Istri Centil Mas Adi

Istri Centil Mas Adi
Rencana Membuka Usaha Kecil-Kecilan


__ADS_3

Adi yang baru saja keluar dari kamar mandi terkejut melihat asap yang sudah mengepul di dapur.


Ternyata asap itu disebabkan oleh wajan yang digunakan Caca untuk menggoreng telur.


“Caca!” teriak Adi seraya mematikan kompor.


Caca hanya bisa tersenyum kaku melihat bagaimana suaminya berlari mematikan kompor.


“Kamu tidak apa-apa?” tanya Adi sambil memeluk Caca.


“Maaf ya Mas, Caca belum bisa apa-apa. Lihatlah, Caca bodoh dalam urusan dapur,” jawab Caca menyalahkan dirinya sendiri yang belum bisa memasak.


Caca sangat malu, untuk memasak telur saja ia tidak bisa. Ingin rasanya ia menangis saat itu juga karena terlalu malu.


“Caca sayang, jangan bicara yang tidak baik. Mas yakin ke depannya Caca bisa memasak,” ucap Adi yang terus mendukung istrinya.


“Mas yakin tidak malu karena Caca belum bisa apa-apa?” tanya Caca memastikan.


“Untuk apa Mas malu hanya karena masalah sepele? Lebih baik Caca temani Mas ke kamar!” ajak Adi untuk masuk ke dalam kamar.


Caca mengernyitkan keningnya mengira suaminya akan menerkam dirinya.


“Kenapa melihat Mas begitu? Caca jangan berpikiran macam-macam ya. Mas tidak akan memintanya, bukankah Caca sedang datang bulan?”


Caca menepuk dahinya seraya tersenyum bodoh.


“Hehe.. Caca lupa,” ucap Caca yang suara begitu imut di dengar.


Adi menggigit bibirnya dan mencubit pipi istrinya karena gemas dengan suara imut Sang istri.


“Dasar bocah,” celetuk Adi seraya menggendong istrinya masuk ke dalam kamar.


Caca tersenyum malu-malu karena kejahilan suaminya.


“Kalau Caca bocah, Mas suami suami dong,” sahut Caca dan tertawa lepas mengejek Sang suami.


Adi masuk ke dalam kamar dan meletakkan Caca di sebuah kursi.


“Bocah tengil,” celetuk Adi menyebut Caca bocah tengil.


“Eh kanebo kering,” celetuk Caca yang tidak mau kalah dari Sang suami.


Adi tak bisa menahan tawanya mendengar Caca menyebut dirinya sebagai kanebo kering.


“Eh jeruk kecut,” celetuk Adi menyebut Caca sebagai jeruk kecut.

__ADS_1


“Eh bunga bangkau, raflesia arnoldi,” celetuk Caca dengan tersenyum penuh kemenangan.


Mereka berdua terus saja melempar ejekan dan berakhir dengan tawa bahagia karena ejekan itu benar-benar membuat keduanya semakin cinta satu sama lain.


***


Malam Hari.


Adi tidak bisa jika hanya bergantung dengan gaji Guru, ia butuh penghasilan tambahan untuk rumah tangganya. Belum lagi, untuk membiayai kuliah Caca sampai selesai.


Adi sendiri tidak mau jika mertuanya yang membayar biaya kuliah istri kecilnya, karena secara tidak langsung itu menyinggung harga dirinya sebagai seorang suami.


Sebisa mungkin Adi akan berusaha menghasilkan uang dan membuat kedua orangtuanya serta mertuanya bangga dengan dirinya.


“Mas kenapa?” tanya Caca menghampiri suaminya yang sedang melamun di teras depan rumah seorang diri.


“Ca, Mas ingin membuka usaha kecil-kecilan. Menurut Caca, usaha apa yang cocok?” tanya Adi yang ingin menghasilkan uang dengan cara lain.


“Kalau buka warung bagaimana, Mas? Sepertinya sekitar sini tidak ada warung,” tutur Caca.


“Warung? Maksud Caca jualan di rumah? Kira-kira warung apa yang cocok?” tanya Adi semakin penasaran.


“Kalau warung keperluan dapur bagaimana, Mas? Ya contohnya saja seperti kebutuhan pokok sehari-hari. Caca memang belum pernah membuka usaha, tapi Caca adalah calon mahasiswi jurusan manajemen. Itu artinya, Caca cukup tahu soal berbisnis,” terang Caca penuh percaya diri.


“Caca, tabungan Mas tidak cukup untuk membuka warung,” balas Adi murung.


Adi menggelengkan kepala, menolak apa yang istrinya katakan. Adi tidak ingin merepotkan Caca dan juga memakai uang simpanan istri kecilnya.


“Mas jangan menolak bantuan Caca, kalau uangnya sudah terkumpul. Mas bisa mengembalikannya kepada Caca, bagaimana?”


“Caca yakin akan meminjamkan simpanan uang itu kepada Mas?”


“Yakin,” jawab Caca singkat.


Adi tersenyum lega mendengar jawaban Caca dan meminta Caca untuk membantunya merilis apa saja yang akan mereka persiapkan untuk membuka usaha kecil-kecilan di rumah.


Adi tentu saja memulainya dengan bahan-bahan pokok. Seperti beras, minyak, gula dan beberapa kebutuhan lain dalam jumlah kecil.


“Sebelum itu, kita harus melihat di internet dulu ya Mas. Sambil cari referensi yang pas untuk buka warung,” ujar Caca.


Beberapa saat kemudian.


Caca terlelap begitu Caca ketika Adi sedang mengajaknya bicara. Caca tentu saja sangat mengantuk karena hormon datang bulannya.


“Caca,” ucap Adi menyadari istrinya telah terlelap dalam posisi duduk bersandar di kursi.

__ADS_1


Adi tak tega membangunkan istrinya dan memutuskan untuk membawa istri kecilnya ke tempat tidur.


“Mas, kok Caca di bawa ke tempat tidur?” tanya Caca yang setengah sadar.


“Sudah malam, Caca sebaiknya tidur lagi. Mas sebentar lagi akan menyusul,” balas Adi dan memberikan kecupan singkat di kening Caca.


Caca menggerakkan tubuhnya ke samping kanan seraya memeluk gulingnya. Adi sendiri bahkan cemburu dengan guling tersebut, karena Caca lebih sering memeluk benda mati itu daripada dirinya.


Setelah Caca benar-benar tidur, Adi melanjutkan lagi pekerjaannya mencatat apa saja yang akan ia beli besok pagi di pasar.


“Mas, cepat sini!” panggil Caca dengan mata terpejam.


“Iya Caca, sebentar lagi Mas akan menyusul. Caca tidurlah duluan ya!” seru Adi.


Caca mengangguk-angguk kepalanya dan kembali melanjutkan tidurnya.


Adi fokus berkutat dengan laptop miliknya dan tanpa sadar bahwa jam menunjukkan pukul 2 pagi.


“Astagfirullah, aku bahkan sampai lupa waktu,” gumam Adi.


Adi mengakhiri pekerjaannya seraya menutup laptop tersebut. Kemudian, Adi pergi ke kamar mandi karena ada urusan di dalam kamar mandi.


Saat Adi pergi ke dapur, Caca pun terbangun dan tak menemukan suaminya.


“Mas Adi!” panggil Caca yang sudah dalam posisi duduk bersila.


Karena Adi tak kunjung menjawab, Caca akhrinya bergegas mencari Sang suami tercinta.


“Mas! Mas Adi!” panggil Caca.


Caca melihat pintu kamar mandi tertutup, Caca akhirnya bernapas lega.


“Mas jahat, seharusnya tadi Mas tetap berada di kamar,” tutur Caca dan meminta suaminya untuk Menggendongnya


Adi tertawa melihat kelakuan istrinya seperti bayi yang merengek minta dibelikan mainan.


“Iya Caca, sebentar ya!” seru Adi yang ingin masuk kembali ke dalam masjid.


Bruttt!! Brutttt! Bunyi suara kentut Adi sebelum masuk ke dalam kamar mandi.


Caca melongo lebar dan hampir saja mulutnya tidak bisa menutup dengan normal.


“Astaghfirullah, ganteng-ganteng juga bisa kentut,” celetuk Caca dan berlari menjauh karena baru kentut Adi cukup mengganggu kesehatan hidungnya.


Adi di dalam kamar mandi, hanya bisa geleng-geleng kepala karena tak sengaja kentut di hadapan istrinya.

__ADS_1


Caca pasti menganggap ku tidak waras. Ya ampun, Adi. Kamu sunguh-sungguh memalukan. (Batin Adi)


__ADS_2