
Caca akhirnya sampai di ruangan Pak Yahya dan tak lupa mengucapkan Terima kasih kepada anak kecil yang telah mengantarkannya.
“Assalamu'alaikum,” ucap Caca seraya masuk ke dalam menghampiri suaminya.
“Wa’alaikumsalam,” jawab Pak Yahya, Adi dan seorang wanita.
Caca menatap sekilas wanita yang sebelumnya ia lihat di area belakang panti asuhan. Kemudian, Caca duduk tepat di samping suaminya.
Tak sebab, wanita di depannya menitikkan air matanya dan seketika itu membuat Caca terheran-heran.
“Kakak tidak apa-apa?” tanya Caca seraya mengambil tisu di tasnya dan memberikannya kepada Fatimah.
Bukannya menerima tisu pemberian Caca, Fatimah justru menangis di pundak Pak Yahya.
“Abi, kenapa ini harus terjadi?” tanya Fatimah memanggil Pak Yahya dengan sebutan Abi.
Caca semakin bingung dan menoleh ke arah suaminya untuk meminta jawaban atas apa yang telah terjadi selama ia tidak berada di ruangan itu.
Ketika Adi ingin menjawab pertanyaan Caca, Pak Yahya tiba-tiba saja meminta Caca untuk mengobrol empat mata dengan Fatimah.
“Kamu, bicaralah kepada putri Bapak!” pinta Pak Yahya dan mengajak Adi untuk keluar ruangan.
Adi sebenarnya berat meninggalkan istrinya, akan tetapi Adi yakin bahwa Fatimah tidak akan menyakiti istri kecilnya itu.
Kini, hanya ada Caca dan Fatimah di dalam ruangan itu.
“Kak Fatimah kenapa menangis?” tanya Caca yang sebelumnya mendengar anak-anak panti memanggil wanita di hadapannya dengan panggilan umi Fatimah.
Wanita cantik itu tak langsung menjawab pertanyaan dari Caca, ia sedang menata hatinya seraya menghapus sisa-sisa air mata yang masih membasahi pipinya.
“Apakah kamu dan Mas Adi telah menikah?” tanya Fatimah dengan tenang.
Caca mulai merasa tak nyaman dengan pertanyaan Fatimah. Pertanyaan yang seakan-akan ingin tahu lebih jelas hubungannya dan suami.
“Kami sudah menikah,” jawab Caca.
“Sudah berapa lama? Sepertinya kamu masih sangat muda untuk menikah,” ujar Fatimah penasaran.
Caca berada di titik ketidaknyamanannya, seketika itu juga Caca bertanya maksud dari pertanyaan Fatimah padanya.
“Kak Fatimah kenapa ingin tahu hubungan Saya dan Mas Adi? Apakah Saya harus menjawab pertanyaan Kak Fatimah?” tanya Caca yang berusaha terlihat tenang, meskipun di hatinya sedikit ada rasa jengkel.
“Maaf, karena membuat kamu merasa tidak nyaman. Sebenarnya saya menyukai Mas Adi dan Abi Yahya pernah menjanjikan kepada saya mengenai pernikahan kami. Ternyata, Mas Adi sama sekali tidak memiliki perasaan untuk saya,” ungkap Fatimah yang ingin jujur tentang perasaannya.
__ADS_1
Caca terkejut dan tiba-tiba saja jantungnya terasa panas, seperti terbakar api. Caca tidak menyangka wanita cantik di hadapannya ternyata menyukai suaminya.
Perlahan air mata Caca menetes karena tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.
“Maksud Kak Fatimah menceritakan semua ini untuk apa?” tanya Caca.
“Bolehkah saya menjadi istri kedua Mas Adi?” tanya Fatimah.
Seketika itu Caca bangkit dari duduknya dan menampar wajah Fatimah dengan cukup keras.
Plak!!!!! Suara tamparan yang Caca berikan ke wajah Fatimah.
“Saya tidak akan menyesal menampar wajah Anda. Akan tetapi, saya akan sangat menyesal jika mengizinkan Anda menjadi madu saya. Bagaimana jika kedepannya Mas Adi tidak bisa adil? Bukankah dalam sebuah pernikahan seorang suami harus adil kepada seorang istri dan jika memiliki istri lebih dari satu, apakah akan menjamin bahwa Mas Adi bisa adil, seadil-adilnya? Apakah Mas Adi bisa memenuhi kebutuhan lahir batin saya dan juga anda?” tanya Caca.
Apa yang Caca katakan, membuat Fatimah tersadar dengan kesalahannya. Fatimah merasa malu dengan Caca yang berpikiran dewasa. Fatimah malu karena memaksakan diri untuk menjadi istri kedua Adi Hidayatullah.
“Saya harap Anda bisa berpikir jernih sebelum memutuskan sesuatu hal yang dipaksakan. Saya permisi, assalamu'alaikum.”
Caca menghela napasnya dan pergi menghampiri suaminya untuk segera pulang ke rumah.
Di saat yang bersamaan, Pak Yahya bertanya kembali mengenai perasaan Adi kepada putrinya. Sebagai seorang Ayah, Pak Yahya tentu saja ingin menikahkan putrinya dengan pria baik-baik. Begitu juga dengan Pak Yahya yang sangat menginginkan Adi menjadi menantunya.
“Mas Adi, tolong pikirkan lagi perasaan putri Bapak. Apa kurangnya Fatimah?” tanya Pak Yahya.
Pak Yahya menundukkan kepalanya mendengar jawaban Adi yang mengecewakan hatinya. Bahkan, untuk menjadikan Fatimah istri kedua Adi pun tidak bisa.
“Bapak tidak bisa mempercayakan Fatimah kepada orang lain. Hanya Mas Adi yang Bapak percaya,” terang Pak Yahya.
“Saya yakin suatu hari nanti Fatimah akan menemukan pria yang baik dan bisa menjadi suami yang amanah,” balas Adi.
“Mas Adi!” panggil Caca yang berlari dengan berurai air mata.
Caca berlari dan memeluk suaminya di hadapan Pak Yahya.
“Mas, Caca ingin pulang,” ujar Caca yang ingin segera pergi dari panti asuhan.
Mengetahui istri kecilnya menangis, Adi pun pamit pulang kepada Pak Yahya dan menuntun Caca untuk segera masuk ke dalam mobil.
“Caca, kenapa menangis? Apakah Fatimah yang membuat kamu menangis?” tanya Adi ketika mereka sudah berada di dalam mobil.
“Kita jalan dulu Mas!” pinta Caca agar suaminya segera mengendarai mobil meninggalkan panti asuhan tersebut.
Adi pun mengendarai mobil Mama Ismia dengan perasaan bersalah karena telah membuat istri kecilnya menangis.
__ADS_1
“Jawab jujur, apakah Mas pernah menyukai wanita bernama Fatimah itu?” tanya Caca seraya menoleh ke arah suaminya.
“Tidak pernah,” jawab Adi sambil menatap istrinya dan kembali fokus ke arah jalan raya di depannya.
“Tadi wanita itu menanyakan apakah apakah Caca memperbolehkan dia menjadi istri kedua Mas dan Caca seketika itu menampar nya,” terang Caca jujur.
Adi cukup terkejut mendengar kejujuran istrinya dan mengerti bagaimana marahnya Caca pada saat itu.
“Mas tidak marah?” tanya Caca serius.
“Marah? Marah karena Caca menampar Fatimah?” tanya Adi.
“Apa Caca tidak boleh menampar Kak Fatimah? Meskipun begitu, Caca sama sekali tidak menyesal dan Caca yakin bahwa Kak Fatimah sudah menyadari kesalahannya,” ujar Caca.
“Apa Caca marah sama Mas?” tanya Adi dengan terus mengendarai mobil.
“Apa Mas berniat menjadikan Kak Fatimah istri kedua?” tanya Caca penasaran.
“Demi Allah, Mas tidak pernah sedikitpun berpikir untuk menikah lagi. Caca sudah sangat cukup untuk Mas dan Mas tidak bisa membagi hati ini kepada wanita manapun, selain Caca,” ungkap Adi.
Caca tersenyum kecil mendengar jawaban suaminya dan berharap kedepannya hal seperti ini tidak terjadi lagi.
“Mas, Caca ingin segera tidur dan melupakan kejadian ini!” pinta Caca.
“Iya Caca, ini kita sedang dalam perjalanan pulang,” balas Adi seraya menyentuh pipi kanan Caca.
***
Fatimah menangis di dalam kamarnya dan merasa sangat malu dengan apa yang ia katakan kepada Caca.
Sebagai seorang Ayah, Pak Yahya berusaha menenangkan putrinya dan berjanji akan mencari suami yang tepat untuk Fatimah.
“Fatimah, Abi janji akan mencarikan suami untuk kamu. Kamu jangan menangis lagi ya,” ucap Pak Yahya yang berdiri tepat di depan kamar Fatimah.
Fatimah dengan berurai air mata bangkit dari tempat tidur dan membuka pintu kamarnya untuk bicara dengan Pak Yahya.
“Apakah Abi akan terus seperti ini? Abi selalu berjanji mengenai pernikahan Fatimah dan Mas Adi. Tapi apa yang Fatimah dapatkan? Hanya rasa malu dan juga penyesalan,” ucap Fatimah.
Pak Yahya menangis seraya memeluk putrinya.
“Maafkan, Abi ya Nak. Abi melakukan ini karena tidak ingin menyerahkan kamu ke sembarang pria. Terlebih lagi, hanya kamu yang Abi punya. Setelah kematian Umi Farida, Abi merasakan kesedihan dan juga ketakutan jika menyerahkan kamu ke sembarangan pria,” ungkap Pak Yahya.
“Abi, biarkanlah semua berjalan sesuai takdir Allah. Tolong jangan lagi berjanji hal yang belum pasti, bukankah Allah yang telah mengatur kehidupan kita?” tanya Fatimah mencoba tegar di hadapan Pak Yahya.
__ADS_1