
Koper berhasil di ambil dan mereka pun bergegas menuju mobil yang sudah terparkir tepat di depan Villa.
Papa Rio saat itu sedang berbincang-bincang ringan dengan pemilik Villa yang sebelumnya mereka sewa dan tak lupa mengucapkan terima kasih atas kenyamanan selama tinggal di villa.
Setelah itu, mereka masuk ke dalam mobil untuk segera pulang ke rumah masing-masing.
Diperjalanan pulang, Caca tak banyak bicara. Berbanding terbalik ketika akan berangkat liburan, hal itu tentu saja membuat Papa Rio serta Adi merasa kurang seru jika Caca tidak banyak bicara seperti yang sebelumnya.
“Caca, kok diam saja? Mana suara putri Papa?” tanya Papa Rio sambil terus mengemudikan mobil menuju rumah sakit.
“Caca sedang malas bicara apa, oya kita apa langsung ke rumah sakit? Apa Caca memang harus diperiksa?” tanya Caca yang sebenarnya enggan pergi ke rumah sakit, karena ia merasa bahwa dirinya sangat sehat.
“Mama kamu itu khawatir sama kamu, sayang. Sudah ya, jangan ngambek lagi!” pinta Papa Rio.
“Papa, Caca itu tidak ngambek,” jawab Caca dan bersandar di bahu Adi seraya memeluk lengan Adi.
Caca yang sedang ingin bicara, memutuskan untuk tidur.
Berhubung Caca sudah terlelap, Papa Rio dan Adi lah yang berbincang-bincang selama perjalanan menuju rumah sakit.
Kebanyakan yang mereka bahas adalah mengenai Mas depan. Papa Rio cukup penasaran dengan keinginan Adi di masa depan. Karena apapun itu, Papa Rio ingin membantu menantunya. Mungkin bisa dengan uang, tenaga ataupun hal lain.
Adi mengerti maksud dari kebaikan Papa Rio, tapi Adi ingin berusaha sendiri tanpa ada campur tangan dari Papa mertua. Adi ingin membuktikan kepada keluarga Caca bahwa ia bisa membahagiakan Caca serta memastikan kehidupan Caca rumah tangga tidak kekurangan sedikitpun.
Papa Rio tersenyum bangga dan terkesan dengan keputusan Adi yang ingin berusaha sendiri untuk membuktikan bahwa dirinya pantas menjadi suami serta menantu yang bertanggungjawab.
***
Rumah Sakit.
Sebelum sampai di rumah sakit, mereka telah melaksanakan sholat di masjid yang jaraknya 2 km dari rumah sakit tersebut.
Semua keluarga sudah turun dari mobil dan tinggal Caca yang belum juga turun.
“Caca, ayo turun lagi! Habis ini kita cari lontong sayur,” ucap Adi.
Sebelum turun, Caca mencoba mengatur napasnya dan berharap bahwa ia tidak memiliki penyakit yang serius.
“Mas, Caca takut,” tutur Caca yang baru saja turun dari mobil.
“Takut kenapa? Kan, Ada banyak yang menemani Caca di sini,” balas Adi.
“Nanti pas di periksa, Mas saja ya yang menemani Caca di dalam!” pinta Caca yang merengek seperti anak kecil.
“Tentu Mas yang akan menemani Caca di dalam, ayo kita masuk!”
Mereka dengan kompak memasuki rumah sakit dan Papa Rio mengambil nomor antrean untuk putri kesayangannya.
Hampir 20 menit menunggu, tiba giliran Caca untuk masuk ke dalam. Caca menggengam erat tangan suaminya seakan-akan takut jika Sang suami kabur darinya.
“Hallo, Mbak cantik. Maaf, kalian sudah menikah?” tanya Dokter wanita ketika melihat Caca dan Adi masuk bersama.
“Iya, Dok. Ini suami saya dan saya istri Mas Adi,” terang Caca.
__ADS_1
Dokter wanita itu terkekeh kecil mendengar keterangan Adi dan mulai menanyakan keluhan yang dirasakan Caca.
Caca pun mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja, tidak ada keluhan sedikitpun dan mengadukan para orang tua yang memintanya untuk di periksa.
“Oh, jadi begitu ceritanya. Boleh saya cek dulu ya!”
Dokter wanita itu tersenyum ramah dan mengecek denyut nadi Caca. Kemudian, meminta Caca untuk menarik napas dan mengeluarkannya secara perlahan.
“Mbak Caca terakhir datang bulan kapan?” tanya Dokter.
“Saya lupa, Dok,” jawab Caca yang memang lupa dengan masa datang bulan miliknya sendiri.
“Sekitar 2-3 Minggu, Dok,” ungkap Adi.
Dokter itu tertawa kecil karena ternyata Adi yang lebih tahu. Kemudian, Dokter itu meminta Caca untuk berbaring.
“Dok, saya mau diapakan? Saya baik-baik saja dan sama sekali tidak sakit,” ucap Caca yang tiba-tiba panas dingin karena takut jika Dokter tersebut melakukan hal yang tidak baik padanya.
“Mbak Caca tenang saja, saya hanya ingin memastikan,” jawab Dokter dengan tenang.
“Caca sayang, turuti saja apa yang dokter katakan!” pinta Adi dan membantu istri kecilnya berbaring.
Dokter pun tersenyum dan meminta izin untuk menyentuh perut Caca.
“Dok, saya mau diapakan?” tanya Caca yang justru malah menangis ketakutan.
“Tenang, Mbak Caca akan saya periksa sebentar saja,” jawab Dokter.
Caca dengan terpaksa mengizinkan dokter tersebut menyentuh perutnya.
“Ayo kita duduk lagi, ada hal penting yang ingin saya sampaikan dan akan membuat kalian sangat senang,” ucap Dokter.
Ketika Adi dan Caca telah kembali ke kursi. Dokter itu tersenyum seraya mengucapkan selamat.
“Selamat ya Mbak Caca dan suami. Mbak Caca positif,” ungkap Dokter.
Adi dan Caca masih belum mengerti dengan kata positif.
“Maaf, Dok. Positif apa ya?” tanya Adi penasaran.
“Selamat atas kehamilan Mbak Caca. Sebentar lain Mbak dan Mas akan menjadi orang tua,” pungkas Dokter.
Adi maupun Caca kompak tertegun. Mereka nampak seperti orang linglung setelah mendengar bahwa kata positif artinya Caca hamil.
Dokter melongo melihat reaksi keduanya yang tak terduga itu. Bukankah seharusnya mereka bersorak bahagia mengetahui bahwa sebentar lagi keduanya akan menjadi orang tua.
Mama Ismia, Papa Rio, Ayah Faizal dan Ibu Puspita terlihat tegang karena pasangan yang baru menikah itu belum juga keluar dari ruangan.
Ketika Mama Ismia ingin masuk ke dalam, Adi dan Caca telah keluar dengan ekspresi wajah yang tak bisa di baca.
“Apa kata dokter? Kamu sakit apa sayang?” tanya Mama Ismia yang mulai panik ketika melihat tatapan aneh Caca.
Adi tiba-tiba saja meneteskan air matanya dan memeluk Ayah Faizal.
__ADS_1
“Ya Allah, Caca sakit apa?” tanya Mama Ismia panik dengan air mata yang tak bisa lagi terbendung.
“Caca.. Caca..” Bibir Adi mendadak tak bisa berkata-kata, perasaannya kala itu bercampur menjadi satu.
Tentu saja perasaan itu adalah perasaan pertama kali yang ia rasakan. Perasaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Mama Ismia dengan berderai air mata masuk ke ruang dokter untuk mengetahui secara pasti penyakit dari putri kesayangannya.
“Dok, putri saya sakit apa? Kenapa mereka berdua diam saja? Tolong beritahu saya, Dok!” pinta Mama Ismia yang sudah berderai air mata.
“Putri Ibu sama sekali tidak memiliki penyakit serius. Mbak Caca dan Suaminya sangat senang hingga tak bisa berkata-kata, karena Mbak Caca positif hamil,” ungkap Dokter.
Mama Ismia melongo terkaget-kaget, putri kecilnya ternyata tengah berbadan dua.
“Mama, Caca kenapa?” tanya Papa Rio yang baru saja masuk ke ruangan tersebut.
“Ayo, Pa. Kita keluar dulu, kita bicarakan di luar!” ajak Mama.
Mama Ismia, saat itu juga memberitahukan tentang kehamilan Caca. Orang tua dari Adi tentu saja sangat senang, karena sebentar lagi mereka akan menjadi Kakek dan Nenek.
Wajah Papa Rio terlihat sangat serius dan meminta Adi untuk berbicara empat mata. Adi pun mengiyakan dan bergeser menjauh dari yang lainnya untuk berbicara empat pada dengan Papa mertua.
“Adi, bukankah sebelumnya Papa sudah memberitahu kamu bahwa Caca tidak boleh hamil sampai tahun depan?” tanya Papa Rio.
“Maaf, Pa. Adi karena telah membuat Papa kecewa. Adi juga tidak bisa melawan takdir yang memang sudah Allah tetapkan kepada kami,” jawab Adi.
Papa Rio mengangguk kecil, mencoba mengerti dengan jawaban menantunya.
“Papa sama sekali tidak marah, Nak Adi. Hanya saja, Caca masih terlalu muda untuk menjadi seorang Ibu,” tutur Papa Rio.
Adi hanya bisa menunduk dan siap jika Papa Rio marah besar padanya.
“Nak Adi, tolong jaga Caca selama masa kehamilan dan setelah melahirkan nanti jangan buat Caca kelelahan,” ucap Papa Rio yang tiba-tiba saja memeluk Adi dan menangis saat itu juga.
“Papa tidak marah sama Adi?” tanya Adi.
“Untuk apa Papa marah? Lagipula, Caca sudah hamil dan dia telah bersuami. Tolong ingat pesan Papa ini baik-baik!” pinta Papa Rio pada menantu kesayangannya.
“Adi akan selalu mengingat apa yang Papa katakan dan Adi berjanji akan selalu berada di sisi Caca serta tak akan membiarkan Caca kesulitan di masa kehamilannya maupun masa-masa selanjutnya,” pungkas Adi.
Papa Rio tersenyum lega dan mengajak menantunya untuk segera bergabung dengan keluarga yang lain.
Mereka pun saling berpelukan dan juga saling mengucapkan selamat karena sebentar lagi akan ada bayi lucu yang akan menambah jumlah anggota keluarga baru mereka.
“Mas, apakah di dalam perut Caca ada bayi?” tanya Caca sambil menyentuh perutnya yang masih rata.
“Iya sayang, bayi kamu sekarang lagi tidur pulas,” jawab Mama Ismia.
“Ayo semua, waktunya kita melanjutkan perjalanan. Caca harus segera beristirahat di rumah, mengingat Caca masih hamil muda,” tutur Papa Rio mengajak mereka untuk segera pulang.
Adi merangkul pinggang istri kecilnya dan meminta Caca untuk tidak banyak bergerak. Apalagi berlarian ke sana kemari.
“Caca dengarkan apa yang suamimu katakan dan jangan pecicilan. Ingat, kamu sedang hamil dan Papa tidak mau sampai kamu serta bayi kamu kenapa-kenapa,” ucap Papa dengan nada lantang.
__ADS_1
“Iya, Papa bawel!” seru Caca.