Istri Centil Mas Adi

Istri Centil Mas Adi
Membersihkan Halaman Belakang


__ADS_3

Keesokan paginya.


Adi sedih karena harus meninggalkan istri kecilnya seorang diri di rumah. Akan tetapi, Adi juga tidak bisa meninggalkan tugasnya sebagai seorang Guru.


Berulang kali Adi memeluk dan mencium istrinya, seakan-akan tidak tega meninggalkan istri kecilnya meskipun hanya beberapa jam saja.


Jika Adi merasa sedih, lain halnya dengan Caca. Caca justru ingin Sang suami bergegas berangkat ke sekolah, karena Caca ingin melakukan pekerjaan yang belum pernah ia lakukan tanpa sepengetahuan Sang suami.


“Mas kapan berangkat ke sekolah?” tanya Caca yang justru terdengar seperti sedang mengusir suaminya.


“Caca, Mas mau bekerja. Apakah Caca tidak senang jika Mas diam di rumah menemani kamu?” tanya Adi.


“Mas di rumah adalah suami Caca dan di sekolah Mas adalah Guru. Jadi, Mas harus segera berangkat. Kalau sudah waktunya pulang, Mas harus segera pulang,” jawab Caca.


“Ya sudah, Mas berangkat ya. Caca jangan banyak beraktivitas, diam saja di ruang tamu atau duduk di warung. Pokoknya jangan melakukan pekerjaan berat,” ucap Adi.


Caca mengiyakan seraya tersenyum manis mengerti apa yang diucapkan Sang suami padanya.


Pada akhirnya Adi berangkat mengajar meninggalkan istri kecilnya seorang diri di rumah.


Caca menatap lekat punggung bidang Sang suami dan ketika Suami tercinta sudah tak terlihat lagi, Caca buru-buru masuk ke dalam untuk membersihkan halaman belakang.


“Ayo sayang, kita buat kejutan untuk Ayah kamu,” ujar Caca sambil mengikat rambutnya agar tidak mengganggu ketika sedang bersih-bersih halaman belakang.


Setelah mengikat rambutnya, Caca mengganti pakaian dengan pakaian lengan panjang dan tak lupa mengenakan sarung tangan serta sepatu.


Caca berdiri tegap seraya memperhatikan tanah belakang yang ditumbuhi banyak sekali rumput liar. Melihat betapa banyaknya rumput liar tersebut, membuat Caca maju mundur. Akan tetapi, ia ingin menunjukkan kepada Sang suami bahwa dirinya bisa melakukan hal yang belum pernah ia lakukan sebelumnya.


“Caca tunjukkan kepada Mas Adi kalau kamu bisa,” ucap Caca semangat 45.


Caca berjongkok seperti tutorial yang ia lihat di internet, untuk melakukan kegiatan membersihkan halaman belakang Caca harus melihat tutorial di internet. Pertama ia berjongkok dan mencabuti rumput, lalu mengumpulkan rumput yang sudah di cabut agar mudah untuk di buang nantinya.


Caca berusaha melakukannya dengan cepat, karena ia juga harus mengejar waktu. Caca tidak sanggup jika kulitnya terbakar sinar matahari.


1 jam kemudian.


Keringat bercucuran di bagian kening, leher, ketiak, perut dan juga punggung. Caca pun perlahan bangkit dan terkejut melihat hampir 80% rumput di halaman belakang ia bersihkan.


“Ya Allah, apakah benar ini semua Caca yang melakukannya?” tanya Caca yang tak percaya dengan apa yang telah ia lakukan.


Karena tinggal sedikit lagi, Caca pun buru-buru mencabut rumput yang tersisa sedikit lagi dan tak lupa menyapu sisa-sisa rumput serta dedaunan agar tampak bersih.


“Alhamdulillah,” ucap Caca dan mengambil ponselnya yang sebelumnya ia gunakan untuk mereka kegiatannya.


Caca akan menunjukkannya kepada Sang suami, sebagai bukti bahwa dirinya sendiri yang membersihkan halaman belakang rumah untuk ditanami bahan-bahan dapur alias rempah-rempah Indonesia.


Karena sudah bersih, Caca bergegas masuk ke dalam rumah untuk segera mandi. Caca harus membersihkan tubuhnya dengan sabun agar bakteri serta kuman yang menempel di tubuhnya mati.


“Neng, dari tadi Ibu panggil kok tidak nyaut?” tanya seorang wanita ketika melihat Caca tengah berjalan dari sisi kiri rumah.


“Maaf, Bu. Tadi saya lagi ada di belakang,” jawab Caca.


Wanita itu menatap Caca dengan tatapan terheran-heran karena hampir seluruh tubuh Caca di penuhi dengan kotoran tanah liat.

__ADS_1


“Dari mana Neng? Kok kotor begini?” tanyanya.


“Dari belakang, Bu. Habis bersih-bersih belakang. Ibu mau beli apa?” tanya Caca sambil melepaskan sarung tangannya yang dipenuhi tanah liat.


“Ada rokok?”


“Maaf, Bu. Kebetulan kami tidak menjual rokok,” jawab Caca yang memang tidak ada keinginan untuk menjual rokok.


“Ya sudah deh,” balasnya sambil melenggang pergi.


Caca menghela napasnya dan buru-buru masuk ke dalam rumah untuk membersihkan dirinya dari kotoran.


***


Siang Hari.


Adi pulang ke rumah lebih awal karena sudah tidak ada jam pelajarannya dan Kepala Sekolah mengizinkan Adi pulang terlebih dahulu.


“Assalamu'alaikum,” ucap Adi.


Caca yang sedang menikmati kacang thailand pemberian Mama Ismia terkejut mendapati Sang suami sudah ada di depan pintu.


“Wa’alaikumsalam, Mas Adi kenapa jam segini sudah pulang?” tanya Caca karena masih ada 2 jam lagi untuk suaminya pulang ke rumah.


“Mas kangen sama Caca,” jawab Adi sambil berjalan masuk mendekati Caca dan memeluk istri kecilnya.


Adi takut jika meninggalkan istrinya dalam waktu yang lama.


“Caca juga kangen sama Mas. Tapi, ini masih jam 12 Mas Adi,” balas Caca yang masih ada beberapa kacang di mulutnya.


Caca tersenyum lega dan meminta Sang suami mencoba kacang Thailand.


“Bagaimana, enak tidak Mas?” tanya Caca.


“Enak sekali, ukurannya juga besar,” jawab Adi.


“Beli, Beli!” panggil seorang anak kecil.


Adi pun bangkit dan meminta Caca untuk tetap diam.


“Beli apa, Dik?” tanya Adi.


“Pak Guru, Doni beli es tape singkong 5” jawabnya sambil menyerahkan uang 10 ribu kepada Adi.


“Sebentar ya!” pinta Adi dan berlari kecil masuk ke dalam rumah untuk mengambil es tape singkong di dalam kulkas.


Anak kecil bernama Doni menerima kantong plastik berisi es balon dengan rasa tape singkong. Tak lupa, ia mengucapkan terima kasih kepada Adi. Adi ternyata tak memberikan Doni 5 buah melainkan 7 buah, yang artinya Adi memberikan 2 buah es balon rasa tape singkong secara cuma-cuma.


Adi tersenyum lebar dan kembali masuk ke dalam untuk bisa bermanja-manja dengan istri kecilnya.


“Caca tidak melakukan pekerjaan yang berat-berat, 'kan?” tanya Adi memastikan.


“Tidak, Mas. Caca hanya membersihkan kebun halaman belakang saja,” jawab Caca.

__ADS_1


Mata Adi terbelalak lebar mendengar jawaban istri kecilnya.


“Mas jangan melotot begitu, Caca takut,” ucap Caca sambil menutup mata suaminya.


“Maksud Caca dengan membersihkan halaman belakang apa?” tanya Adi dengan raut wajah kebingungan.


Caca hanya tersenyum seraya menyentuh pipi suaminya.


“Tunggu di sini,” ucap Adi dan bergegas melihat kebun halaman belakang.


Mulut Adi melongo lebar ketika melihat halaman belakang rumah yang sudah bersih dan tidak ada sama sekali rumput yang tumbuh. Seketika itu Adi berlari menghampiri istrinya dan memastikan bahwa perkataan istrinya hanyalah gurauan saja.


“Caca kalau bercanda jangan begini dong. Jangan membuat Mas panik, siapa tadi yang membersihkan halaman belakang?” tanya Adi dengan lembut seraya membelai rambut istri kecilnya.


“Siapa juga yang bercanda. Memang Caca sendiri yang membersihkan halaman belakang, Mas. Mas tidak percaya dengan Caca?” tanya Caca sedikit kecewa.


“Tidak. Mas tahu Caca belum pernah melakukannya,” jawab Adi.


“Mas mau bukti?” tanya Caca sambil mengeluarkan ponselnya.


“Mana?” tanya Adi serius.


Caca membuka galeri ponselnya dan memperlihatkan adegan di mana ia membersihkan halaman belakang seorang diri.


“Ya Allah, Caca.... Kamu ngapain? Kenapa harus melakukan pekerjaan yang bukan seharusnya?” tanya Adi.


Adi tidak bisa marah kepada istrinya, justru ia menangis karena telah membuat istri yang hamil bekerja sendirian.


“Mas kenapa malah menangis?” tanya Caca panik.


“Tolonglah, Caca. Apa yang Mas katakan tolong didengarkan, Caca sedang hamil anak kita. Bagaimana kalau Caca kelelahan dan berefek pada buah hati kita?” tanya Adi yang masih saja menangis.


“Mas, Caca sungguh tidak apa-apa. Sepertinya ini semua juga keinginan calon bayi kita. Lihatlah, Caca baik-baik saja dan tidak kelelahan sama sekali,” jawab Caca menyakinkan Sang suami bahwa ia baik-baik saja.


“Mas harap ini yang terakhir kalinya Caca melakukan hal seperti di video. Mas tidak ingin Caca melakukan pekerjaan yang bukan tugas Caca, hari ini dan kedepannya biar Mas saja yang melakukan pekerjaan rumah. Caca hanya boleh berjualan dan menyapu saja,” tegas Adi.


Caca tahu bahwa Sang suami mengkhawatirkan dirinya yang sedang mengandung. Namun, Caca tidak mungkin hanya berdiam diri saja.


“Mas, bagaimana kalau kita melakukan semuanya bersama-sama. Bahkan buat anak juga kita sama-sama,” terang Caca.


“Baiklah, kita akan melakukan semuanya bersama-sama. Tapi, Caca harus janji untuk tidak melakukan pekerjaan rumah sendirian lagi. Terlebih lagi, membersihkan halaman belakang sendirian,” tutur Adi yang sudah tidak menangis lagi.


Caca mengiyakan ucapan Sang suami dan berjanji akan melakukannya bersama-sama.


“Sekarang Mas jangan marah ya sama Caca!”


“Mas sama sekali tidak marah, Caca. Mas hanya takut jika Caca dan bayi kita kenapa-kenapa,” ungkap Adi dan memeluk tubuh istri kecilnya.


Caca senang karena suaminya tidak marah padanya dan ia juga telah berjanji untuk tidak membuat Sang suami khawatir dengan dirinya.


“Mas, pelukannya sudah ya. Caca masih ingin makan kacang,” ucap Caca.


Adi tertawa kecil sembari melepaskan pelukannya.

__ADS_1


“Mas ke kamar dulu, mau ganti baju. Caca sudah sholat?” tanya Adi sambil mengelus pipi istri kecilnya.


“Alhamdulillah sudah, Mas. Habis sholat duduk di sini sambil makan kacang ini,” jawab Caca sambil menunjuk ke arah kacang Thailand yang sedang di pegangnya.


__ADS_2