Istri Centil Mas Adi

Istri Centil Mas Adi
Kelimpungan


__ADS_3

Keesokan Paginya.


Caca baru saja memandikan buah hatinya dan Adi pun mengambil alih untuk memakaikan pakaian kepada buah hati mereka. Akan tetapi, Yusuf pagi itu cukup rewel dan sepertinya tidak ingin memakai pakaian.


Pada akhirnya, Ibu Puspita lah yang turun tangan dan tak butuh waktu lama Yusuf telah tenang tanpa menangis sedikitpun.


Adi mau pun Caca merasa bahwa Yusuf begitu dekat dengan neneknya. Hal itu tentu saja cukup mengganggu mereka berdua dan berharap Yusuf juga mau bersama mereka.


“Yusuf biar ibu yang menyuapi makanan, kalian bersiap-siaplah karena sebentar lagi akan buka warung dan pakaian laundry Siap menunggu untuk dicuci,” terang Ibu Puspita sambil membawa Yusuf keluar dari kamar.


Adi dan Caca kompak mengiyakan apa yang dikatakan oleh ibu Puspita. Namun, sebelum mereka membuka warung dan mengerjakan pekerjaan mereka untuk mencuci pakaian, keduanya memilih untuk fokus promosikan laundry mereka di internet agar semakin banyak orang-orang yang menggunakan jasa laundry mereka.


Setelah mempromosikan lewat internet atau social media, Mereka pun bergegas untuk membuka warung sambil menunggu Lastri datang.


Jam kerja Lastri adalah jam 08.00 pagi sampai jam 17.00 sore. tentunya itu hasil dari kesepakatan antara Caca Adi dan juga Lastri.


Ketika hendak membuka warung, sudah ada tiga orang yang datang mengantarkan pakaian kotor mereka.


Caca maju menghampiri mereka dan mengambil pakaian tersebut. Kemudian Caca menimbang berat dari pakaian itu untuk mengetahui harga cuci bersih.


Setelah memberikan nota harga, tiga orang tersebut bergegas pergi untuk melanjutkan aktivitas mereka yang sempat tertunda karena mengantarkan Pakaian kotor kepada Adi dan juga Caca.


“Mas diam di sini saja, Caca akan membawa Pakaian kotor ini ke dalam,” tutur Caca pada suaminya.


Caca dengan semangat berjalan masuk ke dalam kamar dengan menenteng plastik jumbo berwarna merah yang berisi pakaian kotor untuk segera dicuci.


“Masya Allah, sepertinya hari ini kita akan sangat sibuk,” ucap Ibu Puspita ketika melihat Caca membawa dua kantong kresek berwarna merah yang penuh dengan Pakaian kotor.

__ADS_1


“Ibu hari ini tidak usah memegang pekerjaan ini. karena tugas ini akan dikerjakan oleh Lastri dan juga Caca,” tutur Caca pada ibu mertuanya dan meminta ibu mertuanya itu hanya fokus menjaga bayi Yusuf.


Ibu Puspita Tak banyak bicara dan hanya menyiapkan apa yang dikatakan oleh menantunya.


Tak berselang lama, Lastri datang dan bergegas mencuci pakaian kotor tersebut dengan dibantu oleh Caca.


Lastri bekerja dengan sangat cekatan dan tentu saja Caca sangat senang dengan cara kerja Lastri yang begitu mengagumkan.


Siang hari.


Caca merasa tubuhnya sangat pegal terutama di bagian leher dan juga pundak yang terasa sangat pegal karena melakukan pekerjaan yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Karena sebelumnya, Caca hanya mencuci pakaian kotor dengan jumlah yang bisa dikatakan tidaklah banyak. Akan tetapi, kali ini ia harus mencuci pakaian kotor dengan sangat banyak dan beratnya bahkan lebih dari 50 kg.


Ketika Caca sedang istirahat bersama lastri di ruang tamu, Adi datang menghampiri istrinya dan memberitahukan bahwa ada pakaian kotor yang totalnya ada 12 kg dan pelanggan itu meminta bahwa dua hari lagi pakaian itu harus sudah bersih dan siap untuk digunakan.


Caca tertegun sejenak mengetahui bahwa ternyata ada banyak orang yang menggunakan jasa laundry mereka dan itu tentu saja membuat Caca maupun Lastri kelimpungan.


Adi menghela nafasnya dan berpikir sejenak mencari cara agar istrinya tidak kelelahan. Dan tiba-tiba saja muncul ide untuk memperkerjakan dua orang karyawati yang akan membantu Lastri mencuci pakaian. Sementara istrinya hanya duduk manis di warung dan tidak perlu turun tangan mencuci pakaian.


Mendengar hal itu Caca langsung setuju dan saat itu juga bergegas menghubungi Mama Ismia untuk mencarikan dua orang lagi yang nantinya akan bekerja di bagian laundry.


“Lastri tolong ambil Pakaian kotor di depan ya, Saya mau ke kamar dulu,” ucap saja untuk segera menghubungi Mama Ismia.


Melihat wajah Lastri yang begitu lesu, membuat Adi kasihan. Adi berharap Lastri bisa terus bekerja untuknya dan juga istri kecilnya.


“Lastri, Saya harap kamu betah bekerja bersama saya dan juga Caca. Jika ada sesuatu hal jangan sungkan-sungkan untuk memberitahu saya ataupun istri saya,” ucap Adi pada Lastri.


Lastri hanya mengangguk kecil dan pergi dengan membawa Pakaian kotor ke dalam rumah.

__ADS_1


Adi kembali duduk di kursi warung sambil menunggu pelanggan datang dan lagi-lagi ada orang yang mengantarkan Pakaian kotor untuk dicuci bersih.


“Pak Adi, ini ada Pakaian kotor dan saya minta dicuci Dan dikeringkan saja. Apakah bisa?” tanya seorang mahasiswi.


“Oh tentu saja bisa. Mau diambil kapan?” tanya di pada gadis muda yang usianya tak jauh dari Caca.


“kalau lusa sore, bisa?” tanya gadis muda itu.


“Insya Allah bisa,” jawab Adi dan mulai menimbang Pakaian kotor tersebut sebelum akhirnya dicuci bersih.


Sore Hari.


Caca kelimpungan melihat Pakaian kotor yang terus berdatangan. Maklum saja, yang memiliki usaha laundry di daerah itu hanyalah Caca dan Kebanyakan yang menggunakan jasa mereka adalah orang-orang sibuk alias orang-orang yang tak punya waktu untuk mencuci pakaian. Meskipun, beberapa dari mereka memiliki asisten rumah tangga. Akan tetapi, mereka justru mempercayakan pakaian mereka kepada Adi serta Caca.


Melihat pakaian kotor yang masih banyak, membuat Caca geleng-geleng kepala dan memutuskan untuk membeli mesin cuci satu lagi agar cucian kotor bisa ditangani.


“Mas, besok beli mesin cuci baru ya,” ucap Caca pada suaminya yang tengah duduk sambil menghitung pendapatan dari pagi hingga sore itu.


“Boleh. besok kita akan pergi mencari mesin cuci yang Caca inginkan,” sahut tadi karena telah memiliki uang yang cukup untuk membeli mesin cuci yang istrinya inginkan.


“Terima kasih ya Mas, semoga saja kita terus sehat dan bisa mengumpulkan pundi-pundi rupiah untuk kehidupan kita kedepannya. Caca juga berharap kita bisa memiliki rumah dan tidak tinggal di rumah kontrakan ini,” ucap Caca yang sangat ingin memiliki rumah sendiri.


“Bagaimana kalau kita membeli rumah ini?” tanya Adi Sekedar celetukan saja.


Caca tersenyum dan mengaminkan apa yang suaminya katakan. Bagaimanapun, rumah kontrakan yang mereka tinggali membawa berkah untuk keluarga kecil itu.


Jika memang rumah itu boleh dibeli, tentu saja Adi maupun Caca sangat senang.

__ADS_1


“Bismillah ya sayang, Insya Allah kita akan memiliki rezeki lebih untuk membangun sebuah rumah yang akan menjadi tempat tinggal kita serta keluarga kecil kita,” ujar Adi Seraya tersenyum bahagia.


__ADS_2