
Pagi Hari.
Setelah sholat subuh, Caca kembali tidur. Ia belum terbiasa untuk tidak tidur setelah sholat subuh. Berbanding terbalik dengan Sang suami tercinta yang justru menyibukkan diri dengan berolahraga, meskipun hanya 10 menit.
“Mas, Caca mau makan udang goreng Krispy!” pinta Caca yang baru saja bangun dan justru meminta udang goreng Krispy.
“Caca lapar?” tanya Adi yang bertelanjang dada.
“Banget!” seru Caca dan meminta Adi untuk segera naik ke tubuhnya.
Adi mengedipkan matanya dan segera naik ke tubuh Sang istri. Mereka pun melakukan morning kiss seperti yang biasanya mereka lakukan.
“Mas kapan jadi jelek? Kalau tampan terus, takutnya Caca yang harus terus waspada,” ujar Caca.
Adi tersenyum dan menjatuhkan tubuhnya di samping Caca.
“Memangnya Mas tampan? Caca juga, kapan jadi jelek? Kenapa setiap hari bertambah cantik dan cantik terus. Kalau begini, takutnya Caca dikira masih gadis,” pungkas Adi.
“Siapa yang akan mengira Caca masih gadis? Sedangkan Caca sudah bersuami. Dasar Mas, memang paling bisa membuat Caca tak bisa berkata-kata,” balas Caca sambil mencubit pipi suami.
“Ayo kita cari udang goreng Krispy di luar!” ajak Adi karena tak tega jika harus membuat Caca menahan lapar.
Caca dengan semangat turun dari tempat tidur dan meminta Adi untuk menyisir rambutnya yang panjang. Bukannya Caca tidak bisa menyisir rambutnya sendiri, akan tetapi Caca lebih senang kalau suaminya lah yang menyisiri rambutnya.
“Sudah,” ucap Adi yang telah menyisiri rambut Caca.
“Mas, bagus memakai bando atau jepit rambut?” tanya Caca sambil memperlihatkan bando berwarna hitam dan jepit rambut mutiara.
“Jepit rambut menurut Mas lebih cocok,” jawab Adi dan memasangkan jepit rambut itu ke rambut sisi kanan.
Adi tersenyum dan memuji kecantikan alami Sang istri yang tidak mengenakan make up sedikitpun.
“Ya ampun, Caca hampir lupa tidak memakai sunscreen. Ini itu penting loh Mas untuk kesehatan kulit wajah,” ucap Caca dan terlebih dahulu membersihkan wajahnya dengan toner. Lalu, mengoleskan seluruh wajah serta lehernya dengan sunscreen.
“Buat Mas bisa, tidak?” tanya Adi penasaran.
“Ya boleh dong, Mas. Nih pakailah,” balas Caca dan memberikan toner serta sunscreen untuk dipakai Sang suami tercinta.
Beberapa menit kemudian.
Adi dan Caca keluar dari kamar mereka untuk mencari udang goreng Krispy keinginan Caca. Di saat yang bersamaan, ada Mama Ismia dan Ibu Puspita yang akan melintasi kamar mereka.
“Kalian sudah bangun ternyata, ayo sarapan bersama!” ajak Mama Ismia.
“Lauknya apa, Ma? Ada udang goreng Krispy, tidak?” tanya Caca penasaran.
“Kalau udang goreng Krispy Mama lihat tadi tidak ada, sayang. Adanya lobster yang di kukus,” jawab Mama Ismia.
Caca seketika itu menghela napasnya yang terasa berat.
“Nanti saja deh, Ma. Caca maunya udang goreng Krispy,” balas Caca dan mengajak Sang suami untuk segera mencari udang goreng Krispy keinginannya.
Adi izin pergi menemani istri kecilnya dan meminta Mama Ismia serta Ibu Puspita sarapan lebih dulu.
__ADS_1
“Mas, kira-kira di ada tidak ya yang menjual udang goreng?” tanya Caca yang tidak ingin kecewa.
“Caca yang sabar ya, kita juga masih mencari,” jawab Adi dan melihat ada sebuah restoran seafood tak jauh dari tempat mereka berdiri.
Caca tanpa pikir panjang berlari secepat mungkin karena ia begitu tak sabaran ingin membeli udang goreng Krispy.
“Caca, hati-hati!” Adi secepat mungkin berlari untuk menghentikan Caca agar tidak berlari.
“Mas Adi!” Caca terkejut ketika sepasang tangan memeluk tubuhnya.
“Jangan lari, nanti kalau jatuh bagaimana?” tanya Adi yang enggan melepaskan Caca, sebelum Caca berjanji untuk tidak berlari lagi.
“Mas, Caca hanya ingin cepat sampai ke restoran itu,” jawab Caca seraya menunjuk ke arah restoran seafood.
“Mas akan melepaskan Caca kalau Caca berjanji untuk tidak lari lagi seperti tadi,” tegas Adi.
“Iya deh, Caca janji. Sekarang lepaskan Caca!” pinta Caca.
Ada perlahan melepaskan pelukannya dan menggenggam erat tangan Sang istri. Lalu, mereka berdua berjalan dengan santai menuju restoran seafood.
Setibanya di restoran, Caca dengan semangat membeli Udang goreng Krispy yang tentunya harus benar-benar Krispy.
“Terima kasih, Mas,” ucap Caca dan meminta Adi untuk menggendongnya.
15 Menit Kemudian.
Adi dan Caca baru saja tiba di ruang makan, ternyata para orang tua baru mulai sarapan dan meminta pasangan muda itu untuk segera duduk.
“Bagaimana, apakah udang goreng yang Caca mau sudah dapat?” tanya Mama Ismia.
Mama Ismia menatap putrinya dengan tatapan terheran-heran dan itu membuat Caca tidak nyaman.
“Mama kenapa sih melihat Caca sebegitunya?” tanya Caca tak nyaman.
“Caca sayang, kamu sakit ya? Mama merasa kalau wajah kamu sekarang ini pucat sekali,” jawab Mama Ismia seraya menyentuh pipi putri kesayangannya.
“Perasaan Mama saja, mungkin karena efek dari menggunakan sunscreen,” balas Caca sambil tertawa kecil.
Adi, Papa Rio serta yang lain pun menatap Caca dengan serius. Apa yang Mama Ismia katakan ada benarnya.
“Caca, sepertinya Mama benar. Wajah kamu pucat,” ucap Adi yang mulai khawatir dengan kesehatan istri kecilnya.
“Nak Caca sedang tidak enak badan?” tanya Ibu Puspita.
Caca mengangkat kedua alisnya dan beranjak dari duduknya untuk memperlihatkan dirinya bahwa ia baik-baik saja.
“Caca sama sekali tidak sakit. Lihatlah, Caca masih bisa melompat kesana-sini,” ucap Caca dan melompat-lompat kegirangan.
Sebagai orang tua, Mama Ismia tidak yakin 100% sebelum mengetahui hasil yang sebenar-benarnya.
“Caca, pulang dari sini kita harus ke rumah sakit,” tegas Mama Ismia.
“Tapi, Ma...”
__ADS_1
“Caca sayang, ikuti apa yang Mama katakan,” sahut Papa Rio memotong perkataan Caca sebelumnya.
Caca menoleh ke sisi kanan yaitu, ke arah Sang suami dan ternyata suaminya itu setuju dengan perkataan Mama Ismia.
“Baiklah, terserah Mama dan Papa saja. Lagipula, Caca baik-baik. Caca yang punya tubuh ini, so Caca yakin bahwa Caca sehat 100%!”
Karena mereka masih di meja makan, Adi pun mempersilakan para orang tua untuk melanjutkan makan mereka. Kemudian, membantu istri kecilnya makan dengan cara menyuapi istri tercinta.
Usai makan, mereka bergegas mengemasi baran-barang karena beberapa jam lagi mereka akan pergi meninggalkan pantai indah tersebut.
“Alhamdulillah, semuanya sudah beres. Waktunya kita jalan-jalan ke bibir pantai sebelum meninggalkan tempat ini,” ucap Adi mengajak istri kecilnya untuk berkeliling sebentar.
“Mas, apa wajah Caca masih pucat ya? Apa perlu Caca memakai lipstik warna merah agar tidak terlihat pucat?” tanya Caca sambil memandangi wajahnya di cermin yang terlihat pucat.
“Kalau dibilang masih pucat ya tentu saja masih. Tapi, kalau untuk memakai lipstik merah sepertinya tidak perlu,” jawab Adi dan menggandeng tangan istri kecilnya untuk segera meninggalkan kamar itu untuk melihat pemandangan pantai yang indah.
Adi tak lupa membawa kamera untuk membuat kenangan indah bersama istri kecilnya dan tentu saja di masa depan mereka akan melihat kembali kenangan itu lewat foto.
“Caca senyum!” pinta Adi yang ingin memotret cantiknya Caca ketika tersenyum.
Caca tersenyum lebar seraya melambaikan kedua tangannya ke arah kamera.
Cekrek! Cekrek!
“Mas, sekarang biar Caca yang memotret Mas Adi!” seru Caca dan mengambil alih kamera untuk memotret suami tercinta.
“Hei kalian! Mama juga mau ikut foto bareng!” Mama Ismia berlari kecil menghampiri pasangan muda itu.
“Sini, Mama!” seru Caca dengan terus melambaikan tangannya.
Caca juga memanggil Papa Rio serta mertuanya untuk ikut bergabung. Mereka harus mengambil banyak gambar agar bisa menjadi kenangan di masa depan.
“Mama dan Ibu berdiri di sini!” pinta Caca dan merangkul keduanya seraya tersenyum lebar ke arah kamera.
Mereka terus saja mengambil gambar, sampai tak terasa waktu hampir mendekati tengah hari yang tentunya sangat panas.
“Ayo semua, sudah waktunya kita pulang!” ajak Papa Rio dan besok pagi akan ada rapat bersama para klien.
Merekapun bergegas kembali ke villa untuk mengeluarkan semua barang-barang mereka dan memasukannya ke dalam mobil.
“Mas, nanti sebelum pulang kita beli ketupat sayur ya!” pinta Caca.
“Makan di tempat atau di bawa pulang ke rumah?” tanya Adi.
“Enaknya makan di tempat atau di bawa pulang ya Mas?” tanya Caca penasaran.
“Bagaimana kalau di bawa pulang saja?”
Caca seketika itu menggelengkan kepalanya tak setuju dengan saran Sang suami.
“Jangan deh, Mas. Kalau di bawa pulang nanti rasanya beda,” jawab Caca.
Adi menggaruk-garuk kepalanya yang tiba-tiba gatal seraya mengiyakan jawaban Caca.
__ADS_1
“Ya sudah, Caca diam di sini dulu. Mas yang akan mengeluarkan koper kita,” tutur Adi meminta Caca untuk menunggu di depan pintu kamar.