke dalam!” ajak Papa Rio.


Mereka dengan hati gembira masuk ke dalam rumah.


“Kalian sudah USG?” tanya Mama Ismia yang penasaran dengan jenis kelamin bayi yang sedang dikandung oleh putri tunggal kesayangannya.


“Alhamdulillah, sudah,” jawab Caca dan Adi dengan kompak.


“Kalau begitu, kalian pasti sudah tahu jenis kelamin cucu kedua Mama. Boleh Mama tahu jenis kelamin calon bayi kalian?” tanya Mama Ismia.


Papa Rio dan Ibu Puspita juga ikut penasaran. Mereka ingin tahu jenis kelamin adik dari Yusuf.


“Kalau soal itu, Caca dan Mas Adi sepakat untuk tidak memberitahukan jenis kelamin calon buah hati kami. Biarlah menjadi kejutan,” pungkas Caca.


Para orang tua hanya bisa menghela napas mendengar keputusan Caca.


“Ya sudah, kalau memang keputusan kalian seperti itu. Yang penting Ibu dan bayi selamat,” balas Mama Ismia.


“Oma, kapan kita makan?” tanya Yusuf ingin segera mengisi perutnya.


Mama Ismia, Papa Rio dan juga Ibu Puspita tertawa lepas ketika melihat raut wajah Yusuf yang sangat lucu.


“Ayo sayang, sama Opa!” ajak Papa Rio dan menggandeng tangan cucu pertamanya menuju ruang makan.


Adi dan Caca tersenyum lepas karena akhirnya mereka bisa merasakan titik kebahagiaan yang sesungguhnya.


“Mama, kami ingin di ruang keluarga sebentar saja. Nanti kami akan menyusul,” ucap Caca yang ingin berduaan sebentar bersama suaminya di ruang keluarga.

__ADS_1


Adi dan Caca saling berpelukan satu sama lain. Mereka mengucap syukur atas rezeki yang Allah berikan kepada keluarga kecil mereka.


“Mas, Caca tidak menyangka kita berada dititik yang sangat indah ini. Ternyata benar ya Mas, bahwa hasil tidak akan mengkhianati usaha,” ucap Caca sambil mengingat usaha beberapa tahun yang lalu ketika mereka berusaha bangkit dari nol hingga akhirnya bisa sukses.


__ADS_2